Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Nyaman


__ADS_3

"Suapi ya sayang?" Pinta Yuga setelah Doni berhasil mendapatkan rawon .


"Makan sendiri saja" Sebenarnya Sesa tidak tega tapi ia masih gengsi.


"Suapi dong sayang, Mas kalau di suapi kamu makanannya ngga lagi. Ya?" Yuga mulai merengek lagi.


"Ya Allah engkau telah menukar suamiku dengan siapa? Kenapa jadi kaca bocil begini?"


Batin Sesa.


"Mas tau kamu sedang menggerutu sayang" Kalimat Yuga membuat Sesa gelagapan.


"Sok tau" Sesa duduk di samping Yuga lalu mulai menyuapi bayi besarnya. Yuga tersenyum sumringah karena Sesa dengan telaten menyuapinya.


Dan benar saja, sampai rawon di dalam mangkuk itu ludes tidak ada tanda-tanda Yuga ingin memuntahkannya.


Sesa memandangi Yuga dengan tatapan anehnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Yuga.


"Mau muntah nggak?" Yuga menggeleng dengan pasti, karena merasakan perutnya sama sekali tidak bergejolak seperti biasanya.


"Itu tandanya anak kita ngga mau jauh dari papanya" Yuga menyentuh lembut perut Sesa.


"Apaan sih!!" Sesa melepaskan tangan Yuga dari perutnya ingin beranjak tapi Yuga malah memeluknya dari belakang dengan posisi duduk.


"Biarkan seperti ini sebentar Sa, Mas kangen" Mendengar suara Yuga yang lirih membuat hati Sesa berdebar. Debaran-debaran yang selalu Sesa rasakan saat berdekatan dengan suaminya itu. Debaran yang tidak pernah berubah meski sudah 10 tahun lamanya. Tapi dengan percaya dirinya Sesa berkata bahwa akan melupakan debaran itu tiga bulan ini. Tapi nyatanya rasa itu tidak pernah hilang, malah semakin kuat dan berakar.


"Sesa juga kangen sama Mas" Tentu saja itu jawaban Sesa dalam hatinya.


-


Sesa membawa Yuga pulang ke rumahnya setelah dua hari di rawat di rumah sakit. Tentu saja itu disambut dengan gembira oleh Yuga, sepertinya malah Yuga bersyukur karena sakitnya yang membuat dia bisa dekat lagi dengan Sesa.


"Jangan senang dulu, Sesa bawa Mas ke sini karena Pak Doni sudah kembali ke Jakarta. Kalau belum ya nggak mungkin" Ucap Sesa tanpa menatap suaminya. Padahal dia sendiri yang meminta kepada Doni untuk mengajak Yuga pulang bersamanya.


"Iya Mas tau, tapi terimakasih ya karena kami mau bawa Mas tinggal di sini untuk sementara waktu. Atau selamanya juga Mas mau"

__ADS_1


"Nggak usah ngelunjak!!" Sesa meninggalkan Yuga masuk duluan ke dalam rumah.


Yuga terkekeh melihat tingkah lucu istrinya yang masih galak-galak menggemaskan.


Yuga menyusul Sesa yang sudah masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.


"Sa, Mas masuk ya?" Ucap Yuga dari luar kamar. Tapi tak ada jawaban dari dalam, dengan ragu Yuga membuka pintu kamar itu.


Yuga tersenyum melihat Sesa yang sedang merapikan baju yang Yuga bawa ke dalam lemari. Yuga mendudukkan dirinya ke ranjang, karena kondisinya yang masih lemah membuatnya tak kuat berdiri terlalu lama.


"Mas Yuga istirahat aja dulu. Nanti Sesa bangunkan kalau makanannya sudah Siap"


"Iya sayang" Ucap Yuga lirih, bukan berpura-pura lemah untuk menarik perhatian Sesa tapi tubuhnya saat ini memang masih terasa lemah. Andai bisa memilih yuga juga tidak ingin terlihat lemah di depan istrinya. Karena sebagai seorang suami ia harus bisa melindungi Sesa. Tapi kali ini tubuhnya sedang tidak bisa berkompromi.


-


Sudah satu jam lebih berlalu, Sesa baru saja menyelesaikan masakannya yang di bantu Mbok Lasmi. Sesa merasa puas dengan berbagai masakan kesukaan Yuga. Entah mengapa Sesa memasak begitu banyak menu dan semuanya adalah kesukaan suaminya.


"Saya panggil Mas Yuga dulu ya Mbok"


Sesa masuk ke dalam kamarnya langsung melihat suaminya yang tidur dengan posisi terlentang. Dengan satu lengan yang menutupi wajahnya.


"Mas bangun, kita makan yuk" Panggil Sesa.


"Mas!!" Yuga masih dian tak menyahut.


Sesa duduk di sebelah suaminya yang sedang memejamkan mata itu. Menatap lekat wajah tampan yang bibirnya masih terlihat sedikit pucat. Sesa akui suaminya itu masih sangat tampan dalam kondisi apapun.


"Mas tau kalau mas ini tampan sayang" Gumam Yuga yang membuat Sesa tersentak lalu membuang pandangannya.


"Iseng banget sih!!" Gerutu Sesa ingin meninggalkan Yuga. Tapi lagi-lagi Yuga menahannya hingga badan Sesa limbung dan jatuh ke pelukan Yuga yang masih dalam posisi berbaring. Yuga tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Justru Yuga malah semakin menarik tubuh Sesa ke dalam pelukannya, walau mendapat penolakan dari Sesa.


"Lepas Mas!! Apaan sih, kita harus makan siang. Lepas!!" Yuga tak mengindahkan Sesa yang terus memberontak.


"Biarkan seperti ini sebentar saja. Mas sangat merindukan kamu sayang" Yuga mencium pucuk kepala Sesa lembut.


Yuga tersenyum karena Sesa berhenti memberontak. Sesa juga sepertinya mulai menikmati momen ini. Mereka berdua diam tapi jantung mereka saling beradu, menentukan siapa yang paling kuat berdetak.

__ADS_1


"Ini sangat nyaman sayang, hangat" Bisik Yuga di telinga Sesa. Sesa mendongak dan tatapan penuh kerinduan mereka pun bertemu


Tanpa mereka sadari dan entah siapa yang memulai. Bibir keduanya udah bertautan, menyesap dan saling *******. Seakan melepaskan kerinduan mereka masing-masing.


Yuga melepaskan tautan itu setelah melihat istrinya kehabisan napas. Yuga menyatukan kening mereka sambil memasok oksigen ke dalam paru-parunya yang sempat habis.


"Kita harus makan siang Mas" Ucap Sesa yang merasa malu dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Pipinya merah seperti tomat. Sesa merasa malu karena mudah sekali terjatuh dalam pesona suaminya. Dan hal itu terulang lagi, lagi dan lagi.


"Mas mau makan asal kamu suapi seperti biasanya" Bisik Yuga yang wajahnya masih begitu dekat dengan Sesa.


Sesa mengangguk patuh tanpa penolakan sama sekai. Sehebat itukah pesona Yuga di mata Sesa, hingga membuat Sesa seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.


Yuga dengan lahap makan dari suapan Sesa. Bahkan Yuga mencicipi semua lauk yang di buat Sesa khusus untuknya.


"Mas mau tambah sayang" Ucap Yuga yang membuat Sesa kaget karena ini adalah piring ke dua.


"Mas serius?" Sesa tak percaya perut suaminya mampu menampung tiga piring nasi.


"Mas kan lama ngga merasakan makan enak seperti ini sayang. Berat badan Mas saja berkurang, biarkan Mas memulai proses penggemukan lagi dong sayang" Ucap Yuga manja.


"Ih geli tau lihat Mas Yuga kaya gini. Biasanya juga kaya kulkas lima pintu. Dingin!!" Cibir Sesa kali ini ia dengan berani di depan Yuga langsung.


"Dingin tapi kamu suka kan?" Yuga menatap manik mata Sesa yang mulai bergerak ke sembarang arah.


"Apaan sih Mas!!" Sesa beranjak dari kursinya memilih mencuci tangannya di wastafel, tidak jadi menyuapi suaminya lagi.


"Sayang jawab dulu pertanyaan Mas!" Sesa tak menggubris malah meninggalkan Yuga begitu saja menuju kamarnya.


"Sayang tunggu Mas, Mas butuh jawaban kamu!!" Yuga meneguk air putih di depannya sebelum berlari mengejar istrinya ke kamar.


-


-


-


Happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2