Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
tak bisa bertemu


__ADS_3

"Selamat pagi semua" Sapa Sesa kepada mertuanya yang baru saja turun untuk sarapan.


"Pagi nak"


"Wah ini kamu semua yang masak?" Tanya Vani.


"Enggak kok ma, Sesa cuma bantu aja" Sesa menarik kursi untuk duduk mama mertuanya.


"Naya mana ma?" Sesa menanyakan keberadaan adik ipar yang dari kemarin belum di lihatnya dari kemarin.


"Mungkin sebentar lagi turun" Jawab Vani.


"Itu dia orangnya" Ucap Surya yang melihat Naya turun dari tangga.


Naya mendekati meja makan.


"Pagi semua" Dengan suara yang ceria Naya menyapa semua orang yang ada di sana.


"Pagi sayang" Jawab mereka semua.


"Tadi malam Naya ke kamar kaka tepi ternyata kakak sudah tidur" Ucap Naya kepada Sesa.


"Oh ya? Maaf Naya, kakak tidak tau" Jawab Naya dengan sedikit menyesal.


"Nggak masalah kak, kan sekarang kita udah ketemu"


"Ya udah ayo sarapan dulu" Ajak Vani.


Mereka berempat memulai sarapannya. Sesa tersenyum senang, sudah lama ia tidak merasakan berada di tengah-tengah keluarga yang hangat seperti ini.


"Mama, papa" Sesa membuka suaranya.


Surya dan Vani menatap Sesa tanpa menghentikan maknanya.


"Boleh tidak kalau untuk beberapa hari ke depan Sesa menginap disini" Ucap Sesa sedikit canggung.


"Tentu boleh dong sayang, ini rumah kamu juga tidak usah sungkan. Iya kan pa?" Vani memandang suaminya.


"Betul kata mama" Ucap Surya.


"Soalnya untuk saat ini Sesa belum siap bertemu Mas Yuga. Dan Sesa rasa mas Yuga tidak mungkin mencari Sesa ke sini. Dia tidak pasti takut jika pulang ke sini tanpa Sesa" Jelas Sesa.


"Kamu tenang saja sayang, kita juga tidak akan memberi tahu Yuga jika kamu ada di sini" Ucap Vani.


"Tunggu, sebenarnya ada apa sih? Kak Yuga kan suami Kak Sesa, kenapa Kak Yuga ngga boleh ketemu kakak?" Tanya Naya kepada Sesa yang bingung mendengar percakapan orang-orang di depannya.


"Nanti Kakak jelasin Nay, tapi Kakak mohon sembunyikan ini dari Mas Yuga dulu ya?" Kata Sesa memohon.


Naya mengangguk, dia masih bingung dengan keadaan saat ini.


***


Yuga terbangun dari tidurnya saat alarm berbunyi. Paginya tidak terasa mendung dan tidak bersemangat. Yuga merasakan sepi dan kosong di hatinya. Kakinya berjalan lunglai menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya sebelum memulai aktivitasnya.

__ADS_1


Tidak ada baju yang disiapkan, tidak ada sarapan, tidak ada yang mengantarnya ke depan pintu saat ingin berangkat bekerja.


Yuga tiba di kantor dengan wajah kusut tak sedap di pandang. Bahkan saat berjalan pun tatapannya kosong tidak tau dia berpapasan dengan siapa saja saat berjalan ke ruangannya.


"Bos" Doni sudah menyambutnya di depan ruangan Yuga. Tapi Yuga hanya diam saja berjalan mendahului Doni masuk ke dalam ruangannya.


"Apa kau sudah mendapat kabar dimana Sesa Don?" Tanya Yuga yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Belum bos, kami tidak bisa melacaknya. Ponselnya di matikan bos" Ucap Doni sungguh-sungguh.


"Huufffttt" Yuga membuang napasnya kasar.


"Tapi bos, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan" Doni sedikit ragu menyampaikannya karena melihat keadaan bosnya yang sedang galau.


"Katakan!"


"Ada masalah tentang proyek kita yang ada di Surabaya bos, pembangunan tersendat karena berbagai faktor bos. Sepertinya bos harus terbang ke sana untuk mencari tau apa yang membuat proyek menjadi tersendat bos" Terang Doni menatap Yuga prihatin karena sedari tadi Yuga hanya bersandar di kursi dan memejamkan matanya.


"Apa tidak bisa di wakilkan Don, atau kau saja yang pergi"


"Maaf bos, klien kita meminta bos sendiri yang harus turun tangan. Karena dia tidak mau kecewa dengan hasilnya jika terjadi suatu masalah kedepannya" Imbuh Doni.


"Baiklah, kapan kita berangkat?" Yuga adalah orang yang sangat bertanggung jawab jika menyangkut pekerjaannya.


"Sepertinya sore ini bos"


"Apaa??" Yuga terbelalak.


"Maaf bos, kita tidak bisa membiarkan pembangunan tersendat terlalu lama" Doni memikirkan citra perusahaan jika proyek ini gagal.


"Paling cepat satu minggu bos"


"Kau ingin menyiksa ku Don? Bagaimana aku bisa pergi selama itu sedangkan istriku saya aku tidak tau keberadaanya sampai saat ini" Ucap Yuga sudah gusar.


"Tenang bos anak buah mu yang lain masih terus mencari istrimu" Doni mencoba menangkan bosnya.


Drrtt Drrrttt


Ponsel di saku celana Doni bergetar.


"Halo, gimana? Udah ada kabar?" Tanya Doni.


". . . . . . . . . .. "


"Sudah pasti?"


". . . . . . . . ."


"Oke, tetap pantau terus jangan sampai pergi" Perintah Doni.


Doni menyunggingkan senyumnya setelah menutup panggilan teleponnya.


"Ada kabar baik bos" Ucap Doni.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Yuga tak bersemangat.


"Istri loe udah ketemu"


"Dimana?" Tanya terpancar raut kebahagiaan di wajahnya.


"Di rumah besar bos"


"Apaa!! Kenapa bisa di sana?" Yuga sudah bersiap ingin pergi dari sana.


"Bos mau kemana? Jangan sekarang, ada pertemuan penting habis ini. Ini perusahaan penting dari luar negeri, nggak mungkin kalau samapi di wakilkan" Doni mencegah kepergian Yuga. Yuga lemas seketika, dia membenarkan perkataan Doni.


"Maafkan Mas, Sa" Batin Yuga.


-


Pertemuan dengan perusahaan luar negri untuk membahas kerja sama tentu tidak memakan waktu yang sedikit. Meeting bahkan melewati waktu makan siang. Belum lagi menemani jamuan dari tamu-tamu penting. Yuga berusaha profesional walau hatinya di terpa gundah gulana.


"Bos habis ini kita lanjut ke bandara. Waktunya sudah mepet, untuk baju dan segala keperluannya sudah saya siapkan" Bisik Doni saat selesai menemani tamunya makan siang.


Dengan pasrah Yuga hanya mampu menuruti Doni yang sudah mengatur jadwal untuknya.


***


Sesa duduk di tepi ranjang kamar Yuga. Kamar yang selalu harum seperti aroma tubuh suaminya. Sesa memegang ponselnya. Dengan ragu ia membuka pesan dari nomor suaminya. Puluhan pesan dan panggilan yang ia abaikan. Pesan yang berisi tentang kekhawatiran Yuga terhadapnya.


"Jika kekhawatiran kamu itu nyata, pasti aku sangat senang Mas. Tapi kamu selalu menutupinya dengan kebohongan, itu membuat ku ragu dan takut jika pernyataan cintamu itu juga palsu" Sesa menangis mengingat betapa manisnya hubungan yang baru saja mereka lewati.


Hingga satu pesan masuk dari pengirim yang sama membuat Sesa semakin terisak.


From : Mas Yuga


"Sayang, Mas tidak tau kenapa kamu pergi dari rumah dan menolak panggilan Mas. Mas minta maaf jika tanpa sadar Mas menyakitimu. Saat ini Mas sangat ingin menyusul mu ke rumah mama dan memelukmu. Mas sangat merindukanmu sayang. Tapi maaf Mas belum bisa ke sana. Mas saat ini sedang perjalanan ke Surabaya, ada masalah di sana. Tapi Mas janji kalau mas sudah pulang, Mas akan langsung menjemputmu. Mas mencintaimu sayang"


Kata cinta yang justru semakin membuat hati Sesa sakit. Sesa menonaktifkan kembali ponselnya. Sudah cukup, keputusannya sudah bulat. Ia sudah muak dengan kelakuan suaminya.


-


Di dalam pesawat Yuga juga tidak bisa tenang. Tentu saja karena memikirkan istrinya. Hatinya sakit menahan rindu.


"Don, menurutmu kenapa Sesa berada di rumah mama?" Ucap Yuga tiba-tiba. Membuat Doni yang sedang memejamkan matanya langsung terbangun seketika.


"Kenapa juga beberapa hari ini Sesa menghindari ku? Apa Sesa sudah tau tentang aku dan Della?" Yuga melihat Doni, meminta pendapat darinya.


"Mana mungkin bos!! Apa jangan-jangan ini ulah Della. Kau kecolongan bos" Doni menepuk jidatnya. Dirinya juga menjadi gusar.


Wajah Yuga merah padam, membayangkan apa yang akan terjadi pada rumah tangganya setelah ini.


-


-


Maaf ya buat kalian semua yang udah gedeg dengan kelakuan Yuga, sabar ya readers, ikuti terus alurnya sampai akhir. Oke😘

__ADS_1


Terimakasih buat kalian yang selalu mendukung karyaku dari awal. Love you😘😚


__ADS_2