
FLASHBACK ON
Selang beberapa menit setelah kepergian Doni, Sesa duduk merenung di kamarnya. Ia memikirkan omongan dari orang-orang di dekatnya. Dari Maya, Doni dan penjelasan Yuga. Sesa masih bimbang dengan hatinya. Rasa perihnya masih sangat terasa, tapi kini harus menelan lagi rasa kecewa itu demi anaknya. Anak di dalam kandungannya, anak yang pastinya butuh figur seorang ayah. Tapi apa Sesa juga berat menerima Yuga kembali di dalam hidupnya.
Awalnya Sesa berpikir jika pergi dari kehidupan Yuga adalah jalan terbaik untuk melupakan pria itu. Tapi takdir berkehendak lain, Tuhan mengirimkan janin dalam kandungannya untuk mengikat mereka. Dengan hal itu saja Tuhan sudah menunjukkan kuasanya untuk menghentikan keputusan Sesa.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku akui memang sangat sulit untuk menghapus Mas Yuga di dalam hati dan pikiranku. Tapi hatiku terlalu sakit untuk kembali lagi. Aku takut kecewa lagi. Tapi bagaimana dengan anakku? Bagaimanapun dia juga butuh ayahnya. Apa aku harus egois memisahkan mereka sejak masih di dalam kandungan? Aku juga takut anakku akan membenciku suatu saat nanti"
Sesa mengusap-usap perutnya lembut. Tak ada air mata kali ini. Sesa mencoba berpikir jernih. Mencoba memikirkan nasibnya dan calon anaknya kelak.
"Tapi hatiku masih sakit, sakiiittt sekali. Walau aku sudah tau kebenarannya. Apa aku yang keras kepala tidak mau mendengarkan Mas Yuga dulu?Dan aku malah terjebak dalam amarahku sendiri, tanpa tau kebenarannya terlebih dahulu?" Sesa berjalan ke arah jendela. Memandang langit yang berselimutkan bintang.
"Apa benar kamu juga tersiksa Mas? Apa hatimu sudah benar-benar memilihku?" Sesa mengingat kembali perkataan Doni yang mengatakan keadaan Yuga lemah karena kehamilan Sesa. Tapi hal itu di dukung dengan tubuh Yuga yang sedikit lebih kurus dan pipinya yang tirus, Sesa melihat sendiri hal itu.
"Hufffttt aku lelah sebenarnya harus seperti ini" Sesa menghembuskan napasnya kasar.
FLASHBACK OFF
Doni menjadi kikuk saat harus mengemudi tapi ada dua orang yang saling diam di belakangnya. Si wanita tidak mau berbicara dengan si pria, sedangkan si pria tidak tau harus memulai kata-katanya dari mana.
Sesa hanya diam memandang jalanan di luar dari balik jendela, sama sekali tidak mau memalingkan wajahnya kepada pria di sampingnya, yaitu Yuga.
Krucukk kruucukkk..
Suara perut Yuga membuatnya sedikit malu di hadapan Sesa. Tapi entah kenapa perutnya kali ini tidak bisa di ajak berkompromi. Lidahnya terasa ingin mengecap sesuatu.
"Sayang, kita cari makan dulu yuk, Mas lapar" Ucap Yuga lembut menahan malunya.
"Antar aku pulang dulu baru cari makan sendiri!" Jawab Sesa sedikit ketus.
"Yakin lo mau makan Ga? Gue nggak salah denger? Kenapa tiba-tiba lo pingin makan, bukanya beberapa bulan ini lo ngga suka yang namanya makanan? Lo pasti mun_"
"Sudah Don hentikan!" Sergah Yuga sebelum Doni menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak mau Sesa tau tentang keadaanya saat ini.
Tapi mendengar hal itu hati Sesa merasa tersentil, apa benar jika suaminya itu tidak bisa makan sama sekali.
"Kita cari makan dulu Pak Doni!" Sesa berubah pikiran.
"Beneran kamu mau temenin Mas makan sayang?" Wajah Yuga sumringah seketika.
"Ya udah kalau ngga jadi, pulang aja!" Sewot Sesa.
"Jangan sayang, Mas senang sekali" Ucap Yuga ingin meraih tangan Sesa tapi istrinya itu langsung menjauhkannya. Raut kecewa tergambar jelas di wajah Yuga namun pria itu segera membuangnya.
__ADS_1
"Ga gue pingin makan gudeg Don!" Seru Yuga dari belakang.
"Hah nggak salah, dari dulu lo kan ngga suka gudeg" Jawab Doni keheranan.
Sementara Sesa langsung melirik suaminya karena merasa aneh.
"Kalau Mas Yuga ngga suka gudang kenapa pingin makan itu. Sementara gudeg kan makanan kesukaanku. Apa ini yang di namakan ngidam?" Batin Sesa.
Mereka bertiga sudah sampai di sebuah rumah makan sederhana yang terkenal dengan menu andalannya yaitu gudeg. Mereka bisa ada di sana karena rekomendasi dari Sesa yang notabennya adalah pencinta masakan berasa manis itu.
Tiga porsi gudeg lengkap dengan sambal krecek dan opor ayam sudah tersedia di meja. Yuga sudah menatap makanan itu dengan rasa lapar.
"Ayo makan sayang" Ajak Yuga yang melihat Sesa hanya diam saja.
Sesa memperhatikan Yuga yang dengan lahap menyantap makanannya. Sesa tersenyum miring.
"Bohong!!" Ucapnya dalam hati.
Sesa mulai menyuapkan makanan kesukaannya itu ke dalam mulut. Walau hatinya kesal tapi kalau di depannya ada gudeg, tentu saja lebih memilih makanan itu.
Tapi di saat tinggal beberapa suap lagi nasi piring Yuga habis, pria itu menghentikan suapannya.
"Maaf, Mas ke toilet dulu ya" Yuga berdiri sambil membekap mulutnya. Lalu berjalan meninggalkan Sesa yang menatap kebingungan.
Sesa melihat Yuga yang sedang memuntahkan makanannya di wastafel. Sesa menyingkirkan egonya dan tanpa ragu masuk ke dalam toilet pria.
Yuga tersentak saat merasakan ada orang yang memijat punggungnya. Tapi saat Yuga hendak protes perutnya sudah bergejolak lagi. Sesa mengambil tisu dan membersihkan sisa kotoran di bibir Yuga tanpa rasa jijik.
"Sudah?" Tanya Sesa yang kini kembali dengan suara lembutnya.
Yuga hanya mengangguk dengan lemas. Mereka berdua akhirnya kembali menghampiri Doni.
"Makan lagi Ga, percuma tadi makan kalau udah keluar lagi. Sama aja perutnya belum terisi" Ucap Doni yang semakin prihatin dengan sahabatnya itu.
"Enggak Don, gue ngga bisa!" Jawab Yuga yang masih lemas.
"Makan lagi ya, aku pesan lagi" Suara lembut Sesa membuat hati Yuga menghangat.
"Mas sudah kenyang Sa" Yuga tersenyum kepada istrinya itu.
"Kenyang darimana kalau semuanya sudah Mas muntahkan? Mas mau tambah kurus? Mas mau anak kita melihat papanya seperti ini?" Omel Sesa yang tidak membuat Yuga marah, Yuga malah sangat bahagia semua itu keluar dari mulut Sesa. Bahkan Yuga sangat berbunga-bunga saat sesa menyebut "anak kita".
" Kenapa malah senyum gitu?" Tanya Sesa sedikit kesal, karena dia menahan air matanya agar tidak jatuh tapi malah melihat suaminya senyum-senyum seperti itu.
__ADS_1
"Mas senang kamu perhatian lagi sama Mas sayang. Apa ini artinya kamu sudah membuka hatimu lagi untuk Mas?" Tanya Yuga penuh harap.
"Udah deh sekarang makan dulu, aku nggak mau bahas itu!" Ucap Sesa. Ia memalingkan wajahnya untuk menghapus air matanya yang baru saja menetes.
"Iya Ga, makan aja dulu. Itu bahas nanti saat ngga ada gue. Gue ngga mau melihat drama kalian berdua" Doni mulai nimbrung obrolan pasangan suami istri itu.
"Iya Mas Makan" Yuga akhirnya menyerah dan mengikuti apa kata istrinya. Walau nanti ia kana memuntahkan lagi makanannya.
"Sebentar aku pesan dulu" Kata Sesa ingin beranjak.
"Tidak usah, Mas ingin makan punya kamu saja boleh ya?" Sesa sedikit tidak yakin dengan Yuga yang mau makan dari sisanya. Walau sebenarnya sesa baru memakannya sedikit.
"Yakin? ini sisa loh!" Tanya Sesa memastikan.
"Iya gapapa asal sisa dari kamu. Tapi Mas pingin sekali di suapi kamu sayang" Ucap Yuga memohon kepada Sesa.
"Ada-ada aja lo Ga. Nggak malu di lihat orang banyak?" Sergah Doni.
"Biarin aja. Tapi emang Mas pingin banget di suapi kamu Sa"
"Ya udah cepetan, tapi habis ini aku mau pulang!" Sesa kembali ke mode ketusnya.
"Iya sayang, Mas janji" Suapan demi suapan suah masuk ke dalam perut Yuga. Hingga suapan terakhir tidak menunjukkan tanda-tanda Yuga akan berlari ke toilet lagi.
Doni yang sudah hafal dengan kebiasaan Yuga akhir-akhir ini hanya menggeleng tak percaya.
"8, 9, 10" Doni bertepuk tangan dengan heboh setelah selesai berhitung.
"Wooww, pencapaian yang bagus. Biasanya baru hitungan ke tiga udah ngacir ke toilet tapi sekarang ngga ada tanda-tanda sama sekali"
"Nggak muntah lagi?" Tanya Sesa bingung.
Yuga menggeleng dengan polosnya.
"Segitu kuatnya ya ikatan batin anak sama papanya, kayaknya bener deh anak kalian ngga pingin orang tuanya pisah. Buktinya nyata di depan mata!!" Ucap Doni dengan sengaja ingin menyadarkan pasangan yang sedang di ambang perceraian itu.
-
-
-
Happy Reading 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu😘