
Tak terasa bulan telah berganti beberapa kali, hingga perut Sesa sudah kian membesar dan mendekati waktu lahiran.
Sesa duduk di pangkuan Yuga, dengan tangan Yuga yang melingkar indah di perut Sesa. Mengusap lembut perut buncit berisi buah hati yang sudah ia tunggu kelahirannya.
"Mas, Sesa mau tanya deh" Sesa memegang tangan Yuga yang berada di perutnya.
"Tanya apa sayang?" Yuga menciumi lengan Sesa yang tepat berada di depannya.
"Waktu itu kamu bilang udah tau kalau aku cinta sama kamu, emangnya tau dari mana?" Tanya Sesa sedikit ragu.
Yuga tersenyum tipis menatap istrinya.
"Dari foto yang kamu sembunyikan itu"
"Jadi Mas lihat foto itu?" Sesa terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan.
"Hemm" Yuga mengulas senyumnya.
"Duh Sesa malu tau nggak!!" Sesa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu, Mas justru bangga" Yuga membuka tangan Sesa yang menutupi wajah memerahnya.
"Bangga? kok bisa?"
"Iya ding bangga, itu berarti pesona Mas tidak di ragukan lagi, karena bisa membuat wanita jatuh cita selama itu" Jawab Yuga dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Ih pede banget sih" Sesa lagi-lagi mencubit Yuga namun kini di pipinya.
"Sayang jangan cubit-cubit dong Mas ngga suka, di cium aja, Mas ngga bakalan nolak"
"Kalau itu kesenangan kamunya" Sesa mencebik.
"Nyenengin suami kan dapat pahala" Sesa semakin di buat malu oleh godaan suaminya.
"Udah ah Mas, Sesa mau tanya lagi nih!!" Sesa mengerucutkan bibirnya.
"Mau tanya apa lagi sih, hemm?" Yuga gemas melihat tingkah ibu hamil satu ini.
"Terus waktu itu kamu tau aku hamil dari mana?" Tanya Sesa penasaran.
Yuga menurunkan Sesa dari pangkuannya, lalu membenarkan posisi duduknya di hadapan Sesa. Yuga menggenggam tangan Sesa dan menatap dalam mata jernih istrinya.
__ADS_1
"Sayang asal kamu tau, waktu itu Mas seperti mendapat petunjuk dari Allah sekaligus. Dari petunjuk itu, Mas yakin jika Allah masih mengizinkan kita untuk bersama. Setelah kepergian kamu Mas mencari kamu ke cafe. Mas kelimpungan tidak bisa mencari kamu kemana-mana. Hingga Mas masuk ke dalam ruang keja kamu di cafe, Mas teringat sebuah foto yang sempat Mas lihat tapi kamu cegah. Kamu ingat kan?" Sesa mengangguk.
"Mas sempat pesimis waktu itu, takut kamu mencintai pria lain yang ada foto itu. Lalu Mas dengan ragu membuka laci itu, betapa terkejutnya Mas saat laci itu terbuka yang pertama kali Mas lihat adalah hasil laboratorium kehamilan kamu. Mas menangis di sana antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Yang ke dua adalah ponsel kamu tinggalkan, di sana Mas baru tau kalau kamu meninggalkan Mas karena ulah Della. Hancur hati Mas waktu itu, merutuki diri sendiri karena kebodohan Mas sendiri. Dan yang terakhir adalah kenyataan bahwa kamu mencintai Mas sejak dulu. Rasa menyesal langsung merasuk dalam hati Mas, menyesal karena Mas tidak menyadari ada kamu di depan Mas selama ini. Menyesal karena tidak bertemu kamu lebih dulu" Yuga mengusap air mata Sesa yang sudah menetes dari tadi.
"Mas benar-benar hancur saat itu sayang. Rasa sepi dan kosong selalu menyerang hati Mas. Mas merindukan semua yang ada padamu. Mas rindu senyuman kamu, Mas rindu perhatian kamu, masakan kamu, harum tubuhmu dan tutur katamu yang lembut mampu mengalihkan dunia Mas. Jangan pernah pergi dari Mas lagi, jika Mas punya salah maka tegurlah. Jangan pernah menghilang dari pandangan Mas lagi!!" Yuga mencium kening istrinya lama, menyalurkan segenap perasaannya.
"Tidak, Sesa tidak akan pergi atau menghindar lagi jika Mas membuat ku kecewa. Sesa sudah lelah jika harus pergi terus tapi.." Sesa menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" Yuga mengerutkan keningnya.
"Tapi Mas sendiri yang harus pergi dari hidup Sesa. Deal?" Sesa mengulurkan tangannya.
"Deal" Tanpa ragu Yuga menjabat tangan Sesa.
"Mas yang akan sadar diri dan pergi dari hidup kamu kalau Mas berani mengecewakan kamu lagi" Ucap Yuga dengan lantang.
"Bagus, suami pintar!" Sesa mengacak rambut Yuga.
"Rusak dong yank, jadi nggak ganteng lagi!!" Yuga kesal tatanan rambutnya menjadi berantakan.
"Biarin, ganteng-ganteng mau cari perhatian siapa emang?" Ketus Sesa.
"Aduuhhh!!" Sesa memegang perutnya.
"Kenapa sayang?" Wajah Yuga terlihat panik.
"Mas kok perutku kenceng banget rasanya, terus mules-mules gitu" Sesa mengatur napasnya.
"Kita ke rumah sakit ya, jangan-jangan kamu mau melahirkan"
"Tapi kan kata dokter masih seminggu lagi" Sesa meringis menahan tekanan di perutnya.
"Itu kan cuma perkiraan yank, dokter bilang itu belum pasti, bisa maju bisa mundur. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!" Sesa hanya mengangguki suaminya saja.
"Mbok, Mbok Lasmi!!" Teriak Yuga.
"Iya Den, ada apa?" Mbok Lasmi berlari menghampiri Yuga yang terdengar panik meneriakinya.
"Mbok siapkan perlengkapan untuk Sesa dan Baby, kita ke rumah sakit sekarang!!" Perintah Yuga. Sementara Yuga tidak melepaskan tangan Sesa sedikitpun.
"Iy iya Den" Mbok Lasmi langsung paham apa yang membuat Yuga panik. Tanpa bertanya lagi Mbok Lasmi memasukkan baju dan perlengkapan lainnya yang memang sudah di siapkan Sesa beberapa hari sebelumnya. Untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan darurat seperti ini.
__ADS_1
"Sudah siap Den!" Ucap Mbok Lasmi.
"Ya sudah, ayo sayang" Yuga memapah istrinya yang terlihat kesakitan.
Yuga mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia memang sedang panik dan ingin segera sampai ke rumah sakit tapi ia juga berpikiran panjang, ada nyawa istri dan anaknya yang dipertaruhkan jika Yuga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setalah lebih dari 15 menit mobil Yuga sampai di depan UGD, Yuga berteriak memanggil bantuan dari dalam. Tak lama dua orang perawat datang mendorong bangkar untuk menjemput Sesa.
"Sakit Mas!!" Sesa meringis mencengkeram tangan Yuga.
"Iya sayang kamu tahan dulu ya!" Yuga masih setia menggenggam tangan istrinya saat Sesa di dorong menggunakan bangkar menuju ruang observasi.
"Saya panggil dokter sebentar ya Pak" Ucap salah satu perawat itu.
"Iya cepetan Sus!!" Yuga sudah tidak sabar lagi menunggu dokter yang tak kunjung datang.
"Mbok tolong hubungi Papa sama Mama!!"
"Oh iya Den, Simbok lupa saking paniknya. Ya sudah Mbok keluar dulu"
"Mas sakit sininya" Sesa menunjuk pinggang bagian belakangnya. Kemudian satu tangan Yuga berpindah mengusap usap pinggang belakang milik Sesa.
"Permisi Pak, saya periksa dulu ya" Dokter kandungan Sesa akhirnya datang juga, dokter Citra langsung melakukan pemeriksaan kepada Sesa.
"Baru bukaan 5 ya Bunda, kita tunggu dulu. Kita periksa lagi 30 menit kemudian"
"Apa dok? 30 menit? Istri saya sudah kesakitan loh dokter!" Yuga malah tidak terima dengan perkataan dokter. Bagaimana bisa istrinya yang sudah kesakitan masih di suruh menunggu.
"Bapak tenang dulu, kita harus menunggu pembukaan jalan lahir sampai bukaan 10 dan ini baru 5, jadi masih sekitar 2-3 jam atau bisa lebih"
"Apa!!!"
-
-
-
-
Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejakmu 😘
__ADS_1