
Yuga dan Sesa sudah duduk di lesehan menunggu pesanannya. Suasana warung makan ini memang selalu ramai setiap harinya. Makanan disini memang enak dan harganya terjangkau. Sesa sudah sering kesini bersama sahabatnya.
"Silahkan Mba Sesa pesanannya" Ucap seorang pelayan yang terlihat baru memasuki umur duapuluh tahunan.
"Terimakasih" Jawab Sesa dengan senyum manisnya.
"Sering makan disini?" Tanya Yuga setelah pelayan itu pergi.
"Iya, sama Maya dan Della, emangnya Della ngga pernah ajak Mas kesini?" Tanya Sesa mulai mengambil nasi dari dalam bakul kecil ke piring Yuga.
Yuga menggeleng menjawab Sesa. Della memang tidak pernah mengajaknya makan di tempat seperti ini. Della lebih suka makan di restoran barat.
Yuga dan Sesa terlihat sangat menikmati makannya. Ayam goreng khas dari warung makan itu dengan sambal uleg super pedas ditambah tempe, tahu, terong goreng dan lalapan. Membuat selera makan siapa saja meningkat. Suasana kota jakarta yang panas dan makanan yang pedas membuat badan terasa panas dan berkeringat.
Sesa mengambil tisu dengan tangan kirinya kemudian mengusap keringat yang menetes di pelipis Yuga.
Yuga diam saja tak menolak, malah sedikit mendekatkan wajahnya kepada Sesa untuk di bersihkan keringatnya.
***
Sesa dan Yuga kini sudah memasuki apartemennya. Mereka hanya tinggal membersihkan diri lalu tidur. Yuga masuk ke kamar tidak langsung mandi, ia malah membuka laptopnya. Sesa tidak tau apa yang suaminya kerjakan, akhirnya Sesa lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.
"Mas Yuga tidak mandi dulu?" Ucap Sesa saat kelar mandi masih melihat suaminya di posisi yang sama.
"Sebentar" Jawab singkat Yuga.
Sesa duduk di meja risa memulai ritual malamnya, mengoleskan berbagai skincare di wajah dan badannya. Sesa melihat suaminya memasuki kamar mandi dari pantulan cermin. Sesa tersenyum melihat perubahan Yuga akhir akhir ini. Walaupun kadang masih terlihat dingin tapi sekarang lebih menganggap keberadaan Sesa.
Yuga keluar kamar mandi dengan handuk kecil yang biasa untuk mengeringkan rambutnya. Sesa sering melihat suaminya itu mengeringkan rambut dengan handuk bukan dengan hairdryer.
Yuga menggosok rambutnya dengan tangan kiri, kemudian beralih dengan tangan kanan. Namun tiba-tiba Yuga memekik tertahan memegang bahunya. Sepertinya Yuga lupa jika tangannya cidera. Hal itu tidak luput dari pandangan Sesa.
"Mau Sesa bantu?" Sesa mendekati Yuga.
Yuga tidak menjawab malah berjalan menjauh dari Sesa. Ada sedikit rasa kecewa di hati Sesa.
"Cepatlah aku sudah ngantuk" Dugaan Sesa salah, ternyata suaminya duduk di kursi meja rias menunggu Sesa yang malah melamun karena Sesa pikir Yuga menolaknya.
Sesa hanya tersenyum kemudian menerima handuk yang di ulurkan Yuga. Jantung Sesa benar-benar sudah tidak terkontrol. Kepala Yuga tepat berada di depan perutnya.Karena posisi Yuga duduk dan Sesa berdiri di depannya.
"Semoga Mas Yuga tidak mendengar suara jantungku" Sesa berdoa dalam hati.
Sesa mulai menggosok lembut rambut Yuga dengan handuk.
"Kenapa Mas Yuga ngga pernah pakai hairdryer?" Tanya Sesa.
"Aku ngga mau rambutku rusak" Ucap Yuga pelan.
Sesa mengangguk, Pantas saja rambut suaminya itu terasa lembut seperti rambut bayi.
"Sudah Mas" Setelah beberapa saat rambut Yuga sudah mengering.
"Heemmm terimakasih" Yuga bangkit menuju ranjangnya.
__ADS_1
Sesa juga merasa lelah ingin segera memanjakan tubuhnya di kasur empuk nan hangat. Sesa sudah ingin menyusul Yuga yang berbaring terlebih dahulu tapi bunyi ponsel mengurungkan niatnya.
"Iya Pak selamat malam, ada apa ya Pak?" Sesa menjawab teleponnya.
" . . . . . . . . "
"Baik Pak, sebentar saya tanya suami saya dulu" Sesa menjauhkan ponselnya lalu beralih ke Yuga yang ternyata menyimak sedari tadi dengan posisi setengah duduk
"Siapa?" Tanya Yuga.
"Pak Arif, pengacara papa. Besok pagi minta kita datang ke kantor papa. Mas Yuga bisa ngga temani Sesa?" Ucap Sesa dengan suara pelan.
"Iya" Jawab Yuga sangat singkat padat dan jelas.
Sesa mendekatkan kembali ponselnya.
"Halo Pak Arif, Besok pagi kita bisa datang ke kantor"
". . . . . . . . . . . . . ."
"Tidak apa-apa Pak Arif, Selamat malam"
Sesa menjauhkan ponselnya dari telinga setelah telepon ditutup dari seberang sana.
"Memangnya ada apa?" Tanya Yuga.
"Tidak tau" Sesa mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah ayo tidur" Yuga mulai berbaring dan memasang selimut sebatas dadanya.
-
"Biarkan seperti ini sebentar saja" Bisik Yuga di telinga Sesa.
Sesa hanya bisa pasrah saat Yuga semakin erat memeluknya dari belakang. Sesa masih tidak percaya dengan apa yang suaminya lakukan saat ini.
"Mas aku ini Sesa" Sesa berpikir kalau Yuga mengira dirinya adalah Della sehingga Yuga tanpa sadar memeluknya saat tidur.
"Yang bilang kamu Mbok Darmi siapa?" Sesa lega karena suaminya sadar jika yang ia peluk adalah Sesa. Sesa dapat merasakan hembusan napas Yuga di tengkuknya yang membuatnya merinding.
"Tapi kita harus sholat subuh Mas" Sesa masih ingin beranjak karena sudah tidak tahan lagi dengan jantungnya yang ingin meloncat keluar dari tubuhnya.
"Lima menit lagi" Yuga malah menyusupkan wajahnya di lekuk leher isterinya. Sesa memejamkan mata dan menahan napasnya karena terlalu gugup. Tanpa Sesa sadari Yuga tersenyum melihat reaksi Istrinya seperti itu hanya dengan memeluknya.
Yuga menepati janjinya, kini mereka sudah duduk di atas sajadah setelah selesai menunaikan sholat subuh jamaah pertama mereka setelah menikah. Yuga bahkan sampai lupa kapan terakhir kali menunaikan kewajibannya.
Yuga berbalik menghadap istrinya yang masih memakai mukena. Sesa meraih tangan Yuga kemudian di ciumnya takzim. Yuga memandang wajah Sesa yang di balut mukena terlihat begitu cantik, kulitnya yang putih membuat wajah cantiknya bersinar.
"Sesa siapkan sarapan dulu" Sesa melepas mukenanya kemudian melanjutkan aktivitas paginya sebagai seorang istri.
"Hemm iya" Jawab Yuga.
***
__ADS_1
Sudah lama sekali Sesa tidak menginjakkan kaki di perusahaan keluarganya ini. Perusahaan besar yang dirintis oleh kakeknya sendiri. Sesa memang tidak pernah tertarik dengan masalah perusahaan ini. Makanya Sesa lebih memilih membuka usaha sesuai dengan passionnya yaitu memasak.
"Nona Sesa, Tuan Yuga. Mari saya antar ke atas. Pak Arif sudah menunggu" Kedatangan Sesa sudah di sambut oleh asisten papanya yang diketahui Sesa bernama Pak Wahyu.
"Baik pak" Jawab Sesa.
Mereka bertiga menaiki lift menuju rungan papanya dulu.
Sesa dan Yuga memasuki ruangan yang bertuliskan CEO. Ternyata benar Pak Arif sudah menunggu di sana.
"Selamat pagi, Bu Sesa dan Pak Yuga" Arif menyambut kedatangan pasangan pewaris perusahaan besar itu.
"Selamat pagi Pak" Yuga dan Sesa bergantian berjabat tangan.
"Silahkan duduk" Wahyu mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ada apa Pak Arif meminta saya datang kesini?" Sesa sudah penasaran dengan apa yang terjadi.
"Baiklah langsung ke intinya saja. Begini Bu Sesa, Setelah kepergian Pak Gunawan beberapa waktu yang lalu, perusahaan masih dalan kekosongan kepemimpinan. Sementara itu pemegang saham sudah mulai meminta pengisian kembali posisi tersebut. Ucap Wahyu.
" Maka dari itu Pak wahyu meminta saya datang kesini untuk menyampaikan surat wasiat yang saya terima beberapa hari setelah pernikahan Bu Sesa dan Pak Yuga" Kini Arif yang berbicara.
Sesa terkejut karena papanya sudah menyiapkan surat wasiat untuknya setelah ia menikah. Apakah sebenarnya papanya sudah berfirasat saat itu.
Arif mengeluarkan selembar kertas dari map berwarna coklat.
"Saya bacakan intinya saja Bu" Ucap Arif.
"Jadi di dalam surat wasiat ini tertulis jika suatu saat Bapak Gunawan meninggal dunia maka kepemimpinan perusahaan akan jatuh kepasa Bu Sesa beserta segala bentuk harta benda yang dimiliki oleh Bapak Gunawan akan menjadi milik Bu Sesa sepenuhnya. Namun karena Bu Sesa tidak pernah tertarik sekalipun dengan perusahaan ini, Bapak Gunawan ingin menyerahkan kepimpinan perusahaan ini kepada menantunya yaitu Pak Yuga. Namun keputusan itu tergantung Bu Sesa, ingin mengadakan pemilihan CEO dari para pemegang saham atau Suami Bu Sesa sediri yang akan mengambil alih. Bahkan jika Bu Sesa sendiri yang menggantikan sebagai CEO, Beliau sangat senang" Ucap Arif panjang lebar.
"Silahkan diperiksa keasliannya" Arif menyerahkan surat wasiat itu kepada Sesa.
"Keputusan sepenuhnya di tangan Bu Sesa. Tapi jika posisi ini terlalu lama kosong kita takut akan diambil alih orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap Wahyu.
Sesa melihat wajah suaminya seakan meminta pendapat. Yuga memegang tangan Sesa kemudian menggunakan kepalannya.
"Baiklah ini keputusan saya. Seperti yang papa tuliskan di surat itu kalau memang dari dulu saya tidak pernah tertarik dengan masalah perusahaan ini maka dari itu saya akan menyerahkan kepemimpinan perusahaan ini kepada suami saya" Ucap Sesa dengan penuh keyakinan.
Yuga tidak percaya dengan keputusan Sesa yang dengan mudahnya melepaskan perusahaan papanya kepadanya. Maksud benak Yuga tadi adalah memberi dukungan Sesa untuk maju menjadi CEO bukan malah menyerahkan kepadanya. Walau sekarang ini Yuga sebagai suaminya namun Yuga merasa tidak berhak.
"Sa"
"Mas, Sesa mohon. Sesa tidak bisa jika mengurus perusahaan sebesar ini. Sesa juga tidak mau jika perusahaan yang dirintis kakek dari nol ini hancur begitu saja di tangan orang lain. Sesa tau Mas Yuga hebat di bidang ini, maka dari itu bantulah Sesa ya?" Sesa menatap Yuga dengan tatapan memohon.
"Betul kata Bu Sesa Pak. Jika mereka melihat peluang sebesar ini maka dengan mudahnya perusahaan akan hancur begitu saja ditangan orang yang tidak kompeten" Wahyu mendukung keputusan Sesa.
"Baiklah, Saya akan mengambil alih perusahaan ini di bawah kepemimpinan saya. Tapi disini saya semata-mata hanya menggantikan istri saya. Jadi saya minta semua aset perusahaan ini masih tetap atas nama istri saya" Ucap Yuga memperlihatkan kewibawaannya.
Sesa menatap suaminya dengan kagum. Tidak heran jika suaminya sangat disegani di dunia bisnis walau usianya masih muda, bukan hanya kerena kesuksesannya tapi juga karena sikapnya yang tegas dan berwibawa.
-
-
__ADS_1
Sepertinya Yuga sudah mulai hangat nih ya? Semoga Yuga bisa segera melupakan Della ya readers?
kita kawal terus Yuga dan Sesa, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😘