
Pagi ini Maya tidak sengaja mendengar kabar yang mengejutkan dari rekan dikantornya. Setelah kabar Maya menolak lamaran Bayu yang menjadi trending topik beberapa hari di kantor kini muncul kabar bahwa hari ini hari terakhir Bayu bekerja di kantor ini.
Maya semakin gundah hatinya tidak tenang. Maya merasa bahwa Bayu sengaja keluar dari kantor ini untuk menghindari Maya. Tapi di samping itu Maya seperti tidak rela dengan kepergian Bayu. Beberapa hari ini Bayu mengacuhkannya saja Maya sudah merasa kehilangan apa lagi jika benar-benar pergi.
Maya dengan menahan rasa gengsinya menyambangi ruangan tempat Bayu bekerja. Maya melihat lelaki tampan itu sedang membereskan barangnya ke dalam kardus. Berarti benar kabar yang Maya dengar tentang bayu yang akan resign.
"Permisi pak Bayu, bisa kita bicara sebentar" Ucap Maya dengan menahan malu karena kedatangan Maya di ruang HRD sat ini menjadi pusat perhatian. "Si penolak lamaran menghampiri si pelamar yang pernah ia tolak lamarannya" Mungkin begitulah isi pikiran orang yang menatap Maya.
Bayu tidak menjawab, hanya melangkahkan kakinya keluar diikuti Maya di belakangnya.
Maya membawa Bayu ke rooftop, tempat yang menurut Maya cocok untuk berbicara dengan tenang.
Sudah lima menit Maya masih bungkam. Semua pertanyaan yang sudah Maya susun hilang begitu saja dari pikirannya. Bayu juga tak menghiraukan Maya yang berada di sampingnya. Dengan wajah datar dan dingin Bayu hanya memandang lurus ke dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Kalau tidak ada yang ingin Bu Maya katakan lebih baik saya kembali" Bayu berbalik meninggalkan Maya sendirian.
"Apa saat ini gue harus mengatakan yang sebenarnya?" Batin Sesa.
Bayu sudah hampir mencapai pintu tinggal beberapa langkah lagi.
GREEEPPPP...
Sepasang tangan melingkar di pinggang Bayu dari arah belakang. Bayu sempat tersentak saking terkejutnya. Bayu tentu saja milik siapa tangan putih itu. Yang Bayu tidak tau adalah maksud dari si pemilik tangan.
"Bayu, jangan pergi. Maafkan aku" Maya terisak di punggung Bayu.
Bayu semakin bingung dengan Maya, tapi ia tetap diam di posisinya. Menunggu Maya mengutarakan apa maksudnya semua ini.
"Bayu, kenapa kamu berubah? Kenapa beberapa hari ini kamu menghindari ku?" Punggung Bayu mulai terasa Basah karena air mata Maya.
"Maafkan aku karena membuatmu malu. Maafkan juga kata-kataku yang pernah menyakitimu. Aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Sungguh aku tersiksa hiks.. hiks" Tangisan Maya semakin pilu karena Bayu masih saja tak bergeming.
"Kenapa?" Bayu melepas tangan Maya di pinggangnya dan berbalik sehingga berhadapan dengan Maya.
"Kenapa tersiksa dengan sikapku? Bukankah sikapku dulu terlalu mengganggumu?" Ucap Bayu dingin.
Maya menggeleng pelan.
"Biarkan seperti ini, karena dengan begini akan semakin mudah untukku membuang perasaanku padamu" imbuh Bayu dengan wajahnya yang datar.
"Setelah saya pergi dari sini, Bu Maya akan tenang. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kenyamanan Bu Maya. Jadi saya rasa cukup sampai sini saja. Saya harus segera berkemas" Bayu berbalik meninggalkan Maya lagi. Tapi lagi-lagi pelukan Maya dari belakang menghentikan Bayu.
"Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku. Maafkan aku yang terlambat menyadari perasaanku, tapi sungguh aku mencintaimu Bayu" Suara Maya mulai sengau, hidunganya tersumbat karena menangis.
__ADS_1
"Bu Maya" Bayu berbalik menatap Maya.
"Saya tau Bu Maya merasa bersalah karena banyak karyawan menggunjing saya. Tapi tidak perlu mengatakan semua itu hanya untuk menghibur saya" Kini Bayu menatap Maya tajam. Tatapan yang sangat menusuk hati Maya
"Maaf Bu Maya saya harus pergi" Bayu meninggalkan Maya.
Kali ini Maya tidak menahannya lagi. Bayu sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Maya. Maya bersimpuh karena sudah tak tahan lagi untuk berdiri. Maya sesenggukan menumpahkan tangisnya. Tangan kanannya memukul dadanya yang terasa Sesak. Menyesali segala sikapnya selama ini yang terlalu bodoh mengacuhkan Bayu. Kini giliran pria itu pergi, Maya mulai meradang.
"Maafkan aku Bayu. Aku sungguh minta maaf untuk sikapku semala ini. Aku tidak mau kehilanganmu. Sungguh aku mencintaimu hiks.. hiks" Ucap Maya di sela sela tangisnya yang pilu.
"Aku juga mencintaimu" Maya menghentikan tangisnya. Lalu mendongak karena mendengar sahutan dari pernyataan cintanya.
Maya bahkan tak mendengar suara langkah Bayu yang kembali lagi setelah tadi meninggalkan Maya.
Bayu membantu Maya berdiri. Ditatapnya wajah wanita yang dicintainya itu. Ibu jarinya menghapus jejak-jejak air mata di pipi Maya. Manik mata mereka bertemu, saling mengungkapkan perasaan mereka. Bayu masih melihat bibir Maya yang bergetar menahan tangis. Bayu membawa Maya ke dalam dekapannya. Hal itu membuat tangis Maya pecah.
"Suutttt jangan menangis" Ucap Bayu lembut.
"Aku mencintaimu Bayu" Ucap Maya dalam pelukan pria tampan itu.
"Aku juga sangat mencintaimu Maya" Bayu mengecup dalam kening Maya.
Maya memeluk Bayu dengan erat seolah menyalurkan segala perasaannya. Pelukan pertama untuk mereka berdua. Rasanya sangat nyaman untuk Maya.
"Kita lihat saja nanti" Bayu tersenyum misterius.
"Tuh kan ngeselinnya balik lagi" Maya mencibir Bayu.
"Tapi kamu kangen kan?" Bayu mencolek dagu Maya yang di balas senyuman malu oleh Maya.
"Ayo kita turun, masih ada yang harus aku urus" Ucap Bayu meraih tangan Maya.
***
Yuga sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi. Tapi ia enggan mengubah posisinya saat ini. Yuga menatap wajah istrinya yang sedang tertidur di pelukannya. Bulu mata yang lentik hidung mancung dan bibir yang menggoda sungguh sangat menyiksa iman Yuga.
"Sudah jam berapa ini" Ucap Sesa masih memejamkan matanya.
"Jam satu siang" Jawab Yuga.
Sesa langsung tersadar jika tadi ia tidur di pelukan suaminya. Matanya membuka sempurna, wajah tampan suaminya langsung menyapa di depan mukanya. Maya kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Kenapa?" Tanya Yuga.
__ADS_1
"Sesa maluuuuu" Ucap Sesa dengan suara kecil karena tertahan di dekapan Yuga.
"Kenapa harus malu?" tanya Yuga lagi.
"Dari tadi Mas Yuga liatin Sesa tidur kan?" Sesa belum mau mengangkat wajahnya.
"Memangnya kenapa?" Yuga merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya.
"Pokoknya Sesa maluuuuuu" Rengek Sesa manja.
"Ha ha ha" Yuga malah tertawa puas melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu.
"Sudah dong Sa malunya. Kita cari makan yuk, aku sudah lapar" Ucap Yuga.
"Mas Yuga lapar?" Sesa dengan spontan mengangkat wajahnya saat mendengar suaminya itu kelaparan.
Yuga mengangguk.
"Baiklah Sesa siapkan makan dulu, Mas Yuga tinggu di sini" Sesa langsung melesat mencari makanan apa yang akan ia berikan kepada suaminya itu.
Setelah beberapa waktu menunggu. Sesa datang kembali membawa nampan berisi makanan yang dipesannya tadi.
"Ayo makan dulu Mas" Ajak Sesa.
"Iyaaa"
Mereka berdua menikmati makan siangnya. Entah mengapa perut terasa lebih lapar saat bangun tidur. Sesa tersenyum melihat suaminya yang lahap menyantap makanan di piringnya.
Yuga menghentikan makannya saat Doni menelponnya.
"Ada apa??"
". . . . . . . . . . . . . "
"Apa!! Saya ke sana sekarang" Yuga menjauhkan ponsel dari telinganya
-
-
Terimakasih untuk readers yang teru setia menemani perjalanan Sesa.😘
semoga kalian suka ya.
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejakmu🤗