Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
cinta mati


__ADS_3

"Jangan" Della menahan pergelangan tangan Yuga.


"Jangan tinggalkan aku Yuga, aku mohon" Della mulai mengeluarkan air matanya.


Yuga menatap Sesa yang juga sedang menatapnya. Tatapan Sesa yang sendu terlihat di mata Yuga. Namun Sedetik kemudian bibir Sesa membentuk sebuah senyuman.


"Gapapa Mas. Sesa akan pulang sendiri" Sesa belum melepaskan senyuman pedihnya.


"Tapi Sa.."


"Yuga aku mohon, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku butuh kamu" Della menyela ucapan Yuga.


"Baiklah" Yuga akhirnya menyetujui permintaan Della. Tapi hati Yuga terasa berat membiarkan Sesa pulang sendiri saat hari sudah malam begini


"Aku antar Sesa ke depan dulu" Ucap Yuga kepada Della, lalu menarik tangan Sesa meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggalnya Yuga dan Sesa, Della tersenyum miring menggerakkan kakinya yang terasa kebas karena tidak bergerak dari tadi.


"Aahhh pegel banget kaki gue, pura-pura sakit capek juga ternyata. Untung aja aksi nekat gue ngga berujung maut. Masih untung hanya luka kaya gini" Della meraba wajahnya yang lebam.


"Gue ngga akan pernah menyerah untuk dapetin Yuga kembali menjadi milik gue. Gue udah bertindak sejauh ini, jadi kali ini harus berhasil" Ucap Della tersenyum licik.


-


Sesa melepaskan genggaman tangan Yuga dari tangannya.


"Mas Yuga antar Sesa sampai sini saja" Ucap Sesa saat masih di loby rumah sakit.


"Tidak, aku tunggu kamu sampai dapat taksi" Ucap Yuga kekeh.


"Kasihan Della jika Mas Yuga terlalu lama pergi. Sesa pulang dulu" Sesa mencium tangan Yuga lala berjalan dengan cepat menjauh dari Yuga sebelum suaminya itu memprotes tindakannya.


"Seaa!!" Teriak Yuga sedikit geram karena istrinya pergi begitu saja.


Namun Sesa tidak peduli dengan Yuga yang terus memanggilnya. Sesa terus saja menjauh dari sana. Sesa berlari bersamaan dengan derasnya hujan yang mengguyur kota jakarta.


"Maya!!" Sesa heran kenapa Maya masih duduk sendirian di halte.


"Kenapa masih disini?" lanjut Sesa sambil mengibaskan bajunya yang basah.


"Sa, kok loe pulang sendirian? Jangan bilang kalau Yuga..." Maya menatap Sesa curiga.


Sesa mengangguk.


"Mereka tuh ya bener-bener deh!" Ucap Maya berkacak pinggang.


"Sudahlah Maya biarkan saja" Sesa mengajak Maya untuk duduk di bangku halte. Derasnya hujan membuat air yang terbawa angin sedikit membasahi tubuh Maya dan Sesa.


"Tapi loe ngga bisa gini terus dong Sa. Loe butuh kepastian kalau si Yuga pingin balikan lagi sama Della lebih baik loe yang pergi aja deh. Biar tau rasa tuh laki ngga punya otak!!" Maya mula mengeluarkan kata-kata kasarnya.

__ADS_1


"Belum saatnya May" Ucap Sesa tersenyum kaku.


"Mau sampai kapan hah? Gue tau loe cinta mati sama laki loe itu. Tapi coba loe pikir pakai otak Sa, jangan pakai perasaan loe yang lemah itu!! Jangan bodoh jadi wanita Sa. Gue mohon, jangan sakiti diri loe sendiri. Sudah waktunya loe pikirin kebahagiaan loe sendiri" Maya tak habis pikir kenapa Sesa begitu sabar selama ini. Cinta memang bisa membutakan sahabatnya itu.


"Maya, aku tau dan aku juga sudah memikirkannya. Jika sudah waktunya nanti dan kebahagiaan tidak berpihak padaku, apa kamu mau membantuku lepas dari semua ini?" Tanya Sesa dengan suara yang bergetar.


"Apapun akan gue lakukan untuk loe Sa. Percaya sama gue!" Maya menatap lembut perempuan yang sedang rapuh dihadapannya.


"Terimakasih Maya, terimakasih selalu ada untukku" Sesa memeluk sahabatnya itu. Menumpahkan segala kesedihannya. Suara tangisannya yang pilu tersamar oleh suara hujan. Seakan langit pun ikut merasakan kesedihan Sesa.


"Oh iya, kamu belum jawab pertanyaan ku. kenapa kamu dari tadi masih di sini?" Sesa melepas pelukannya setelah beberapa saat.


"Gue juga mau pulang dari tadi, tapi ngga dapet taksi. Mau naik ojek tapi rok gue terlalu pendek, malu gue" Jelas Maya.


Tin..


Mereka berdua melihat mobil yang berhenti di depan halte. Sebenarnya Maya tau betul pemilik mobil itu. Mobil itu milik seseorang yang sudah beberapa hari ini menghindarinya. Sesa menjadi gugup tak karuan. Bayu, mobil itu milik Bayu.


Bayu turun dari kemudinya membuka payung lalu berjalan menghampiri Maya. Wajahnya tidak berubah sejak pulang dari acara di luar kota, datar dan dingin.


"Mari saya antar, saya tau saat hujan begini sudah dapat taksi" Ucap Bayu dingin.


"Enggak usah Pak Bayu kita bisa tunggu taksi sampai dapat kok" Maya menolak canggung tawaran Bayu.


"Mau nganter kok kaya gitu. Kalau ngga niat mendingan ngga usah" Gerutu Maya dalam hati.


"Saya tau kamu sedang memaki saya dalam hati" Suara bayu membuat Maya terbelalak. Bagaimana bisa Bayu membaca pikiran Maya.


"Apaan sih Sa" Maya berbisik kepada Sesa.


"Enggak kok Pak saya baru saja disini. Dan ini pasti sebentar lagi dapat" Maya mencoba membuka aplikasi pemesan taksi online lagi.


"Sudahlah tidak usah banyak alasan. Ini sudah malam dan baju kalian juga basah. Mau sampai kapan menunggu disini. Lebih baik kalian ikut saya" Bayu masih dengan mode dinginnya.


"Tidak us.." Ucapan Maya di potong begitu saja oleh Sesa.


"Mari Pak, saya juga sudah kedinginan. Sebelumnya terimakasih untuk tumpangannya" Sesa menarik Maya masuk ke dalam mobil Bayu begitu saja.


Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Sesa dan Maya duduk di kursi belakang. Bayu benar- benar seperti sopir taksi bagi mereka berdua.


"Maaf, saya harus mengantar mba kemana?" Tanya Bayu kepada Sesa. Bayu belum tau nama teman Maya itu.


"Sesa, panggil saja saya Sesa. Saya tinggal di apartemen X. Pak Bayu bisa antar saya ke sana. Terimakasih banyak atas bantuan Pak Bayu kepada saya dan Maya" Ucap Sesa dengan sopan.


"Jangan sungkan, Sesa" Sura Bayu terlhat berbeda dibandingkan saat berbicara dengan Maya tadi.


Setelah Bayu menurunkan Sesa di loby apartemennya kini tinggal mereka berdua, Bayu dan Maya yang di landa keheningan. Tak ada satupun diantara mereka yang mau membuka mulutnya.


Dalan hati Maya hanya berdoa semoga kawasan apartemennya tidak banjir. Sehingga bisa capat terbebas dari suasana seperti ini.

__ADS_1


Bayu benar-benar bungkam seribu bahasa. Bayu yang selalu berisik menurut Maya kini hilang bak di telan bumi.


"Pak Bayu, terimakasih sebelumnya karena sudah mau mengantar saya" Ucap Maya dengan canggung. Maya yang biasanya mencaci Bayu kini berbicara dengan lembut.


"Hemmm" Jawab Bayu menatap lurus jalanan di depannya.


Hati Maya tercubit mendengar jawaban seperti itu dari Bayu.


"Kenapa saat Bayu benar- benar menjauh dariku hatiku semain tidak rela. Kenapa dengan hatiku ini?" Batin Maya. Tak terasa satu bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat Maya mengusapnya tak ingin Bayu melihatnya menangis.


***


Sementara itu di ruangan rumah sakit Della sedang memperhatikan Yuga yang dari tadi memandangi ponselnya saja.


"Yugaa" Lirih Della. Membuat Yuga mengalihkan pandangannya.


" Ada apa?" Tanya Della.


"Kenapa kamu terlihat gelisah. Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Della dengan suara lemahnya.


"Tidak ada" Jawab Yuga dingin.


Della merasa kecewa dengan Yuga. Ia merasa hanya tubuh Yuga yang berada di sana menemaninya namun hati dan pikirannya tidak demikian. Della mencengkeram kuat selimutnya menahan rasa marahnya.


"Aku tau kamu pasti memikirkan Sesa. Lihat saja aku pasti akan membuat kamu menyadari bahwa dalam hatimu hanya ada aku, Della" Ucap Della dalam hatinya.


Yuga yang sejak tadi menunggu kabar dari Sesa semakin tak tenang saat hujan di luar sana tak kunjung berhenti. Yuga berat untuk membiarkan Sesa pulang sendirian tapi Yuga juga berat meninggalkan Della yang lemah tanpa siapapun di rumah sakit.


"Aku keluar sebentar" Ucap Yuga mengusap pelan tangan Della.


"Mau kemana?" Della seakan tak rela walau hanya ditinggal sebentar oleh Yuga.


"Hanya beli kopi" Yuga tersenyum menatap Della.


Akhirnya Della membiarkan Yuga pergi menghilang di balik pintu.


"Sesa kemana kamu? Kenapa ponselmu susah sekali di hubungi?" Yuga gusar karena Sesa tidak dapat di hubungi. Sementara Yuga yang tadi sudah memantau rekaman cctv di rumahnya dari ponsel belum menunjukkan jika Sesa sudah berada di apartemen.


"Sesa maafkan aku yang masih ragu dengan perasaanku padamu. Kembalinya Della saat ini juga membuatku semakin bingung. Bantu aku untuk meyakinkan perasaanku Sa. Bantu aku untuk meyakinkan hatiku ini bahwa sebenarnya sudah terisi namamu di dalamnya" Ucap Yuga menatap foto Sesa yang diambilnya secara diam-diam saat Sesa sedang menyiram tanaman hias di balkon apartemennya. Wajahnya terkena sinar matahari di sore hari yang berwarna jingga serta sedikit anak rambut yang berada di pipinya membuat Sesa tampak sangat cantik di foto itu.


"Maafkan aku yang belum memberimu kepastian Sa, aku mohon bersabarlah sebentar lagi" Ucap Yuga mengusap foto Sesa dengan ibu jarinya.


-


-


Wah sebenarnya apa yang di rencanakan Della ya?


Dan bantuan apa yang Sesa inginkan dari Maya??

__ADS_1


ikuti terus kisah cinta mereka readers, jangan samapi ketinggalan dan jangan lupa tinggalkan jejakmu😘


__ADS_2