
"Mama??" Sesa terkejut karena mama mertuanya sudah menunggunya di loby apartemen.
"Kamu baru pulang? Dimana Yuga?" Vani mencari keberadaan Yuga.
"Mas Yuga belum pulang ma, lembur katanya" Sesa menutupi keberadaan suaminya yang sesungguhnya.
"Anak itu masih gila kerja juga?" Vani menggelengkan kepalanya.
Sesa hanya tersenyum menanggapi mertuanya itu.
"Mama sudah lama? Masuk yuk ma" Sesa menggandeng tangan Vani.
"Sebenarnya mama mau ajak kalian makan malam tapi ini sudah terlalu malam dan Yuga juga belum pulang. Jadi besok kapan-kapan saja mama kesini lagi" Ucap Vani tidak jadi ke apartemen anaknya.
"Loh kok gitu ma?" Ucap Sesa merasa tidak enak.
"Kasihan papa kalau mama pulang terlalu malam. Mama pulang dulu ya, kamu jaga kesehatan dan mama mohon kamu sabar menghadapi Yuga ya sayang" Vani mengusap pundak Sesa lembut.
"Iyaa, insyaallah ma" Sesa sebenarnya sudah tidak yakin dengan ucapannya.
"Ya sudah mama pulang dulu ya" Ucap Vani.
"Iya, mama hati-hati" Sesa mencium tangan Vani kemudian memeluknya sekilas.
Sesa memasuki lift untuk membawanya naik ke apartemennya setelah melihat mama mertuanya berlalu dengan mobil mewahnya.
-
Vani mengambil ponsel dari tas branded berwarna hitam itu. Mencari nomor ponsel anak sulungnya.
"Halo" Suara Vani berubah menjadi dingin.
"Iya ma kenapa?" Ucap Yuga di seberang sana.
"Dimana kamu?" Tanya Vani.
"Yuga di apartemen ma, ada apa?" Jawab Yuga berbohong.
"Jangan bohong kamu!!mama dari apartemen mu dan Sesa bilang kamu lembur" Sesak Vani.
"Yuga, sebenarnya Yuga.." Yuga gelagapan karena tidak tau jika mamanya akan ke apartemennya malam-malam begini.
"Mama tidak tau dimana kamu sekarang Ga. Yang pasti mama peringatkan sama kamu untuk tidak berbuat bodoh dan main-main dengan pernikahan kalian. Mama pastika kamu akan menyesal jika itu terjadi" Ucap Vani dengan tegas. Lalu memutus panggilannya dengan Yuga.
***
Pagi ini Sesa datang ke rumah sakit untuk mengantar sarapan dan baju ganti untuk suaminya. Sesa juga ingin melihat keadaan Della saat ini. Sesa membayangkan jika saat ini dalam posisi Della, pasti juga akan merasa sangat kesepian. Sejak orang tuanya meninggal Sesa sedikit banyak dapat merasakan apa yang di lalui Maya dan Della selama ini. Hidup sebatang kara di di usianya yang masih muda.
Tok.. Tok.. Tok..
Sesa mengetuk pintu lalu membukanya setelah memberi jeda sejenak.
Sesa melihat suaminya yang masih terlelap di sofa dan Della yang sedang di periksa oleh seorang dokter dan dua orang perawat.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Della dokter?" Sesa mendekati dokter yang ia temui kemarin.
"Keadaan Bu Della sudah membaik, lusa sudah bisa pulang. Jadi tetap makan tepat waktu dan jangan lupa rutin konsumsi obat agat cepat pulih" Pesan dokter Della itu.
"Baik dokter terimakasih" Ucap Della masih lemah.
"Kalau begitu saya permisi dulu" Pamit dokter itu di ikuti dua perawat di belakangnya.
Sesa menghampiri Yuga yang masih tertidur pulas tak terganggu sedikitpun dengan suara di sekitarnya.
"Mas!" Sesa memegang tangan Yuga untuk membangunkannya.
Yuga mulai terusik, mengerjabkan matanya kemudian tersenyum menatap sosok wanita yang semalam membuatnya khawatir.
"Sesa, kamu sudah dari tadi?" Yuga menegakkan tubuhnya mengambil posisi duduk.
"Baru saja" Jawab Sesa tersenyum tipis.
"Kenapa tadi malam susah sekali di hubungi?" Tanya Yuga. Sesa teringat tadi pagi saat menyalakan ponselnya terdapat hampir 30 panggilan dan puluhan pesan dari Yuga.
"Ponselnya mati Mas" Ucap Sesa dengan tenang. Padahal tadi malam Sesa dengan sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin di ganggu sedikitpun.
"Mas Yuga ganti baju dulu ya, Sesa sudah bawakan gantinya. Lalu habis itu Mas Yuga sarapan" Sesa mengalihkan pembicaraan Yuga tentang semalam.
"Iya" dengan berat hati Yuga menuju ke kamar mandi membawa baju gantinya.
Sementara Della yang melihat interaksi sepasang suami istri itu menjadi mendidih. Hatinya panas seperti terbakar. Tangannya mengepal di balik selimut.
"Della kamu mau sarapan, biar aku suapi?" Ucap Sesa.
"Kalau tidak bisa makan sendiri biar Sesa yang suapi, aku capek" Ucap Yuga kemudian duduk di sofa yang tadi, mulai makan makanan yang telah di siapkan Sesa.
Sesa merasa senang setelah mendengar suaminya mengatakan hal itu.
Della menyambar piring di tangan Sesa kemudian memilih memakannya sendiri.
"Mas, kata dokter Della lusa sudah bisa pulang" Ucap Sesa berjalan mendekati Yuga.
"Syukurlah kalau begitu" Ucap Yuga masih fokus pada sarapannya.
"Tapi setelah ini kamu masih mau rawat aku kan Ga?" Ucap Della yang tiba-tiba nimbrung obrolan suami istri.
Yuga melirik Sesa yang menundukkan kepalanya.
"Kita lihat saja nanti. Aku juga harus bekerja tidak mungkin meninggalkan kantor terlalu lama, lagipula aku juga sudah punya istri yang menungguku di rumah" Yuga melirik Sesa lagi, tapi kali ini Sesa tengah menatap Yuga.
"Yuga, kamu tau sendiri kan aku tidak punya siapa-siapa. Kakiku belum bisa untuk berjalan, lalu bagaimana aku bisa tinggal sendiri?" Ucap Della dengan wajah sendunya.
"Mas, Ini sudah siang aku berangkat ke cafe dulu" Sesa sudah tidak ingin mendengar lagi pembicaraan mereka yang Sesa sudah tau akhirnya seperti apa. Sesa tidak peduli lagi jika Yuga akan merawat Della sampai sembuh dan memilih tinggal di apartemen Della.
Sesa mencium tangan suaminya lalu pergi begitu saja. Yuga yang masih bingung belum sadar sepenuhnya jika Sesa sudah keluar dari ruangan Della.
"Yuga!!" Panggil Della.
__ADS_1
"Iya kenapa?" Yuga kembali dari lamunannya.
"Kamu masih mau temani aku kan walau aku sudah keluar dari rumah sakit?" Della berwajah sendu, berharap Yuga akan luluh dengan permintaannya.
"Kita bahas itu nanti, aku pergi dulu" Yuga menyambar dompet dan kunci mobilnya lalu secepat kilat meninggalkan Della begitu saja.
"Ihhhh, awas saja kalau sampai kamu tidak datang lagi kesini Yuga!!" Teriak Della mengurai kekesalannya.
-
Sesa berjalan lesu melewati lorong demi lorong rumah sakit. Ia memikirkan nasibnya, memikirkan langkah apa yang harus di ambilnya. Tidak mungkin ia harus bertahan terus di situasi seperti ini.
"Hay" Vino tiba-tiba sudah berada di samping Sesa menyamakan langkah gadis yang dikaguminya sejak dulu itu. Vino memang tertarik dengan Sesa sejak dulu, namun karena Vino dari keluarga biasa dan Sesa yang putri seorang konglomerat membuat Vino menjadi tidak percaya diri. Terlebih lagi saat bertemu Sesa kembali waktu itu, Vino mengetahui jika gadis idamannya sidah menikah membuat Vino semakin mengubur dalam perasaanya.
"Vino? Kamu ngapain di sini?" Sesa sempat terkejut dengan kedatangan Vino.
"Aku ada praktek juga di rumah sakit ini" Jawab Vino dengan senyum yang terus mengembang. Tidak menyangka di pagi yang cerah ini bisa bertemu dengan pujaan hatinya membuat harinya semakin cerah.
"Oh ya, hebat dong kamu" Pujian Sesa membuat hati Vino semakin bahagia.
"Masih kalah hebat sama kamu yang berhasil bangun usaha sendiri, sedangkan aku masih seorang pekerja" Canda vino.
"Oh iya, kamu kok pagi-pagi udah di sini ngapain?" Tanya Vino.
"Oh sahabat aku di rawat disini karena kecelakaan kemarin. Jadi aku bawain sarapan buat dia" Jelas Sesa.
"Oh ya? Lalu keadaannya sekarang bagaimana?" Tanya Vino semakin penasaran.
"Sudah membaik, lusa sudah bisa pulang. Cuma kakinya yang patah membuatnya harus duduk di kursi roda sementara ini" Ucap Sesa terlihat sendu.
"Patah kaki?" Tanya Vino.
"Iya" Sesa menganggukkan kepalanya.
"Saat ini aku adalah dokter tulang satu-satunya di rumah sakit ini. Tapi seingat ku dari kemarin aku tidak pernah visit pasien patah tulang kaki. Apa ada yang salah?" Batin Vino.
"Vino aku duluan ya?" Ucap Sesa setelah sampai di depan rumah sakit.
"Bareng aku aja Sa, kamu mau ke cafe kan?" Vino akan sangat senang jika Sesa mau menerima tawarannya.
"Bukannya kamu praktek ya?" Tanya Sesa heran.
"Jadwal ku tadi malam, sekarang sudah pulang" Jawab Vino.
"Ya udah yuk!" Vino mengajak Sesa ke mobilnya.
"Saya sendiri yang akan mengantar istri saya!!" Suara bariton itu mengejutkan Sesa.
-
-
Yang udah pada sebel sama sikap Yuga sabar dulu ya guys. Kita kasih pelajaran aja buat Yuga yang lembek.
__ADS_1
Jadi jangan pernah ketinggalan ya readers😘
Dan jangan lupa tinggalkan jejakmu🤗