
Perasaan Sesa gelisah sejak tadi malam. Bahkan semalam Sesa tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.
"Ada apa ini? Kenapa aku jadi kepikiran Mas Yuga?" Gumam Sesa.
Dering telepon menyadarkan Sesa dari lamunannya.
"Halo"
"Halo Sa, lagi apa?" Tanya Maya.
"Habis mandi May, kamu nggak ke kantor?" Sesa melirik jam yang sudah menunjukkan jam 9 pagi.
"Ini baru jalan. Kalian sehat kan di sana?"
"Alhamdulillah sehat Maya" Jawab Sesa.
"May, apa Mas Yuga menemui kamu lagi?" Tanya Sesa.
"Enggak, cuma sekali itu doang" Maya memang sempat bercerita kepada Sesa tentang Yuga yang mencarinya di kantor waktu itu.
Ada rasa sedikit kecewa di dalam hati Sesa karena Yuga tidak mencarinya. Namun pikirannya mulai berpikir dengan akal sehatnya, jika inilah yang ia inginkan, pergi dari kehidupan Yuga selamanya.
"Syukurlah kalau begitu" Jawab Sesa.
Obrolan mereka berlanjut hingga beberapa menit berselang. Maya dan Sesa saat ini hanya bisa melepas kerinduan melalui sambungan video call saja.
"Maya, udah dulu ya, aku mau keluar sebentar. Rencananya mau lihat-lihat ruko untuk buka bakery yang aku ceritain tadi"
"Iya Sa, semoga lancar dan sukses ya bakery loe di sana"
"Makasih May, doakan saja terus ya?" Sesa senang karena sahabatnya itu selalu mendukung apapun keinginannya.
"Itu sudah pasti. Ya udah, bye Sa" Maya mengakhiri video callnya.
"Byeee" Maya melambaikan tangannya di depan layar ponsel.
-
Hari ini Sesa sudah membuat janji dengan Vino. Katanya pria itu punya kenalan yang akan menyewakan sebuah ruko. Sesa sudah sampai di alamat yang di berikan Vino. Sebenarnya Vino memaksa untuk menjemput Sesa namun wanita cantik itu tidak mau. Sesa tidak ingin terus merepotkan Vino. Lagipula Sesa juga merasa sedikit canggung karena Sesa masih berstatus istri orang. Ia harus sedikit menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
__ADS_1
"Hay Vin, maaf ya lama" Sesa tersenyum kepada Vino dan satu orang pria yang berdiri di sebelah Vino.
"Santai aja Sa, kita juga baru sampai. Oh iya kenalin ini Restu, pemilik ruko yang akan kamu Sewa"
"Restu" Pria bertubuh kekar itu menjabat tangan Sesa.
"Sesa" Sesa menyambut tangan yang besar itu. Bahkan tangan Sesa saja hilang si balik genggaman pria itu saat bersalaman. Sesa sedikit ngeri melihat otot-otot lengannya yang menonjol walau tertutup kaos.
"Kalau begitu kita bicarakan di dalam saja. Sekalian Mbak Sesa bisa melihat-lihat di dalam" Ucap Restu sedikit kemayu. Image Maco dari Restu hilang begitu saja kaka kalimat barusa keluar dari mulutnya. Badannya kekar berotot tapi ternyata agak berbelok.
"Iy.. Iya" Sesa menjadi gugup seketika.
Setelah bernegosiasi dengan Restu, Sesa merasa cocok dengan tempat dan harga yang di berikan oleh Restu. Jadi semua sudah deal dan tinggal menunggu Restu memberikan surat untuk kontrak tokonya saja.
"Oke, kalau gitu saya pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa bisa telepon saya atau bilang aja sama Vino yang ganteng ini" Restu mencolek dagu Vino.
"Iya, terimakasih Mas Restu" Balas Sesa tersenyum sedikit risih melihat tingkah pria setengah wanita di depannya.
"Oke, byee" Restu melambaikan tangannya yang gemulai.
Sesa hanya nyengir kuda melihat kepergian Restu.
"Kenapa mukanya kaya begitu? Geli ya?" Vino melihat raut wajah Sesa uang terlihat aneh.
"Gimana kandungan kamu Sa? Sehat kan?" Tangan Vino ingin menyentuh perut Sesa tapi tanpa di sadari Sesa refleks memundurkan badannya.
Vino sedikit canggung dengan reaksi yang di berikan oleh Sesa.
"Maaf Sa, aku lancang ya?" Vino berusaha untuk tidak menatap mata Sesa.
"Bukan gitu maksud aku Vin, aku cuma ..."
"Gapapa kok Sa, aku ngerti. Cuma ayahnya yang berhak menyentuhnya" Ucap Vino dengan rasa canggungnya.
Sesa jadi serba salah, Sesa memang tidak mau sembarang orang menyentuhnya apalagi ini bagian perut dan yang utama ia masih seorang istri ia juga harus tetap menjaga marwahnya sebagai istri walau sedang dalam proses perceraian. Tapi ia juga merasa bersalah karena secara terang-terangan menolak Vino menyentuh anak di dalam perutnya, apalagi melihat reaksi Vino yang menjadi canggung membuat Sesa semakin bingung.
"Kita pulang makan dulu yuk?" Vino mengalihkan perhatian Sesa.
"Tapi aku belum lapar Vin" Sesa memang tidak merasa lapar, bahkan tidka juga menginginkan sesuatu seperti orang hamil lainnya yang katanya banyak maunya.
__ADS_1
"Ya udah temenin aku aja deh. Ngga ada penolakan, anggap aja imbalan buat aku yang udah bantu cari ruko buat kamu"
"Jadi kamu nolongin aku ngga ikhlas nih?" Tanya Sesa kesal.
"Bercanda dong hehe. Ayo ah" Vino menggiring Sesa menuju mobilnya. Vino ingin mengajak Sesa makan di warung nasi gudeg yang terkenal di Jogja. Makanan yang menjadi favorit Sesa.
***
Sudah tiga hari Yuga di rawat di rumah sakit. Tiga hari yang terasa sangat lama seperti bertahun-tahun. Yuga ingin keluar dari rumah sakit tapi dilarang oleh dokter. Yuga ingin mengerjakan pekerjaannya tapi di larang oleh Doni. Dan setelah melewati tiga hari itu dengan kebosanan yang amat sangat, hari ini akhirnya Yuga di perbolehkan pulang.
"Loe yakin udah sehat bos?" Doni melihat wajah Yuga yang pucat.
"Kelamaan disini lama-lama otak gue yang ngga sehat" Balas Yuga sengit.
"Kan emang udah mulai gila sejak di tinggal istri tersayang dan tercinta" Doni mulai lagi dengan keisengannya menggoda Yuga.
Yuga hanya memberikan lirikan tajam untuk asisten tidak tau diri itu.
"Btw gue punya hadiah buat loe, ya kecil sih tapi gue yakin bakal bikin loe jadi sehat lagi" Doni mengirimkan sebuah video ke ponsel Yuga.
Yuga sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Doni.
"Yakin loe ngga mau lihat. Nyesel baru tau rasa loe, ingat ya tanggung sendiri ngga usah minta bantuan gue!!" Doni mulai kesal dengan Yuga yang tak menghiraukannya.
Dengan sedikit malas Yuga meraih ponselnya untuk membuka pesan dari Doni.
Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya saat layar ponsel Yuga menampilkan video yang dikirim oleh Doni. Seorang wanita berambut panjang sedang berdiri di depan sebuah mesin ATM. Yuga tau betul dari rambut panjang yang sedikit bergelombang di bagian bawahnya, dan dari postur tubuhnya, Yuga sangat hafal. Perempuan itu adalah Sesa istrinya. Istri yang sangat dirindukannya.
"Don ini" Yuga kembali menangis, tapi kali ini menangis bahagia karena bisa melihat keadaan istrinya walau hanya sebuah video.
"Iya betul bos itu Sesa. Kami melacak Sesa melalui kartu ATM yang bernama Maya, tetapi ternyata di gunakan oleh Sesa sendiri. Jadi dari petunjuk itu kita bisa mencari keberadaan Sesa di sekitar sana"
"Don pesan tiket pesawat ke Jogja hari ini juga!! Gue mau cari Sesa sendiri!!" Perintah Yuga dengan suara yang bergetar karena rasa senangnya.
"Pulang aja belum udah mau pergi aja. Sekarang nyesel ngga loe sempat nggak dengerin omongan gue? Orang cuma mau kasih berita bahagia kok ngga di gubris" Yuga memang masih harus menunggu transit dokter sebelum pulang.
"Salah loe sendiri berbelit-belit. Tinggal bilang yang sebenarnya kalau loe tau keberadaan Sesa. Gitu kan gampang. Loe yang ribet tapi loe sendiri yang marah" Yuga keheranan dengan sifat kekanak-kanakan Doni.
-
__ADS_1
-
Happy reading 🥰🥰🥰