
Silahkan buka buktinya taun, dan juga cermati surat perjanjian itu!"
Yuga membuka file berada di dalam flashdisk itu. Terdapat dua video di sana. Yuga membuka salah satunya. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat, menyaksikan adegan dewasa yang di lakukan oleh dua orang berlawan jenis. Yuga sama sekali tidak mengetahui siapa pria di dalam video itu. Tapi Yuga kenal dengan jelas siapa pemain wanitanya.
Yuga mengehentikan video itu dan menatap satunya lagi. Namun Yuga ragu untuk membukanya, sudah banyak kejutan yang ia dapatkan beberapa hari ini. Ia seperti tak sanggup untuk menerima kenyataan demi kenyataan yang terus saja terungkap.
Rudi yang melihat Tuan mudanya hanya menatap laptop itu pun buka suara.
"Video yang satu lagi hanya video saat Tuan besar menemui Nona Della. Di dalam video itu terekam jelas bahwa Tuan muda hanya membuat kesepakatan yang menguntungkan untuk Nona Della, bukan ancaman atau lain sebagainya"
Yuga tetap tidak mau membukanya, ia percaya apa yang dikatakan Rudi adalah benar adanya. Namun kini ia beralih pada surat perjanjian di atas materai dengan nama Della dan Kakeknya sebagai pihak yang bersangkutan.
Coretan tangan yang pernah Yuga lihat sebagai tulisan Della terlihat jelas di sana. Yuga tidak menyangka cintanya yang tulis untuk Della dulu di tukar dengan harta oleh Della. Sebuah butik beserta brand terkenal di paris, satu buah apartemen mewah, satu buah rumah mewah di kawasan kepala gading, dua buah mobil sport keluaran terbaru dan uang sebesar 50 milyar.
Yuga meraih selembar kertas berisi catatan koran dari bank.
"Itu riwayat pengiriman uang untuk pria yang bersama Riko Tuan. Nona Della menggunakan uang dari Tuan untuk menutup mulut Riko, agar tidak membuka rahasia Nona Della kepada anda.
Yuga meremas kertas itu. Yuga kira uang yang ia berikan kepada Della digunakan untuk keperluan Della sendiri, tapi ternyata digunakan untuk menghidupi peliharaannya.
"Mama, maafkan Yuga ma. Yuga janji akan membawa Sesa dan calon cucu mama pulang ke rumah" Yuga bersimpuh di kaki Vani.
"Apa kamu bilang? Calon cucu mama? Jadi Sesa pergi dalam keadaan hamil?" Vani tampak syok mendengar penuturan putranya.
"Maafkan Yuga ma" Yuga menangis di kaki Vani.
"Ya Allah kasihan sekali putriku. Bagaimana kamu melewati masa kehamilan sendirian di sana nak?" Vani memegang dadanya. Tubuhnya lemas ambruk ke belakang.
"Mama!!" teriak Naya.
"Mama bangun ma!" Naya menyentuh pipi Vani yang terasa dingin.
"Mama" Sebut saja Yuga lelaki cengeng saat ini, setelah dia menangisi kepergian istrinya sekarang ia tak kuat menghentikan air matanya melihat mamanya pingsan karenanya.
"Tuan, sebaiknya kita bawa Nyonya besar ke kamar dulu. Laku aya akan panggilkan dokter" Ucap Rudi.
Yuga langsung mengangkat mamanya yang terasa ringan di tangannya.
Naya menyelimuti setengah badan mamanya. Menatap sedih wajah yang sudah tak muda lagi itu. Naya juga merasa geram dengan Kakaknya, Tapi Naya juga tak berhak ikut campur dengan rumah tangga Kakaknya. Naya hanya bisa menangis memikirkan keadaan Kakak iparnya yang belum di ketahui keberadaannya.
"Kakak" Lirih Naya masih menatap wajah mamanya.
"Naya tau kalau Naya tidak ada hak untuk ikut campur urusan Kakak. Tapi mohon jangan pernah bermain api kalau Kakak tidak mau terbakar" Naya mengucapkan itu tanpa mau melihat wajah Kakaknya.
__ADS_1
Yuga tertegun, lidahnya kelu tak bisa menjawab adiknya.
"Kamu benar Nay. Aku memang yang menyalakan api itu, tapi belum sempat aku memadamkannya, api itu sudah membakar tubuhku" Yuga hanya mampu mengucapkan itu di dalam hatinya.
"Tuan, dokter sudah datang" Ucap Rudi.
"Dokter silahkan periksa mama saya" Naya mempersilahkan dokter itu mendekat ke arah mamanya.
"Permisi Tuan, Nona" Dokter yang terlihat masih muda itu memulai tahapan pemerikasaannya.
"Bagaiman keadaan mama dok?" Kini Yuga membuka suaranya.
"Keadaan Nyonya tidak perlu di khawatirkan. Beliau hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Jadi untuk menjaga kesehatannya mohon untuk di perhatikan segala aktivitasnya agar tidak mudah kelelahan, juga jagan sampai terlalu banyak pikiran. Saya akan meresepkan vitamin yang harus di konsumsi secara rutin oleh Nyonya besar"
"Baik dokter terimakasih" Ucap Yuga.
"Kalau begitu saya permisi Tuan" Dokter itu keluar do antar oleh Rudi.
"Naya, Kakak keluar sebentar, ada yang harus Kakak selesaikan. Titip mama" Naya hanya mengangguk untuk Kakaknya.
***
Kali ini Yuga sedang menuju ke suatu tempat. Yuga melewati jalan yang sudah sering ia lewati itu.
"Baik bos"
Kini Yuga sudah sampai di sebuah apartemen, Yuga menekan password tang sudah ia hafal di luar kepalanya.
"Yuga? Kamu datang? Kenapa kamu tidak menghubungiku beberapa hari ini? Ada apa denganmu?" Della sudah memberondong pertanyaan saat Yuga baru saja menampakkan wujudnya.
Tapi Yuga tidak menghiraukan Della yuga malah melempar beberapa lembar kertas dan foto di atas meja.
Della yang bisa melihat sekilas apa yang telah di lemparkan Yuga itu sontak merasa terkejut. Detak jantungnya berpacu lebih cepat.
"Yuga itu tidak seperti yang kamu ki_"
"Kebohongan apa lagi yang akan kau katakan!!" Desis Yuga sudah menatap Della dengan tatapan membunuhnya.
"Aku bisa jelaskan Yuga, aku" Della tidak mampu meneruskan kalimatnya
"Aku tidak menyangka dulu bisa mencintai wanita menjijikkan seperti dirimu"
Deg..
__ADS_1
Hinaan pertama kali bagi Della yang keluar dari mulut Yuga tak ayal membuat hatinya tertusuk.
"Yuga aku tidak seperti itu. Riko menjebak ku kemudian dia menggunakan itu untuk mengancam ku" Della takut menghadapi kemarahan Yuga kali ini. Della bahkan sudah bergelimang air mata.
"Tapi kenapa kau tak jujur padaku? Kenapa kau malah mengkhianati ku. Bahkan kau menggunakan uangku untuk menghidupi partner s*x mu itu!!" Geram Yuga.
"Yuga aku minta maaf. Waktu itu aku takut jika kamu tidak mau menerima keadaanku yang seperti itu. Aku takut Riko akan menghancurkan hidupku"
"Lalu apa tujuanmu kembali ke sini dan dengan teganya memfitnah Kakek yang sudah meninggal dengan cerita karangan itu?" Yuga masih bisa menahan kemarahannya. Menunggu kejujuran dari wanita yang masih duduk di kursi roda itu.
"Itu ku lakukan karena aku masih mencintaimu Yuga, aku ingin kembali padamu" Ucap Della dengan sesenggukan.
"B*lshit!! Umpat Yuga.
" Yuga, aku sungguh masih mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu" Memang benar Della sangat mencintai pria di depannya itu tapi uang lebih silau di matanya.
"Cih cinta kau bilang? Bukannya kau sendiri yang menukar cintamu dengan uang Kakekku?" Yuga tidak tersentuh sama sekali dengan ucapan Della.
"Aku akui jika aku memang menerima uang dari Kakek tapi di sana aku selalu memikirkan kamu. Aku kesepian tanpa kamu ga"
"Sudahlah Della, aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu!! Mulai sekarang jangan pernah muncul di hadapanku dan istriku lagi!!" Yuga benar-benar sudah muak, karena kedatangan Della yang memicu kisruh rumah tangganya.
"Dan satu lagi, kau pasti lelah terus duduk di kursi roda seperti itu. Hentikan saja sandiwara mu itu!!" Yuga menatap ke arah kaki Della tajam.
Tubuh Della menegang, tak menyangka bahwa kebohongannya kali ini juga di ketahui oleh Yuga.
"Yuga ini, aku tidak bermaksud untuk_. Aku mohon maafkan aku Yuga" Della gugup tak bisa lagi mengeluarkan pembelaannya.
"Aku tidak sudi lagi melihat pembohong sepertimu. Pergilah sendiri atau aku yang akan membuang mu, pilihan ada di tanganmu!!"
"Yuga aku_"
"Kau tau sendiri aku bagaimana kan? Aku bisa menghilangkan wujud mu dan membuat semua orang melupakanmu, bahkan untuk mengingat namamu saja mereka tidak mampu. Camkan itu!!
" Yugaaa!!! Jangan pergi, aku mohon maafkan aku!!" Percuma saja Della meraung di dalam apartemennya. Yuga sudah pergi dan tidak peduli lagi padanya bahkan menoleh pun tidak.
-
-
Happy readingš
Jangan lupa tinggalkan jejakmuš
__ADS_1