
Kemarin Sesa sudah kembali ke apartemen Yuga. Tapi hari ini Sesa belum berangkat ke cafenya. Rasanya masih malas untuk beraktivitas, lagipula sudah beberapa hari apartemen ini ditinggalkan jadi perlu untuk dibersihkan. Kemarin Yuga sempat menawarkan untuk memanggil salah satu pelayan dari rumah tapi Sesa menolak, ia ingin merapikan semuanya sendiri.
Saat ini kondisi apartemen sudah bersih dan rapi. Makan malam juga sudah siap hanya tinggal menunggu Yuga pulang kerja. Yuga memang sudah berangkat kerja sejak beberapa hari yang lalu. Jadwal Yuga yang sangat sibuk tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya.
Ceklekk... Pip..
Sesa beranjak menyambut suaminya. Sesa mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Yuga dan sudah beberapa hari ini mendapat sambutan yang baik dari Yuga.
Sesa baru sadar jika Yuga sudah tidak mengenakan arm sling lagi. Tangan kanannya sudah bebas menggantung pada tempatnya.
"Loh mas kok sudah di lepas?" Tanya Sesa.
Yuga berjalan mendekati sofa lalu duduk di sana, tangan kirinya melepaskan dua kancing kemeja bagian atas.
"Iya tadi ke dokter dulu" jawab Yuga dengan datar tapi tidak sedingin dulu. Yuga yang sekarang sudah bisa di ajak berbicara dengan baik.
"Kenapa Mas Yuga ngga ajak Sesa lagi?" Raut wajah Sesa berubah sendu.
"Aku tau kamu pasti lelah, jadi aku mampir sepulang dari kantor" jawab Yuga lagi lalu pergi menuju kamar untuk membersihkan dirinya.
Sesa yang mengerti langsung mengikuti Yuga untuk menyiapkan baju gantinya.
-
Sesa dengan telaten mengambilkan makan malam untuk suaminya. Sesa senang masakan apapun yang ia buat bisa masuk ke perut Yuga. Yuga tidak pernah protes mengenai menu dan rasa. Dia hanya diam dan mengabiskan makanan yang telah di siapkan oleh Sesa.
Sesa melirik suaminya yang masih fokus menyendok nasi ke dalam mulutnya.
"Mas besok Sesa sudah mulai ke cafe ya?" Sesa memulai membuka suaranya, suara Sesa membuat Yuga menghentikan tangannya yang menggerakkan sendok kemudian menatap Sesa.
"Kamu Yakin?" Tanya Yuga dengan wajahnya yang datar.
"Iya, karena di rumah sudah tidak ada pekerjaan lagi, pasti besok bosan banget" Sesa masih menatap suaminya.
"Baiklah" Yuga kembali fokus ke piringnya.
"Tapi boleh tidak kalau..."
"Iya, besok aku antar kamu dulu" Yuga berkata tanpa melihat ke arah Sesa. Sementara Sesa sedikit kaget karena Yuga bisa tau apa yang ingin ia ucapkan. Tapi Sesa kemudian diam-diam tersenyum senang.
***
"Terimakasih ya Mas, udah mau antar Sesa" Ucap Sesa dengan suaranya yang lembut seperti biasanya.
"Iya" Jawab Yuga singkat. Mulai hari ini Yuga sudah tidak di jemput Doni lagi karena Yuga merasa sudah mampu mengendarai mobil sendiri.
"Sesa masuk dulu, Mas Yuga hati-hati ya. Pelan-pelan saja kalau tangannya masih sakit" Ucap Sesa kemudian mencium tangan suaminya yang sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Entah kenapa Yuga sama sekali tidak keberatan dan malah merasa dihormati sebagai seorang suami.
***
Setelah beberapa hari Sesa tidak datang ke cafe membuat hari ini begitu banyak hal yang harus ia periksa. Karena pekerjaannya yang menumpuk membuat waktu begitu terasa cepat.
"Mba,ada yang mencari Mba Sesa katanya teman lama" Ucap Dewi.
"Siapa ya?" Sesa merasa heran, siapa teman lama yang datang mencarinya.
"Nggak tau mba, cowok orangnya rapih. Kayanya seumuran suami mba Sesa" Dewi sedikit menggambarkan apa yang dilihatnya.
"Ya sudah saya ke depan dulu" Ucap Sesa.
"Iya Mba, orangnya ada di meja pojok nomor 6" Ucap Dewi Sebelum Sesa keluar dari ruangannya.
"Permisi" Sesa menyapa seorang pria yang memunggunginya, berkemeja biru langit dengan rambutnya di sisir rapi dan klimis.
__ADS_1
"Sesa"Ucap pria itu.
"Dokter?" Sesa mengerutkan keningnya.
"Bukanya pria ini dokternya Mas Yuga, kenapa bilang teman lama ku?" Sesa bertanya tanya dalam hati.
"Hay, kamu lupa sama aku?" Ucap dokter itu tersenyum menatap Sesa.
"Haahh??" Sesa semakin bingung.
"Aku Vino, Vino yang sering temenin kamu saat liburan di jogja dulu. Kamu ngga ingat?" Vino memasang ekspresi tak percaya.
"Ya Allah Vino" Sesa terbelalak lala duduk di depan Vino.
"Aduh maaf aku beneran lupa, bukan lupa
sih tapi pangling lihat kamu yang sekarang" Sesa tersenyum senang karena bertemu teman lamanya dulu.
"Kenapa? Aku tambah ganteng kan?" Ucap Vino dengan senyuman menggoda.
"Ih kamu pede banget sih" meraka berdua tertawa bersama.
"Oh iya kamu mau minum apa? Semua gratis buat kamu?"
"Terserah kamu saja" Jawab Vino.
"Oke sebentar ya" Sesa beranjak menghampiri karyawannya yang seorang barista untuk memesankan minuman Vino.
"Sebentar ya, nanti di antar kesini. Btw maaf ya waktu di rumah sakit aku ngga ngenalin kamu" Ucap Sesa merasa bersalah.
"Gapapa kok aku paham karena kita udah lama banget ngga ketemu, dan aku juga ngga nyangka kalau kamu sudah menikah" Ucap Vino tersenyum lembut menatap Sesa.
"Hemm iya Vin" Sesa tersenyum canggung.
"Makasih Lina" Sesa tersenyum pada Lina.
Lina hanya mengangguk kemudian meninggalkan Sesa dan temannya.
"Silahkan diminum, ini kopi enak banget, best seller di cafe ini" Ucap Sesa dengan bangga.
"Masa sih, aku coba ya?" Ucap Vino mulai menikmati minumannya.
"Gimana?" Tanya Sesa dengan wajah penasaran menunggu jawaban Vino.
"Ini juara banget, pantas banyak yang suka" Vino kembali menyeruput kopinya.
"Waaahhh makasih loh pujiannya" Sesa tersenyum senang karena bertambah lagi orang yang memuji hasil racikannya.
"Oh ya, nanti kamu udah mau pulang belum?"
"Sudah" Jawab seseorang dengan suara berat dan dingin.
Sesa menoleh ke belakang memastikan bahwa yang ia dengar adalah suara suaminya.
"Mas Yuga?" Sesa terkejut karena suaminya bisa ada di sini sekarang.
Yuga duduk di samping Sesa persis di depan Vino.
"Pak Yuga" Vino menganggukkan kepalanya menyapa Yuga.
"Dokter Vino ternyata kenal dengan istri saya. Pantas saja waktu di rumah sakit sudah tau nama istri saya" Ujar Yuga to the point.
"Oh itu, sebenarnya Bu Sesa itu teman kecil saya waktu di jogja dulu Pak" Vino menjelaskan kepada Yuga.
__ADS_1
"Begitukah?" Kini Yuga menatap istrinya.
"Iy iya Mas Yuga" Sesa gugup karena Yuga menatapnya dengan tajam.
"Kalau gitu saya sama istri saya pulang dulu dokter, silahkan lanjutkan tidak usah buru-buru" Yuga tersenyum kaku kepada Vino.
"Ayo kita pulang" Yuga meraih tangan Sesa ke dalam genggamannya kemudian membawa Sesa masuk untuk mengambil barang-barangnya.
"Kalian dekat banget kayaknya, sampai kamu sebahagia itu ketemu sama dia" Ucap Yuga setelah sampai di ruangan Sesa.
"Kita ngga sedekat itu kok Mas, aku senang karena sudah lama banget baru ketemu sekarang" Jelas Sesa.
"Udah belum? ayo pulang" Yuga mengalihkan pembicaraan. Dia yang memulai dia yang menghindar.
"Sudah Mas, ayo" Sesa mengikuti Yuga keluar dari ruangan Sesa.
"Mas kita makan diluar yuk?" Sesa menghentikan langkah Yuga yang beberapa langkah lagi sampai di mobilnya.
"Tumben" Jawab Yuga cuek.
Yuga memasuki bagian kemudi kemudian Sesa disampingnya.
"Lagi pingin aja, ya Mas?" Sesa memohon kepada suaminya.
"Hemmm" Yuga hanya bergumam.
"Asiikkkk" Sesa bereaksi seperti anak kecil mendapatkan balon. Yuga tersenyum tipis melihat Sesa yang bisa juga bersikap menggemaskan seperti itu. Biasanya terlihat kalem dan lembut tapi kali ini berbeda.
"Mau makan di mana?" Tanya Yuga.
"Nanti Sesa tujukan jalannya" Ucap Sesa semangat.
Yuga menjalankan mobilnya sesuai petunjuk dari Sesa. Tak butuh waktu lama dari cafe Sesa, dan searah dengan jalan pulang.
"Yakin mau maka makan disini?" Ucap Yuga tak yakin karena Sesa memilih tempat makan lesehan di pinggir jalan.
"Iya dong Mas, makanan disini enak kok. Dan Mas Yuga ngga usah khawatir, ini bersih kok" ucap Sesa.
Yuga memarkirkan mobilnya di seberang jalan kaena memang pengunjung sangat ramai sehingga membuat tempat parkir penuh.
Sesa yang sangat antusias berjalan ingin menyeberangi jalan begitu saja tanpa melihat kiri kanan.
"Awas" Yuga menarik tangan Sesa karena hampir saja ada motor yang menyenggol Sesa.
"Ceroboh banget sih!!" Yuga menekan kalimatnya menahan kesalnya karena Sesa yang tidak hati-hati saat akan menyeberang.
Sesa hanya diam saja karena masih syok. Untung saja Yuga cepat datang jika tidak, Sesa pasti sudah terkapar di jalan berlumuran darah.
"Huffttt galak baget sih" Batin Sesa.
"Tidak udah menggerutu, punya istri kok hobinya menggerutu" Ucap Yuga menarik tangan Sesa menyeberang jalan.
Sesa heran kenapa lagi-lagi Yuga bisa menebak pikiran Sesa.
-
-
Satu epidode untuk hari ini buat readers tercinta😘
semoga kalian suka ya😉
Jangan lupa tinggalkan jejakmu😘
__ADS_1