Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
mari bercerai


__ADS_3

NYESSS...


Hati Yuga terasa nyeri melihat Sesa yang begitu dingin kepadanya.


Yuga mengejar Sesa ke dalam kamar.


"Sesa, kita perlu bicara!" Yuga menahan Sesa yang sudah sampai di pintu kamar mandi.


"Maaf Kak, aku capek. Aku mandi dulu lalu ingin segera tidur" Jawab Sesa tanpa melihat suaminya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.


Setelah selesai dengan ritual mandinya Sesa masih melihat suaminya duduk di ranjang menunggunya. Sesa tak gentar, sama sekali enggan menatap wajah suaminya itu. Dengan wajah dingin yang sedari tadi Sesa tunjukkan, ia berjalan ke belakang Yuga membuat posisi senyaman mungkin untuk segera terlelap.


Yuga melihat tingkah laku istrinya itu merasa gundah. Ia jelas tau jika Sesa sengaja menghindarinya.


Sesa merasakan gerakan di belakangnya karena Yuga yang mulai membaringkan tubuhnya. Sesa merasakan hening sejenak sebelum tiba-tiba Yuga kembali memeluknya dari belakang seperti malam-malam yang telah berlalu.


"Maafkan aku Sa, Tidurlah semoga besok kamu mau berbicara denganku" Yuga menyusupkan wajahnya di ceruk leher Sesa, mencari kenyamanan di sana.


Setetes cairan bening mengalir dari mata Sesa. Sesa menangis dalam diam tak ingin menarik perhatian suaminya.Sesa ingin menolak pelukan Yuga kali ini, tapi jika ia melakukan itu pasti akan terjadi perdebatan yang panjang sedangkan Sesa sedang dalam mode tak ingin membahas masalah kemarin lagi. Maka dari itu Sesa lebih memilih diam membiarkan Yuga memeluknya.


***


Hari-hari berlalu begitu saja hingga sudah satu minggu sejak kejadian itu, tapi hingga saat ini Sesa masih menghindari Yuga. Tapi untuk masalah menyiapkan pakaian dan memasak tetap Sesa lakukan. Karena itu kewajiban Sesa. Sesa akan bangun pagi sekali lalu memasak dan menyiapkan keperluan Yuga kemudian pergi saat Yuga belum bangun. Jika malam tiba, sesa akan pulang lebih awal, menyiapkan makan malam lalu pergi tidur tanpa menunggu suaminya pulang.


Siang ini Sesa akan makan siang bersama Vino di restoran yang katakan Vino waktu itu. Seharusnya sudah dari kemarin mereka berjanji untuk makan siang bersama, namun karena jadwal Vino yang berubah serta cafe Sesa yang tiba-tiba banyak pesanan jadi baru terlaksana hari ini.


Sesa dan Vino tiba di restoran yang menunjukkan ciri khas jawa dari interior di dalamnya. Restoran baru ini tampak ramai di jam makan siang seperti ini.


Vino mengajak Sesa duduk di meja yang khusus untuk dua orang saja. Mungkin jika orang lain yang melihat mereka adalah pasangan yang serasi.


Makan siang yang mengobati rasa rindunya dengan makanan Jogja di iringi dengan canda tawa mereka berdua. Sesa bisa tertawa lepas hanya dengan guyonan kecil dari Vino. Membuat Sesa bisa melupakan masalahnya walau sejenak.

__ADS_1


Tanpa Sesa sadari sepasang mata tajam menatapnya dari kejauhan. Rasa marah dan kecewa tergambar jelas di sorot mata itu.


-


"Makasih ya Vin untuk traktiran makan siangnya" Ucap Sesa sebelum keluar dari mobil Vino.


"Sama-sama, makasih juga karena udah temenin aku makan siang" Vino memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Aku turun dulu" Lalu Sesa keluar dari mobil Vino. Vino membunyikan klaksonnya sekali sebelum mobilnya meninggalkan cafe Sesa.


-


"Aman kan Wi?" Tanya Sesa kepada Dewi.


"Aman kok Mbak" Dewi menunjukkan jempol tangannya kepada Sesa.


"Oke" Jawab singkat Sesa yang sudah berjalan meninggalkan Dewi menuju ruangannya.


"Mbak di dalam ada... Yah cepat banget jalannya" Ucap Dewi celingukan mencari keberadaan Sesa.


"Dari mana saja kamu?" Suara berat dan dingin menyapa indera pendengaran Sesa.


"Habis makan siang" Ucap Sesa datar tanpa beralih menatap suaminya itu.


"Sama siapa?" Tanya Yuga lagi masih dengan tatapannya yang seperti anak panah siap menghujam musuhnya


"Sama Vino" Jujur Sesa.


"Bukannya aku sudah melarang ku untuk dekat dengannya? Kamu ada hubungan dengannya?" Tanya Yuga berdiri mendekati Sesa.


Kalimat Yuga kali ini mampu membuat Sesa berpaling menatap wajah tampan yang seminggu ini ia hindari.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa?" Jawaban yang tidak terduga dari mulut Sesa.


"Kenapa? Kamu istriku kalau kamu lupa!" Desis Yuga membuat Sesa sedikit takut.


"Kalau begitu mari kita bercerai" Kalimat yang selama ini Sesa hindari. Kalimat yang menjadi larangan bagi Sesa akhirnya keluar juga dari mulutnya.


"Jaga ucapan mu!!" Yuga menekan suaranya.


"Kenapa? Aku lelah Kak. Aku lelah menjalani rumah tangga yang seperti ini. Aku juga ingin bahagia, ingin membina rumah tangga yang semestinya. Merasakan di cintai oleh seorang suami. Memiliki anak, memiliki keluarga kecil yang bahagia. Sekarang Kakek sudah meninggal, dan alasan kita menikah juga karena Kakek. Maka dari itu mari akhiri semua ini. Kembalilah pada posisi kita masing-masing seperti dulu. Della juga sudah kembali padamu bukan? Jadi apa lagi yang kita tunggu" Ucap Sesa menggebu-gebu. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


Kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Sesa begitu menyakitkan untuk Yuga. Ia dapat merasakan pesakitan yang selama ini Sesa rasakan hanya dengan menatap mata istrinya itu.


"Jadi itu yang kamu inginkan? Kamu ingin bahagia dengan seseorang yang mencintaimu? Ingin punya anak dan keluarga yang kamu dambakan?" Yuga mengulang semua keinginan Sesa tadi.


"Iya" Jawab Sesa saat air matanya mulai jatuh membasahi pipinya.


Sedetik kemudian Yuga mendaratkan bibirnya ke atas bibir pink alami milik Sesa.


Sesa yang sadar akan perbuatan Yuga mulai memberontak untuk melepaskan ciuman itu. Namun tenaga Sesa kalah besar dengan tenaga seorang laki-laki apalagi tubuh suaminya yang tinggi dan tegap. Tangan Yuga memegang tengkuk Sesa untuk memperdalam ciumannya. Pukulan-pukulan kecil Sesa berikan di dada Yuga sebagai bentuk perlawanan. Namun pria yang sudah di balut dengan rasa cemburunya itu tak merasakan apapun hanya dengan pukulan kecil dari istrinya.


Yuga menggigit bibir bawah Sesa agar istrinya itu membuka mulutnya.


"Aww" Rintih Sesa, Yuga yang tidak mau melewatkan kesempatan itu langsung menyambar kembali bibir ranum itu. Tangan Sesa yang semula memberontak kini diam di satu genggaman tangan besar Yuga.


Sesa merasa usahanya untuk lepas adalah sia-sia karena ia tak akan mampu melawan kekuatan Yuga. Sesa mulai pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya itu.


Yuga yang merasakan istrinya mulai tenang. Ciuman yang tadinya hanya menempel kini mulai menggerakkan bibirnya, dan berubah menjadi l*matan lembut yang menghanyutkan. Bibir Yuga m*l*mat, m*ncecap mengabsen seluruh bagian mulut Sesa. Yuga melihat Sesa yang memejamkan matanya seperti menikmati ciuman yang ia berikan. Yuga melepaskan tautan bibirnya, lalu menyatukan keningnya dengan Sesa. Berlahan Sesa membuka matanya menatap mata suaminya yang begitu dekat.


"Kalau begitu ayo wujudkan keinginan mu itu Sa!"


-

__ADS_1


-


Terimakasih banyak buat kalian yang selalu like dan komen untuk mendukung karya pertamaku ini. Selamat membaca readersđŸ˜˜


__ADS_2