Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
panggilan manis


__ADS_3

Maya masuk ke ruangan Bayu mencari keberadaan kekasihnya itu.


Klik..


Bayu yang ternyata berada di balik pintu langsung mengunci pintu dari dalam setelah Maya masuk.


Maya berbalik saat mendengar suara pintu di kunci dan melihat bayu berada di sana.


"Apaan sih pakai di kunci segala?" Mata maya mendelik lada Bayu.


"Ya gapapa biar ngga ada yang ganggu aja" Ucap Bayu santai berjalan melewati Maya lalu duduk menyilangkan kaki di sofa.


"Emangnya mau ngapain ngga mau di ganggu, jangan macem-macem ya ini di kantor!!"Maya berkacak pinggang masih dengan matanya yang melotot.


"Jadi kalau ngga di kantor boleh macem-macem?" Bayu menyunggingkan senyum miringnya.


"Jangan ngaco deh!!" Ucap maya ketus.


Bayu hanya tertawa melihat tingkah Maya yang menurutnya lucu dimatanya.


"Jadi panggil aku kesini mau apa? Katanya ada yang penting?" Ucap Maya tak sabaran karena pekerjaan Maya yang masih menumpuk membuatnya jengah berlama lama di ruangan Bayu.


"Iya penting banget, sini!!" Bayu menepuk sofa di sebelahnya mengisyaratkan agar Maya duduk di sana.


Maya menurut saja walau bibirnya mengerucut kesal.


"Apa? cepat pekerjaanku masih banyak!!" Desak Maya.


Bayu tersenyum lalu memeluk pinggang Maya dari samping. Dagunya ia letakkan di pundak Maya.


"Ini loh yang penting banget, pentiiinnnnggg banget kalau aku lagi kangen sama kamu aku ngga semangat kerjanya"


"Ngga usah lebay deh" Maya memukul pelan tangan Bayu yang melingkar pada pinggangnya.


"Serius yank, kamu itu penyemangat buat aku" Bayu mengecup pipi Maya sekilas.


"Sekarang udah berani cium-cium!!" Maya mencubit pinggang Bayu.


"Awww sakit sayang, kita kan udah jadian masih jutek aja sama aku. Ngga ada lembut-lembutnya" Bayu melepaskan pelukannya. Raut mukanya berubah dingin.


Maya yang melihat perubahan Bayu yang tiba-tiba merasa kelabakan. Ia sebenarnya tidak bermaksud jutek dan galak pada Bayu, tapi hanya berusaha menutupi kegugupannya jika berdekatan dengan kekasihnya itu.


"Bukan begitu maksudku Bayu" Maya mencoba meraih jari tangan Bayu tapi Bayu segera menjauhkannya.


"Bayu, jangan marah dong" Ucap Maya dengan lembut. Jarang sekali Maya bersikap manis begitu kepada Bayu.


"Aku ngga bermaksud jutek sama kamu kok, maaf dong sayang" Bayu mencoba menahan senyumnya karena baru kali Maya memanggilnya seperti itu.


"Aku cuma.."

__ADS_1


Bayu memotong ucapan Maya.


"Maya kalau kamu terpaksa menjalin hubungan denganku hanya karena tak enak hati pernah menolak ku lebih baik kita akhiri sa...."


Cup


Maya memberikan kecupan singkat di bibir Bayu untuk menghentikan kalimat Bayu.


"Maafkan aku, aku hanya terlalu gugup berada di dekatmu. Jadi aku bingung harus bersikap seperti apa" Ucap Maya mengusap bekas ciumannya di bibir Bayu dengan ibu jarinya.


Bayu mendorong tubuh Maya hingga tersandar di sofa. Bayu mengunci kedua tangan Maya di kiri dan kanan kepala Maya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.


"Kamu yang memancingku sayang!" Desis Bayu di depan wajah Maya sebelum bibir Bayu meraup dengan lembut bibir milik Maya. Bayu menelusuri seluruh bagian bibir kekasihnya seperti permen yang akan segera habis.


Mereka berdua larut dalam ciuman yang memabukkan.


***


Sejak Yuga mengungkapkan perasaanya, kini hubungan mereka sudah jauh lebih baik, walau terkadang Sesa masih sedikit menunjukkan sikap dinginnya.


"Sayang, masak apa hari ini?" Yuga memeluk istrinya dari belakang. Sesa yang asik memasak tak sadar jika Yuga sudah pulang dari kantor


"Mas hentikan, aku sedang memasak!!" Sesa merasa geli karena Yuga menciumi tengkuknya.


"Apa masakan mu itu lebih menari daripada aku hingga kamu tak sadar jika aku sudah pulang?" Yuga tak melepaskan pelukannya.


"Maaf Sesa tidak dengar pintu terbuka" Jawab Sesa.


Cup


"Anggap saja itu hukuman untukmu, aku mandi dulu" Yuga mengacak rambut Sesa pelan sebelum melesat menuju kamarnya.


Sesa memandang punggung tegap yang sedang berjalan menjauhinya.


"Aku bahagia Mas dengan hubungan kita saat ini, tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku takut kebahagiaan ini tak bertahan lama" Gumam Sesa.


Sesa menyusul Yuga ke kamar saat makan malam sudah siap. Sesa heran kenapa suaminya itu tak kunjung muncul setelah lenih dari 30 menit Sesa menunggunya mandi.


"Astaga pantas saja lama sekali kamu malah tidur ternyata" Sesa tak habis pikir suaminya tadi berpamitan untuk mandi tapi apa yang Sesa lihat sekarang, malah suaminya itu tertidur di ranjang dengan posisi kakinya masih menapak di lantai.


"Mas" Sesa duduk di sebelah suaminya, mengguncang pelan lengan kekar itu.


"Mas Yuga katanya mau mandi, sudah malam lekaslah mandi habis itu kita makan malam" Ucap Sesa dengan suara lembut yang Yuga sukai.


Yuga membalik tubuhnya. Meletakan kepalanya di pangkuan Sesa, wajahnya ia benamkan diperut Sesa, tangannya memeluk pinggang ramping itu.


"Aku sangat lelah Sa. Biarkan seperti ini sebentar Posisi ini dulu juga membuatku sangat nyaman" Ucap Yuga di depan perut Sesa bahkan hembusan napasnya bisa menembus baju Sesa yang lumayan tipis. Sesa ingat jika ia pernah dalam posisi ini sebelumnya, beberapa bulan yang lalu saat mereka baru saja menikah.


"Apa pekerjaanmu begitu menumpuk?" Tanya Sesa mengusap lembut rambut suaminya. Membuat Yuga memejamkan matanya karena rasanya begitu nyaman.

__ADS_1


Yuga mengangguk.


"Apalagi aku harus bolak balik antara dua kantor sekaligus. Sedikit susah jika jadwalnya bersinggungan" Keluh Yuga.


"Maafkan aku karena merepotkan mu harus mengurus perusahaan papa juga Mas" Ucap Sesa yang membuat Yuga langsung mendudukkan dirinya dengan tegak.


"Bukan begitu Sa, aku sama sekali tida keberatan dengan semua itu" Ucap Yuga takut jika istrinya itu tersinggung dengan keluhannya.


Sesa mengusap pipi Yuga yang terlihat merasa bersalah karena mengatakan keluhannya tadi.


"Aku tau Mas, aku senang jika kamu terbuka denganku. Tentang perasaanmu, pekerjaanmu atau yang lainnya" Ucap Sesa.


"Benarkah kamu suka jika aku begitu?" Tanya Yuga meraih tangan Sesa yang masih berada di pipinya. Kemudian mengecup telapak tangan itu dalam.


"Hemm" Sesa tersenyum tipis.


"Lalu bolehkan aku meminta satu hal darimu?" Ucap Yuga menggenggam kedua tangan istrinya.


"Apa itu?"


"Panggil namaku lagi saat kamu bicara padaku, aku tidak suka kamu menyebutku kamu. Panggil Mas Yuga seperti sebelumnya. Aku sangat suka dengan itu, terdengar manis di telingaku. Lalu Mas juga akan menyebut diri ku Mas saat berbicara denganmu, begitu pun dengan mu. Bisakah?" Tanya Yuga penuh harap.


"Tidak mau" Sesa membuang muka nya ke samping.


"Sesa, Mas mohon sayang?" Yuga meraih dagu Sesa agar menghadapnya kembali. Sesa terdiam sebentar, menahan senyumnya melihat Yuga memohon sepeti itu.


"Baiklah Mas, Sesa mau" Jawab Sesa tersenyum manis.


"Manis sekali istri Mas ini" Yuga mencubit kedua pipi Sesa gemas.


"Sekarang Mas Yuga mandi dulu. Ini sudah malam, Sesa sudah lapar" Perintah Sesa kepada suaminya itu yang belum juga membersihkan diri.


"Tapi rasanya malas Sayang" Yuga mulai mengeluh lagi.


Cup


Sesa mengecup sekilas pipi Yuga. Hal itu sontak membuat Yuga terbelalak kaget karena istrinya sudah berani menciumnya terlebih dahulu.


Sesa tersipu malu karena tindakannya tadi. Pipinya sudah memerah seperti tomat.


"Itu hadiah dariku asal Mas Yuga lekas mandi sekarang juga!!" Ucap Sesa menundukkan kepalanya karena masih malu.


"Baiklah sekarang Mas sudah tidak malas lagi, Mas mandi sekarang juga. Tapi apa Mas boleh minta lagi nanti setelah mandi?" Ucap Yuga tak melepaskan senyum lebarnya.


Sesa bangkit dari ranjang berjalan cepat ke arah pintu kamar.


"Kita lihat saja nanti" Ucap Sesa lalu melesat keluar kamar menahan rasa malu.


Yuga tak bisa menghentikan senyum di bibirnya. Saat mandi pun Yuga senyum-senyum sendiri meluapkan rasa senang di hatinya.

__ADS_1


"Tak pernah aku bayangkan akan sebahagia ini menikah denganmu Sa. Orang yang tak pernah aku bayangkan untuk menjadi istriku sebelumnya"


Gumam Yuga di tengah guyuran air yang sedang membersihkan tubuhnya.


__ADS_2