Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Rencana


__ADS_3

Halo bos" Sahut Doni di seberang sana.


"Dimana kau br*ngs*k!!" Yuga mulai mengumpat.


"Di apartemen bos, ada apa bos?"


"Tunggu di sana!!" Desis Yuga tajam. Yuga menyambar ketiga benda tadi membawanya pergi menemui Doni.


-


Ting tong... ting tong..


Yuga menekan tombol apartemen Doni dengan tidak sabaran.


"Sabar bos ada apa_"


BUK..


Yuga yang sudah di kuasai amarah langsung melayangkan pukulannya setelah berhasil melihat wajah Doni.


Yuga menghampiri Doni yang tersungkur di lantai. Yuga menarik kerah baju Doni, menariknya untuk berdiri.


BUK...


Satu pukulan lagi berhasil mendarat mulus di pipi kanan Doni.


"Yuga!!" Doni yang sudah bisa mengumpulkan tenaganya mendorong tubuh Yuga agar menjauh darinya.


"Ada apa?? Katakan apa yang membuatmu tiba-tiba menyerang ku!!" Doni juga mulai terbawa emosi.


"Brengsek, gara-gara rencana bodoh loe itu sekarang Sesa pergi ninggalin gue!!" Teriak Yuga tak mah kalah dari Doni.


"Maksud loe apa?" Doni masih belum paham apa maksud Yuga. Yuga melemparkan ponsel Sesa kepada Doni.


"Lihat kelakuan Della, yang gue takutkan akhirnya terjadi juga!" Yuga masih belum bisa mengontrol emosinya.


Mata Doni terbelalak melihat foto-foto yang Della kirimkan kepada Sesa. Doni gusar mengacak rambutnya. Ia tidak menyangka rencananya akan menjadi hancur seperti ini.

__ADS_1


FLASHBACK ON


"Apa yang kau dapat Don?" Yuga telah tiba di kantornya langsung meminta Doni menemuinya.


"Ini bos" Doni menyerahkan tab yang berisikan video cctv di tempat kejadian tertabraknya Della.


"Bos bisa lihat sendiri Della sengaja menabrakkan diri, dan ini identitas penabraknya. Saya sudah mencari keberadaan orangnya, ternyata dia di beri sejumlah uang oleh Della untuk bersembunyi. Ini juga hasil pemeriksaan yang sebenarnya tentang kondisi Della. Disini kakinya baik-baik saja tidak ada cidera yang serius. Dokter yang memalsukan rekam medis Della juga sudah resmi di keluarkan dari rumah sakit itu bos" Ucap Doni menyerahkan beberapa lembar kertas.


"Kurang ajar!! aku tidak menyangka Della bisa berbuat senekat itu" Yuga memeriksa hasil penyelidikan Doni.


"Lalu bagaimana selanjutnya bos? Apa yang akan kita lakukan pada Della?" Tanya Doni menunggu perintah bosnya untuk bertindak lebih jauh.


"Menurutmu kenapa Della melakukan hal itu?" Yuga meminta pendapat sahabatnya itu.


"Menurut saya karena bos sudah tidak mempedulikannya lagi, makanya dia berusaha menarik perhatianmu dengan berbuat nekat seperti itu" Sesuai kecurigaan Doni dari awal dengan niat Della yang ngotot meminta Yuga untuk selalu di sisinya.


"Benarkah seperti itu?" Yuga bergumam memikirkan Della. Ia merasa Della sudah banyak berubah dulu dia wanita yang baik dan pengertian tapi sekarang seperti wanita ambisius dan keras kepala.


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan Don?" Yuga menatap Doni berharap menemukan cara untuk menghentikan kegilaan Della.


"Kita ikuti dulu permainannya bos, dengan begitu kita akan tau tujuan sebenarnya apa. Siapa tau kita juga bisa mendapatkan kebenaran tentang kepergian Della waktu itu ada hubungannya dengan Kakek atau tidak" Doni juga tidak percaya jika Kakek membuang Della begitu saja, jika itu benar pun pasti ada alasan di baliknya.


"Tenang saja bos, saya akan bersembunyi di sekitar bos saat sedang bersama Della. Bos bisa terus melakukan panggilan telepon dengan saya, agar saya bisa terus mendengar percakapan kalian. Jika sudah begitu saya bisa sebagai jaminan jika kalian tidak akan berbuat macam-macam yang akan menyakiti hati Sesa" Ucap Doni sudah yakin dengan rencananya kali ini.


Yuga tampak berpikir sejenak. Masih ada sedikit ragu dalam hatinya. Tapi ini juga demi mendapatkan kebenaran tentang Kakek dan memberikan pelajaran kepada Della.


"Baiklah" Yuga akhirnya menyetujui rencana Doni.


"Mulai sekarang cobalah untuk berpura-pura bersikap baik dengan Della, setidaknya jangan sampai mencurigakan" Doni memperingatkan bosnya yang sering kali tidak bisa untuk berbasa basi kepada orang lain.


"Hemmm, akan ku coba" Ucap Yuga.


FLASHBACK OFF


"Tapi kenapa waktu itu loe ngga jujur aja sama Sesa tentang rencana kita itu?" Doni kini menyalahkan Yuga yang juga bertindak bodoh.


"Waktu itu gue takut akan menyakiti hati Sesa jika tau gue bakal mendekati Della lagi"

__ADS_1


"Tapi nyatanya saat ini malah kita yang kalah dari Della hanya karena kesalahpahaman!!" Doni mencoba menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Kenapa loe jadi nyalahin gue hah?" Yuga merasa Doni malah memojokkannya.


"Sudahlah, ini memang salah kita berdua. Sebaiknya kita fokus cari Sesa dulu. Urusan Della belakangan biar gue yang urus" Doni sudah mulai tenang. Ia juga sebenarnya sangat merasa bersalah melihat rumah tangga sahabatnya di ambang kehancuran.


Yuga mengangguk, lalu menuju sofa untuk membaringkan tubuhnya yang sudah tidak bertenaga lagi.


Doni yang melihat hal itu sangat merasa iba. Dia menuju dapurnya, mengambil dua kaleng minuman bersoda untuknya dan sahabatnya itu.


"Minum dulu" Doni meletakkan kaleng dingin itu di kening Yuga. Tanpa protes Yuga menerimanya, lalu meneguk minuman itu sampai tak tersisa lagi. Ia sudah tidak ada tenaga untuk berdebat lagi.


"Apa yang loe maksud Sesa pergi ninggalin loe?" Kini Doni berperan sebagai sahabat Yuga, bukan lagi asistennya.


"Saat gue pulang tadi, gue udah nemuin cincin dan surat dari Sesa yang mengatakan dia sudah pergi jauh dan sudah mengurus perceraian kita" Jelas Yuga dengan suara yang timbul hilang karena sudah lelah.


"Apa?? Sesa sampai menggugat cerai?" Doni semakin gusar. Tidak menyangka bahwa Sesa mengambil keputusan sebesar itu.


Yuga mengangguk mengiyakan pertanyaan Doni.


"Om dan tante udah tau soal ini?"


"Gue nggak tau" Jawab Yuga seadanya.


"Loe ada pikiran abis ini loe mau cari Sesa kemana?" Tanya Doni.


"Mungkin ke rumah orang taunya, dan Maya. Sahabat satu-satunya Sesa yang tersisa" Jawaban Yuga kali ini sama dengan Doni.


"Oke kalau gitu besok kita mulai dari rumah orang tua Sesa terlebih dulu lalu Maya. Dan lebih baik sekarang loe istirahat dulu. Mana mungkin gue harus cari Sesa dan ngurusin orang sakit diwaktu yang sama" Ucap Doni yang tak pandai menunjukkan kekhawatirannya.


"Berisik loe" Jawab Yuga yang sudah memejamkan matanya di sofa. Hanya terpejam tapi pikirannya jauh berkelana.


"Sayang, Mas rindu" Jeritan batin Yuga, tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat merindukan istrinya itu.


-


Sementara di kota lain, Sesa yang sedang bersiap untuk tidur setalah membereskan semua barang bawaannya tiba-tiba merasakan nyeri di hatinya. Hatinya terasa sakit seperti tertusuk, tapi pikirannya langsung tertuju kepada pria yang masih berstatus sebagai suaminya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Ada apa dengan Mas Yuga?" Gumam Sesa, tangannya memegang dadanya yang masih terasa nyeri.


__ADS_2