Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Pergi


__ADS_3

Setelah menginap semalam di cafe, hari ini Sesa sudah siap untuk meninggalkan ibu kota. Meninggalkan kehidupannya yang dulu, meninggalkan cintanya, meninggalkan segala kenangan yang membuatnya sakit.


Sesa membuka laci di meja kerjanya, meletakkan ponselnya di atas foto kenangannya. Ia meninggalkan ponsel itu karena Yuga pasti bisa dengan mudah menemukannya jika ia membawanya.


Sesa sudah membawa ponsel baru yang dibeli oleh Maya. Segala urusan kepergiannya dia meminta Maya mengurusnya, termasuk membeli tiket kereta menuju kampung kampung halamannya. Sesa tidak mau namanya tercantum dalam daftar pembelian tiket, maka dari itu ia meminta bantuan Maya.


"Dewi, aku pergi ya. Titip cafe, kalau ada apa-apa hubungi Mbak Maya saja" Hanya Dewi dan Maya yang tau tentang kepergian Sesa ini.


"Mbak Sesa hati-hati ya, jaga kesehatan di sana. Dewi akan sering-sering hubungi Mbak Sesa" Dewi berkaca-kaca melepas kepergian bosnya yang begitu baik kepadanya itu.


"Sudah jangan memberatkan langkah ku dengan kesedihanmu itu" Sesa mengusap pundak Dewi pelan.


"Ingat Wi jangan katakan kepada siapapun tentang kepergian ku, termasuk suamiku" Seulas senyum tipis yang Sesa berikan membuat hati Dewi sakit seakan ikut merasakan apa yang sedang di alami oleh Sesa.


"Baik Mbak, Dewi janji" Dewi mengangguk dengan pasti.


"Aku pergi" Sesa melangkahkan kakinya keluar cafe, taksi online yang di pesannya juga sudah menunggunya di depan cafe. Sesa tidak membawa apapun karena semua barang yang ia siapkan kemarin sudah dibawa Maya. Dan saat ini Maya sedang menunggunya di stasiun.


***


"Hati-hati ya Sa, gue pasti bakalan kangen banget sama loe. Tapi tenang aja, gue bakalan sering-sering ke sana nengokin keponakan gue" Maya mengusap perut Sesa yang masih rata.


"Maya" Sesa memeluk Maya menumpahkan kesedihannya harus meninggalkan orang-orang yang disayanginya.


"Jangan gini dong Sa, gue jadi nggak bisa melepas loe pergi sendirian" Maya mulai sesenggukan di pundak Sesa.


Sesa melepaskan pelukan Maya, mengusap air matanya lalu tersenyum.


"Aku pergi ya May, doain aku dan anakku agar selalu dalam lindungan Allah"


"Pasti" Maya melepaskan genggaman tangannya pada Sesa.


Kereta sudah melaju meninggalkan kota jakarta. Meninggalkan hiruk pikuk ibukota yang tiada hentinya. Kereta yang melaju kencang membawanya menuju hidup barunya.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari 6 jam Sesa telah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta. Susana kampung halaman langsung merasuk ke dalam pikiran Sesa. Sesa tersenyum menyambut tempat baru yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa tahun ke depan.


Jika kampung halaman kakek dan nenek Sesa berada di Bantul tapi Sesa lebih memilih tinggal di kota Yogyakarta. Sesa tau jika tujuan utama orang-orang mencarinya pasti akan ke Bantul.


"Akhirnya sampai juga. Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa depanku" Sesa tersenyum cerah saat pertama kali kakinya kembali ke kota yang dikenal sebagai kota perjuangan itu.


Sesa menarik ke dua koper besarnya keluar dari stasiun, mencari taksi yang akan membawanya menuju rumah yang sudah di kontraknya beberapa hari yang lalu melalui telepon.


"Pak ke alamat ini ya" Sesa memberikan selembar kertas kecil yang bertuliskan alamat rumah tujuannya.

__ADS_1


"Iya Bu" Jawab supir taksi itu.


Tak butuh waktu lama Sesa sudah tiba di sebuah rumah bernuansa khas Jawa dengan halaman yang cukup luas.


"Terimakasih Pak" Sesa memberikan dua lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini terlalu banyak Bu" Suara medok dari supir taksi itu.


"Tidak papa itu karena Bapak yang mengantarkan saya menjemput kebahagiaan saya. Anggap saja sebagai rezeki Bapak" Ucap Sesa yang membuat Supir taksi setengah baya itu semakin bingung dengan ucapan Sesa. Kepalanya hanya manggut-manggut saja menerima uang dari Sesa.


"Terimakasih banyak Bu, kalau begitu saya permisi" Supir taksi itu tersenyum sumringah lalu pergi meninggalkan halaman rumah sederhana itu.


Sesa memasuki pekarangan rumah yang berdiri kokoh walau bangunan terlihat tua karena nuansa ukiran kayu, namun ada sedikit sentuhan gaya modern di sana. Perpaduan yang sedikit kontras namun sepertinya pembangun rumah ini mempunyai kemapuan yang tinggi sehingga membuat perpaduan gaya lawas dan modern bisa menyatu.


"Sugeng sonten, ndoro ayu" Sapa wanita berusia sekitar 40 tahunan berpakaian khas jawa dengan kain jarik dan rambut panjangnya yang di gelung, buka di sanggul besar hanya rambutnya saja yang di tata rapih.


"Sugeng sonten, saya Sesa Bu" Sesa mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


"Saya lasmi, yang akan membantu pekerjaan rumah ndoro ayu. Ndoro bisa memanggil saya mbok lasmi"


"Panggil saja saya Sesa mbok. Saya sungkan sekali jika mbok lasmi memanggil saya seperti itu" Tolak Sesa secara halus.


"Kalau begitu ya saya yang sungkan, Mbak Sesa saja kalau begitu nggih?"


"haha boleh Mbok yang penting jangan seperti tadi ah. Saya malu" Sesa merasa senang karena sepertinya Lasmi termasuk orang yang suka bercanda jadi harinya di sini tidak akan merasa bosan.


"Iya Mbok, saya mau istirahat sebentar" Badannya sudah terasa lemas dan kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk di kereta.


"Baik Mbak, habis ini saya siapkan makanan. Setelah selesai saya bangunkan" Ucap Lasmi berjalan menuju kamar Sesa.


***


"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan Sesa?" Vino mendekati Dewi yang sedang membersihkan meja bekas pakai pelanggan.


"Maaf Pak, Mbak Sesa hari inti tidak datang ke cafe" Jawab Dewi dengan ramah.


"Lalu Sesa pergi kemana ya? Kenapa ponselnya juga tidak aktif?" Vino mencoba mencari tau keberadaan Sesa melalui karyawan cafe.


"Maaf untuk itu saya tidak tau Pak, Mbak Sesa hanya berpesan jika ada hal yang penting dan mendesak untuk menyampaikan saja kepada kami, nanti jika Mbak Sesa sudah kembali, baru kami akan menyampaikannya" Vino mengangguk mengerti ucapan Dewi.


"Kalau begitu saya titip ini untuk Sesa, kemarin ketinggalan di rumah sakit" Ucap Vino menyerahkan sebuah amplop besar kepada Dewi.


"Baik Pak, saya terima. Saya akan sampaikan kepada Mbak Sesa jika beliau sudah kembali"

__ADS_1


"Iya terimakasih banyak. Kalau begitu saya permisi" Vino memilih pergi tanpa menikmati kopi favoritnya.


"Iya Pak" Dewi langsung membawa amplop itu ke dalam ruangan Sesa, Dewi meletakkan amplop itu di dalam laci menjadi satu dengan ponsel yang ditinggal oleh Sesa.


***


Hari sudah mulai gelap saat pesawat dari Surabaya mendarat di bandara Soekarno Hatta. Hari ini adalah hari kepulangan Yuga. Dengan wajah sumringah Yuga sudah tidak sabar lagi bertemu dengan istri tercintanya. Beberapa hari berpisah tanpa kabar dan juga kesalahpahaman membuatnya rindu dan gelisah menjadi satu.


"Seneng banget bos" Cetus Doni yang berjalan di samping Yuga.


"Gue kangen banget sama Sesa Don" Yuga masih mempertahankan senyumnya.


"Baru kali ini es batu bisa senyum selebar ini" Cibir Doni yang masih terdengar di telinga Yuga.


"Kali ini gue lagi seneng jadi gue maafin omongan loe yang kurang ajar itu" Jawab Yuga yang masih saja terdengar mengerikan bagi Doni walaupun dengan senyum diwajahnya.


"Ngeri juga ternyata kalau orang bucin" Doni masih saya mencibir sahabatnya itu. Namun Yuga tak menggubrisnya.


"Kamu yakin Sesa sudah pulang ke apartemen?" Tanya Yuga saat tiba di mobilnya.


"Laporan terakhir anak buah loe begitu sih Ga" Doni memang memerintahkan sebagian anak buah Yuga untuk selalu memantau pergerakan Sesa. Namun setelah mengetahui Sesa pulang ke apartemen dalam beberapa hari Doni memerintahkan untuk menghentikan pengintaian mereka.


"Kalau begitu gue langsung ke apartemen aja"


Mobil kantor yang menjemput Yuga langsung melesat menuju apartemen Yuga.


***


Klik..


Yuga membuka pintu apartemennya.


"Sesa!"


"Mas pulang sayang!!" Yuga melepas sepatunya lalu menyalakan lampu untuk mencari keberadaan Sesa di dalam apartemen yang terlihat sepi dan gelap.


"Sesa?" Yuga membuka pintu kamar tapi kosong tak ada siapapun.


Melihat ke arah kamar mandi pun gelap tidak terdengar seseorang di dalamnya.


Yuga mencoba menghubungi Sesa berharap kali ini ponselnya sudah aktif kembali, tapi nihil. Ponsel Sesa masih tidak aktif. Yuga terduduk lunglai di ranjang king sizenya.


"Apa kamu masih di cafe Sa?" Gumam Yuga kembali dengan kegelisahannya. Harapannya sejak di Surabaya adalah bisa langsung melihat istrinya ketika Yuga pulang. Namun harapannya sirna sudah.

__ADS_1


"Lebih baik aku mandi dulu, siapa tau sebentar lagi Sesa pulang"


Mata Yuga terbelalak saat ingin meletakkan ponselnya di atas nakas.


__ADS_2