
Dibelahan benua lain seorang gadis sedang kelimpungan mencari keberadaan pria yang selama ini menjadi benalu dalam hidupnya. Sejak kejahatannya terbongkar tanpa berpikir panjang Della langsung terbang ke Paris. Yang ada dalam pikirannya saat itu hanya menyelamatkan sisa hartanya sebelum semuanya musnah di tangan Riko.
Tapi untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Riko ternyata sudah pergi meninggalkan Paris beserta semua aset milik Della yang ada di sana. Della memang sempat mendapat kabar jika butiknya sedikit bermasalah, namun ia tetap fokus kepada Yuga karena jika Della berhasil mendapatkan Yuga, butik itu tidak ada artinya lagi. Tapi apa yang ia dapat kali ini? Yuga sudah tidak menggubrisnya lagi, bahkan ancaman sudah ia dapatkan dari pria yang dicintainya itu. Sekarang di saat Della sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dia juga harus kehilangan semua harta yang ia dapat dengan mengorbankan cintanya.
"Apa ini karma untukku?" Ucap Della dengan tatapan kosong.
"AKKKHHHHH SEMUA INI GARA-GARA RIKO S*ALAN ITU!!!!" Della menjambak rambutnya sendiri. Dia berteriak seperti orang kesetanan di dalam apartemen yang sudah mulai dikosongkan itu.
"Kemana lo bawa kabur semua uang gue Riko?? Lo emang b*rengs*k!!!" Della sedang menangisi nasibnya yang begitu malang.
Della terdiam sejenak, Ia berpikir dengan tenang. Della ingat jika masih mempunyai sebuah rumah mewah hasil dari perjanjian itu di Indonesia. Bagaimanapun caranya ia tetap harus menjual rumah itu untuk bertahan hidup di tempat yang baru. Della tidak mau sampai Yuga membuktikan ancamannya untuk menghancurkan hidup Dell. Sedangkan saat ini hidupnya juga sudah hancur. Ada rasa penyesalan di hati Della, termasuk rasa kehilangan yang mendalam di hatinya saat ia sudah kehilangan kedua sahabatnya. Di saat seperti ini lah Della baru merasakannya. Disaat dirinya hancur dalam kesendirian.
***
Di hari berikutnya, Sesa sudah terlihat lebih segar. Wajahnya sudah mulai bersinar kembali setelah kemarin hanya sembab yang bisa di lihat dari wajah cantiknya. Sesa terlihat cantik dengan dress rumahan berwarna kuning.
"Pagi Semua!!" Sapa Maya kepada dua orang wanita berbeda generasi yang sedang asik dengan tanaman hias.
"Siang kali neng" Balas Sesa.
"Ya elah, baru juga jam 11. Masih okelah" Jawab Maya tak mau kalah.
"Lagian kok perawan bangunnya siang. Mana lagi liburan lagi, harusnya bangun pagi cari udara segar di sini. Nah ini malah baru bangun, belum mandi lagi. Masih ileran!!" Ledek Sesa kepada sahabatnya itu.
"Sejak kapan lo jadi cerewet begini?" Maya sedikit menapakkan ekspresi kebingungan.
Sementara Mbok Lasmi hanya mesam mesem saja mendengar kedua wanita cantik itu berdebat.
"Mendingan Mbak Maya mandi dulu saja, terus sarapan, Mbok akan siapkan sarapannya"
"Gitu kali ya Mbok enaknya?" Maya mengangguk setuju.
"MAYA!!" Maya yang baru saja berbalik di kagetan dengan suara seorang pria.
"Nggak mungkin kan dia?" Maya masih memunggungi pemilik suara yang memanggilnya.
"Sayang!" Suara itu semakin dekat.
Kali ini Maya yakin lalu memutar tubuhnya.
"BAYU!!" Maya berlari dan langsung memeluk tubuh kekasihnya.
"Aku kangen!!!"
"Aku juga, makanya aku susul kamu kesini" Bayu mengeratkan pelukannya.
Tapi seakan tersadar oleh sesuatu, Maya langsung saja melepaskan pelukan itu dan berlari ke dalam rumah meninggalkan Bayu. Tapi saat melewati Sesa, Maya sempat berbisik.
__ADS_1
"Lo bener kalau gue ada ilernya? Aduh m*mpus mau di taro mana muka gue!!" Maya melesat kembali ke dalam rumah. Bayu hanya melongo melihat tingkah kekasihnya.
"Maya kenapa?" Bayu memandang Sesa dengan tatapan bingung.
"Malu kali, belum mandi dia. Duduk dulu, biar Mbok Lasmi buatkan minum" Ajak Sesa kepada tamunya.
Sementara bayu hanya tersenyum mengingat kelakuan Maya tadi yang malu-malu kambing.
***
"Ga, lo yakin cuma mau liatin dari sini aja?" Doni sebenarnya sudah gatal ingin segera turun dari mobil. Karena sejak pagi tadi sudah berada di dalam mobil, yang diam-diam memperhatikan segala aktivitas di rumah Sesa dari seberang jalan.
"Gue takut dia ngga mau temuin gue lagi Don" Jawab Yuga yang masih fokus kepasa Sesa. Wanita hamil itu sedang duduk di teras rumah sambil memeriksa beberapa kertas di atas meja.
"Terus mau sampai kapan kaya gini terus. Mumpung rumah sepi, Maya lagi pergi sama cowoknya. Gue tunggu di sini, panggil aja gue sekiranya lo butuh bantuan" Mereka berdua juga melihat kedatangan kekasih Maya itu. Karena Yuga dan Doni memang sudah dari pagi berada di sana.
Yuga sedikit ragu, namun tangannya bergerak membuka pintu mobilnya. Berlahan Yuga membawa langkahnya mendekati Sesa. Sesa yang terlalu fokus pada pekerjannya tidak menyadari ada seseorang yang mendekat kearahnya.
"Sesa?" Panggil Yuga saat jarak mereka hanya tersisa sekitar lima langkah.
Mata Sesa yang sedang membaca isi kertas ditangannya melebar seketika. Berlahan Sesa mengangkat kepalanya untuk menatap laki-laki yang bertubuh tinggi di depannya.
Deg..
Hati Sesa selalu tidak terkontrol saat lagi-lagi harus menatap mata itu. Hal serupa juga di rasakan Yuga, dimana hatinya teriris melihat mata sayu istrinya.
Sesa sudah bersiap untuk meninggalkan Yuga yang masih setia menatapnya.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Aku rasa itu sudah tidak perlu lagi!!" Ketus Sesa tanpa melihat pria tampan itu.
"Tentu saja itu perlu!! Karena semua yang kamu pikirkan itu salah!!" Tegas Yuga, kali ini Yuga bertekad untuk segera mengakhiri kesalahpahaman ini.
"Memangnya apa yang aku pikirkan? Tau apa kamu tentang pikiranku?" Jawab Sesa sinis menatap Yuga dengan tatapan yang menyala.
Yuga mendekati Sesa, namun Sesa juga menghindari Yuga. Semakin Yuga mendekat, Sesa juga semakin menjauh. Tapi saat Sesa akan kembali menjauh Yuga sudah bisa menahan tangan Sesa.
"Lepasin!!" Sesa mencoba menghentakkan tangannya.
"Kita duduk dulu, Mas akan jelaskan semuanya. Kita selesaikan dengan kepala dingin" Kini suara Yuga sungguh lembut selembut sutera. Dengan sangat berharap istrinya itu mau menuruti keinginannya.
"Mungkin ini saatnya aku melepas egoku dan mendengarkan dulu apa yang akan Mas Yuga sampaikan" Bisikan hati Sesa meyakinkannya.
Saat Yuga merasakan tangan Sesa tak lagi memberontak. Pria itu tersenyum tipis, lalu menuntun istrinya itu untuk duduk kembali di kursi kayu yang panjang. Tapi apa yang dilakukan Yuga membuat Sesa sedikit kaget, karena bukan mengikuti Sesa untuk duduk di kursi, melainkan Yuga memilih berlutut di samping Sesa.
Ditambah kalimat pertama yang keluar dari bibir Yuga membuat Sesa semakin terkejut.
"Apa kabar baby kita sayang? Dia tidak merepotkan mamanya kan?" Ucap Yuga memandang perut Sesa yang tidak terlihat membuncit karena tertutup dress yang sedikit longgar.
__ADS_1
Lidah Sesa kelu tak mampu berkata apapun, ia hanya meremas jarinya yang saling di tautkan.
"Jadi benar Mas Yuga sudah tau kalau aku hamil? Tapi dari mana? Pantas saja dia tidak mau menandatangani surat gugatan dariku" Batin Sesa. Ia mengira Yuga tidak mau menceraikannya hanya karena bayinya.
"Aku tidak tau apa maksudmu" Jawab Sesa gelagapan. Matanya melihat ke sembarang arah karena tidak mau menatap mata Yuga.
"Mas sudah tau kalau buah cinta kita sudah tumbuh di rahim kamu sayang" Pandangan Yuga tidak pernah lepas dari wajah ayu istrinya itu, yang kini terlihat lebih berisi karena kehamilannya.
"Jangan panggil aku begitu, aku bukan sayangmu!!" Sesa mengalihkan pembicaraan Yuga, ia tak ingin Yuga membahas soal anaknya. Tapi penolakan Sesa membuat hati Yuga berdenyut. Kini Yuga bisa merasakan sakitnya di saat mendapat penolakan dari orang gang kita cintai.
"Kamu selamanya tetap akan menjadi sayangnya Mas Sa!!" Balas Yuga dengan ketegasan.
Sesa hanya tersenyum masam.
"Mas minta maaf Sayang, memang semua ini salah Mas yang tidak jujur sama kamu dari awal"
"Tidak jujur karena kembali menjalin hubungan kembali dengan Della begitu? Dan kenapa harus dari Della aku mengetahui semuanya? Setidaknya kalau kamu ingin kembali padanya, katakan sendiri kepada ku. Jangan membuatku seperti orang bodoh yang menunggu suaminya pulang ke rumah ternyata suaminya sedang berduaan dnegan kekasihnya!!" Pertahanan Sesa mulai runtuh saat meluapkan isi hatinya.
"Mas tidak pernah menjalin hubungan kembali dengan Della Sa!! Mas tidak bohong, Mas hanya mendekati Della hanya untuk mencari kebenaran tentang Kakek dan mengetahui apa motif Della berpura-pura kakinya patah. Itu hanya rencana Mas dengan Doni" Sesa sempat terkejut mengetahui fakta bahwa Della berpura-pura. Tapi ego masih menguasai dirinya.
"Aku lebih percaya bukti daripada cerita karangan itu!!" Ucap Della dingin.
"Bukti apa Sa? Foto itu? Itu cuma rencana Della untuk menghancurkan kita Sa. Foto itu sengaja dikirim Della untuk mempengaruhi kamu sayang. Dan kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu. Inti hanya di ambil dari sudut yang pas saja sehingga terlihat Mas melakukan hal yang tidak sepantasnya!!" Yuga memang berkata jujur kepada Sesa.
"Lalu saat Mas tertidur dan saling menggenggam tangan itu termasuk rekayasa!!" Desis Sesa tajam.
"Mas minta maaf soal itu. Malam itu Mas mendapat telepon dari perawat, kalau Della saat itu mengamuk dan histeris. Mas juga tau kalau itu hanya pura-pura. Saat Della meminta Mas untuk menunggunya sampai dia tertidur, Mas pikir itu saat yang tepat agar Mas bisa mencari tau apa yang di sembunyikan Della tentang Kakek. Tapi malam itu Mas lelah sekali dan tidak sengaja tertidur Sa. Mas bodoh waktu itu. Mas sungguh minta maaf soal itu sayang. Mas mohon maafkan Mas" Yuga mencoba meraih tangan Sesa namun Sesa malah menjauhkannya.
"Lalu kenapa tidak jujur, ada banyak kesempatan untuk jujur Mas tapi kamu malah lebih memilih berbohong!!" Sesa menggeleng tidak percaya kepasa suaminya. Air mata Sesa kembali menetes saat mengingat suaminya kembali ke rumah dengan kebohongan.
Yuga juga semakin terisak melihat istrinya menangis.
"Mas tidak mau menyakiti hati kamu sayang" Yuga menundukkan kepalanya, tidak mampu menatap wajah Sesa.
"Tapi apa yang kamu lakukan itu justru menyakiti hatiku lebih dalam Mas!!" Ucap Sesa dengan menekan suara di setiap katanya.
"Maafkan Mas sayang, Mas mohon beri satu kesempatan lagi untuk Mas" Mata Yuga yang memerah karena tangisannya menatap mata basah Sesa.
"Satu kesempatan sudah pernah aku berikan tapi kamu sia-siakan begitu saja!!" Sesa mengusap air mata di pipinya dengan kasar.
"Mas mohon Sayang, Mas tidak mau kehilangan kamu dan anak kita. Mas mencintai kalian" Pipinya yang sudah kering kembali basah oleh air mata saat Yuga menyinggung anak dalam.kandungannya.
Sesa mendadak berdiri begitu saja.
"Lebih baik kamu pergi dari sini!!"
-
__ADS_1
-
Jangan lupa like dan komentar yang membangun ya, happy reading readersđŸ˜˜