Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Pergi tanpa pamit


__ADS_3

BRAAKKKK...


Suara ponsel Sesa yang lolos dari genggamannya menarik perhatian semua orang disekitarnya. Termasuk Yuga yang sejak tadi berdiri di belakang Sesa.


Mbok Darmi salah satu asisten rumah tangga menghampiri Sesa.


"Non Sesa kenapa?" Mbok Darmi keheranan melihat Sesa yang tiba-tiba menangis.


"Non" Sesa semakin terisak tidak sudah tidak mampu lagi menjawab.


Yuga mengambil ponsel Sesa yang terjatuh, masih terlihat mertuanya tersambung dalam panggilan.


"Halo pa ada apa?" Yuga mencoba mencari tau penyebab Sesa yang tiba-tiba seperti ini.


"Halo pak, maaf kami dari kepolisian ingin mengabarkan bahwa Bapak Gunawan beserta istri mengalami kecelakaan dan ditemukan dalam keadaan tewas ditempat" Suara seorang pria di sambungan telepon itu.


"Apa?? Lalu sekarang mereka dibawa kemana?" Yuga melihat istrinya yang sedang di tenangkan oleh mbok Darmi.


"Kedua Jenazah sedang dibawa ke rumah sakit umum kota Bandung. Kami mohon untuk pihak keluarga segera mengurus segala sesuatunya" Jelas pria yang mengaku dari kepolisian itu. Yuga heran kenapa mertuanya bisa ada dibandung sepagi ini.


"Baik Pak, Nanti kami akan segera berangkat ke Bandung" Yuga memutuskan panggilan itu.


Yuga mendekati Sesa yang masih syok dan terus saja menangis.


"Mas" Ucap Sesa di sela tangisannya.


Yuga meraih Sesa ke dalam pelukan dengan tangan kirinya. Sesa menumpahkan semua kesedihannya di dekapan Yuga. Tangis Sesa semakin menjadi saat Yuga mengusap lembut punggung Sesa.


"Mbok tolong kasih tau yang lainnya" Ucap Yuga kepada mbok Darmi.


"Iya Den" Mbok Darmi pergi menaiki tangga menuju ke kamar nyonya besarnya.


"Tenanglah Sa, aku akan meminta Doni mengurus semuanya dan membawa papa mama pulang" Ucap Yuga dengan suara yang lembut.


Sesa masih terhanyut dalam tangisannya. Sudah tidak mampu lagi merespon segala sesuatu di sekitarnya.

__ADS_1


"Sesa sayang" Vani yang terlihat panik langsung memeluk menantunya.


"Kamu yang sabar ya nak, kamu masih punya kita semua disini. Ikhlaskan kedua orang tuamu agar mereka bosa tenang" Vani mengusap kepala Sesa dengan lembut.


"Ma, Yuga hubungi Doni dulu" Yuga menatap Sesa sekilas sebelum mulai menjauh.


"Kamu kuat nak, mama yakin kamu bisa melewati semua ini" Vani terus memberikan dukungan agar sesa kuat menghadapi cobaan ini.


"Naya ambilkan kakakmu minum" Vani meminta kepada Naya yang ikut tersedu sedu melihat kesedihan kakaknya.


"Iya ma" Naya segera menuju ke dapur.


Tubuh Sesa sudah lemas, bahkan terasa berat untuk membuka kedua matanya. Dadanya terasa sakit yang menusuk-nusuk hingga Sesa tak mampu lagi menahan kesadarannya.


"Loh Sa, Sesa kamu kenapa nak?" Sesa sudah terkulai lemas di pelukan Vani.


"Ga, Yugaaa!!!" Vani berteriak memanggil Yuga.


Yuga yang masih berbicara dengan Doni mematikan teleponnya begitu saja saat mendengar teriakan mamanya.


"Kenapa ma?" Yuga paham setelah melihat Sesa yang tidak berdaya.


Vani datang membawa minyak angin. Vani mengoleskannya ke pelipis hidung dan dada Sesa.


"Kasihan sekali kamu nak, harus kehilangan kedua orang tuamu dalam satu waktu" Vani mengusap tangan Sesa lembut.


"Ga, sekarang Sesa sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kita. Jadi jagalah Sesa, tetapi janjimu kepada orang tua Sesa" Nasehat Vani kepada anak sulungnya.


"Iya ma, Yuga tau" Dipandangnya lagi wajah istrinya yang nasih saja cantik saat tidak sadar seperti ini.


"Emmhhh" Sesa melenguh dengan tangannya memegang kepala bagian kanannya.


Yuga yang melihat itu langsung berjongkok di tepi ranjang.


"Kamu sudah bangun" Yuga meraih gelas berisi air minum untuk Sesa.

__ADS_1


"Minum dulu" Yuga membantu Sesa untuk duduk bersandar pada ranjang.


Yuga memandang wajah sembab istrinya. Butiran bening kembali lolos dari mata Sesa. Tangan yuga terulur begitu saja mengusap air Sesa.


Sesa yang terkejut mengangkat wajahnya menatap Yuga. Tatapan keduanya bertemu, menyalurkan segala kesedihan Sesa lewat sorot mata Sesa. Bibir Sesa kembali bergetar menahan tangisnya. Yuga kembali memeluk tubuh lemah istrinya.


Tangisan yang terdengar pilu membuat Yuga tidak tega mendengarnya.


"Sabar Sa, kamu harus ikhlas dengan kepergian papa dan mama. Jangan memberatkan kepulangan mereka dengan tangisanmu" Ucap Yuga.


"Mas, kenapa papa dan mama pergi meninggalkanku Mas? Bahkan mereka pergi tanpa berpamitan dulu sebelumnya. Sekarang aku sendiri Mas. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini" Ucap Sesa tersedu sedu.


"Hey kenapa bicara seperti itu" Yuga melepaskan pelukannya.


"Lihat aku" Yuga mengangkat dagu Sesa untuk melihat wajahnya.


"Kamu masih punya aku, Suamimu. Masih ada mama, papa, kakek dan Naya. Kamu tidak sendiri, kami keluargamu. Aku akan menemani kamu melewati semua ini. Jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi. Mengerti?" Baru pertama kalinya Yuga bicara selembut ini dengan Sesa.


Sesa hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.


"Sekarang istirahatlah dulu, kita tunggu kabar dari Doni baru nanti berangkat ke rumahmu. Aku temani disini" Yuga menggenggam tangan Sesa dengan tangan kirinya.


Sesa memejamkan matanya tapi tidak tidur. Ia masih memikirkan orang tuanya.


"Kenapa papa sama mama bisa ada di bandung? Kapan kalian berangkat? Kenapa tidak menghubungi Sesa sama sekali ma? Sesa belum Siap kehilangan kalian. Bagaimana jika yang dikatakan Mas Yuga itu hanya untuk menghiburku saja ma? Lalu aku harus pulang kemana?" Suara Sesa di dalam hatinya.


Di saat Sesa sedang berjuang mempertahankan rumah tangganya yang tak bertujuan, kini Sesa malah tertimpa sebuah kenyataan harus kehilangan dua sosok penguat dalam hidup Sesa. Salah satu alasan kenapa Sesa masih mau mempertahankan rumah tangganya dengan Yuga. Karena ia tak mau melihat orang tuanya bersedih melihat putri satu satunya menyandang status janda di usia pernikahan yang baru seumur jagung.


Kini Sesa hanya bisa pasrah kepasa Sang pencipta. Seakan terpukul oleh keadaan, walau sedalam apa cinta Sesa dan sekuat apa Sesa berusaha mempertahankan pernikahannya semua tergantung ridho Tuhannya. Seperti hidup dan mati seseorang, walaupun Sesa mengharapkan semua ini mimpi atas kepergian orang tuanya namun Sesa harus tetap menelan takdirnya, ditinggal oleh kedua orang tuanya sekaligus. Bahkan dalam benaknya tidak pernah membayangkan kepergian salah satu dari mereka.


Sesa membuka matanya. Tangan kiri Yuga masih setia menggenggam tangan Sesa. Sesa melihat suaminya terlelap dengan posisi duduk bersandar pada sandaran sofa.


"Mas, kenapa kamu bersikap seperti ini? Aku takut jika sikapmu ini semu dan berlahan akan menghilang. Apa karena kamu hanya kasian melihatku seperti ini?" Ucap Sesa lirih, berharap Yuga tidak mendengar ucapannya.


-

__ADS_1


-


Maaf ya buat kalian yang udah ngga sabar karena sikap Yuga. Tapi kita ikuti dulu alurnya dan jangan bosan ya. Tetap dukung karya aku dan jangan lupa tinggalkan jejakmu😘


__ADS_2