
"Lebih baik kamu pergi dari sini!!" Sesa secara terang-terangan mengusir Yuga dari rumahnya.
"Tapi Sa, Mas_"
"Pergi sekarang juga atau aku yang pergi!!" Sesa menaikkan suaranya lebih keras membuat Yuga sedikit tersentak.
Yuga mengerjabkan matanya menahan air matanya.
"Baiklah Mas akan pergi. Tapi Mas tidak akan menyerah untuk mendapatkan maaf dari kamu sayang. Mas akan memperjuangkan kamu dan anak kita!!" Yuga mengangkat tubuhnya yang sejak tadi berlutut dengan satu kakinya.
Yuga sedikit membungkuk di hadapan Sesa. Sesa bingung dengan apa yang di lalukan suaminya itu.
"Sayang, papa pergi dulu ya nak. Kamu bantu papa untuk jaga mama ya?? Jangan menyusahkan mama di dalan sana. Papa janji akan berusaha terus untuk mendapatkan maaf dari mama. Papa sangat mencintai kalian" Yuga mengucapkan semua itu dengan deraian air mata. Sungguh Yuga menjadi pria yang sangat lemah kalau tentang cinta Sesa.
Sesa menggigit bibir bawahnya agar suara tangisannya tidak lolos dari bibirnya. Sesa lemah hanya dengan mendengar kalimat seperti itu dari Yuga. Hatinya bergejolak, entah dorongan dari mana rasanya Sesa ingin sekali masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Tapi rasa kecewa masih mendominasinya.
"Apa kamu merindukan papa kamu nak?" Sesa berbicara dalam hatinya berharap anak dalam kandungannya itu bisa mendengar.
"Mas pergi dulu Sa, jaga diri baik-baik. Mas pasti akan datang lagi" Ucap Yuga sebelum melangkah pergi.
Sesa yang sudah tak kuat lagi memilih masuk ke dalam rumah saat Yuga baru saja berbalik darinya. Bahkan Yuga baru saja melangkahkan kakinya ke luar dari teras.
Yuga melihat ke belakang saat mendengar suara pintu tertutup. Hatinya seperti di remas melihat istrinya bahkan tak sudi melihat kepergiannya.
Tanpa Yuga tau Sesa masih memandangi suaminya itu dari balik jendela dengan tangisan yang pilu.
Yuga masuk ke dalam mobil dengan wajah sembabnya. Yuga langsung meminta Doni untuk meninggalkan rumah itu..
"Kenapa lo ngga minta bantuan gue untuk jelasin ke Sesa sih ga?" Ucap Doni saat mobil mereka sudah mulai berjalan.
"Gue mau berusaha meyakinkan Sesa dengan usaha gue sendiri. Gue ngga mau Sesa menganggap gue nggak mau memperjuangkannya Don" Yuga masih ingin mengeluarkan air matanya tapi ia tahan.
"Tapi nyatanya?"
"Pelan-pelan Don, gue yakin hati Sesa tidak sekeras itu. Mungkin saat ini dia masih kecewa sama gue" Yuga buru-buru mengusap air matanya yang sudah menetes. Ia tidak mau terlihat lemah.
"Nangis aja ngga usah malu kalau itu bikin lo lega. Laki-laki juga punya titik terendah dalam hidupnya, yang hanya bisa terlupakan dengan menangis" Ucap Doni menepuk bahu Yuga dnegan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya digunakan untuk mengemudi.
Yuga yang sudah tidak tahan lagi menangis sesenggukan di samping sahabatnya. Yuga menuangkan semua air matanya berharap segera mengering dan tidak akan keluar lagi saat berhadapan dengan istrinya.
***
"Sesa!!" Panggil Maya yang baru kembali dari jalan-jalannya bersama Bayu.
"Mbok, Sesa di mana?" Tanya Maya kepada Mbok Lasmi yang sedang menyiapkan makan malam.
Mbok Lasmi mendekati Maya lalu membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa? Lalu sekarang Sesa gimana keadaanya?" Tanya Maya syok.
"Mbok tidak tau Mbak. Semenjak kepergian Den Yuga, Mbak Sesa mengurung diri lagi di kamar" Jawab Mbok Lasmi dengan kekhawatirannya. Mbok Lasmi tadi memang mendengar perdebatan kedua majikannya. Tapi Mbok Lasmi memilih pergi ke belakang saat itu, dan mendengar Sesa menutup pintu kamar tidak lama setelahnya.
"Aduh, gimana dong? Apa gue telpon doni aja?" Gumam Maya.
"Sayang?" Maya mendekati Bayu yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa, pasti ada maunya kalau panggil-panggil sayang begini" Bayu mencubit hidung Maya.
"Hehe tau aja. Yank bantu Sesa yuk?" Rayu Maya manja.
"Bantu gimana?" Tanya Bayu bingung.
"Ini loh asistennya Yuga kan kemarin kasih aku nomor ponselnya. Aku hubungi dia ya? Biar dia bantu jelasin ke Sesa, biar mereka ngga salah paham lagi" Ucap Maya mengedipkan matanya berulang kali agar terlihat imut di mata Bayu.
"Kamu aneh kalau sok manis kaya begini" Bayu malah bergidik ngeri.
"Ih kamu mah ngga bisa di rayu-rayu" Ucap Maya kesal.
"Boleh tapi harus pakai ponsel aku!" Ucap Bayu.
Maya mendengus sebal, Maya sudah tau sifat posesif Bayu pasti akan melakukan hal itu. Tapi Maya merasa tak masalah dengan itu, yang penting Maya bisa menghubungi Doni.
Bayu sedang menghubungi Doni dengan ponselnya. Sedangkan maya menatap wajah Bayu yang menunggu panggilannya terjawab dengan datar.
"Halo, saya Bayu kekasih Maya. Kekasih saya ingin berbicara dengan anda" Ucap Bayu tanpa basa basi.
"Oke, gue akan ke sana tanpa sepengetahuan Yuga" Jawab Doni yang bisa di dengar oleh Bayu karena pria posesif itu mengeraskan suara ponselnya.
"Oke!!" Jawab Maya kemudian Bayu langsung mematikan sambungannya.
"Makasih sayang" Maya mencubit gemas pipi Bayu.
***
"Siapa?" Tanya Yuga yang melihat Doni kembali mendekat ke arahnya. Yuga curiga karena baru kali ini Doni mengangkat telepon menjauh darinya.
"Gebetan hehe" Doni menggaruk tengkuknya.
Yuga percaya begitu saja tanpa memperpanjang pertanyaannya. Yuga sedang sangat malas.
"Gue keluar bentar ya, mau titip sesuatu ngga? Mau cari angin, siapa tau ada cewek Jogja yang cantiknya kaya Sesa nyantol ke gue" Ucap Doni sambil cengengesan.
"Sekali lagi lo bawa-bawa istri gue awas lo!!" Yuga sudah akan melempar gelas yang ada di depannya tapi Doni sudah lari terbirit-birit.
***
__ADS_1
"Sesa?" Maya memanggil dari luar kamar.
"Iya May, sebentar!!" Tak lama kemudian Sesa keluar dari kamarnya.
"Ke depan yuk, ngobrol-ngobrol di sana" Maya menggandeng tangan Sesa. Sebenarnya itu hanya alasan Maya saja karena tanpa Sesa tau Doni sudah menunggunya di luar.
"Pak Doni??" Sesa terkejut melihat asisten suaminya itu ada di rumahnya.
"Kenapa Pak Doni kesini? Mas Yuga yang suruh Pak Doni?" Tanya Sesa to the point.
"Bukan Mbak, Ini kemauan saya sendiri"
Sesa memandang Doni dengan tajam.
"Maaf Mbak karena saya lancang, tapi saya mohon izinkan saya berbicara apa yang saya tau" Ucap Doni sangat sopan kepada istri Yuga itu.
"Kita duduk dulu yuk Sa" Maya melihat keraguan di mata Sesa. Namun dengan inisiatifnya Maya menuntun tangan Sesa untuk duduk.
Maya duduk berdampingan dengan Bayu kemudian Sesa berhadapan dengan Doni. Mereka berempat masih diam belum ada yang membuka suara.
"Jadi?" Sesa menatap Doni intens. Sementara Doni malah bingung harus memulainya dari mana.
"Cepetan!" Desis Maya.
"Mbak sebelumnya saya minta maaf, karena rencana saya malah membuat hubungan Mbak Sesa dan bos Yuga menjadi seperti ini. Apa yang sudah di jelaskan bos Yuga itu memang benar adanya. Waktu itu saya mendapatkan bukti bahwa kecelakaan Della itu murni karena Della sengaja menabrakkan diri ke sebuah mobil. Tapi kita tidak tau apa motifnya dia berbuat nekat seperti itu. Jadi saya berpikir, jika bos mau berpura-pura baik, kita bisa mendapatkan bukti tentang kebenaran Kakek juga.Tapi kita kalah start dari Della, dia lebih licik ternyata. Dan saya berani menjamin kalau bos Yuga tidak mengkhianati Mbak Sesa sama sekali karena di saat mereka bersama Bos Yuga selalu melakukan panggilan kepada saya. Jadi saya bisa mendengar semua apa yang mereka bicarakan" Doni meletakkan ponselnya di depan Sesa.
"Ini semua rekaman ketika mereka bersama, Mbak Sesa bisa mendengarnya sendiri, disini juga ada banyak bukti tentang kebohongan Della tentang Kakek" Doni akan menekan tombol play namun sudah di cegah oleh Sesa.
"Tidak perlu, itu hanya akan membuat hati saya lebih sakit!"
Doni menarik kembali ponselnya, dia paham bagaimana perasaan Sesa.
"Jadi saya mohon dengan sangat untuk mempertimbangkan kembali keputusan Mbak Sesa untuk bercerai dari bos. Sejak kepergian Mbak Sesa, bos Yuga menjadi seperti tubuh tanpa nyawa, dia juga hancur Mbak. Apalagi saat tau Mbak Sesa pergi dalam keadaan hamil, bukan hanya jiwanya yang sakit tapi raganya juga. Sepertinya anak kalian ikut sakit hati kepada Ayahnya" Ucap Doni mengingat saat Yuga memuntahkan segala macam makanan di dalam perutnya, bahkan hingga saat ini meski tidak terlalu parah seperti sebelumnya.
"Maksudnya?" Sesa mengerutkan keningnya.
"Bos Yuga mengalami simpatic syndrome selama ini. Makanya bos mengalami penurunan berat badan karena semua makanan yang ia makan akan keluar semua dan itu terus berlanjut sampai sekarang. Bahkan bos sempat dirawat di rumah sakit karena kekurangan nutrisi dan kelelahan mencari Mbak Sesa " Jelas Doni.
"Pantas saja selama ini aku tidak pernah merasakan gejala apapun. Ternyata kamu membuat papa yang merasakannya sayang" Ucap Sesa dalam hatinya.
"Saya tau kalian saling mencintai. Jangan korbankan cinta dan anak kalian hanya demi ego orangtuanya. Dia masih butuh kedua orang taunya. Hanya itu yang bisa saya sampaikan Mbak" Ucap Doni tersenyum lega.
Sesa hanya diam membisu, ia tidak berniat membalas ucapan Doni. Hatinya sedang berperang dengan egonya di dalam sana.
"Haruskah aku kembali lagi ke dalam lubang yang sudah aku tinggalkan? Bagaimana kalau aku jatuh di lubang itu lagi? Jatuh pertama kali memang sakit tapi yang ke dua jauh lebih sakit. Dan sekarang Sesa mulai goyah dengan mempertaruhkan hatinya jatuh untuk yang ketiga kalinya"
-
__ADS_1
-
Happy reading 😘