
"Saya sendiri yang akan mengantar istri saya!!" Suara bariton itu mengejutkan Sesa.
"Mas Yuga?" Sesa menatap suaminya terkejut.
"Dokter Vino tidak perlu repot-repot mengantar istri saya, karena saya sendiri yang akan mengantarnya" Ucap Yuga dengan sopan namun terselip aura dingin di dalamnya.
"Baiklah kalau begitu Pak Yuga. Saya permisi" Ucap Vino tidak bisa menahan rasa kecewanya.
Yuga menarik tangan Sesa menuju mobilnya. Wajah Yuga tampak menyeramkan di mata Sesa. Di dalam mobil pun Yuga tidak mengucapkan kalimat apapun.
"Mas pelan-pelan Sesa takut" Suara bergetar karena Yuga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mas Yuga kenapa? Jangan begini, ini membahayakan untuk kita" Sesa mencoba menghentikan aksi Yuga.
"Berhentilah Mas, kita bicara baik-baik jangan seperti ini!!" Sesa memegang lembut pergelangan tangan Yuga.
Kali ini Yuga mendengarkan Sesa, menepikan mobilnya di tempat yang sepi.
"Jangan pernah dekat-dekat dengan pria lain" Ucap Yuga menatap Sesa tajam.
"Maksud Mas Yuga Vino?" Tanya Sesa.
"Kelihatannya Vino menyukaimu" Ucap Yuga lagi.
"Mana mungkin Mas, kita hanya berteman" Sesa mencoba menyangkal dugaan Yuga.
"Aku bisa melihat caranya menatap mu" Ucap Yuga kesal.
"Sudahlah Mas, Sesa dan Vino hanya berteman. Sesa menganggapnya sudah seperti kakak Sesa sendiri" Ucap Sesa ingin mengakhiri perdebatan itu.
"Kenapa juga tadi kamu mau di antar sama dia?" Yuga ternyata belum puas mengintrogasi istrinya.
"Sesa tadi belum menyetujuinya. Tapi Mas Yuga keburu datang" Ucap Sesa membela diri.
"Oh terus kalau aku ngga datang kamu setuju sama ajakannya gitu?" Yuga semakin tidak terima. ia mencengkeram kemudi mobilnya kuat.
"Bukan begitu Mas" Sesa menyerah menghadapi suaminya yang marah-marah tidak jelas.
"Ingat, jangan dekat dengan pria manapun. Aku tidak suka itu!!" Ucap Yuga menekan kalimatnya di depan wajah Sesa.
"Iya Mas, Sesa tau batasannya. Sesa sudah bersuami jadi haris tau batasan ketika bersama dengan lawan jenis. Sesa takut dosa" Ucap Sesa lembut tidak bermaksud menyinggung Yuga.
__ADS_1
Yuga tak menjawab lagi kalimat yang di lontarkan Sesa. Ia memilih melajukan kembali mobilnya, namun kali ini dengan kecepatan sedang tidak seperti orang kesetanan.
"Kenapa Mas Yuga marah saat aku bersama Vino? Sudah dua kali seperti ini. Apa Mas Yuga cemburu?" Batin Sesa. Senyum simpul terbit di bibir Sesa. Pipinya memerah membayangkan jika Yuga cemburu karena sudah mencintainya.
"Jangan senyum-senyum seperti itu!!" Ucap Yuga karena melihat istrinya terlihat cantik saat tersenyum seperti itu membuatnya tidak konsentrasi saat menyetir.
Sesa mengerucutkan bibirnya karena kesal. Tapi itu malah terlihat semakin lucu dimata Yuga.
Mereka berdua sampai di cafe Sesa. Saat Sesa ingin mencium tangan suaminya tanpa di duga justru Yuga turun terlebih dahulu. Sesa yang bingung pun hanya mengikuti suaminya turun dari dalam mobil.
"Mas Yuga mau mampir?" Tanya Sesa bingung.
"Hemm" Yuga mengangguk sekilas.
Tak bertanya lagi Sesa berjalan masuk ke dalam di ikuti Yuga di belakangnya. Yuga terus mengekor sampai tiba di ruangan Sesa.
"Mas Yuga mau Sesa buatkan minum dulu?" Ucap Sesa setelah sampai di ruangannya.
Yuga menggeleng.
"Lalu mau apa?" Tanya Sesa lagi.
"Mau tidur" Jawab Yuga langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Lebih tepatnya duduk setengah berbaring karena sofa yang kecil itu tidak mampu memuat tubuh Yuga yang tinggi.
"Aku sudah meminta Doni untuk mengirim orang menjaga Della" Jawab Yuga dengan mata terpejam.
Sesa hanya mengangguk sebagai jawaban walaupun itu tidak bisa di lihat oleh Yuga.
"Kalau Mas Yuga mau tidur jangan di sini!" Ucap Sesa langsung membuat mata Yuga terbuka.
"Kamu mengusirku?" Yuga sudah siap dengan tatapan tajamnya.
Sesa mendekati suaminya lalu meraih tangan yang berjari panjang dan memiliki otot yang tergambar di punggung tangannya itu
"Kalau mau tidur jangan disini, sofa ini ngga muat untuk badan Mas Yuga. Ayo ikut Sesa" Sesa menuntun suaminya. Yuga yang tidak tau maksud istrinya hanya menurut saja mau di bawa kemana dirinya oleh Sesa.
Sesa mendorong ke dalam rak buku yang seukuran pintu. Yuga hanya ternganga karena di ruangan Sesa ada pintu rahasia seperti ini. Bahkan Yuga juga tidak menyadarinya walau sudah beberapa kali masuk ke sini.
"Tidurlah di sini" Ucap Sesa setelah membuka tirai agar sebagian cahaya menerangi ruangan ini.
Yuga yang sudah lelah langsung membaringkan tubuhnya di ranjang yang terlihat sangat nyaman itu.
__ADS_1
"Kenapa ada ruangan seperti ini di sini?" Tanya Yuga penasaran.
"Ini tempat untuk ku beristirahat saat terlalu lelah bekerja" Sesa duduk di ranjang seberang Yuga.
"Hanya kamu atau..?" Yuga menelisik wajah Sesa.
"Hanya Sesa saja Mas, tidak ada yang lain. Bahkan karyawan Sesa tidak ada yang berani masuk. Sesa juga membersihkannya sendiri" Ucap Sesa tanpa kebohongan di dalamnya.
Yuga juga melihat kejujuran itu di mata Sesa. Yuga sangat memejamkan lagi matanya, merasakan nyaman di ruangan ini. Bau harum khas istrinya menyeruak memenuhi ruangan yang di dominasi kayu itu.
Sesa melihat Yuga sudah terlelap lalu mengambil remote AC mengatur suhu ruangannya agar tidak terlalu panas. Sesa mendekati suaminya, membetulkan selimut yang hanya menutupi kakinya panjang itu.
Sesa tersentak saat pergelangan tangannya di tahan oleh Yuga. Sesa mengira suaminya itu sudah pergi ke alam mimpi.
Yuga menarik tubuh Sesa hingga terjatuh di atas dada bidangnya. Lalu dengan cepat memutar tubuh Sesa ke samping sehingga posisi Sesa terjebak dalam dekapan suaminya.
"Temani aku tidur" Bisik Yuga di telinga Sesa.
"Tap..tapi jika mereka mencari ku bagaimana Mas?" Ucap Sesa gugup.
"Sudah biarkan saja. Aku lelah, aku lebih butuh kamu" Suara Yuga menggelitik telinga Sesa.
Sesa diam tak berkutik. Tubuhnya terasa kaku, walaupun setiap malam Yuga selalu tidur memeluknya tapi hal itu tidak pernah membuat tubuh Sesa terbiasa dengan sentuhan suaminya.
Baru beberapa menit Yuga sudah terlelap. Sepertinya benar ucapannya tadi jika suami Sesa itu lelah. Mungkin karena tidur di sofa rumah sakit yang sangat tidak nyaman.
Sesa yang tadinya sama sekali tidak mengantuk lama kelamaan matanya terasa berat. Terlalu nyaman di dekapan suaminya membuatnya ikut menyusul suaminya terlelap.
Sesa tidak paham dengan status mereka saat ini. Mereka menikah tanpa cinta dari Yuga. Tapi Yuga yang dulunya dingin sekarang menjadi lebih hangat. Entah menganggap Sesa sebagai wanita yang dicintainya, teman atau sebutan apa yang pantas untuk Sesa?
Jika sebagai wanita yang dicintainya tapi Yuga tidak pernah menyatakan perasaannya. Dan jika sebagi teman, mana ada teman yang tidur saling berpelukan bahkan sempat bertukar air liur. Lalu sebagi apa Sesa di mata Yuga?
***
Di saat Sesa terlelap dalam dekapan suaminya, saling berbagi kehangatan dalan tidurnya. Ada wanita yang sedang uring-uringan karena pria yang di carinya tak kunjung mengangkat panggilannya.
"S*al kamu Yuga!! Pergi kemana sebenarnya kamu? Apa maksudmu mengirim orang untuk menjagaku? Apa kamu tidak akan datang lagi kesini?" Della meluapkan kemarahannya. Mengacak rambutnya karena frustasi mencari tau keberadaan Yuga yang tak kunjung kembali.
Wanita muda yang dikirim Doni atas perintah Yuga hanya terduduk diam karena takut dengan kemarahan wanita yang harus dirawatnya.
-
__ADS_1
-
Up lagi readers, semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan jejakmuš