
Suasana kediaman keluarga Gunawan pamungkas menjadi mengharu biru setelah kedatangan jenazah suami istri itu. Semua yang hadir di sana dapat merasakan kesedihan yang mendalam dari putri semata wayang keluarga pamungkas.
Sesa menangis histeris melihat kedua orang tuanya sudah terbujur kaku dihadapannya. Kesadaran Sesa hilang kembali saat diberi kesempatan untuk terakhir kalinya melihat wajah papa dan mamanya.
Kini Sesa sudah berada di dalam kamarnya masih dengan matanya yang terpejam. Maya dengan setia menemani sahabatnya itu bersama dengan Naya. Maya menangis melihat keadaan sahabatnya saat ini. Ia juga pernah merasakan kehilangan orang tuanya, jadi sedikit banyak bisa merasakan apa yang Sesa alami kali ini. Maya mengusap tangan Sesa dengan sayang, seakan memberikan kekuatan melalui sentuhannya.
"Sa gue yakin loe pasti kuat. Gue akan selalu ada di samping loe apapun yang terjadi. Kita akan lewati ini bersama sama" Ucap Maya dengan suara lirih.
Sesa berlahan membuka matanya, menyesuaikan pengelihatannya.
"Maya, mama May, mereka..." Sesa tidak dapat melanjutkan kata katanya.
Maya memeluk sahabatnya berharap sahabatnya bisa lebih tenang.
"Tenang Sa, kalau loe kaya gini terus kasian om dan tante. Mereka ngga bakal bisa tenang" Mayan menepuk punggung Sesa dengan lembut.
Yuga masuk kedalam kamar membuat Maya dan Sesa melepaskan pelukannya.
"Sa, papa dan mama akan segera dimakamkan, kalau kamu ngga kuat ngga usah ikut saja ya?" Ucap Yuga, walau terkesan datar tapi tidak sedingin biasanya.
"Sesa mau ikut Mas" Sesa beranjak dari ranjang begitu saja.
Yuga tidak bisa menahan Sesa, Yuga tau walau sebenarnya istrinya sangat lemah namun Yuga membiarkan Sesa mengantarkan orangtuanya ke peristirahatan terakhirnya.
-
Pemakaman berjalan khidmat walau diiringi isak tangis dari orang tersayang. Sesa tak pernah berhenti menangis menyaksikan orang tuanya masuk ke dalam satu liang lahat. Yuga sedari tadi berada di samping Sesa, menjadi tempat sandaran untuknya. Namun sandaran dalam artian yang sesungguhnya bukan dalam makna kias. Karena memang Sesa tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya sehingga butuh seseorang disampingnya.
"Papa mama, Maafkan Sesa selama ini banyak salah dan belum menjadi anak yang bisa membahagiakan kalian. Sesa tidak pernah menyangka kalian pergi secepat ini. Sesa juga tidak pernah menyangka jika kata-kata mama beberapa hari yang lalu adalah sebagai pesan terakhir buat Sesa. Papa dan mama bahagia ya di sana. Insyaallah Sesa ikhlas melepaskan papa dan mama menuju surganya Allah" Sesa mengusap kedua nisan di sampingnya.
"Sudah Sa, ayo kita pulang sudah mulai gelap" Ajak Yuga kepada istrinya yang masih setia bersimpuh di samping nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.
Sesa menggelengkan kepalanya.
"Mas Yuga pulang saja duluan, Sesa masih mau disini" Tolak Sesa dengan suara parau.
"Ini sudah hampir malam, besok kita kesini lagi" Yuga masih membujuk Sesa.
"Benar kata suami loe Sa, kita pulang yuk" Maya mendekat ke arah Sesa.
__ADS_1
Sesa memandang suami dan sahabatnya bergantian, lalu menganggukkan kepalanya setuju untuk pulang.
Baru beberapa langkah Sesa menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Yuga heran.
"Bolehkah Sesa pulang ke rumah papa dulu Mas?" Sesa masih sangat kehilangan orang tuanya jadi ia ingin berada di rumah yang menjadi kenangannya bersama kedua orang tuanya.
"Hemmm" Yuga menggunakan kepalanya lalu meraih tangan Sesa ke dalam genggamannya. Lalu berjalan beriringan menuju mobil untuk segera kembali ke rumah.
***
Saat ini Sesa sedang duduk di balkon kamar rumah Sesa. Hari semakin larut sejak kepulangannya dari makam.Sesa hanya memandang keadaan di luar sana dengan tatapan kosong.
"Kenapa belum di makan?" Suara Yuga yang baru saja masuk ke dalam kamar. Yuga melihat nampan yang berisi makanan sama sekali belum tersentuh.
"Sesa tidak lapar Mas" Jawab Sesa.
"Mas, sebenarnya bagaimana kejadian yang menimpa papa dan mama. Lalu kenapa mereka bisa ada di bandung?" Ucap Sesa yang begitu penasaran.
"Aku kasih tau asal kamu makan dulu" Ucap Yuga dengan menggerakkan dagunya menunjuk makanan di depan Sesa.
Mau tidak mau Sesa mengangkat piring di depannya.
Yuga tak menjawab hanya memandang tangan kanannya yang masih menggunakan arm sling dan istrinya secara bergantian. Hal itu membuat Sesa sadar jika suaminya saat ini belum bisa menggerakkan tangan kanannya utuk makan.
"Kita makan bareng ya? Biar Sesa suapi. Tunggu sebentar Sesa ambil sendok satu lagi" Ucap Sesa.
"Tidak usah! Pakai sendok ini saja" Ucap Yuga menahan kepergian Sesa. Sesa terkejut bahkan saat ini Yuga mau makan satu sendok bergantian dengannya.
"Iy iya Mas" Sesa mendadak gugup.
Suapan demi suapan Sesa berikan untuk Yuga, Satu untuknya dan satu untuk Yuga begitu seterusnya hingga makanan di atas piring itu tandas. Tegukan air minum membantu melarutkan makanan suapan terakhir yang masih terasa mengganjal di leher Sesa.
"Mas Yuga mau?" Sesa menawarkan air minum di gelas bekasnya dengan sedikit ragu takut Yuga akan menolak karena jijik.
Tanpa basa basi Yuga meraih gelas itu dan meneguk air didalamnya hingga tetes terakhir. Sesa sempat melongo dibuatnya.
"Tutup mulutmu itu, air liur mu sudah mau menetes" Ucap Yuga dingin.
__ADS_1
Sesa terbelalak langsung mengalihkan perhatiannya karena malu.
"Jadi papa dan mama berada di bandung untuk menghadiri reuni SMA mama. Mereka berangkat pagi-pagi sekali karena rencana acaranya tadi siang di sebuah restoran di Bandung. Tapi sebelum sampai sana papa terlibat kecelakaan beruntun yang menewaskan beberapa korban tidak hanya papa dan mama, masih ada juga korban lain" Yuga menceritakan kejadian yang menimpa mertuanya sesuai janjinya jika Sesa sudah selesai makan.
Sesa yang mendengar penuturan Yuga tak kuasa menahan tangisnya lagi. Buliran buliran kristal terus saja turun seperti tidak ada keringnya jika mengingat kedua orang tuanya.
"Bolehkah Sesa pinjam bahu Mas Yuga Sebentaaaaarr saja?" Ucap Sesa lirih.
Yuga menggeser duduknya lebih dekat dengan Sesa. Sesa yang mendapat persetujuan dari Yuga kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu sebelah kiri Yuga. Sesa masih menangis dalam diamnya karena Yuga merasakan bahunya sedikit basah.
"Mas bolehkan Sesa menginap di sini untuk beberapa hari?" Sesa bertanya masih dengan posisinya.
"Hemmm" Jawaban khas Yuga.
"Mas Yuga tidak perlu disini jika merasa tidak nyaman, Mas Yuga bisa pulang ke apartemen" Ucap Sesa lembut.
"Aku akan disini" Ucap Yuga seperti tidak ingin di bantah.
"Terimakasih Mas" Ucap Sesa sedikit mengulas senyumnya tanpa di lihat oleh Yuga.
Hari berganti hari sudah tepat seminggu kepergian orang tua Sesa. Yuga juga benar benar menemani Sesa sampai saat ini, kecuali saat Yuga pergi ke kantor. Walau sudah seminggu tapu kesedihan di hati Sesa masih sama. Ia masih sering melamun dan menyendiri di dalam kamarnya. Vani, Maya dan Naya juga datang beberapa kali untuk menghibur Sesa. Namum jika mereka semua pulang Sesa akan kembali dengan wajah murungnya.
Malam ini adalah malam tujuh harian orang tua Sesa. Semua sudah berkumpul di rumah Sesa. Semua keluarga Yuga, Maya, dan beberapa karyawan dari cafe Sesa juga ada di sana. Lantunan ayat ayat suci Al-Quran terdengar merdu di telinga Sesa. Sesa berdoa dalam hatinya agar papa dan mamanya di tempatkan ditempat terbaik di sisi Allah.
-
"Mas, besok kita pulang ke apartemen saja ya?" Ucap Sesa saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Kenapa?" Jawab Yuga.
"Sesa rasa sudah selesai mengenang kenangan kita di rumah ini, jika Sesa terus berada disini maka kesedihan ini akan semakin dalam karena Sesa bisa melihat bayangan mereka si setiap sudut rumah ini. Sesa akan kesini beberapa hari sekali saja. Rumah ini biar Pak Ujang dan Bi Lastri yang merawatnya"
"Baiklah" Balas Yuga tanpa bantahan.
-
-
Hey hey heyyy...
__ADS_1
Gimana gimana?? Masih jengkel juga dengan sikap Yuga atau Sesa?? Maaf ya kalian terpaksa harus mengikuti kebebalan mereka berdua😚
Terimakasih juga untuk komen kalian yang membangun dan jangan lupa selalu tinggalkan jejakmu😘