Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Bayi besar


__ADS_3

"Mas Yuga yakin hari ini mau berangkat kerja?" Sesa tidak yakin karena melihat tangan tangan Yuga saja tidak bisa digerakkan.


"Hemmm" Jawab Yuga kemudian berjalan ke kamar mandi.


Sesa masih duduk di ranjang sepeninggal Yuga. Sesa tau suaminya pasti butuh bantuan tapi gengsinya cukup tinggi untuk mengatakan itu pada Sesa.


"Kita lihat aja Mas, seberapa hebat kamu" Sesa tersenyum miring.


Benar dugaan Sesa, pintu kamar mandi kembali terbuka. Terlihat Yuga masih dengan pakaian lengkapnya.


"Loh kok belum mandi, nanti Mas Yuga kesiangan loh" Ucap Sesa memasang wajah polosnya.


"Tidak usah nyindir" Ucap Yuga ketus.


"Emangnya masih butuh bantuan Sesa?" Entah kenapa Sesa malah menggoda suaminya.


Yuga berdecak kemudian kembali masuk ke kamar mandi.


Sesa puas melihat wajah muram suaminya.


"Kalau butuh bantuan itu ngomong donga Mas, kan Sesa orangnya ngga peka" Suara Sesa menyusul ke kamar mandi.


"Bantu saya lepas arm sling nya saja, lainnya saya bisa sediri" Sebenarnya juga Yuga malu jika Sesa membantu melepas bajunya. Karena dadi kemarin yang mengganti bajunya adalah Doni.


"Nggak bajunya sekalian?" Entah Sesa memang polos atau hanya bercanda.


Yuga melotot tak percaya, Sesa yang terlihat polos ternyata bisa menggodanya.


"Saya bisa sendiri" Ucap Yuga ketus.


"Ya sudah, Sesa siapkan sarapan dulu ya. Nanti Sesa bantu kalau sudah selesai mandi" Ucap Sesa selalu menunjukkan senyumnya.


Sudah 10 menit yang lalu Yuga selesai mandi. Namun saat ini Yuga masih menggunakan jubah mandinya. Ia sudah berusaha memakai kemeja dan celana bahannya namun tidak bisa. Bahunya terasa sangat sakit untuk di gerakan.


Sementara itu Sesa sebenarnya sudah tau jika suaminya telah selesai mandi. Tapi ia ingin melihat suaminya meminta tolong padanya. Bukan Sesa tidak peduli tapi Sesa ingin tau rasanya dibutuhkan oleh Yuga, Sesa ingi suaminya sadar akan keberadaan Sesa.


"Sa" Suara Yuga dari pintu kamar.


"Iya Mas, Oh sudah selesai ya?" Ucap Sesa lalu menghampiri suaminya.


"Bantu saya pakai baju" Suara Yuga agak tertahan.


"Oh Mas Yuga ngga bisa ternyata, ya sudah ayo Sesa bantu" Sesa tersenyum tipis di balik punggung Yuga yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Bayi besar" Gumam Sesa.


Sesa menutup matanya ketika menarik celana Yuga ke atas. Walaupun Yuga sudah mengenakan ****** ***** tapi Sesa masih malu untuk melihat benda keramat itu. Yuga meringis menahan sakit di bahunya saat tangan kanannya masuk ke dalam lengan bajunya.


"Aww" keluh Yuga.


"Sakit ya?" Sesa menatap kasihan pada Yuga.


"Pertanyaan apa itu? ya jelas sakit lah" Gerutu Yuga dalam hati.


Yuga menahan napasnya saat tangan Sesa memasukkan ujung bajunya ke dalam celana. Tangan kecilnya menyentuh permukaan perut bagain bawah Yuga. Sebagai seorang pria normal tentu saja sentuhan itu membuat pikirannya menjadi liar.


"Apa-apaan ini, kenapa dia terlihat biasa saja?" Yuga masih bermonolog dalam hatinya.


"Selesai" Ucap Sesa setelah menarik ke atas resleting celana Yuga.


Yuga menghembuskan napasnya kasar, membuang sisa sisa kegugupannya.


"Mas Yuga mau pakai jasnya sekalian atau mau sarapan dulu?" Sesa menunjukkan jas yang di pegangnya.


"Saya pakai di kantor saja" Ucap Yuga cuek.


"Huufffttt sekarang pakai saya saya lagi, kemarin habis peluk-peluk panggilnya aku kamu" Sesa sedikit kecewa karena Yuga masih saja menjaga jarak.


Pagi itu Yuga makan disuapi Sesa lagi. Yuga belum mampu menggerakkan tangannya. Jadi mau tidak mau, Yuga menerima tawaran Sesa untuk menyuapinya sampai tangannya benar-benar sembuh.


"Pasang dulu slingnya ya mas" Sesa mendekat membawa penyangga untuk tangan Yuga. Dengan telaten Sesa memasangkan ke tangan Yuga.


Dalam jarak sedekat ini Yuga bisa melihat wajah Sesa dari atas, karena tubuhnya yang lebih tinggi dibandingkan Sesa. Hidung mancungnya, bulu mata lentik dan bibir yang indah semua sangat pas dipadukan menjadi satu. Yuga tak berkedip untuk beberapa detik. Sesa mengangkat kepalanya saat merasa diperhatikan. Pandangan mata mereka bertemu. Bola mata yang saling menelisik mencari sesuatu di dalamnya. Tak ada yang berniat mengakhirinya, keduanya seolah hanyut dalam kekaguman masing-masing.


Ting.. Tong..


Suara bel apartemen menyadarkan Yuga akan kebodohannya yang sempat terpesona dengan mata indah milik Sesa.


Sesa berlari membuka pintu menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu.


"Pak Doni" Sesa menggeser tubuhnya mempersilahkan Doni masuk. Sesa tau kedatangan Doni untuk menjemput suaminya berangkat kerja.


"Ayo bos kita sudah hampir telat" Doni nyelonong begitu saja.


Yuga hanya mengangguk kemudian menarik jasnya yang berada di sandaran kursi.


"Permisi Mba Sesa" Ucap Doni kepada nona mudanya itu.

__ADS_1


Sesa hanya tersenyum membalas ucapan Doni.


"Tunggu Mas" Ucap Sesa pelan saat Yuga akan melewati Sesa yang masih berada di dekat pintu.


Yuga beralih kepada Sesa. Menunggu apa yang akan di katakan istrinya itu.


Tangan Sesa terulur meraih tangan kanan Yuga yang disangga dengan sling. Tangan yang biasanya menolak kini hanya diam saja saat Sesa mendekatkan wajahnya kemudian mencium punggung tangan berotot itu.


Yuga sontak terkejut dengan tindakan Sesa. Kecupan bibirnya sangat terasa di punggung tangannya walau hanya sedikit menempel.


"Kenapa hatiku menghangat mendapat perlakuan seperti ini?" Yuga segera menetralisir keterkejutannya. Kemudian melanjutkan langkahnya.


Doni yang sempat melihat kejadian itu hanya mesam mesem saja. Sepertinya senang karena ada bahan untuk mengejek bosnya nanti.


Doni menyenggol sikut Yuga saat mereka berjalan berdampingan. Doni menaik turunkan alisnya menggoda Yuga. Tapi Yuga sama sekali tidak menghiraukan sahabatnya yang sedikit g*la itu.


***


Sesa tersenyum puas dengan hasil masakannya siang ini. Semua sudah rapi di tata dalam lunch box. Siang ini untuk pertama kalinya Sesa akan menyambangi kantor suaminya untuk mengantar makan siang.


"Mas, Sesa ke kantor Mas Yuga boleh ya? Sesa bawakan makan siang" Ucap Sesa di sambungan telepon.


"Tidak usah, saya bisa beli sendiri" Jawab Yuga dingin.


"Iya sih Mas Yuga bisa beli sendiri, tapi emangnya bisa makan sendiri? Atau mau minta disuapin Pak Doni biar dikira kalian.."


"Ya sudah terserah" potong Yuga cepat.


"Ya sudah, Sesa berangkat sekarang ya?" Ucap Sesa lembut.


"Hemmm" Yuga langsung menutup panggilan telepon dari Sesa.


Sesa tersenyum senang kemudian memasukan lunch boxnya ke dalam paper bag.


"Ya Allah biarkan aku egois untuk kali ini saja. Biarkan aku mencoba mengejar cintaku. Jika memang suatu saat nanti Della kembali dan mereka memutuskan bersama, maka aku rela untuk pergi dari sisi Mas Yuga. Tapi tolong tuntun langkahku untuk kali ini Ya Allah. Amin" Sesa berdoa di dalam hati.


Anggaplah Sesa wanita bodoh karena masih saja mengharapkan cinta dari lali-laki yang tidak pernah menganggapnya ada. Tapi Sesa sudah bertekad jika kali ini usahanya tidak membuahkan hasil, maka Sesa siap untuk pergi dari hidup Yuga.


-


-


Siapa yang udah sebel banget sama Sesa dan Yuga. Kenapa Sesa masih terus sabar di sisi Yuga walau sakit di dapatnya? Lalu kenapa juga Yuga tidak menceraikan Sesa? Sabar ya readers ceritanya masih panjang. Tetap temani Sesa meraih kebahagiaannya dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian😘

__ADS_1


__ADS_2