Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
menemui maya


__ADS_3

Pagi yang baru untuk Sesa di kota Jogja. Pagi dengan harapan hidup yang baru pula. Sesa harus belajar kuat dan mandiri untuk hidup sendirian di kota orang.


Sesa membuka jendela, membiarkan udara sejuk yang jauh dari polusi masuk ke dalam kamarnya. Sinar matahari sudah mulai terasa hangat menerpa kulit Sesa, namun semilir angin yang berhembus membuat udara sangat sejuk. Panas tapi dingin.


Jemari lentik Sesa mengarah ke permukaan perutnya. Merabanya dengan lembut.


"Sayang, apa benar kamu sudah tumbuh di rahim mama? Tapi kenapa mama tidak merasakan apapun? Kenapa mama juga tidak mual sama sekali?" Sesa sempat membaca artikel tentang ibu hamil yang menyebutkan berbagai gejala yang di alami saat hamil muda.


"Aku lupa hasil labnya kan belum sempat di ambil kemarin" Sesa teringat jika kepastian dia hamil atau tidaknya adalah hasil laboratorium itu.


"Atau jangan-jangan aku tidak hamil? Lebih baik besok aku cari klinik kandungan di daerah sini saja untuk memastikan" Sesa memandangi perutnya, tak dipungkiri ada rasa kecewa saat membayangkan dirinya tidak hamil.


-


Sementara itu tidur nyenyak Doni terganggu dengan suara berisik Yuga di kamar mandi.


HUEEEKKK


HUUEEEKK


Doni bergegas menghampiri bosnya dikamar mandi. Yuga sudah menumpahkan isi perutnya tapi rasa mualnya tak kunjung hilang.


"Loe sakit bos?" Doni di belakang Yuga masih dengan muka bantalnya.


Yuga menggeleng lemah lalau merebahkan dirinya kembali ke sofa.


"Nih minum dulu" Doni memberikan segelas air putih pada Yuga.


"Ke dokter aja bos kalau belum berhenti juga mualnya"


"Nggak, gue nggak selemah itu. Gue pulang dulu mau ganti baju, habis itu gue cari Sesa ke rumah orang tuanya. Untuk sementara ini loe yang handle kerjaan gue" Yuga meninggalkan apartemen Doni begitu saja.


"Sok kuat loe" Cibir Doni sebelum pintu apartemen tertutup.


-


Yuga tiba di depan kediaman keluarga pamungkas. Yuga tidak yakin Sesa ada di sini. Tapi dia akan mencoba segala kemungkinan sekecil apapun.


Tin.. Tin..


Yuga membunyikan klakson mobilnya memberi pertanda Pak ujang untuk membukakan pintu gerbang untuknya.


Dengan sigap Ujang mendorong pintu pagar yang menjulang tinggi itu dengan badan kurusnya.


"Selamat pagi Den" Sapa Ujang membungkukkan badannya.


"Pak Ujang, apa Sesa disini?" Tanya Yuga setelah ia keluar dari mobilnya.


"Lho lho, ini yang ke dua kalinya aden cari non Sesa kesini lho, tapi selalu saja tidak ada disini. Non Sesa tidak pernah pulang kesini Den" Ujang heran dengan rumah tangga majikannya itu.


"Kenapa Den Yuga selalu mencari Non Sesa, apa Non Sesa suka kabur dari rumah ya?" Batin Ujang.


"Pak Ujang ngga bohong sama saya kan?" Selidik Yuga.


"Mana berani saya bohong Den. Kalau tidak percaya ayo Den Yuga cari Non Sesa kedalam"


"Nggak usah, ya sudah saya pergi dulu. Tapi kalau Sesa datang ke sini Pak Ujang kasih tau saya ya!" Yuga melihat kejujuran dari mata tua itu. Akhirnya ia memilih pergi. Yuga masih ada satu tujuan lagi yang ia yakini tau keberadaan Sesa.


Sepanjang perjalanan Yuga hanya melamun. Tentu saja pikirannya di penuhi Sesa dan calon anak mereka. Tapi ada satu hal lagi yang juga menyerang pikiran Yuga. Yaitu tentang bagaimana ia akan menghadapi kemarahan kedua orang tuanya saat mengetahui kepergian Sesa. Rasanya Yuga ingin menghilang dari dunia ini.


Yuga akan menemui Maya di kantornya. Karena ini hari kerja dan sudah menjelang siang, dimana lagi tempat wanita karir berasa jika bukan di tempat mereka mencari nafkah.


Yuga langsung menjadi pusat perhatian saat tiba di depan kantor Maya. Kakinya yang panjang melangkah menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Maya.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan Maya?" Yuga berbicara kepada dua wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.


"Permisi!!" Yuga mulai geram karena mereka berdua hanya menatapnya dengan mulut yang terbuka.


"Ma- maaf Pak, Bapak ingin bertemu siapa tadi?" Setelah kesadarannya kembali wanita bermakeup tebal itu bertanya kembali kepada Yuga.


"Maya!" Singkat Yuga yang berusaha menahan amarahnya.


"Maaf Maya siapa ya Pak, disini ada lebih dari lima orang yang bernama Maya atau biar lebih mudah bekerja di divisi apa ya Pak?" Jawab wanita yang satunya lagi dengan polosnya.


Yuga bingung harus menjawab apa, semalam ini dia hanya tau Maya, tidak tau nama lengkapnya. Atau bagian apa dia bekerja.


"Tuan Yuga!" Suara pria dari kejauhan.

__ADS_1


Yuga mengernyitkan dahinya. Merasa tidak pernah mengenal pria itu.


"Keberuntungan apa yang akan saya dapat karena sudah di sambangi Tuan Yuga yang terhormat ini" Bayu mendekati Yuga dan mengulurkan tangannya.


Yuga yang masih bingung hanya menerima uluran tangan Bayu.


"Saya Bayu, CEO di perusahaan kecil ini"


"Salam kenal" Balas Yuga tak menyebutkan namanya, bukannya tadi pria di depannya itu sudah mengenalnya.


"Ada perlu apa Tuan Yuga datang kemari? Atau ingin bertemu dengan siapa?" Tanya Bayu penasaran. Karena bagaimana bisa pemilik perusahaan raksasa menyambangi kantornya yang tidak terlalu besar itu.


"Jangan panggil saya seperti itu, panggil nama saya saja. Saya datang kesini ingin mencari Maya" Terang Yuga.


"Maya?" Kini Bayu yang di buat bingung.


"Iya, Maya sahabat istri saya, Sesa"


Kali ini Bayu langsung tau Maya mana yang Yuga maksud.


"Kalau begitu kita keruangan saya saja, anda bisa menemui Maya di sana"


"Baiklah jika tidak merepotkan" Yuga merasa lega karena Bayu bisa menemukannya dengan Maya.


"Wita tolong panggilkan Bu Maya bagian keuangan" Perintah Doni kepada salah satu resepsionisnya.


"Baik Pak"


-


"Silahkan duduk Pak Yuga" Tentu saja Bayu sungkan untuk memanggil Yuga dengan hanya namanya saja.


"Terimakasih" Yuga membuka kancing jasnya untum memudahkan ia duduk.


Ceklek..


"Ada ap.." Ucapan Maya terhenti saat melihat siapa yang duduk di depan kekasihnya. Maya merutuki kebiasannya yang nyelonong begitu saja masuk ke dalam ruangan Bayu.


"Yuga" Lirih Maya.


"Tidak usah, di sini saja temani aku" Pinta Maya. Bayu menatap Yuga yang mengangguk lalu Bayu hanya bisa menurut.


"Ada apa Pak Yuga?" Maya mencoba berbicara formal karena ini di kantor.


"Dimana Sesa?" Yuga yang tak pernah bisa berbasa basi.


"Maksud Pak Yuga?" Sesa balik bertanya.


"Saya yakin kamu tau maksud saya!" Yuga menatap Maya tajam. Sementara Bayu hanya bertindak sebagai penonton.


"Saya benar-benar tidak tau apa maksud Pak Yuga" Maya masih dengan pendiriannya.


"Baiklah kalau kamu mau tau, Sesa pergi dari rumah" Ucap Yuga pada akhirnya.


"Apa?? Kenapa bisa?? Lalu Sesa pergi ke mana??" Maya menunjukkan wajah kagetnya.


"Mana saya tau, makanya saya datang kesini menemui mu. Siapa tau Sesa bersamamu!" Yuga mulai kesal dengan pertanyaan Maya.


"Ya Tuhan kemana Sesa pergi?" Maya terduduk menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.


"Jadi benar kamu tidak tau kepergian Sesa?" Tanya Yuga memastikan.


"Bagaimana saya bisa tau kalau saya saja baru saja mendengar dari anda!" Giliran Maya yang memelototi Yuga tanpa takut.


Yuga mengusap wajahnya kasar.


"Baiklah, segera beri tau saya kalau ada kabar tentang Sesa"


"Baik Pak" Maya menganggukkan kepalanya yang menunduk.


Kini Yuga beralih kepada Bayu.


"Pak Bayu terimakasih untuk tempat dan waktunya, saya permisi dulu"


"Tidak usah sungkan Pak" Bayu dan Maya berdiri untuk bersalaman dengan Yuga.


"Sekali lagi terimakasih" Kemudian Yuga meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Maya menghembuskan napasnya panjang, karena lega Yuga sudah pergi dari hadapannya.


"Sayang" Bayu memeluk pinggang Maya dari belakang.


"Akting mu jelek sekali" Bisik Bayu di telinga Maya.


"Hah akting?" Maya masih pura-pura nggak tau.


"Sayang, sudahlah tidak usah berpura-pura di depanku. Bahkan aku yang belum tau apa-apa saja bisa menebak jika omongan mu tadi bohong" Bayu menciumi kepala Maya.


"Emang jelas banget ya?" Tanya Maya merasa malu jika Yuga juga berpendapat yang sama dengan Bayu.


"Apa menurutmu dia akan percaya dengan kata-katamu tadi?" Bayu malah balik bertanya.


"Semoga saja" Maya berharap jika Yuga berhenti mencari informasi tentang Sesa kepadanya.


"Tapi kamu hutang cerita sama aku. Aku ngga mau kamu melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui!" Sifat posesif Bayu kembali.


"Iya oke aku cerita tapi lepas dulu pelukannya, kakiku pegel pingin duduk"


"Iya maaf" Bayu melepas pelukannya lalu duduk di sofa. Tangannya menarik tubuh Maya ke pangkuannya.


"Ih kalau ada yang masuk gimana?" Maya merasa malu dengan posisinya kali ini.


"Biarin aja, cepat cerita dulu!!" Perintah Bayu.


"Iya iya. Jadi sebenarnya Sesa itu......." Maya menceritakan semuanya kepada kekasihnya itu.


"Apa kamu tidak kasihan melihat suaminya?" Sebagai sesama laki-laki, Bayu bisa melihat cinta di mata Yuga untuk istrinya.


"Ngapain kasihan, dia yang nyakitin hati sahabatku lebih dulu!"


"Sayang, kamu boleh membantu sahabatmu jika itu hal yang baik. Tapi ingat satu hal, tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan cara kabur-kaburan seperti ini. Kamu sebagai sahabatnya coba kasih tau dia, untuk meminta penjelasan dulu dari suaminya. Siapa tau ini hanya salah paham. Apalagi Sesa sedang mengandung, seharusnya perceraiannya tidak sah" Maya menatap Bayu kagum, ia tak percaya kekasihnya itu ternyata bisa juga berpikir bijaksana.


Cup..


Tanpa sadar Maya mengecup bibir Bayu sekilas.


"Kamu kok bisa dewasa banget sih sayang"


Maya mengusap pipi Bayu dengan mesra.


"Kamu jangan mancing aku May" Tatapan Bayu berubah menjadi beringas. Maya yang menyadari itu langsung bangun dari pangkuan Bayu.


"Enggak Bay, jangan ini di kantor!"


"Jadi maunya di mana?" Bayu mendekati Maya dnegan senyum miringnya.


Maya sudah bersiap melarikan diri namun tangannya berhasil di cekal oleh Bayu.


"Mau lari kemana kamu sayang. Kamu harus ikut aku sekarang juga. Aku sudah tidak tahan!!" Bayu semaki menyeramkan di mata Maya.


"Ampun sayang!! Aku tidak mau melakukan itu sebelum kita menikah!!" Maya mencakupkan tangannya di depan dada sambil memejamkan matanya.


Bayu tidak bisa menahan tawanya melihat kekasihnya itu. Wajah ketakutan Maya sangat lucu di mata Bayu.


"Buhahahahaha" Maya membuka satu matanya ketika mendengar tawa membahana dari Bayu.


"Kamu ngerjain aku?" Maya berkacak pinggang.


"Enggak, aku emang harus ikut aku ke suatu tempat" Ucap Bayu sedikit misterius.


"Kemana?"


"Udah, ayo pergi saja!" Bayu menarik tangan Maya keluar dari ruangannya.


"Lepasin!! nanti di lihat semua orang!" Maya mencoba melepaskan genggaman tangan Bayu.


"Aku tidak peduli!!"


-


-


Happy reading🄰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu

__ADS_1


__ADS_2