
Pagi yang baru di rumah baru, sepasang suami istri yang masih saling berbagi kehangatan saat matahari sudah mulai menampakkan wujudnya.#
Namun Sesa mulai terusik saat ponselnya tak berhenti berdering. Dengan mata yang masih sangat berat Sesa melepaskan pelukan suaminya lalu meraih benda pipih itu.
"Halo" Jawab Sesa tanpa melihat nama si penelepon.
"Halo Sa, kamu di mana? Kok pagi-pagi udah nggak ada. Mbok Lasmi juga ngga ada" Ternyata Vino yang menghubunginya saat ini. Sesa menepuk jidatnya pelan. Ia baru ingat kalau Vino tidak tau mengenai kepulangannya ini.
"Maaf Vin aku ngga sempat bilang karena ini mendadak. Aku udah kembali ke Jakarta sama Mas Yuga"
"Apa?? Jadi kamu memutuskan untuk kembali bersama Sa?" Vino terdengar kecewa di seberang sana.
"Iya Vin, dan ternyata yang terjadi kemarin hanya salah paham saja. Jadi aku mengambil keputusan ini" Sesa melihat suaminya yang masih terlelap, Sesa memilih berjalan ke balkon takut suaminya akan mendengar pembicaraannya dengan Vino.
"Tapi kenapa Sa?"
"Ma_ maksud kamu Vin?"
"Kenapa kamu kembali kepada suami kamu yang br*ngsek itu Sa? Apa kamu tidak pernah melihat cinta tulus dariku Sa?"
"Vino, maksud kamu apa? Aku sama sekali nggak ngerti" Sesa memang tak sebodoh itu tapi ia bingung harus bereaksi seperti apa saat teman masa kecilnya menyatakan cinta di saat Sesa sudah bersuami.
"Sesa, aku sudah memendam perasaan ini dari dulu. Dan bahagianya aku saat kita ketemu lagi. Tapi apa kamu ngga bisa kasih kesempatan untukku sekali saja Sa?" Suara Vino terdengar lirih.
"Vino, kamu sadar kan dengan apa yang kamu ucapkan? Aku wanita bersuami Vin, bahkan aku sedang mengandung buah cinta kami. Maaf Vin, aku nggak ngerti apa kau kamu sebenarnya" Sesa berusaha mengendalikan dirinya karena ungkapan cinta Vino itu. Ia tidak pernah menyangka pria yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri bisa berkata seperti itu.
"Sesa aku mohon kamu_"
"Maaf dokter Vino yang terhormat. Anda sangat mengganggu istirahat kami. Dan saya rasa anda lah yang br*ngsek karena telah mengganggu rumah tangga saya. Saya tekankan untuk anda jangan pernah mengganggu ISTRI saya lagi!!"
Tut
Sesa masih melongo karena suaminya yang tiba-tiba merebut ponsel dari genggamannya. Sesa juga takut melihat reaksi Yuga yang sangat marah. Terlihat dari rahangnya yang mengeras dan tatapan matanya berubah tajam.
"Kamu punya hubungan apa sebenarnya dengan dokter br*ngsek itu?" Yuga menatap istrinya dengan kemarahan yang ia tahan.
"Mas, Sesa tidak pernah punya hubungan apapun dengan Vino!" Sesa meraih tangan Yuga yang menggenggam erat ponsel milik Sesa.
"Lalu kenapa Vino bisa menyatakan cintanya untukmu? Sudah ku duga dari awal kalau dia mempunyai perasaan lebih sama kamu!!" Ucap Yuga dingin.
"Sesa juga tidak tau Mas, selama ini Sesa hanya menganggapnya teman. Itu saja tidak lebih!!" Sesa tidak menyangka jika Yuga akan mendengar obrolannya dengan Vino. Ternyata suaminya tadi sudah bangun dari tidurnya, yang mengakibatkan Yuga semarah ini sekarang.
Yuga tak menyahut, ia malah mengotak-atik ponsel Sesa. Lalu mengembalikan pada pemiliknya sebelum berlalu ke kamar mandi tanpa mengucapkan apapun.
Sesa mendadak gelisah melihat sikap suaminya seperti itu. Mode dingin Yuga sedang dinyalakan.
-
"Mas, sarapannya sudah siap" Sesa mencari Yuga ke kamar karena tak kunjung keluar untuk sarapan.
"Mas sarapan di kantor saja, sudah terlambat. Mas berangkat dulu" Yuga mencium kening Sesa sekilas lalu pergi begitu saja meninggalkan Sesa di kamar.
__ADS_1
Sesa tau suaminya itu sedang marah, meski mencoba bersikap baisa saja kepada Sesa tapi penolakan dan sikap dinginnya bisa Sesa rasakan.
Ada rasa sedih dan kecewa di hati Sesa. Sedih karena suaminya mengacuhkannya dan kecewa karena suaminya seakan tak percaya perkataannya.
Nanti malam Sesa akan menjelaskan semuanya kepada Yuga jika dirinya dan Vino memang tidak ada hubungan apa-apa. Biar bagaimanapun Sesa tidak ingin pertengkaran kecil seperti itu menjadi berlarut-larut.
Hari ini sebenarnya Sesa ingin Yuga mengantarkannya terlebih dahulu ke cafe yang sudah ia tinggalkan kemarin. Tapi melihat suaminya yang mengacuhkannya, Sesa mengurungkan niatnya. Sesa hanya mengirim pesan kepada suaminya jiak dirinya akan berangkat ke cafe menggunakan taksi online.
***
"Mbak Sesa!!" Teriak Lina dan Dewi, heboh saat melihat bosnya memasuki cafe.
"Hai apa kabar, kalian baik kan?" Sapa Sesa seperti biasa, selalu ramah dengan senyum yang menawan.
"Baik Mbak Alhamdulillah, wah baby bumpnya udah kelihatan banget ya Mbak" Lina menatap perut Sesa dengan mata yang berbinar.
"Udah dong, doain sehat terus ya Wi" Sesa tersenyum mengusap perutnya.
"Amin, kita pasti doain yang terbaik kok Mbak" Jawab Dewi.
"Sesaaa!!" Suara cempreng Maya terdengar dari pintu masuk.
"Astaga, pelan-pelan dong Maya. Anakku yang masih dalam perut aja bisa kaget dengar suaramu" Tegur Sesa.
"Masa sih. Iya deh maaf. Habisnya gue kaget lihat lo tiba-tiba udah di sini. Lagian juga balik ngga kasih kabar" Balas Maya yang sudah mulai mrepet.
"Iya maaf May, mendadak Mas Yuga ada kerjaan soalnya"
"Kita ngobrol di dalam aja yuk!!" Sesa menarik tangan Maya menuju ruangannya, karena tidak ingin ada orang yang mendengar masalahnya.
"Jadi lo udah yakin mau balikan sama Yuga? Ngga jadi cerai?? Tanya Maya ketika mereka sudah di berada di ruangan Sesa.
" Iya, May. Doain semoga kedepannya keluargaku baik-baik saja, dan aku tidak menyesali keputusanku kali ini"
"Apapun itu gue akan selalu ada di sisi lo Sa" Ucap Maya tersenyum dengan tulus.
"Tapi May" Sesa berjalan ke sofa dengan menghentakkan kakinya.
"Apaan sih, lebay banget sejak hamil" Cibir Maya.
"Mas Yuga lagi diemin aku gara-gara Vino, tadi pagi di telpon aku dan malah menyatakan cintanya. Dan apesnya, Mas Yuga mendengar itu semua, jadi sekarang ngambek deh" Sesa mengerucutkan bibirnya lucu.
"Vino? Vino dokter yang ngerawat lo waktu pingsan itu?" Sesa mengangguk.
"Dia temen lama aku dulu waktu di Jogja. Nah ketemu lagi beberapa bulan yang lalu" Jelas Sesa sambil bersandar di sofa.
"Lagian ngapain sih tu laki pakai bilang suka sama bini orang"
"Makanya itu, terus yang bikin aku bad mood sekarang itu Mas Yuga. Bakan sampai sekarang belum mau buka chat dari aku" Keluh Sesa manja.
"Udah deh Sa, palingan juga ngambek bentaran aja. Lo juga ngapain kaya anak kecil gini cuma di diemin aja. Dulu aja laki lo pacaran sama Della biasa aja"
__ADS_1
"Maya, ngga usah bawa-bawa dia deh, males tau!! Aku sih ngga benci orangnya, cuma ngga suka caranya yang licik itu" Omel Sesa.
"Iya iya sorry kelepasan. Oh iya btw ada yang mau gue omongin nih Sa" Maya mendekati Sesa dengan malu-malu seperti anak kucing.
"Apa sih Maya!! Aneh banget kamu kalau sok imut begitu" Sesa risih dengan tingkah Maya yang menurutnya aneh.
"Bumil galak banget sih!!" Maya mencubit pelan lengan Sesa.
"Awww, apaan sih. Cepat kasih tau nggak??" Sesa semakin mendesak Maya.
"Gue mau nikah sama Bayu" Ucap Maya berbisik. Sebenarnya aneh kenapa Maya berbisik. Teriak juga tidak akan ada yang mendengar.
"Hah serius?" Sesa melongo tak percaya.
"Iya" Maya mengangguk mantap.
"Hu hu selamat Maya ku. Akhirnya kamu nyusul juga. Terus kapan, rencananya gimana....?" Dan Masih banyak lagi pertanyaan dari Sesa hingga memakan waktu berjam-jam tak mereka rasakan.
"Makan yuk May, baby aku udah minta makan nih"
"Ayuk, nanti gue antar pulang sekalian" Mereka berdua pergi meninggalkan cafe Sesa.
-
"Mikirin apa sih neng? makan tuh keburu dingin, Katanya lapar!!" Tegur Maya karena Sesa hanya melamun menatap ponselnya.
"May, Mas Yuga kok belum bales pesan ku sampai sekarang ya? Masa sampai segitunya marah sama aku" Raut muka Sesa berubah sendu ingin menangis.
"Mungkin dia balas dendam sama lo kali, kan dulu lo gitu juga sama Yuga" Ucapan Maya malah semakin membuat Sesa galau.
"Eh Sa bukannya itu laki lo ya" Maya menunjuk ke belakang Sesa.
Sesa mengikuti pandangan Maya, memang agak jauh dari tempat duduk Sesa. Tapi Sesa bisa melihat dengan jelas jika itu benar suaminya. Yuga sedang makan siang bersama tiga orang pria yang salah satunya adalah Doni.
Sesa ingin mendekat tapi takut jika itu tamu penting suaminya. Karena takut mengganggu Sesa sedikit menunggu samapi mereka selesai makan.
"Samperin sono!!" Perintah Maya saat Yuga sudah berjabat tangan dengan tamunya.
Sesa berdiri ingin menghampiri suaminya namun ternyata Sesa kalah cepat karena Yuga sudah berjalan ke arah pintu keluar.
Tatapan mereka bertemu, tapi hati Sesa terasa sesak saat Yuga hanya meliriknya sekilas lalu melanjutkan langkahnya keluar dari restoran itu.
"Kenapa sakit sekali saat sikap dingin mu itu kembali menyerang ku Mas?" Setitik air mata jatuh di pipi Sesa.
-
-
-
Happy readingš
__ADS_1