
Waktu cepat berlalu, kini sudah menginjak enam bulan usia pernikahan Sesa dan Yuga. Hubungan mereka semakin dekat dan penuh kehangatan. Yuga juga sudah mulai menghilangkan sikap dinginnya kepada Sesa. Namun menurut Sesa hal itu belum cukup untuk berspekulasi bahwa Yuga sudah mencintainya. Karena sampai saat ini, sampai usia pernikahannya sudah setengah tahun Sesa masih berstatus sebagai perawan. Sesa juga tidak tau apa yang Yuga inginkan. Selama ini Yuga menyentuh Sesa hanya sebatas memeluknya saja.
"Sa, nanti siang temani aku ketemu klien ya?" Ucap Yuga sambil menikmati sarapannya.
"Hah kenapa ngga bilang dari kemarin sih Mas?" Sesa memasang wajah sebalnya.
"Lupa" Yuga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kan Sesa belum siapin baju juga" Sesa merengek manja pada suaminya.
"Kamu pakai apa saja tetap cantik" Yuga mengacak rambut Sesa pelan.
"Ihhh berantakan tau Mas" Sesa semakin kesal dengan Yuga.
"Klien ini penting banget buat aku Sa. Katanya beliau mau ajak istrinya jadi aku juga mau ajak kamu biar bisa temani istrinya. Siapa tau istrinya cocok sama kamu, jadi bisa bujuk suaminya untuk menyetujui kerjasama kita" Jelas Yuga.
"Oh jadi Mas Yuga ajak Sesa cuma mau manfaatin Sesa aja nih?" Sesa memasang wajah kesalnya.
"Ya nggak gitu juga Sa" Yuga mencubit pipi kanan Sesa pelan.
"Aww sakit tau Mas. Iya iya Sesa tau kok, Sesa cuma bercanda" Sesa tersenyum sambil mengusap bekas cubitan Yuga yang sama sekali tidak sakit.
"Istri yang baik" Ucap Yuga mengedipkan satu matanya.
"Apa benar aku istri yang baik Mas? Lalu apa hatimu sudah terbuka untukku? Tapi kenapa sepertinya masih ada jarak di antara kita?" Sesa menatap Yuga yang asik menikmati sarapannya dengan wajah yang sendu.
***
"Selamat siang Tuan dan Nyonya Andreas" Ucap Yuga menyalami pasangan yang sudah berumur itu.
"Selamat siang Tuan Yuga dan ....?" Andreas menggantung ucapannya.
"Ini istri saya, Sesa" Yuga memperkenalkan Sesa kepada pengusaha kelas kakap di depannya.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya" Sesa tersenyum ramah menatap Nyonya Andreas yang masih terlihat cantik meski umurnya tak muda lagi.
"Mari silahkan duduk Tuan dan Nyonya" Kini Yuga mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Di ruangan kantor milik Yuga mereka terlibat obrolan kecil sebelum pembahasan mengenai kerja sama yang akan di jalankan Yuga bersama Andreas.
Doni beserta seorang pria yaitu asisten dari Andreas masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa beberapa dokumen termasuk proposal kerja sama mereka.
"Nyonya? Apa nyonya bosan mendengarkan pembicaraan bisnis disini seperti saya?" Ucap Sesa sedikit memelankan suaranya.
"Sepertinya Nona Sesa sangat tau apa yang ada dalam pikiran saya" Wanita dengan rambut bersanggul seperti pramugari itu menyetujui ucapan Sesa.
"Kalau begitu apa Nyonya mau ikut saya ke tempat yang lebih menyenangkan?" Sekali lagi Sesa berbisik.
"Ide yang bagus" Balas Nyonya Andreas.
Sesa menganggukkan kepalanya senang.
"Permisi, karena pembicaraan kalian begitu membosankan, jadi ijinkan kami untuk pergi mencari hiburan sebentar" Ucap Nyonya Andreas menghentikan obrolan membosankan itu. Sepertinya tahta tertinggi di ruangan itu dipegang oleh Nyonya Andreas. Karena dengan satu kalimatnya semua yang berada di sana tidak bisa menolak.
Sesa menatap suaminya untuk meminta persetujuan. Yuga tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengijinkan Sesa pergi dengan Nyonya Andreas.
-
Sesa sebenarnya sudah mencari tau tentang Nyonya Andreas. Hobinya, warna favoritnya, makanan kesukaannya, bahkan nomor sepatunya saja Sesa sudah tau. Maka dari itu Sesa membawa Nyonya besar itu ke cafenya. Karena Nyonya Andreas memiliki hobi memasak jadi siapa tau dengan membawanya ke cafe dapat menghilangkan rasa bosannya di kantor Yuga tadi.
"Silahkan Nyonya" Sesa mempersilahkan Nyonya Andreas untuk masuk ke cafe terlebih dahulu.
"Woww kamu pintar mendesain interiornya, suasananya juga nyaman" Puji Nyonya kaya raya itu.
"Terimakasih Nyonya atas pujiannya. Bagaimana kalau kita sekarang melihat pembuatan cake di dalam?" Ucap Sesa.
__ADS_1
"Boleh?" Tanya Nyonya Andreas yang terlihat senang.
"Tentu saja Nyonya, mari" Sesa berjalan menunjukkan jalannya menuju ke dapur.
"Tunggu dulu" Sesa menghentikan langkahnya.
"Ada apa Nyonya?" Sesa merasa bingung karena tiba-tiba wanita yang kira-kira seumuran mamanya itu memasang wajah serius.
"Telinga saya dari tadi terasa sakit mendengar panggilan itu. Kamu seumuran anak saya jadi panggil saja tante biar lebih akrab" Ucap Nyonya Andreas yang berwajah galak ternyata memiliki sifat yang hangat.
"Baiklah tante" Sesa tersenyum lembut.
Sesa membawa Nyonya Andres ke dapur melihat proses pembuatan kue kering, cake hingga berbagai macam puding dan menu-menu lainnya di cade Sesa.
"Heeemmm ini benar-benar pas di lidah, rasanya nagih ngga eneg" Ucap Nyonya Andreas yang sedang menikmati beberapa macam cake.
"Syukurlah kalau selera tante pas dengan menu di cafe ini" Sesa merasa senang karena usahanya untuk membawa Nyonya besar ini tidak sia sia.
"Seandainya rumah saya di dekat sini, pasti setiap hari saya beli cake disini" Ucap Nyonya Andreas masih tidak berhenti mengunyah.
"Waahh benarkah tante, saya jadi malu dari tadi mendapat pujian dari tante terus" Ucap Sesa.
"Hahaha kamu memang berbakat untuk memasak. Jadi tidak heran cake di sini banyak di gemari" Ucap Nyonya Andres yang melihat ke sekelilingnya menunjukkan banyaknya pengunjung yang datang.
Sudah dua jam berlalu tapi Nyonya Andreas masih belum juga bosan berkeliling cafe Sesa. Hingga suara ponsel milik Sesa mampu menghentikan obrolan ringan mereka.
"Halo Mas?" Ucap Sesa kepada suaminya di balik ponselnya.
". . . . . . . "
"Iya Mas, kita ke sana sekarang"
". . . . . . . "
Sesa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas jinjing berukuran kecil.
"Tante, rapat sudah selesai kita diminta untuk segera kembali" Ucap Sesa menghentikan Nyonya Andreas yang masih sibuk dengan kekagumannya terhadap cafe Sesa.
"Baiklah ayo" Nyonya Andreas berjalan keluar diiringi Sesa di sebelahnya.
-
"Saya akan mengkaji dan mempertimbangkan beberapa hal dulu sebelum memutuskan mengambil proyek ini" Ucap Tuan Andreas denan gayanya yang sedikit Angkuh.
"Baik Tuan, Saya akan menunggu kabar baik itu" Ucap Yuga.
"Apa sudah selesai meetingnya?" Ucap Nyonya Andreas yang baru saja masuk ke dalam ruangan Yuga.
"Sudah, ayo kita pulang" Ucap Tuan Andreas.
Nyonya besar itu menganggukkan kepala kepasa suaminya. Kemudian menatap Sesa.
"Lain kali jika saya datang lagi kesini pasti akan mampir ke cafe mu" Ucap Nyonya Andreas dengan ramah. Berbeda sekali sikapnya dengan saat pertama kali datang tadi.
"Baiklah Saya akan menunggu kedatangan tante" Ucap Sesa senang.
"Kalau begitu kami permisi" Ucap Tuan Andreas.
"Baik Tuan. terimakasih telah berkenan datang ke kantor saya dan saya akan tunggu kabar baiknya" Ucap Yuga.
Tuan dan Nyonya Andreas hanya tersenyum kemudian meninggalkan ruangan itu di ikuti asistennya dan Doni yang mengantar kepergian klien bosnya itu.
"Tante? Sejak kapan kalian sedekat itu? Bukankah baru pertama kali ini bertemu?" Yuga merasa curiga dengan Sesa. Sihir apa yang istrinya itu gunakan untuk membuat Nyonya Andreas yang angkuh dan dingin menjadi hangat.
"Sejaaakkkk" Sesa mendeja ucapannya "Sejak tadi" Sesa menunjukkan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Nggak percaya" Ucap Yuga menggelengkan kepalanya.
"Beneran Mas" Sesa memang berkata yang sebenarnya.
"Oh iya, gimana hasilnya Mas? Mas Yuga bisa dapatkan proyek ini kan?" Tanya Sesa penasaran.
"Belum tau, mereka masih mau mengkaji dulu. Mungkin ada perusahaan lain yang bersaing untuk proyek ini. Jadi mereka pasti sedang mempertimbangkannya" Yuga menjelaskan kepada istrinya.
"Semoga saja ada kabar baik dari mereka ya Mas" Sesa menatap suaminya lembut.
Yuga mengusap kepala Sesa lalu mengangguk.
***
Yuga masih menunggu jawaban dari Tuan Andreas. Bahkan biasanya ia sebelumnya tidak pernah setegang ini jika masalah proyek apapun. Tapi kliennya saat ini berbeda. Mereka adalah pengusaha yang sudah mendunia, jadi Yuga tak ingin kehilangan kesempatan emas untuk bisa mengembangkan usahanya melalui Tuan Andreas.
Yuga yang baru selesai mandi mendapati ponselnya berdering di atas nakas. Yuga heran karena nomor ponsel baru yang sekarang memanggilnya.
"Halo?" Ucap Yuga.
". . . . . . . . "
"Oh Maaf, Saya tidak tau jika ini nomor ponsel Anda, Tuan Andreas"
". . . . . . . "
Yuga masih terlibat panggilan teleponnya dengan Tuan Andreas. Sementara Sesa sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Sesaa, Sesaaa!!" Yuga berteriak sambil berlari dari kamar menghampiri istrinya.
Sesa yang terkejut mendengar teriakan Yuga berniat menyusulnya ke kamar. Tapi dengan cepat Yuga memeluk Sesa, mengangkat tubuh ramping Sesa dan membawanya berputar putar dengan tawa Yuga yang menggema.
"Aaaaaa" Teriak Sesa yang terkejut karena Yuga memeluknya dan membawanya berputar.
Yuga melepaskan pelukannya tapi tidak melepas senyuman bahagia di wajahnya.
"Terimakasih Sa, terimakasih karena kamu membawa keberuntungan untukku" Ucap Yuga kemudian memeluk istrinya lagi.
"Maksud Mas Yuga apa? Sesa benar-benar bingung" Ucap Sesa yang masih bingung dengan tingkah suaminya.
"Tuan Andreas sudah menyetujui proyek yang kami ajukan" Ucap Yuga senang "Dan kamu tau apa?" Tanya Yuga kepada istrinya.
Sesa menggeleng karena memang Sesa tidak tau apa-apa.
"Mereka menyetujui itu karena permintaan dari Nyonya Andreas. Dan itu semua berkat kamu yang sudah menyenangkan hatinya. Katanya beliau sangat suka cake buatan kamu dan menyukaimu seperti putrinya sendiri" Yuga akhirnya menjelaskan sumber kebahagiannya saat ini.
"Waahhh selamat Mas, ini hari keberuntungan Mas Yuga. Sesa yakin tidak ada hang bisa menandingi kehebatan Mas Yuga dalam hal seperti ini" Ucap Sesa ikut senang dengan keberhasilan suaminya.
"Tidak, tapi kamulah yang membuatku beruntung Sa" Lagi-lagi Yuga menempelkan dahinya ke dahi Sesa seperti beberapa bulan lalu. Hal yang membuat Sesa gugup setengah mati.
"Kamu memang bisa dengan mudah membuat semua orang jatuh hati Sa" Suara Yuga melembut.
"Lalu apakah Sesa bisa membuat Mas Yuga juga jatuh hati?" Ucap Sesa lirih.
Sesa memejamkan matanya karena hembusan napas Yuga yang sangat terasa di wajahnya. Menunggu jawaban apa yang akan Yuga ucapkan.
Tangan Yuga bergerak ke tengkuk Sesa, mengikis jarak yang masih tersisa beberapa senti itu. Mata Sesa yang semula terpejam kini terbuka dengan sempurna saat benda kenyal dan basah menyentuh permukaan bibirnya.
-
-
Percaya ngga percaya aku nulis ini merinding sendiri haha. Karena terlalu mendalami peran mereka jadi ikut deg-degan juga😂
Semoga kalian suka dengan episode ini dan jangan lupa tinggalkan jejak mu😘
__ADS_1