
Satu bulan sudah berlalu. Kini Sesa tidak terlalu kesepian lagi sejak satu bulan yang lalu tidak sengaja bertemu dengan Vino. Ternyata Vino mengajukan pindah kembali ke Jogja karena ingin dekat dengan ibunya. Dan tanpa sengaja malah bertemu dengan wanita pujaannya.
Vino kini sudah tau alasan Sesa berada di jogja. Ada sedikit rasa senang saat mengetahui Sesa sedang dalam proses perceraian dengan suaminya. Tapi Vino ragu apakah perceraian itu akan di kabulkan pengadilan sedangkan saat ini Sesa sedang hamil.
"Sudah siap?" Tanya Vino.
"Sudah, ayo berangkat" Jawab sesa dengan wajah sumringah.
Hari ini Vino mengajak Sesa untuk berkunjung ke rumahnya. Saat Vino memberitahu ibunya bahwa Sesa ada di Jogja, ibunya terus mendesak Vino untuk membawa Sesa ke rumah. Dan hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Vino karena berhasil membawa Sesa pergi ke rumahnya. Rasanya seperti membawa kekasih bertemu dengan ibunya.
"Budhe!!" Sesa sedikit berlari setelah melihat Ibu dari Vino telah menunggu kedatangannya.
Pelukan hangat Sesa kepada wanita yang sudah menua itu.
"Sesa kamu cantik sekali nduk" Wanti mengusap rambut panjang Sesa.
"Budha bisa saja, bagaiman kabar budhe? Sehat kan pastinya?" Tanya Sesa yang digandeng Ibu Vino memasuki rumahnya.
"Tentu saja budhe selalu sehat, karena masih punya Vino yang belum juga kasih ibunya mantu" Lalu mereka tertawa berdua.
"Ibu sudah lupa sama anaknya nih?" Canda Vino kepada ibunya yang dari tadi hanya bergurau dengan Sesa saja tanpa menegur Vino.
"Kalau kamu kan sudah biasa, sekarang kan lagi ada Sesa ya Ibu sama Sesa dong" Ibunya justru menanggapi candaan Vino, yang berhasil membuat Sesa tertawa lepas.
"Nduk kamu belum makan siang kan, Budhe sudah siapkan gudeg kesukaan kamu dulu, kita makan sama-sama yuk" Budhe wanti melangkah ke belakang menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.
Sesa langsung bersemangat saat teringat betapa enaknya masakan Ibu dari sahabatnya itu.
"Budhe Sesa bantu ya" Sesa meraih piring yang sedang di bawa Wanti kemudian membawanya ke meja makan.
"Vino!! Ayo sini nak kita makan dulu" Panggil Wanti kepada putranya yang entah kemana.
"Iya Bu" Ucap Vino tak terlihat orangnya.
"Sesa, sering-sering dong main ke sini. Budhe sendirian di rumah kalau Vino kerja"
"Rumah Sesa ke sini kan jauh Bu. Sesa juga punya kesibukan, katanya Sesa mau buka toko kue di sini" Ucap Vino yang muncul dari belakang ibunya.
Sesa memang mengutarakan niatnya itu kepada Vini beberapa hari yang lalu.
"Bener Sa? Kata Vino kamu pinter masak. Pasti toko kue kamu laris manis di sini" Ucap Wanti.
"Vino saja yang berlebihan Budhe, Sesa hanya bisa beberapa resep kue saja kok" Sesa merasa malu dengan pujian Wanti yang terus terang.
"Emang bener kok Sa, kue kamu emang paling enak" Vino memberikan dua jempolnya untuk Sesa.
Makan siang mereka di iringi dengan canda tawa dari Vino dan ibunya. Sesa merasa sangat senang bisa di tengah-tengah mereka. Merasakan kehangatan dari sebuah keluarga yang dirindukannya.
***
Sementara itu setelah kepergian Sesa satu bulan yang lalu, Yuga memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Suasana rumah itu menjadi dingin dan sepi. Tidak ada lagi suara Vani yang selalu menyambut kepulangannya. Surya yang selalu duduk di ruang tengah dengan setumpuk koran yang di bacanya. Atau candaan Naya yang membuat semua orang tertawa.
__ADS_1
Yuga mengerti perubahan itu karena dirinya. Walaupun Yuga masih bertegur sapa dengan papa dan mamanya namun sudah tidak ada lagi perbincangan hangat di antara mereka. Bahkan saat sarapan dan makan malam pun mereka lebih memilih diam menikmati makanannya.
Yuga merebahkan diri di kasurnya. Melihat langit-langit yang di hiasi lampu gantung. Wajah istrinya ketika tersenyum melintas di matanya.
"Sayang, Mas sangat merindukanmu. Sedang apa kamu di sana? Apa kamu sama sekali tidak merindukan Mas?" Ucap Yuga bermonolog.
Keadaan Yuga saat ini semakin memperihatinkan berat badannya turun beberapa kilo. Sudah sebulan juga nafsu makannya tak kunjung kembali. Ia masih merasakan mual saat bangun pagi dan sangat sensitif saat mencium bau yang menurutnya menyengat.
Tok.. Tok..
"Aden, sudah waktunya makan malam" Teriak Mbok Darmi dari luar kamar Yuga.
"Aden" Panggil Mbok Darmi lagi.
"Iya Mbok" Yuga membuka pintu kamarnya masih dnegan setelan kantornya tadi. Yuga belum sempat mandi dan berganti baju karena terlalu lelah.
"Sudah di tunggu Tuan dan Nyonya di bawah Den"
"Sebentar lagi saya turun Mbok" Ucap Yuga dnegan lemas.
"Aden tidak papa?" Mbok Darmi khawatir melihat Yuga yang terlihat limbung dan bersandar di pintu.
"Tidak pa_"
BRUKKK
Hilang sudah kesadaran Yuga. Tubuhnya sudah lemas karena jarang terisi oleh makanan.
***
Wajah panik Vani sudah tidak bisa di sembunyikan lagi saat melihat putranya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sebenarnya beberapa hari ini Vani sudah memperhatikan perubahan pada Yuga. Vani juga sering melihat Yuga memuntahkan kembali makanan yang dia makan. Tapi Vani ingin memberi pelajaran kepada putranya, karena saat itu Vani pernah berkata, saat Yuga kehilangan Sesa itu berati Yuga akan kehilangan semuanya. Tapi Vani tidak menyangka akan melihat putranya berakhir seperti ini.
"Yuga bangun Nak, maafkan Mama" Vani mengusap lembut tangan putranya.
"Sudah Ma, biarkan Yuga beristirahat dulu" Ucap Surya.
Ceklek..
Doni muncul dari balik pintu masih lengkap dengan pakaian kantornya.
"Om, tante. Bagaimana keadaan Yuga?"
"Dia hanya kekurangan nutrisi dan ada masalah dengan lambungnya karena tidak menerima asupan makanan sama sekali"
"Apa Yuga di rumah juga mual dan muntah parah tante?" Tanya Doni.
"Iya Don, tante sempat melihat Yuga memuntahkan kembali makanannya"
"Sepertinya ini memang karena kehamilan Sesa tante. Jadi yang merasakan mual dan muntah adalah Yuga" Doni semakin yakin dengan dugaannya.
"Biarkan saja Don. Om senang jika cucu Om itu memberikan pelajaran kepada papanya yang kurang ajar ini" Ucap Surya dengan wajahnya yang kaku.
__ADS_1
"Papa!" Vani menyenggol suaminya karena asal bicara.
"Ini sudah hampir larut malam, sebaiknya Om dan Tante pulang saja. Biar saya yang menjaga Yuga di sini" Doni kasihan kepada kedua orang tua itu jika harus bermalam di rumah sakit.
"Apa tidak merepotkan kamu Doni?"
"Tidak kok Om"
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, titip Yuga. Kabari om kalau terjadi sesuatu" Ucap Surya.
"Pasti Om. Hati-hati Om, tante"
Surya menepuk pelan pundak Doni sebelum keluar dari ruangan itu.
Karena pengaruh obat tidur sehingga Yuga baru membuka matanya saat pagi sudah menyapanya.
"Bangun juga loe, gue kira udah ke alam baka" Celetuk Doni.
"Astaghfirullah pagi-pagi sudah berbuat dosa saja mulut itu Don" Yuga memang sudah biasa menghadapi mulut jurang ajar Doni. Tapi kali ini sungguh tidak tau tempat dan keadaan.
"Ga ada info dari anak buah loe yang sedikit mencurigakan menurut gue" Ucap Doni berubah Serius.
"Apa itu?" Yuga menegakkan tubuhnya.
"Menurut info dari anak buah loe yang menyelidiki catatan bank Maya. Terjadi beberapa transaksi yang aneh. Pertama, sebulan lalu Maya membeli tiket menuju Jogja tapi menurut penyelidikan dan data absen perusahaan Maya, Maya tidak pergi kemanapun pada hari itu. Dan jadwal keberangkatan kereta itu sesuai dengan hari terakhir Sesa terlihat di cafe. Dan yang ke dua, ada kartu debit bank lain atas nama Maya tapi kartu itu di gunakan di sekitar Jogja. Sedangan Maya tetap stay di Jakarta tanpa bepergian ke luar kota selama satu bulan ini"
"Apa jangan-jangan_"
"Bener pikiran loe sama dengan yang gue pikiran" Ucapan Yuga sudah terpotong oleh Doni.
"Mayalah yang membantu kepergian Sesa. Dan kemungkinan saat ini Sesa ada di Jogja tapi bukan di kampung halaman orang tuanya" Lanjut Doni.
"Kalau begitu gue akan ke Jogja sekarang juga" Yuga ingin mencabut selang infusnya.
"Tenang! Jangan bertindak bodoh!" Doni memegang tangan Yuga.
"Gue harus cari istri Gue Don!!" Yuga mencoba melepaskan tangannya yang di pegang kuat oleh Doni.
"Jangan gegabah, lihat kondisi loe saat ini. Nggak mungkin loe menemui Sesa dengan tubuh ringkih dan lemah kaya gini. Lihat muka loe yang kusam dan berantakan ini. Fokus dulu untuk lebih sehat. Gue janji bakal temenin loe ketemu Sesa dan jelasin semuanya. Sekarang gue udah utus anak buah untuk mencari keberadaan Sesa di kota itu sempai ke daerah terpencil sekalipun. Jadi loe tenang dulu, oke?"
"Hemmm" Yuga menarik tangannya yang sudah tadi di cekal oleh Doni.
"S*al, gue kaya guru TK yang sedang membujuk muridnya" Gerutu Doni menuju ke sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"B*cot" Balas Yuga.
-
-
Jangan lupa tinggalkan komentar yang bijak dan membangun ya, terimakasih readersđŸ˜˜
__ADS_1