
Sesa menatap nanar punggung suaminya.
"Kenapa sesakit ini menerima sikap dingin mu mas" Lirih Sesa mengusap pelan dadanya.
Sesa menyusul Yuga yang masuk ke dalam kamar. Yuga membaringkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di tengah ranjang.
"Sesa siapkan air untuk mandi ya Mas?" Sesa sedikit takut karena melihat wajah suaminya yang tak bersahabat sejak memasuki apartemen tadi.
"Tidak perlu" Yuga beranjak meninggalkan Sesa.
Sesa hanya diam melihat sikap dingin suaminya. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa Sesa lakukan.
Wanita yang sudah berstatus istri tapi masih gadis itu duduk di sofa dekat jendela. Menunggu suaminya yang sedang membersihkan diri. Niat hati Sesa ingin mengajak suaminya makan malam, walau sudah lewat jauh jam makan malam. Sebenarnya Sesa tidak yakin ajakannya akan bersambut baik, tapi ia ingin mencoba peruntungannya.
Setelah waktu yang cukup lama untuk ukuran mandi seorang paria. Yuga keluar sudah berpiama tidurnya. Tangan kirinya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.
"Apa Mas Yuga sudah makan malam? Kita makan malam dulu ya?" Suara lembut Sesa kembali terdengar di kedua telinga Yuga.
Tapi Yuga adalah pria angkuh yang tak pernah mempedulikan siapapun. Termasuk Sesa, dia hanya diam saja tanpa menolak atau menerima. Yuga malah mengambil laptopnya kemudian pergi keluar kamar. Sesa kira Yuga akan menuju meja makan, tapi tebakan Sesa salah ketika mendengar pintu tertutup dari sebelah kamar tempat Sesa berada.
"Jangan nangis Sa, kamu kuat" Sesa memperingati dirinya sendiri.
Sesa membereskan meja makanya. Memasukkan semua masakannya ke dalam kulkas. Sudah beberapa hari makanan yang di buatnya berakhir di tempat sampah.
Sudah tidak ada gunanya lagi Sesa menunggu suaminya keluar dari ruang kerjanya. Sepertinya Yuga kembali ke mode awal pernikahan dulu. Dia tidak akan kembali ke kamar. Sesa yang sudah lelah akhirnya lebih memilih pergi ke alam mimpi.
***
"Pagi Bu Maya" Sapa Bayu yang sudah berkutat di dapur.
"Pagi" Jawab Maya singkat.
"Ini baju ganti buat Bu Maya, maaf kalau ukuranya kurang pas. Tapi semoga ngga terlalu jauh" Bayu memberikan tote bag berukuran sedang kepada Maya.
"Makasih" Maya meninggalkan Bayu yang sedang asik dengan wajannya. Maya tidak yakin pria itu bisa memasak.
Betapa malunya Maya saat melihat pakaian yang di berikan Bayu. Bagaimana tidak, ternyata isinya lengkap dengan pakaian dalam juga. Mau di taruh dimana muka Maya karena Bayu tau ukuran pakaian dalan Maya.
Maya melihat ke sekeliling mencari keberadaan Bayu tapi nihil.
"Mungkin lagi mandi" gumam Maya.
__ADS_1
Maya melihat meja makan yang sudah tertata dua porsi nasi goreng, dua gelas susu dan dua gelas air putih. Dari tampilan nasi gorengnya terlihat sangat menggiurkan di mata Maya. Tapi entah dengan rasanya.
"Ayo Bu Maya kita sarapan" Ucap Bayu yang sudah berada di belakang Maya.
Maya terlihat ragu melihat nasi goreng di atas meja.
"Bu Maya tenang aja, saya ngga kasih racun kok" Ucap Bayu sambil mendudukkan dirinya.
"Siapa tau" Maya menjawab sekenanya.
"Kalau buat Bu Maya, daripada saya kasih racun mendingan saya kasih pelet. Biar tergila gila sama saya" Bayu mulai menggoda Maya.
"Cih, ngga usah di pelet juga kalo kelamaan di dekat Pak Bayu saya bisa jadi perempuan gila" Balas Maya dengan gaya juteknya yang khas.
"Hahahaha" Bayu terbahak melihat tingkah Maya yang menurutnya lucu.
***
Pagi di apartemen Sesa masih seperti beberapa hari yang lalu sejak kepergian Della. Sasana dingin menyelimuti pasangan pengantin tanpa cinta itu. Mereka hanya pasangan yang berbagi tempat tinggal dalam satu atap tapi tidak dengan satu tujuan.
Sesa yang sedari tadi menunggu suaminya untuk sarapan hanya bisa pasrah ketika melihat suaminya pergi begitu saja.
-
Setelah keluar dari apartemen, kehidupan Sesa tak ada yang berubah. Seperti sebelum menikah, kesehariannya hanya berkutat di cafenya saja. Sesa bukan gadis kaya raya yang suka berbelanja dan jalan-jalan. Sesa lebih memilih bekerja keras menekuni hobi memasaknya.
"Aduh mba Sesa gawat" Suara Dewi mengejutkan Sesa yang sedang merapihkan tanaman hias di dalam ruang kerjanya.
"Astaghfirullah, ada apa sih Wi. Pela-pelan dong" Ucap Sesa.
"Maaf mba Saya panik" Ucap Dewi merasa bersalah.
"Iya, ada apa memangnya?" Sesa semakin penasaran.
"Mba Saya minta maad sebelumnya, Saya lupa kalau besok ada pesanan sebanyak 500 pcs. Diambil jam 10 pagi mba" Ucap dewi takut-takut.
"Apaa? Ya Allah wi kenapa bisa lupa? Sekarang udah jam 4 sore loh"
"Maaf mba" Cicit Dewi menundukkan kepalanya.
"Ya udah cepetan siapkan semua bahannya, kita buat sekarang" Titah Sesa.
__ADS_1
Sesa di bantu dengan karyawan yang lain tengah sibuk membuat pesanan kue untuk besok pagi. Sesa tidak mau mengecewakan pelanggannya maka dari itu sebisa mungkin ia harus menyelesaikan pesanan sebelum pelanggannya datang.
Kue pesanan selesai pukul 9 malam. Hanya tinggal beberapa yang belum masuk oven ia serahkan kepada Dewi. Sudah waktunya ia untuk pulang.
Saat tiba di basemen apartemen Sesa sempat melihat mobil Yuga sudah terparkir di sana.
"Alhamdulillah Mas Yuga udah pulang" Gumam Sesa.
Sesa berjalan cepat ingin segera sampai di apartemen. Entah kenapa hari ini ia sangat merindukan Yuga. Mungkin karena rasa lelahnya, sehingga membutuhkan tempat untuk bersandar. Tak dapat dipungkiri rasa cinta itu masih tetap ada di hati Sesa walaupun sudah berkali kali tersakiti.
Ketika Sesa membuka pintu apartemen, mata Sesa langsung menangkap sosok tampan sedang terduduk di sofa menikmati secangkir teh dan memainkan ponselnya. Ingin rasanya Sesa memeluk pria yang berstatus suaminya itu. Pelukan pertama kemarin ingin ia rasakan kembali. Tapi apa daya itu hanya harapan Sesa belaka.
"Maaf Mas, Sesa pulang telat tadi ada pe..."
"Hemmm" Jawaban Yuga seakan memerintah Sesa untuk menghentikan ucapannya.
Sesa langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak menyangka bahwa suaranya pun tak ingin di dengar Yuga.
Kaki Sesa bergerak meninggalkan ruangan yang di isi suaminya itu. Sesa masuk ke dalam kamar mandi mengguyur tubuhnya untuk menyamarkan air matanya yang mengalir tanpa seizinnya. Sesa hanya menangis dalam diam, tanpa isakan. .
Sesa sudah selesai membersihkan tubuhnya. Rambutnya pun sudah ia keringkan. Wajahnya sedikit sembab namun tidak terlalu kentara. Sesa duduk di meja rias, menunggu suaminya masuk ke dalam kamar. Dan benar saja tak lama kemudian Yuga masuk ke kamar. Sesa sempat tersenyum tipis walau tak dilihat Yuga.
Sebenarnya sudah terbesit dipikiran Sesa bahwa kali ini Yuga juga akan tidur di ruang kerjanya seperti tadi malam. Namun Sesa menepis semua itu. Tapi gerakan Yuga yang hanya mengambil laptopnya lalu berbalik ke arah pintu membuktikan pikiran Sesa benar adanya.
"Mas" Cegah Sesa sebelum Yuga menghilang di balik pintu.
Yuga menghentikan langkahnya.
"Tidurlah disini" Sesa menjada ucapannya.
"Jika Mas Yuga merasa terganggu dengan kehadiran Sesa dikamar ini, maka biarkan aku yang tidur di luar. Ini apartemen Mas Yuga begitupun juga kamar ini. Maka sepenuhnya ini adalah hak Mas Yuga" Sesa berjalan ke arah lemari untuk mengambil selimut. Kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.
Sebelum membuka pintu Sesa berbalik menatap Yuga.
"Jika Sesa ada salah sama Mas Yuga, Sesa minta maaf, selamat malam Mas" Seulas senyum ia berikan kepada suaminya sesaat sebelum pintu tertutup.
-
-
Maafkan Sesa yang nasih bucin ini ya guys. Tapi kalau kalian ikuti terus pasti bakalan seru. Tetap pantau terus hubungan Sesa dan Yuga ya?. Selamat membacaš
__ADS_1