
Hampir setiap hari kota padat penduduk ini selalu diguyur hujan. Apalagi jika malam tiba, hujan tanpa henti hingga pagi hari. Menyebabkan genangan air dimana mana.
Biasanya jika lembur begini Maya tak pernah khawatir mau pulang jam berapa pun. Tapi kali ini Maya ketar ketir karena kali ini mobilnya sedang di bengkel. Sedangkan di luar sana hari sudah gelap dan hujan tidak mau berhenti. Jika begini pasti jalan menuju apartemennya pasti sudah tergenang air. Taksi mana ada yang mau jika sampai sana.
Maya melihat jam di pergelangan tangannya, tidak bisa lagi Maya menunggu samapi pekerjaannya selesai. Dari tadi pikiran Maya terus saja terisi bagaimana caranya ia akan pulang jika begini. Sepertinya otaknya sudah kebanjiran karena tidak mampu berpikir sehingga pekerjaannya tak kunjung selesai. Maya tidak peduli pekerjaan yang dikejar deadline itu, ia langsung membereskan barang barangnya kemudian pergi begitu saja.
Suasana di loby kantor sudah sangat sepi. Hanya terlihat beberapa karyawan yang juga lembur seperti Maya mengingat ini sudah jam setengah sembilan malam. Maya mengotak atik ponselnya, membuka aplikasi pemanggil taksi online. Maya mengetikkan alamat tujuannya kemudian menunggu beberapa saat. Maya mencoba lagi karena tidak kunjung mendapat sambutan dari taksi terdekat. Maya semakin gelisah, sudah beberapa kali percobaan tapi tetap sama.
"Apa pesan ojek aja ya, tapi hujannya deras banget. Bisa-bisa basah kuyup" Ucap Maya sambil celingukan melihat keadaan sekitarnya yang ternyata kini hanya ia sendiri yang berdiri di sana. Sepertinya tadi Maya masih melihat ada dua orang yang juga menunggu jemputan tapi Maya tak menyadari kapan mereka pergi.
"Duh gimana dong" Sudah 30 menit Maya berdiri di sana.
"Bu Maya kok belum pulang?" Tanya Bayu dari belakang Maya.
Maya hanya meliriknya sebentar tanpa berniat membalas pertanyaan itu.
"Atau sengaja nungguin saya?" Suara genit itu selalu bisa membuat Maya naik pitam.
"Ngga usah kepedean" Jawab Maya tanpa melihat manusia di sebelahnya.
Bayu masih saja berdiri di samping Maya walau sejak tadi di acuhkan wanita berambut sebahu itu.
"Ngapain masih disini?" Maya yang risih dengan keberadaan Bayu akhirnya membuka suaranya.
"Temenin kamu dong sayang" Bayu mengedipkan sebelah matanya.
"Dih kumat s*ntingnya" Maya mengambil payung lipat di dalam tasnya. Lalu pergi begitu saja meninggal jan Bayu.
Maya mengibas bajunya yang sedikit basah terkena air hujan. Kini Maya berdiri di halte depan kantor. Jika Bayu tidak mengganggunya tidak mungkin Maya memilih basah basahan lari keluar area kantor.
"Aduh uda satu jam nih, gimana dong pulangnya. Masa harus nginep disini" Maya hampir menangis meratapi nasibnya.
Maya melihat arah kanannya, terlihat mobil yang di kenalnya mulai mendekat.
"Duh kenapa makhluk itu ada dimana mana" Gumam Maya.
"Bu Maya nggak bawa mobil?" Bayu membuka kaca mobilnya.
Maya tak menjawab malah melihat ke arah lain.
"Bareng saya aja Bu" Ucap Bayu.
"Tidak udah Pak Bayu terimakasih" Maya menunjukkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Yakin Bu Maya nggak mau? Ini udah malem banget loh, hujan lagi. Lagipula disini sepi, Bu Maya ngga takut?" Bayu mencoba membujuk Maya.
Sebenarnya Maya membenarkan ucapan Bayu tapi rasa gengsinya lebih mendominasi.
"Ya udah kalau Bu Maya ngga mau, saya duluan ya Bu" Bayu menutup kembai kaca mobilnya.
__ADS_1
"Eh eh tunggu" Maya mendekat membuang rasa malunya, langsung saja membuka pintu belakang mobil Bayu.
Tapi setelah beberapa saat Bayu tak kunjung menjalankan mobilnya.
"Ayo kenapa ngga jalan?" Ucap Maya heran.
"Gini loh Bu Maya yang cantik, Saya itu bukan sopir taksi online. Jadi kalau Bu Maya duduk di belakang ya saya ngga mau jalan" Ucap Bayu menatap Maya dari center mirror.
"Ihhhhhhhhh kalau ngga terpaksa gue ngga bakalan mau semobil sama dia. Pingin gue jambak rambutnya" Maya merutuki Bayu dalam hatinya.
"Nah gitu dong, kan mesra jadinya kalo deketan kaya gini" Bayu mulai cengar cengir tidak jelas.
Sementara Maya hanya memasang wajah yang tidak bersahabat. Tidak ada percakapan selama di jalan selain suara Bayu yang kadang mengikuti lantunan lagu dari radio.
"Aduh Bu Maya jalan di depan udah ngga bisa dilewatin. Terus lewat mana dong?" Bayu menghentikan mobilnya karena banyak juga mobil di depannya yang berhenti karena genangan air yang tinggi alias banjir.
"Aduh sial banget sih, kalau di sini banjir muter lewat sana juga pasti banjir" Maya mulai gelisah, badannya juga sudah sangat lelah. Rasanya ingin menangis namun gengsi karena saat ini sedang bersama Bayu.
"Terus gimana Bu? Bu Maya ada saudara ngga di dekat sini? Mau saya antar ke sana?" Bayu mulai merasakan kegelisahan Maya.
Maya hanya menggeleng sebagai jawaban. Maya semakin sedih mendengar pertanyaan Bayu.
"Beginikah nasib jika tidak punya sana saudara? Hidup sendiri kalau di saat begini baru terasa kesepian" Mata Maya sedikit berkaca-kaca. Maya memalingkan kepalanya kesamping supaya Bayu tidak bisa melihat kesedihannya.
"Ya udah Bu Maya ikut saya aja" Tanpa persetujuan Maya, Bayu langsung saja memutar mobilnya.
"Eh mau bawa saya ke mana?" Maya merasa kebingungan.
"Nggak mau ah, berhenti sekarang saya mau turun!!" Ucap Maya meninggikan suaranya.
"Emang kalau Bu Maya turun disini mau kemana?? Mau pulang ngga bisa kan? Ini udah malem, besok juga harus kerja. Udah deh ngga usah takut, saya ngga bakal apa-apain Bu Maya" Ucap Bayu masih memperhatikan jalannya.
"Nggak percaya" Ucap Maya ketus.
"Oh jadi Bu Maya mau saya apa-apain nih?" Kini Bayu menatap Maya dengan pandangan menggoda.
"Awas aja kalau berani macam-macam saya hancurkan aset masa depan Bapak" Ancam maya sambil mengepalkan tangan di depan muka Bayu.
"Ya gapapa yang rugi kan Bu Maya sendiri?" Bayu cengengesan tidak takut dengan ancaman Maya.
"Maksudnya?" Maya melongo tak paham maksud Bayu.
"Kan Bu Maya jadi ngga bisa punya keturunan kalau sumber bibitnya Bu Maya hancurkan" Bayu sudah siap menerima amukan Maya.
"Dasar laki-laki s*nting" Maya mencubit lengan Bayu sekuat tenaga.
"Aawwww sakit sayang" Bayu meringis kesakitan.
"Bilang apa tadi? Sayang sayang gundul mu itu!" Maya kembali mencubit lengan Bayu ditempat yang berbeda.
__ADS_1
"Aduhhh ampun-ampun Bu Maya" Bayu menyerah menggoda Maya. Bisa-bisa badannya di cincang Maya.
"Jadi Bu Maya mau kan ikut ke apartemen saya?" Bayu sebenarnya sudah tau jawaban Maya namun hanya memastikan.
"Terpaksa" Jawab Maya dengan wajah juteknya.
Bayu hanya tersenyum menanggapi wanita disampingnya ini.
-
Maya terbelalak tak percaya, bukankah Bayu hanya kepala HRD tapi kenapa bisa tinggal di apartemen elit seperti ini. Maya mulai bertanya tanya dalam benaknya.
"Nggak usah heran begitu Bu, tenang aja saya kerjanya bersih kok. Ini cuma hadiah dari orang tua saya. Ayo masuk" Maya merasa malu karena pikirannya mudah terbaca oleh Bayu.
"Ini ganti baju bu Maya. Tenang aja ini masih baru kok jadi ngga bekas badan saya" Ucap Bayu memberikan Maya setelan baju panjang pria.
"Iya makasih"
"Bu Maya bisa pakai kamar mandi di sana" Tunjuk Bayu pada kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
Maya mengangguk dan menuju arah yang ditunjuk Bayu.
Ketika Maya selesai mengganti pakaiannya Bayu juga sudah berganti dengan baju rumahannya. Maya baru pertama kali melihat Bayu tidak dengan pakaian formalnya. Kaca mata yang biasa bertengger di atas hidungnya juga sudah lenyap. Tampilan Bayu sungguh berbeda di mata Maya.
"Bu Maya sudah selesai? Saya sudah pesan makanan sebentar lagi tiba. Bu Maya bisa makan lalu beristirahat" Senyuman tak lepas dari bibir Bayu.
"Duh kenapa gue jadi deg-degan gini liat senyumnya" Maya menggelengkan kepalanya pelan menepis pikirannya.
"Oh iya, nanti Bu Maya bisa tidur di kamar sebelah kamar saya itu. Itu kamar yang biasa buat ibu saya kalau nginep di sini" Jelas bayu.
"Iya" Jawab Maya singkat.
***
Sesa sudah tak kuat menahan kantuk di matanya. Namun ia masih setia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Sesa takut jika Yuga kembali dalam keadaan mabuk lagi. Ingin rasanya Sesa menghubungi Yuga namun takut jika akan memancing amarah suaminya.
Pip.. Pip.. Pipp...
Sesa mendengar seseorang menekan password apartemennya. Dengan tergesa Sesa menghampiri pintu menyambut kedatangan suaminya.
Ucapan syukur dari hati Sesa karena melihat suaminya pulang tanpa bau alkohol seperti kemarin.
Yuga seakan buta dengan hal sekitarnya karena berjalan begitu saja tanpa mempedulikan Sesa yang sudah menyambut kedatangannya.
Sesa menatap nanar punggung suaminya.
-
-
__ADS_1
Siapa yang suka sama part nya Maya dan Bayu?? Aku bakal spil tipis tipis kisah mereka ya readers.
Jangan bosan dan jangan lupa tinggalkan jejakmu👍