
"Terimakasih untuk tumpangannya" Setelah mengatakan itu Sesa keluar dari mobil begitu saja, tanpa menawarkan Yuga untuk mampir terlebih dahulu. Sesa juga tidak mau tau Yuga tinggal di mana selama berada di sini.
"Sesa tunggu!!" Yuga menyusul Sesa keluar dari mobilnya.
Mendengar panggilan itu Sesa menghentikan langkahnya.
"Sayang, besok Mas harus kembali ke Jakarta. Ada sedikit masalah di perusahaan kamu yang harus Mas tangani sendiri. Kamu ikut pulang sama Mas ya?" Ucap Yuga memohon kepada Sesa. Tadi pagi memang Yuga mendapat telepon dari Pak Wahyu jika ada sedikit masalah di perusahaan Sesa.
Mata Sesa memicing tajam ke arah Yuga.
"Kamu datang ke sini sendiri tanpa aku minta, jadi silakan pergi saja kalau mau pergi. Aku masih ingin di sini!" Jawab Sesa tanpa melihat ke arah suaminya.
"Tapi Sa_"
"Mas, aku dari tadi diam mengikuti kemauan mu bukan berarti kamu bisa seenaknya ya Mas!!"
"Baiklah kalau kamu masih mau di sini. Tapi kalau urusan Mas di Jakarta sudah selesai, Mas akan langsung kembali kesini. Mungkin hanya dua hari.Mas janji!!" Ucap Yuga yang akhirnya lebih memilih mengalah daripada berdebat dengan istrinya.
"Itu tidak perlu!!" Yuga tak mengindahkan perkataan Sesa. Ia hanya mengulas senyum tipis untuk menutupi pedih di hatinya. Tak dapat di pungkiri jika hati Yuga terasa ngilu mendapat sikap dingin dari istrinya.
"Sa, boleh Mas pamit sama anak kita?" Tanya Yuga penuh harap. Tapi yang di tanya hanya diam saja tak bereaksi apapun.
"Sayang?" Panggil Yuga lagi. Sesa berdecak lalu mengangguk dengan malas. Tapi hal itu justru disambut dengan sumringah oleh Yuga.
Yuga berjongkok dengan satu kaki sebagai tumpuannya.
"Sayang, papa pulang dulu ya? Kamu sama mama baik-baik disini. Jangan nakal sama mama di dalam sana ya!! Papa pasti akan sangat merindukan kalian. Tapi papa janji akan secepatnya kembali lagi ke sini" Ucap Yuga menahan tangisnya. Tapi berbeda dengan Sesa yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Dia sangat sensitif jika Yuga sudah mendengar Yuga berbicara dengan anak mereka seperti itu, walaupun ini baru ke dua kalinya.
Sesa terkejut hingga matanya membulat seketika saat merasakan sentuhan di perutnya. Tapi yang membuatnya lebih terkejut ternyata Yuga mencium tepat pada perutnya membuncit itu.
Sesa buru-buru menghapus air matanya ketika Yuga mulai menegakkan badannya lagi. Tak ingin suaminya itu melihatnya berlinang air mata.
"Mas pergi dulu ya sayang. Kamu jaga diri baik-baik" Ucap Yuga sebelum melangkah meninggalkan Sesa. Langkah Yuga terasa sangat berat meninggalkan belahan jiwanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan luruh juga kala tubuhnya sudah membelakangi Sesa.
***
Sudah hampir satu minggu Yuga berada di jakarta. Dan selama itu Yuga sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada Sesa. Tentu saja hal itu membuat pikiran Sesa berkecamuk.
"Katanya cuma dua hari, tapi sudah hampir seminggu kasih kabar pun tidak. Memang dasarnya pembohong!!" Bibir Sesa memang berucap seperti itu tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat mengkhawatirkan suaminya. Terlebih lagi saat Sesa melihat sendiri suaminya jarang sekali menyentuh makanan.
Sesa juga merasa malu untuk menghubungi suaminya meski hanya sekedar menanyakan kabarnya.
Sesa menghentikan semua kegundahannya saat merasakan lapar di perutnya. Tapi kali ini beda dan baru kali ini ia rasakan.
"Aku kok pingin banget makan mie instan buatan Mas Yuga ya" Sesa mengusap-usap perutnya.
"Sayang kita buat sendiri saja ya, papa kan nggak ada di sini" Sesa berbicara kepada janinnya.
Sesa segera membuat mie instan sesuai keinginannya, dengan tambahan telur dan sayur serta cabai yang menurutnya membuat selera makannya menjadi naik jika makanan itu terasa pedas.
"Nak sekali ini saja kita makan yang ngga sehat. Besok-besok jangan lagi ya!!" Sesa membawa semangkuk mie yang sangat menggugah selera ke meja makan. Tapi saat baru mencicipi sedikit kuahnya saja mata Sesa langsung berkaca-kaca.
"Kok rasanya nggak enak. Padahal kan ini aku dulu sering buat kaya gini. Hiks.. hiks" Sesa mulai terisak.
__ADS_1
"Loh Mbak kenapa menangis?" Mbok Lasmi yang baru saja pulang dari pasar terlihat panik.
"Mbok, kenapa aku pingin sekali makan mie buatan Mas Yuga? Tapi kan Mas Yuga lagi di Jakarta terus aku buat sendiri tapi rasanya ngga enak. Mbok coba aja deh, ini baru aku cicip doang kok" Ucap Sesa dengan tangisannya.
Mbok Lasmi tanpa ragu mencoba mie yang ada di hadapan Sesa, dahinya mengerut bingung.
"Ini enak kok Mbak enak banget malahan lho ini" Kata Mbok Lasmi dengan logat jawanya.
"Mbok pasti bohong kan? Kalau itu enak kenapa si lidah rasanya anyep" Sesa tidak mudah percaya.
"Mbok tidak bohong. Ya sudah kalau begitu Mbok Lasmi coba buatkan ya?"
Sesa berpikir sejenak lalu kemudian mengangguk.
-
Tak berselang lama semangkuk mie keinginan sudah ada di hadapan Sesa.
"Silahkan di coba Mbak!!" Ucap Mbok Lasmi.
Setelah satu suap masuk ke dalam mulut Sesa. Wanita hamil itu kembali menangis.
"Lho lho kok nangis lagi sih Mbak?" Mbok Lasmi tambah bingung.
"Mbok rasanya kok sama aja, ini nggak enak. Pabrik mienya merubah bumbunya kali ya?" Ucap Sesa masih menangis.
"Mbak, kenapa nggak hubungi Den Yuga saja. Ini namanya ngidam. Kalau ngga keturunan nanti anaknya ileran" Mbok Lasmi sudah menduga dari tadi jika majikannya itu sedang ngidam.
"Nggak mau Mbok, aku malu. Lagian jarak Jogja Jakarta itu jauh. Mana mungkin bisa langsung sampai sini" Sesa mengusap air matanya dengan kesal.
-
"Iya Mbok, Ada apa?" Tanya Yuga dengan suara lemah.
"Itu Den, Mbak Sesa" Mbok Lasmi sedikit ragu untuk menyampaikannya.
"Iya kenapa istri saya, apa terjadi sesuatu?" Tanya Yuga mulai panik.
"Tidak Den, hanya saja sejak tadi siang Mbak Sesa terus saja menangis karena ingin makan mie instan buatan Aden. Mbok sudah coba buatkan tapi katanya tidak enak. Sepertinya Mbak Sesa sedang ngidam"
"Ya sudah Mbok, saya akan ke sana sekarang. Terimakasih sudah kasih tau saya!!"
"Iya Den" Mbok Lasmi menutup panggilan teleponnya.
Sebenarnya Yuga memberikan nomor ponselnya kepada Mbok Lasmi untuk berjaga-jaga jika ada keadaan darurat. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Sesa.
***
Hari sudah mulai larut saat ketukan pintu terdengar di kediaman Sesa. Sesa yang belum tidur karena rasa laparnya yang belum terobati mengernyit bingung. Karena tak biasanya ada tamu semalam ini.
"Iya sebentar!" Teriak Sesa karena pintu itu terus saja diketuk.
Betapa terkejutnya Sesa saat pintu itu terbuka, sosok yang sedari seminggu ini di harapan kehadirannya kini muncul di depannya.
__ADS_1
"Mas?" Mulut Sesa bahkan sampai terbuka saking terkejutnya.
"Sayang, mas datang!" Ucap Yuga yang terlihat pucat.
"Hay Mbak Sesa" Sapa Doni yang baru tiba di belakang Yuga.
Sesa menggeser tubuhnya dari pintu untuk mempersilahkan dua pria tampan itu Masuk.
"Kenapa malam-malam kesini?" Tanya Sesa canggung.
"Mas buru-buru kesini karena katanya anak Mas ingin makan mie instan buatan papanya" Yuga tersenyum senang dengan wajah pucat.
"Hah?" Sesa melongo mendengar jawaban Yuga.
"Mbok Lasmi yang kasih tau. Bos ngga mau anaknya ileran makanya dia cepat-cepat terbang dari jakarta kesini meski dia sedang sa_"
"Ayo Mas buatin mienya, kamu pasti sudah lapar kan?" Yuga memotong ucapan Doni begitu saja.
"I- Iya" Jawab Sesa gugup.
"Sayang, kamu tau kan kalau mie instan itu ngga sehat. Apalagi sekarang kamu sedang hamil" Ucap Yuga setelah mereka sampai di dapur.
"Iya tau, tapi aku kepingin banget" Jawab Sesa masih sedikit dingin dengan Yuga.
"Ya sudah, tapi sekali ini saja ya. Lain kali tidak boleh!"
"Iya" Jawab Sesa singkat.
"Kasih telur dan sayur kan? Cabainya dikit aja ya nanti sakit perut"
"Hemmm" Yuga tersenyum karena dulu dia yang sering menjawab Sesa seperti itu seperti itu.
Yuga dengan telaten memasak sesuai keinginan Sesa. Walau badannya beberapa kali sedikit limbung.
-
"Silahkan di coba tuan putri" Yuga menyodorkan mie rebus yang sangat menggugah selera.
Mata Sesa berbinar menatap mangkuk di depannya. Rasanya ingin segera menelan beserta mangkuknya sekalian. Dengan cepat Sesa mengambil sendok lalu menyuapkan ke dalam mulutnya setelah meniupnya terlebih dahulu.
"Hemmmm enaakk" Gumam Sesa tanpa sadar.
Yuga yang melihat istrinya makan dengan lahap terlihat begitu senang. Sesa lupa untuk beberapa saat jika suaminya sedari tadi di sampingnya, karena terlalu menikmati makanannya.
"Mas mau?" Tawar Sesa tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mas?"
BRUUUKKK...
-
-
__ADS_1
-
Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejakmu 😘