
Merasa tidak ada penolakan dari Sesa, Yuga mulai memperdalam ciumannya. Merapatkan tubuhnya tiada jarak dengan istrinya. Mereka tidak tau ini ciuman pertama atau ke dua. Karena menurut Sesa, waktu itu hanyalah sebuah tabrakan bibir saja.
Yuga tampak menyukai bibi cherry milik Sesa yang terasa manis. Sementara Sesa terbuai dengan l*mat*n-l*mat*n lembut dari bibir suaminya.
Dreettt Dreetttt...
Getaran ponsel Yuga menghentikan tangan Yuga yang sudah mulai turun ke punggung Sesa. Dengan berat hati Yuga melepaskan bibir istrinya yang sangat menggoda itu. Yuga mengambil ponsel dari kantongnya.
"Halo ma? Ada apa?" Ucap Yuga dengan wajah kesalnya.
"Yuga, kita dalam perjalanan ke rumah sakit nak. Kakek mu tiba-tiba drop lagi. Kamu segera ke sana ya?" Ucap Vani dengan tangisnya.
"Kok bisa ma? Ya udah, Yuga sama Sesa segera ke sana" Yuga tampak panik memutuskan panggilannya begitu saja.
"Kenapa Mas?" Tanya Sesa yang penasaran melihat kepanikan Suaminya.
"Kita ke rumah sakit sekarang kakek drop lagi" Yuga masuk ke dalam kamar untuk bersiap.
***
Yuga dan Sesa tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke IGD. Di sana seluruh keluarganya sudah menunggu.
"Ma" Sesa menghampiri Vani yang menangis di pelukan Naya.
"Sa, kamu sudah datang nak?" Ucap Vani.
"Iya ma, itu Mas Yuga" Sesa melihat ke arah Yuga yang sedang berdiri di depan pintu kaca IGD.
"Doakan Kakek semoga baik-baik saja ya nak" Vani menggemukan tangan Sesa dan Naya di pangkuannya.
"Kita minta yang terbaik untuk Kakek" Ucap Vani lagi dengan air mata yang menetes.
"Pasti Kakek akan baik-baik saja ma" Sesa menenangkan Vani.
Dokter jantung yang sering Sesa lihat jik Kakek Adi di rawat keluar dari IGD.
"Bagaimana keadaan Ayah saya dok?" Surya menghampiri Dokter itu dengan panik.
"Sebenarnya saya sudah peringatkan beliau untuk berkata jujur kepada anda Pak Surya. Tapi beliau menolak dan bersikeras untuk menyembunyikan ini dari keluarga anda" Tutur dokter itu.
"Maksud dokter?" Mereka tak paham apa yang dokter ucapkan.
"Begini Pak, sebenarnya setelah Pak Adiguna drop yang terakhir kalinya saya sudah mengatakan untuk lebih berhati hati lagi karena kondisinya sudah semakin parah. Namun beliau memaksa saya untuk menyembunyikan semua ini dari anda dan seluruh keluarga anda. Terapi yang kami lakukan beberapa bulan ini juga tidak membuahkan hasil yang berarti" Dokter jantung itu menjabarkan segalanya.
"Jadi selama ini Ayah saya berpura pura sehat di depan kami dok?" Surya terpukul mendengar pernyataan dokter. Ia tak menyangka ayahnya berjuang melawan sakit sendirian. Ia juga merasa bodoh karena tidak bisa menjaga ayahnya.
"Benar pak" Jawab dokter lagi.
"Lalu selama ini ayah saya selalu pergi pagi-pagi sekali itu untuk menjalankan terapi?" Surya baru menyadari jika ayahnya selalu pergi dengan alasan ingin memancing atau bertemu dengan temannya. Ternyata itu hanya alasan ayahnya saja.
__ADS_1
"Benar Pak, beliau di temani oleh asistennya"
"Ya Allah maafkan aku yang tidak bisa menjaga ayahku" Surya tertunduk lesu. Sementara Yuga masih syok mendengar keadaan kakek kesayangannya.
"Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berserah kepada Tuhan. Semoga Tuhan memberikan mukjizat kepada Pak Adiguna. Dan untuk sementara waktu Pasien akan tetap berada di ruang ICU samapi keadaannya stabil. Kalau begitu saya permisi" Dokter itu sedikit membungkuk lalu pergi meninggalkan keluarga Wiratama.
Yuga terduduk lesu di samping Sesa. Kakek kesayangannya sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana. Yuga merasa bersalah karena akhir-akhir ini terlalu sibuk sehingga tidak sempat untuk menemui sang Kakek.
"Mas, Kakek pasti bisa melewati semua ini.Kita berdoa ya" Sesa mengusap punggung suaminya. Sesa juga sedih melihat Kakek Adi seperti ini. Sesa sungguh menyayanginya seperti Kakungnya dulu.
Yuga tak bisa membalas ucapan istrinya. Yuga mengenyam tangan Sesa seakan meminta kekuatan agar bisa melewati semua ini.
Surya sudah keluar dari ICU bersama dengan Vani dan Naya. Kini giliran Yuga dan Sesa masuk untuk menemui Kakek Adi.
Mata Yuga memerah menahan tangisnya kala melihat Kakeknya terbaring dengan berbagai alat kedokteran menempel pada tubuh tua itu.
"Kakek" Lirih Yuga di samping telinga sang Kakek.
"Ini Yuga Kek. Cepatlah bangun, Yuga kangen sama Kakek. Yuga yakin Kakek pasti kuat" Ucap Yuga menitikkan air matanya.
Sesa memang bersedih melihat keadaan Kakek Adi seperti ini. Tapi ia juga sedih melihat Yuga seperti ini. Yuga yang biasanya tegas dan dingin harus menunjukkan sisi lemahnya di depan orang yang sangat disayanginya.
Sesa melihat ke arah jari tangan Kakek Adi yang sepertinya menunjukkan pergerakkan. Sesa memastikan sekali lagi bahwa apa yang ia lihat itu benar.
"Mas, jari Kakek bergerak Mas. Sesa panggil dokter dulu" Tanpa berpikir panjang Sesa berlari keluar mencari bantuan.
"Dokter ... Dokter...!!!" Sesa berteriak memanggil para medis.
Yuga keluar setelah dokter masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa Kakeknya.
"Pa, ma Kakek sudah sadar" Yuga menghampiri kedua krang tuanya.
"Alhamdulillah Ya Allah, kita tunggu dulu hasil pemeriksaan dokter" Ucap Surya tersenyum karena ayahnya mulai kembali kesadarannya.
Beberapa saat kemudian.
"Keluarga Pak Adiguna!" Panggil seorang perawat di depan pintu ICU.
"Iya kami" Yuga mendekat.
"Silahkan masuk. Pasien ingin bertemu" Perawat memberikan ruang untuk Yuga dan keluarganya.
"Ayah, bagaimana keadaan Ayah?" Surya dan Yuga mendekati Adiguna terlebih dahulu.
"Ayah baik-baik saja" Ucap Kakek Adi dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Kenapa Kakek menyembunyikan semua ini dari kita semua?" Yuga bersuara.
Sementara Kakek Adi hanya tersenyum memandang cucunya.
__ADS_1
"Surya, sepertinya sudah tiba waktunya untuk Ayah pergi" Ucap Kakek Adi dengan napas yang mulai tersengal sengal.
"Ayah tidak boleh berkata seperti itu" Protes surya.
"Surya, Ayah sudah siap jika harus meninggalkan dunia ini. Sudah tidak ada lagi yang perlu Ayah khawatirkan. Jagalah istri dan anakmu dengan baik." Kakek Adi beralih menatap Yuga.
"Yuga, cucu kesayanganku" Yuga meraih tangan Kakeknya.
"Yuga disini kek" Ucap Yuga dengan suara bergetar.
"Kakek titip Sesa, cintai Sesa, bahagiakan dia dan jagalah dia. Walaupun Kakek sudah pergi jangan sampai kalian bercerai. Kakek mohon" Suara yang begitu lemah itu kian mengiris hati siapapun yang mendengarnya.
"Yuga janji Kek, Yuga akan menuruti permintaan Kakek" Yuga sudah tidak mampu lagi menahan air matanya.
Kakek Adi tersenyum tipis mendengar jawaban Yuga. Genggaman tangan Kakek Adi semakin lama semakin melemah di tangan Yuga. Mata yang sudah keriput itu mulai terpejam. Bunyi monitor holter yang nyaring menyadarkan mereka semua.
"Permisi" Ucap dokter jantung itu mulai memeriksa keadaan Kakek Adi. Berbagai macam rangkaian pemeriksaan sudah dilakukan. Hingga dokter itu melihat jam di tangannya.
"Waktu kematian Bapak Adiguna pukul 23.17 wib"
Ucapan dokter itu sontak membuat keluarga Wiratama berlinang air mata. Mereka semua menyaksikan sendiri kepergian seorang Adiguna wiratama.
***
Setelah berbagai macam rangkaian acara pemakaman selesai. Kini Yuga masih berdiam diri di dalam kamar rumah orang tuanya. Kenangan bersama Kakeknya sedari ia berputar putar semakin membuatnya teringat betapa sayangnya Kakek pada dirinya. Kakek yang selalu menggendongnya, membelikan mainan kesukaannya, menemaninya bermain kini sudah tidak ada lagi.
Yuga terduduk di lantai dan bersandar pada ranjangnya. Tatapan matanya kosong dan wajahnya pucat. Sesa melihat keadaan suaminya seperti itu, merasakan sakit di hatinya.
"Mas" Sesa ikut bersimpuh di lantai bersama Yuga.
Yuga hanya menatap Sesa sekilas.
"Sa, kini aku tau apa yang kamu rasakan waktu kehilangan papa dan mama. Rasanya sungguh sakit seperti tidak ada penawarnya" Ucap Yuga masih dengan tatapan kosongnya.
"Siapa bilang tidak ada penawarnya? Waktu itu Mas Yuga pernah bilang sama Sesa jika Sesa harus kuat dan ikhlas, agar papa dan mama tenang di sana. Nah apa Mas Yuga tau apa penawar itu?" Ucap Sesa dengan lembut.
Yuga menggelengkan kepalanya.
"Penawarnya hanya satu, yaitu ikhlas. Jika kita ikhlas maka tidak akan ada beban lagi di hati kita. Dengan itu juga hati ini tidak akan terasa sakit lagi" Sesa menyentuh dada Yuga dengan telapak tangannya. Kemudian beralih menyentuh pipi kanan suaminya, dan mengusapnya lembut.
"Menangislah jika itu bisa membuat hati Mas Yuga tenang. Sesa ada di sini untuk Mas Yuga. Jangan malu karena Mas Yuga laki-laki. Ada kalanya hati yang selalu kuat itu rapuh" Sesa menatap manik mata Yuga.
Seakan terhipnotis, Yuga menghambur ke pelukan istrinya begitu saja. Menumpahkan segala kesedihannya. Air mata yang sejak kemarin Yuga tahan kini tumpah membasahi punggung Sesa. Isakan kecil mulai terdengar kala Sesa mengusap lembut punggung suaminya.
-
-
Ada apa lagi setelah kepergian kakek ya readers??
__ADS_1
Semoga hubungan Sesa dan Yuga baik-baik saja ya.
Tetap pantau terus pergerakan mereka, jangan sampai ketinggalan karena aku up setiap hari😘