
"Hay Sesa" Sapa Vino yang tiba-tiba sudah ada di depan etalase tempat Sesa menyusun cakenya.
"Astaghfirullah Vino, bikin kaget saja. Untung ngga jatuh" Sesa memegang nampan yang berada di tangannya.
"Sorry sorry, habis kamu fokus banget" Ucap Vino.
"Mau cake rasa apa? Pilih aja" Sesa menunjuk berbagai macam cake yang telah dia susun.
"Gratis nih?" Goda Vino.
"50% deh" Sesa menunjukkan ke lima jarinya.
"Haha boleh deh" Vino tertawa lebar dengan candaan ringan mereka.
Vino memang sengaja datang ke cafe Sesa, berharap bisa bertemu dengan wanita yang masih dicintainya hingga saat ini. Dan beruntungnya Vino saat ini saat masuk cafe langsung di sambut sosok pujaannya yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
Vino memesan kopi favoritnya, di temani sepotong cake yang di pilihkan sendiri oleh Sesa. Hati Vino terasa berbunga-bunga saat ini. Meski ia sadar perasaan itu salah tapi Vino berusaha untuk tetap memendam untuk dirinya sendiri. Bisa sedekat ini dengan Sesa pun sudah membuat Vino senang bukan main.
"Sa, ada resto baru di dekat sini. Katanya menu spesialnya adalah makanan khas Jogja. Kita coba yuk?" Vino berharap Sesa mau menerima ajakannya.
"Boleh tapi jangan sekarang ya, besok gimana?" Tanya Sesa. Sebenarnya Sesa juga sangat merindukan makanan khas kampung halamannya itu. Tapi perutnya sudah terlanjur kenyang karena mencicipi resep cake baru yang di buatnya sedari tadi pagi.
"Boleh, kapanpun kamu bisa" Ucap Vino senang, akhirnya setelah sekian lama mereka bisa pergi berdua. Walaupun status mereka hanya berteman.
***
"Bu Maya, jadi bener Pak Bayu jadi resign dari sini?" Tanya rekan sedifinisinya. Mereka mulai kepo tentang keberadaan Bayu saat ini yang tak ada kejelasan. Memang Maya dan Bayu kini sudah resmi berhubungan. Tapi Maya yang meminta kepada Bayu untuk tetap menyembunyikan hubungan itu di lingkungan kantor. Terlebih lagi sempat heboh berita penolakan lamaran waktu itu.
"Saya ngga tau Bu" Jawab Maya berbohong kepada Bu Rani si tukang ghibah.
"Kalian kan dekat. Masa ngga tau sih Bu" Ibu-ibu dengan warna bibir merah merona itu masih saja mengorek informasi dari Maya.
"Bu Rani mau saya kasih nomor ponsel Pak Bayu? Coba Bu Rani tanya sendiri ke orangnya biar lebih jelas" Maya mulai jengah dengan sikap keingintahuan yang berlebihan dari rekan kantornya itu.
"Ih Bu Maya ngga asik" Rani meninggalkan meja Maya.
"Gimana kalau mereka sampai tau gue udah jadian sama Bayu. Apa ngga tambah kepo mereka?" Batin Maya.
Ding ding ding..
Suara intercom berbunyi menandakan bahwa semua karyawan harus berdiam diri untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh bagian informasi.
"PERHATIAN, BAGI SELURUH KARYAWAN UNTUK SEGERA TURUN KE LOBY UNTUK MENYAMBUT KEDATANGAN DIREKTUR UTAMA KITA YANG BARU. MOHON UNTUK SEGERA BERKUMPUL DALAM WAKTU LIMA BELAS MENIT. TERIMAKASIH"
"Direktur baru? Kenapa mendadak sekali?" Batin Maya. Semua orang juga kebingungan dengan hal ini.
-
__ADS_1
Kini semua karyawan sudah berbaris rapi di loby untuk menyambut direktur mereka. Sebelumya perusahaan ini di pimpin oleh Pak Indra kusuma selaku pemilik dari sebagian besar saham di perusahaan ini.
Bisik-bisik sudah terdengar sejak tadi tentang siapakah yang akan menggantikan pria berumur yang bersahaja itu.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan pintu masuk ke lobi. Dengan sigap scurity yang sejak tadi berdiri rapi membuka pintu mobil bagian belakang. Satu kaki turun dari mobil itu dengan sepatu kulit yang terlihat kinclong menyilaukan.
Semua itu tak lepas dari perhatian semua karyawan di dalam sana. Masih belum terlihat wajah dari pendatang baru itu, karena wajahnya yang menunduk.
Semua mata terbelalak dan mulut menganga tak percaya ketika pria bertubuh jangkung berotot itu berbalik menunjukkan wajah tampannya. Wajah yang tidak asing lagi di perusahaan itu. Dengan gayanya yang cool pria itu masuk ke dalam bak seorang model yang berjalan di atas catwalk.
Kedatangannya sudah di sambut oleh Pak indra di ujung loby. Pria itu menjabat tangan Pak Indra lalu memeluknya sekilas.
"Perhatian!!" Suara Pak indra membuat semua karyawan diam seketika.
"Mulai hari ini saya memutuskan untuk pensiun menikmati hari tua saya di rumah. Maka dari itu kepemimpinan perusahaan yang sangat kita banggakan ini saya serahkan kepasa putra saya satu satunya. Perkenalkan Bayu arga kusuma, putra bungsu saya sekaligus pewaris perusahaan ini" Pak Indra memperkenalkan putranya dengan bangga.
Semua orang tak percaya dnegan kenyataan itu. Pak Bayu yang sudah menjadi kepala HRD selama beberapa tahun itu adalah putra pemilik perusahaan itu sendiri. Termasuk Maya yang merasa di bohongi oleh Bayu, iya Bayunya Maya.
"Awas kamu nanti tau sendiri akibatnya" Batin Maya menatap Bayu tajam, Bayu yang mendapat tatapan tajam dari kekasihnya merasa merinding bulu kuduknya.
"Baiklah kalau begitu, karena kalian sudah tau saya sejak dulu jadi tak perlu ada perkenalan lagi. Silahkan kembali bekerja ke bagian masing-masing. Terimakasih" Ucap Bayu dingin lalu berputar arah menuju ke ruangan barunya.
"Panggilkan Bu Maya dari divisi keuangan untuk menghadap saya dengan membawa laporan bulan ini sekarang juga" Titah Bayu pada sekretarisnya.
"Baik Pak"
-
Tok tok tok..
"Masuk" Suara dari dalam.
Maya membuka pintu besar itu. Pandangannya lurus menusuk Bayu yang sudah siap ingin memeluknya.
"Sayang" Ucap Bayu merasa tak bersalah.
"Apa maksudnya semua ini?" Maya berkacak pinggang setelah melempar dokumen yang di bawanya ke sofa.
"Tenang sayang, aku akan jelaskan" Bayu memegang tangan Maya menuntunnya untuk duduk.
"Ngga usah pegang-pegang" galak Maya.
"Maaf sayang, kamu mau aku jelasin dari mana dulu?" ucap Bayu lembut.
Maya tampak berpikir tanpa menghilangkan wajah kesalnya.
"Sejak kenapa kamu jadi anaknya Pak Indra? Maksud aku kenapa kamu selama ini pura-pura jadi pegawai biasa?" Delik Maya.
__ADS_1
"Oke aku jawab jujur. Jadi waktu itu papa kasih tugas aku untuk menyeleksi sendiri bibit karyawan yang kompeten untuk perusahaan ini. Biar aku tau mana yang terbaik untuk bekerja disini. Hingga beberapa tahun yang lalu kamu datang untuk melamar pekerjaan disini dan membuat aku jatuh cinta dalam pandangan pertama sama kamu. Itu yang membuatku bertahan di HRD sampai kemarin karena kalau kamu tau aku yang sebenarnya pasti kamu bakal sungkan saat aku dekati, iya kan?" Tutur Bayu memandang wajah Maya dengan penuh kasih sayang.
Maya mengangguk.
"Kamu ngga jujur sama aku karena takut aku matre ya? yang manfaatin kekayaan kamu saja" Kini wajah Maya berubah sendu.
"Noooo bukan itu maksudnya sayang. Dengan posisiku seperti ini pasti akan susah untuk mendekatimu dengan bebas seperti yang aku lakukan. Aku juga tidak akan bisa melihat sifat aslimu yang menggemaskan itu" Goda Bayu sesekali.
"Intinya tetap saja kamu bohongin aku!!" Maya berbalik membelakangi Bayu.
Bayu tersenyum lalu memeluk Maya dari belakang.
"Maafkan aku sayang, itu kebohonganku yang terakhir. Aku janji" Bayu mengecup pundak Maya yang tertutup blazer.
"Aku jadi ingat waktu itu sempat berpikir mana mungkin seorang kepala HRD bisa punya apartemen mewah seperti itu. Ternyata kecurigaan ku benar, kamu bukan orang biasa" Ucap Maya.
"Serius kamu pernah berpikir seperti itu?" Tanya Bayu memutar tubuh Maya supaya menghadapnya.
"Hemm" Maya mengangguk
"Tapi sekarang aku malu. Aku hanya orang biasa sedangkan kamu? Apa yang akan di katakan orang tuamu. Belum lagi orang diluar sana yang mengira aku menerima mu karena harta saja. karena sebelumya aku pernah menolak mu" Mata Maya sudah berembun.
"Sstttt jangan bicara seperti itu. Jangan pernah dengarkan omongan orang. Orang tuaku sudah tau jika kamu adalah alasanku untuk bertahan menjadi pegawai biasa, mereka menerimamu sayang. Aku mencintaimu, kamu hanya perlu mendengarkan aku saja" Ucap Bayu membawa Maya ke dalam dekapannya.
"Aku juga mencintai mu Bayu, walaupun kamu bukan pria kaya raya aku tetap mencintaimu" Ucap Maya dalam pelukan kekasihnya. Bayu semakin mengeratkan pelukannya mendengar pernyataan cinta dari Maya si gadis jutek yang bertahun tahun ia kejar.
***
Sesa tiba di apartemen sudah hampir larut malam. Sesa yakin jika Yuga juga sudah pulang. Seharusnya ia pulang dari tadi agar bisa berpura-pura tidur untuk menghindari Yuga seperti semalam, tapi ada sedikit masalah di cafe yang membuatnya mengurungkan niatnya pulang awal.
Benar saja lampu di dalam apartemen sudah menyala menandakan sudah ada orang yang menyalakannya. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Sesa melihat Yuga keluar dari kamar dengan rambutnya yang masih basah.
"Apa Mas Yuga baru pulang juga?" Sesa bertanya dalam hati.
"Sudah pulang Sa?" Tanya Yuga.
Sesa hanya diam tak menjawab pertanyaan Yuga, dia malah melewati Yuga begitu saja tanpa melihat ke arah suaminya, melirik pun tidak.
NYESSS...
Hati Yuga terasa nyeri melihat Sesa yang begitu dingin kepadanya.
-
-
Jangan lupa beri like dan komentar di karya pertamaku ini readers, terimakasih😘
__ADS_1