
"Sesa??" Yuga terkejut karena wanita yang di carinya sejak tadi sudah meringkuk di sofa.
Yuga mendekati Sesa yang tidur menghadap ke sandaran sofa. Tidak menyangka sama sekali jika istrinya itu ternyata sudah pulang. Yuga bersimpuh menghadap Sesa yang membelakanginya
"Sesa, kemana saja kamu? aku mencari mu kemana-mana tapi tidak menemukanmu. Maafkan aku" Ucap Yuga setengah berbisik karena tak mau mengganggu istrinya yang sudah terlelap.
Sesa membuka matanya setelah mendengar pintu kamar mandi yang tertutup. Ini baru jam 8 malam, mana mungkin Sesa sudah tidur.Ia hanya tidak mau berhadapan dengan suaminya untuk saat ini. Maka dari itu, saat mendengar seseorang membuka pintu apartemennya Sesa bergegas masuk ke dalam kamar dan memulai aksi pura-pura tidurnya.
FLASHBACK ON
Sesa berlari ditemani dengan air mata yang terus menetes dari kelopak matanya. Kaki jenjangnya menelusuri trotoar tanpa arah. Sesa menuruti kakinya yang akan membawanya pergi entah kemana. Rasa marah, kecewa dan sakit menjadi satu. Kesabaran yang selama ini yang ia miliki untuk memghadapi sikap suaminya seakan terkuras habis.
Di sinilah sekarang Sesa berada. Di depan dua gundukan tanah yang sudah mulai di tumbuhi rumput diatasnya. Sesa duduk bersimpuh di antara kedua makam itu. Melepaskan kerinduan yang selama ini ia pendam. Mengadu tentang perasaannya yang begitu menyakitkan.
Isakan demi isakan terus keluar dari bibir yang selalu menampakan senyum terbaiknya.
"Papa, mama bawa Sesa bersama kalian. Sesa sudah tidak kuat lagi. Mungkin jika kalian masih berada di sisi Sesa, Sesa akan kuat mengahadapi semua ini. Tapi jika begini keadaanya, lalu Sesa harus kemana?" Sesa berbaring memeluk makam Diana.
"Sakit ma rasanya, sakit sekali memendam rasa ini sendirian. Dulu saat Sesa mencoba melepaskan malah terikat sebuah benang merah. Saat Sesa mencoba melupakan malah jatuh terlalu dalam. Hingga sebuah tamparan keras menyadarkan Sesa jika semua itu semu"
"Sesa lelah ma, ijinkan Sesa untuk menyerah. Mungkin Sesa memang tidak ditakdirkan berjodoh dengan orang yang Sesa cintai" Semua perasaan yang Hi Sesa pendam kini tumpah ruah di pusaran kedua orang tuanya. Suaranya hampir hilang karena terlalu lama menangis. Matahari sudah akan pulang ke persembunyiannya.
"Papa, mama Sesa pulang dulu. Sesa sangat mencintai kalian berdua lebih dari apapun" Sebelum Sesa bangkit ia mencium ke dua nisan itu satu persatu.
Sesa keluar dari komplek pemakaman, ia berjalan ke arah yang mudah di cari oleh sopir taksi online yang beberapa waktu sebelumnya telah ia pesan. Sebenarnya Sesa ragu untuk pulang ke apartemen suaminya karena masih enggan berhadapan dengan suami itu.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Yuga keluar dari kamar mandi, keadaanya saat ini sudah lebih segar. Pandangannya langsung tertuju ke istrinya yang masih dalam posisi semula.
Yuga duduk di ranjang meratapi kebodohannya. Perutnya terasa lapar namun enggan untuk beranjak. Ingin sekali rasanya Yuga tidur memeluk tubuh indah Sesa. Mamun sofa itu terlalu sempit. Sedangkan Yuga tidak berani memindahkan istrinya ke ranjang, karena Yuga tau Sesa sengaja tidur di sofa untuk menghindarinya.
Mau tak mau Yuga dengan berlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengambil posisi yang biasa di tempati Sesa. Menghirup sedalam dalamnya bantal yang menyisakan aroma rambut sang istri.
-
Keesokan paginya Yuga terbangun di saat matahari sudah meninggi. Ia terkesiap karena pagi ini akan ada jadwal meeting dengan klien pentingnya. Matanya yang langsung terbuka lebar beralih mencari keberadaan Sesa yang tidak lagi berada di sofa. Yuga ingin sekali keluar kamar untuk mencarinya mana tau istrinya sedang membuat sarapan untuknya, tapi karena Yuga bangun kesiangan Yuga lebih memilih mandi terlebih dahulu.
"Kenapa tak membangunkan ku Sa?" Gumam Yuga sambil melesat ke dalam kamar mandi.
Yuga tersenyum melihat baju yang sudah di siapkan Sesa di atas ranjang.
Setelah rapi Yuga segera keluar dari kamar mencari istrinya. Namun lagi lagi Yuga menelan kekecewaan karena apartemen itu sepi, hanya Yuga sendiri di dalamnya. Yuga melirik meja makan yang biasanya tersaji berbagai macam makanan kesukaannya kini bersih tak ada apapun.
***
"Mba Sesa kok pagi sekali, apa ada pesanan yang terlewat untuk hari ini mba?" Dewi merasa jika pesanan hari ini sudah ia selesaikan kemarin.
"Tidak Dewi, aku hanya sedang bosan saja makanya aku datang lebih awal" Ucap Sesa dengan senyum terbaiknya.
"Ohh" Dewi ber oh ria sja menjawab bosnya yang terlihat aneh itu.
Senyum Sesa menghilang begitu saja saat Dewi sudah melesat ke ruang karyawan. Wajahnya berubah datar, ekspresi aneh yang baru saja Sesa dapatkan karena rasa kecewanya.
Sesa memang sengaja datang pagi sekali ke cafe. Dia menghindari interaksi dengan Yuga saat ini, entah sampai kapan yang penting ingin hatinya siap dulu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Bahkan Sesa sedang menyiapkan mentalnya jika tiba-tiba harus mengambil keputusan yang besar.
__ADS_1
Bahkan Sesa tadi pagi tidak membuatkan suaminya sarapan. Sesa ingat dosa tapi kali ini ia ingin egois.
***
Di balik meja kerjanya Yuga masih resah karena Sesa sama sekali tidak bisa ia hubungi. Ingin rasanya Yuga berlari menghampiri Sesa, namun jadwalnya yang padat membuatnya tertahan di kantor.
"Kenapa mukanya kaya gitu bos?" Ucap Doni yang nyelonong masuk ke dalam ruangan Yuga.
"Sepertinya Sesa sengaja menghindari ku" Yuga meletakkan ponselnya di meja. Tangannya memijat pelipisnya yang tidak pusing.
"Tapi wajar saja jika Sesa marah, karena Della sudah keterlaluan. Apalagi kau sempat termakan omongan Della" Doni duduk di meja kerja Yuga. Sungguh asisten tak tau tata krama.
"Benar, aku di luar kendali kemarin" Ucap Yuga menyesal.
"Sekarang sudah yakin kalau sudah jatuh cinta sama Sesa? Kalau ngga yakin, gue siap menerima jandanya" Ucap Doni dengan menatap Yuga tajam.
"S*alan loe, buang pikiran loe itu. Atau gue kirim loe sekarang juga ke alam baka!!" Yuga mencengkeram kerah kemeja Doni.
"Ampun bos ampun! Habisnya istri cantik begitu di sia siain. Masih banyak yang mau sama Sesa diluar sana walaupun dia janda" Doni mengangkat tangannya. Tapi bukanya berhenti dengan ocehannya Doni malah semakin memancing emosi Yuga.
Yuga yang butuh pelampiasan atas kekesalannya dari kemarin spontan menyumpal mulut Doni dengan kertas yang sudah di remasnya.
"Tutup mulut busuk loe itu. Sekali lagi gue denger loe memuji istri gue, abis loe!!" Ancam Yuga, lalu pergi ke dalam toilet untuk membasuh mukanya yang sedang suram.
Doni tidak takut dengan ancaman sahabatnya itu. Ia malah tersenyum melihat tingkah konyol Yuga jika sedang galau seperti itu.
"Cinta tapi gengsi, dasar bucin!!" Ucap Doni merapikan kemejanya yang lusuh akibat ulah Yuga.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen untuk memberi dukungan karya pertama ku ini readers😘
Terikasih 🤗