
Benar dugaan Sesa jika Yuga akan kembali dengan keadaan seperti tadi malam. Baru saja Doni mengantar Yuga pulang. Bahkan kali ini Yuga sudah tidak bisa berdiri dengan kaki sendiri hingga harus butuh bantuan Doni untuk sampai di apartemen.Ternyata kecemasan Sesa tadi sore berbuah juga. Suaminya memang tidak baik-baik saja.
Sesa dengan telaten membersihkan dan mengganti pakaian Yuga.
Sesa duduk di lantai tepat di samping kepala suaminya. Memandang wajah Yuga di saat terlelap begini sepertinya sudah menjadi kebiasaan Sesa akhir-akhir ini.
"Kenapa kamu harus melampiaskan semua masalahmu dengan alkohol Mas? Aku tau kamu pasti hancur karena kehilangan Della. Tapi aku lebih hancur karena melihatmu seperti ini" Sesa mengusap setetes air yang menetes dari matanya.
***
Pagi ini Sesa berhasil bangun seperti biasa walaupun dia tidur menjelang subuh lagi. Makanan yang dimasak Sesa tadi malam masih utuh tidak tersentuh karena rasa lapar sudah hilang setelah melihat keadaan suaminya.
Sesa kembali ke kamar dengan segelas air lemon madu. Katanya itu bisa menghilangkan kadar alkohol dalam tubuh
Niat Sesa membangunkan Yuga ia urungkan karena ternyata Yuga sudah bangun dan kini menyandarkan tubuhnya pada headboard.
"Mas Yuga, Sesa bawain air lemon. Katanya bisa buat hilangkan sisa alkohol dalam tubuh" Sesa mengulurkan tangannya yang menggenggam sebuah gelas.
Tangan Yuga tidak bergerak menyambut tangan Sesa. Ia malah menyibakkan selimutnya lalu pergi begitu saja ke kamar mandi.
Tangan Sesa mencengkeram gelas dengan kuat menahan gejolak dalan hatinya.
Sesa mencoba tidak peduli akan sikap Yuga barusan. Sesa mencoba mengerti kenapa laki-laki itu berubah menjadi dingin kembali.
Sesa membawa kembali minuman yang di bawanya ke meja makan. Mungkin saja Yuga mau meminumnya saat sarapan nanti. Sesa menikmati teh hangatnya dan melihat siaran televisi di pagi hari yang menyiarkan berita banjir di ibukota dan beberapa daerah lainnya sambil menunggu Yuga untuk sarapan.
Sesa yang mendengar Yuga keluar dari kamar langsung berdiri menghampiri suaminya bermaksud untuk sarapan bersama, namun apa yang terjadi? Yuga malah melewati Sesa begitu saja, berjalan ke arah pintu.
"Tunggu Mas" Sesa menghentikan tangan Yuga yang sudah bersiap membuka pintu.
"Sesa tau mas Yuga saat ini hancur karena kehilangan wanita yang mas Yuga cintai. Tapi tidak baik melampiaskan itu semua dengan mabuk mabukan. Sesa mohon jangan menyakiti tubuh mas Yuga dengan alkohol. Jangan lupa Mas Yuga punya Tuhan untuk menyampaikan isi hati Mas Yuga" Sesa menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Ayo kita sama-sama cari keberadaan Della. Sesa akan bantu sebisa mungkin menemukan sumber kebahagiaanmu Mas" Suara Sesa sedikit bergetar menahan perih di hatinya.
"Apa kau sudah pernah kehilangan orang yang kau cintai?" Ucap Yuga dengan suaranya uang dingin.
__ADS_1
"Ak aku.." Sesa tak bisa menjawab pertanyaan Yuga.
"Kau baru akan tau apa yang aku rasakan jika kau pernah kehilangan orang yang kau cintai" Ucap Yuga lalu pergi meninggalkan Sesa dalam pilu.
Satu kalimat yang keluar dari mulut Yuga mampu menghancurkan seluruh jiwa dan raga Sesa.
"Aku tau Mas, aku sangat tau. Bahkan aku sudah kehilangan orang yang aku cintai sejak tiga tahun yang lalu"
Sayangnya Sesa hanya bisa mengatakan itu semua saat Yuga sudah menghilang dari hadapannya.
Tangan Sesa mengusap air matanya yang tidak mau berhenti. Sepertinya mata Sesa menolak perintah dari otaknya untuk berhenti menangis.
***
Aura dingin yang terpancar di wajah Yuga membuat siapapun enggan untuk menyapanya. Semua karyawan yang berpapasan dengan Yuga hanya mampu menundukkan kepalanya. Mereka tidak berani menatap wajah yang pemimpin yang berkuasa itu.
Sudah beberapa hari ini suasana hati Yuga sedang tidak bersahabat. Semua salah di matanya. Hingga semua karyawan yang menanggung kemarahan tidak jelas itu.
"Panggil bagian keuangan sekarang juga" Titah Yuga kepada asistennya.
Beberapa saat kemudian Doni masuk diikuti dengan pria bertubuh tambun dan perutnya seperti orang hamil enam bulan.
"Sudah berapa lama kau berkerja di sini hah?" Yuga melemparkan laporan itu keuangan dibatas meja.
"Maaf Pak, apa ada yang salah pada laporan saya?"
"Kau masih bisa bertanya seperti itu? Bawa kembali dan ulang dari awal. Saya tidak mau tau besok pagi sudah harus ada di meja saya" Ucap Yuga dengan suaranya yang dingin dan tegas.
"Tapi Pak itu terlalu ce.."
"Kerjakan sekarang juga atau keluar dari perusahaan ini" Yuga tetaplah Yuga yang tidak bisa dibantah.
"Baik pak saya permisi" Pria buncit itu mengambil laporannya kembali dan bergegas keluar dari ruangan Yuga.
"Hufffttt selamat selamat" Ucap pria paruh baya itu sambil mengusap dadanya.
__ADS_1
-
"Bos lebih baik loe tenangkan diri dulu deh, semua karyawan loe pada takur semua. Mereka jadi pelampiasan amarah loe. Gue bicara kaya gini bukan sebagai asisten loe tapi gue sahabat loe" Doni sebenarnya sangat merasa iba melihat sahabatnya itu.
"Mungkin Della pergi memang sudah menjadi keputusannya. Dia sadar jika loe sekarang udah beristri makanya dia mencoba ikhlas. Sudah saatnya loe buka hati buat Sesa. Dia juga butuh kepastian dari loe. Jangan sampai loe menyesal" Doni menepuk pundak Yuga pelan.
"Tapi gue yakin ada yang tidak beres dengan kepergian Della yang mendadak. Pasti ada seseorang di balik ini semua. Seperti saat foto yang tersebar waktu itu. Bahkan pengunggah foto itu susah untuk di lacak. Mungkin memang ada yang tidak suka dengan hubungan ku dan Della. Waktu itu Della sempat menuduh Sesa penyebar foto itu" Yuga mulai membenarkan perkataan Della yang saat itu Yuga bantah.
"Jangan bilang loe juga mencurigai Sesa?" Doni sudah melotot ke arah Yuga.
Yuga hanya diam yang membuat Doni menyimpulkan bahwa tebakannya benar.
"Sadar men, bisa aja tuduhan loe itu salah. Jika Sesa tau loe curiga sama dia, apa loe ngga bayangin betapa sakit hatinya dia? Dan jika tuduhan loe itu salah gimana? Gue aja sebagai seorang laki-laki iba melihat perlakuan loe ke Sesa. Gue benar-benar ngga habis pikir sama jalan pikiran loe" Doni mengacak rambutnya kasar.
Tiba-tiba ponsel Doni berdering.
"Halo, apa ada perkembangan?" Ucap doni berbicara dengan anak buahnya.
". . . . . . . . ."
"Oke, cari terus walau kemungkinan sekecil apapun dan tetap laporkan semuanya padaku"
Doni mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ada apa?" Tanya Yuga yang sedari tadi mendengarkan percakapan Doni.
"Sepertinya mulai ada titik terang. Nama Della tercatat di bagian imigrasi" Tutur Doni.
"Akan aku temukan di manapun kamu Della" Yuga mengulas setitik senyum karena kabar tersebut.
-
-
Dua episode buat kalian readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmuš