Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Bertemu Vino


__ADS_3

Sesa menatap hasil cake buatannya dengan puas. Sudah satu minggu Sesa berada di Jogja. Sesa membeli peralatan membuat kue demi mengusir rasa bosannya selama beberapa hari ini.


"Mbok!!" Panggil Sesa.


"Iya Mbak" Sahut Mbok Lasmi dari luar rumah yang sedang mengangkat jemuran.


"Mbok, pilih kue mana yang Mbok suka sisanya tolong di bagi ke tetangga ya. Saya mau keluar sebentar"


"Iya Mbak, tapi ini kue nya bagus dan banyak sekali" Mbok Lasmi takjub melihat kue hasil buatan Sesa.


"Makanya mending di bagi aja, kalau di makan sendiri ngga akan habis" Tutur Sesa.


"Baik Mba"


"Ya sudah saya pergi ya Mbok"


"Iya Mbak hati-hati ya"


-


Sesa menyusuri jalanan kita Jogja. Berbekal alamat yang ia dapat dari internet tentang dokter kandungan di dekat rumahnya. Sudah waktunya Sesa periksa untuk memastikan kandungannya.


Setelah berjalan lebih dari 15 menit Sesa menemukan sebuah klinik kandungan yang tidak terlalu besar tapi cukup ramai terlihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di depannya.


Setelah melakukan pendaftaran kini Sesa duduk bersama dengan ibu-ibu hamil lainya. Ada sedikit rasa nyeri di hati Sesa, kala melihat para suami yang setia mendampingi istrinya untuk memeriksakan kandungan mereka.


Sesa mengusap perutnya.


"Sayang, seandainya kamu memang sudah ada di dalam perut mama, bantu mama untuk tetap kuat ya. Maafkan mama yang sudah memisahkan kamu dengan papa" Sesa menahan air matanya yang akan menetes jika satu kali daja Sesa berkedip.


"Mbak, mau periksa juga ya? Sudah berapa minggu?" Tanya seorang ibu hamil yang berada di samping Sesa.


"Iya, tapi baru memastikan saja" jawab Sesa ramah.


“Oh belum yakin? Semoga saja memang betul sidah isi ya Mbak" Tambah wanita yang terlihat lebih tua dari Sesa itu.

__ADS_1


"Amin Mbak, semoga saja" Sesa juga berharap seperti itu.


"Sendiri saja? Suaminya mana Mbak?" Pertanyaan yang menyentil hati Sesa.


"Saya ngga bilang suami saya Mbak" Jawab Sesa sedikit canggung. Memang benar apa yang di ucapkan Sesa karena ia sama sekali tidak memberi tahu Yuga tentang ini.


"Oh mau bikin surprise buat suaminya ya? Saya dulu juga gitu waktu anak pertama. Jadi diam-diam saya periksa sendiri, kalau udah beneran hamil baru kasih tau. Bahagia banget waktu itu Mbak" Ceritanya dengan raut yang sangat bahagia.


"Seandainya saja rumah tanggaku baik-baik saja mungkin aku juga ingin melakukan hal yang sama Mbak" Jawab Sesa di dalam hatinya.


Belum sempat menjawab suster sudah memanggil nama ibu hamil di Sesa itu.


"Duluan ya Mbak, semoga sudah ada dedeknya beneran" Ucap wanita itu sebelum melangkah ke ruangan dokter.


Setelah beberapa antrian terlewat kini giliran Sesa yang memasuki ruangan dokter yang bertuliskan dr. Arum Sari Sp.OG itu.


"Selamat suang ibu, ada yang bisa saya bantu" Sapa ramah Seorang dokter berhijab itu.


"Dokter saya mau periksa kandungan saya, apa benar hamil atau tidak" Ucap Sesa.


"Oh begitu, sudah telat berapa hari ibu?"


"Kalau begitu mari saya periksa" Satu orang suster membantu Sesa untuk naik ke atas bangkar.


"Maaf ya bu, saya angkat sedikit" Suster itu menaikkan baju Sesa di bagian perut lalu mengoleskan ultrasound gel di atas permukaan perut Sesa.


Dokter sudah menempelkan alat yang Sesa tidak tau namanya di atas perutnya. Menggeser ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu.


"Nah, coba ibu lihat ke layar di atas. Ini kantung janinnya ya, dan yang kecil seperti kacang ini adalah janinnya. Masih kecil karena baru 6 minggu. Tapi semuanya bagus, janinnya juga sehat"


Sesa merasa haru, ada getaran di hati Sesa. Rasa bahagia membuncah sehingga membuatnya tiba-tiba menangis.


"Mas lihatlah anak kita, seandainya kamu di sini. Tapi apa kamu akan merasa senang dengan kehadirannya. Aku takut anak kita akan menghalangi kebahagiaanmu" Ucap Sesa dalam batinnya yang merana.


Sesa sudah duduk kembali di depan dokter yang sedang menuliskan resep untuknya.

__ADS_1


"Ibu, karena semuanya sehat dan bagus saya hanya meresepkan vitamin saja ya? Dan jangan lupa selalu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Atau ibu merasakan gejala yang lain seperti mual dan muntah?" Tanya dokter itu.


"Tidak sama sekali dokter, makanya sebelum ini saya tidka yakin kalau hamil" Jawab Sesa dengan polos.


"Bisa jadi yang mual muntah justru suaminya loh bu" Ucap dokter berhijab itu sambil tertawa.


Tapi Sesa hanya menanggapinya dengan senyuman ramah.


"Ada lagi ditanyakan bu?"


"Tidak ada dokter, hanya saja kapan jadwal periksa selanjutnya?" Tanya Sesa.


"Bulan depan tepat di tanggal ini, atau setelahnya juga boleh" Dokter itu sangat ramah menurut Sesa.


"Baik dokter, terimakasih. Saya permisi dulu" Sesa meninggalkan ruangan dokter dengan hari yang begitu gembira. Karena kali ini hari-harinya tidak akan kesepian lagi, sebentar lagi akan hadir malaikat kecil di hidupnya.


***


"Apa tidak akan menandatangani surat terkutuk ini!!" Yuga merobek surat yang dikirim oleh pengacara Sesa.


"Don, bilang ke pengacara Sesa itu. Gue ngga akan pernah menceraikan Sesa. Walaupun surat gugatan ini di kirim berulang kali ke sini!!" Yuga sangat marah melihat surat gugatan perceraian yang telah tersemat tanda tangan Sesa di sana.


"Baik bos" Doni sedikit ngeri melihat kemarahan Yuga.


"Sesa, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu. Aku pasti akan menemukanmu dan anak kita di manapun kamu berada!!" Gumam Yuga meremas tangannya kuat.


***


Setelah kembali dari dokter, Sesa memutuskan mampir ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan pokoknya. Sesa mendorong troli melewati lorong-lorong yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Keranjangnya sudah mulai penuh dengan macam-macam buah dan sayur yang segar, ia mengingat pesan dokter untuk selalu makan makanan yang sehat dan bergizi demi tumbuh kembang janinnya.


Sesa membawa trolinya menuju rak yang mendisplay berbagai merk susu untuk ibu hamil. Setelah menimbang-nimbang, pilihan Sesa jatuh pada salah satu merk yang sering ia lihat beriklan di televisi. Sesa mengambil berbagai rasa, bukan maksud Sesa boros atau berlebihan, Sesa hanya takut tidak suka dengan salah satu rasanya.


Sesa kembali mendorong trolinya sambil memeriksa apa saja yang belum sempat ia ambil. Karena tidak melihat ke dapan roda trolinya menabrak seseorang di depannya.


"Maaf, saya tidak sengaja" Ucap Sesa tanpa melihat siapa orang yang telah ia tabrak.

__ADS_1


"Sesa?" Suara yang tidak asing bagi Sesa.


"Vino!!"


__ADS_2