
Tangan Yuga meraih cincin yang berada di atas nakas. Cincin yang amat di kenalnya, cincin yang berpasangan dengan cincin yang berada di jari manis Yuga. Mata Yuga beralih pada kertas dengan coretan tangan sebagai alas dari cincin berlian indah itu. Tangannya bergetar saat kertas itu sudah berada di tangannya. Mata Yuga sudah memerah walau belum membaca tulisan di dalamnya.
Teruntuk suamiku, Mas Yuga.
Maafkan Aku karena hanya sanggup berpamitan melalui surat ini. Jika Mas Yuga membaca surat ini berarti saat ini Aku sudah pergi jauh dari kehidupan Mas Yuga.
Mas, pernikahan kita terjadi kerena perjodohan yang dilakukan kakek kita. Namun seiring berjalannya waktu kita mulai menerima dan menjalani pernikahan ini walau tanpa adanya cinta. Lalu di saat Mas Yuga mulai menyatakan cinta, betapa senangnya hatiku karena pernikahan ini sudah mempunyai tujuan yang jelas.
Hingga cinta lama mu hadir kembali di tengah-tengah kita yang sedang memulai membangun rumah tangga kita. Di saat itulah Aku sadar jika cinta mu bukanlah untukku. Cintamu masih terpaut pada masa lalu mu. Walaupun kata cinta sudah terucap untukku tapi ruang hatimu masih dipenuhi olehnya.
Aku tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan kalian. Maka dari itu Aku kembalikan semuanya seperti semula. Seperti sebelumya, di saat kita hanya sebatas tau tanpa mengenal.
Terimakasih karena Mas Yuga sudah hadir di dalam hidupku walau hanya beberapa bulan saja. Terimakasih sudah membuatku bahagia walau hanya sekejap. Semoga setelah ini Mas Yuga bisa meraih kebahagiaan yang dulu sempat terhalang oleh kehadiranku. Kejarlah kebahagiaanmu Mas, Aku akan selalu berdoa untukmu.
Oh ya,Aku sudah meminta Pak Arif mengurus perceraian kita, jadi untuk kedepannya Mas Yuga bisa menghubungi Pak Arif menyangkut hal itu.
Dan satu hal lagi, Aku pergi bukan untuk bersembunyi. Karena kemanapun aku pergi, akan mudah bagimu untuk menemukanku dengan kekuasaan yang Mas Yuga miliki. Aku hanya pergi untuk mencari kebahagiaanku sendiri. Karena sudah tidak ada lagi sumber kebahagiaanku yang tersisa di sini.
Selamat tinggal Mas, semoga Mas Yuga selalu di selimuti dengan kebahagiaan.
Dari istrimu, Sesa putri.
Kertas yang semula kering kini sudah basah karena air mata yuga yang menetes tanpa henti. Tangisan pilu dari seorang Yuga hanan wiratama yang baru kali ini terdengar. Tubuh tegapnya luruh ke lantai. Meremas surat peninggalan Sesa. Yuga hancur saat ini.
"Sa, kamu salah sayang. Kamu salah besar!!" Ucap Yuga di sela tangisnya.
"Kamulah kebahagiaanku, kamu bukan penghalang Sayang. Maafkan Mas yang membuatmu salah paham" Air mata Yuga tidak mau berhenti karena menangisi kebodohannya.
"AKKKHHHHH..." Yuga berteriak frustasi.
Ketakutannya selama jauh kini membuahkan hasil. Nyatanya kini Sesa pergi meninggalkannya. Wanita yang pernah ia sia-siakan kini kembali pergi saat Yuga mulai merasakan kebahagiaan yang tiada tara saat bersama wanita itu.
"Sayang, Mas mohon kembalilah. Mas tidak sanggup jika kamu meninggalkan Mas. Mas sangat mencintaimu sayang" Yuga menggenggam cincin Sesa dengan erat lalu memeluknya.
Yuga mengusap kasar air matanya, menarik napas dalam untuk meredakan tangisnya. Lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Doni.
Doni yang selalu siap kapan pun Yuga membutuhkannya langsung mengangkat panggilan telepon dari Yuga.
"Don, lacak keberadaan Sesa sekarang juga. Dia pergi dari rumah!!" Perintah Yuga.
"Pergi? Bukannya sudah..."
"Cepat lakukan sekarang juga!!" Ucap Yuga sedikit berteriak.
"Baik bos sebentar" Doni memutuskan teleponnya.
__ADS_1
Yuga yang sudah tidak sabar lagi milih pergi terlebih dahulu sambil menunggu kabar dari Doni.
Hanya satu yang terlintas dipikirannya saat ini, yaitu rumah kedua orang tua Sesa. Mungkin saja Sesa kembali ke sana.
Yuga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tak peduli lagi dengan keselamatannya. Hanya satu tujuannya, yaitu menemukan istrinya kembali.
Drett drettt..
"Dimana?" Tanya Yuga tanpa basa basi.
"Ponselnya terlacak di cafe bos"
Tut..
Yuga langsung memutar mobilnya hingga berputar 180° seperti di dalam film. Mobilnya melesat kencang menuju cafe seperti yang Doni kabarkan baru saja jika Sesa di sana.
-
Yuga memasuki cafe dengan tergesa, bahkan tak peduli jika banyak mata yang menatap ke arahnya.
"Dimana Sesa?" Yuga bertanya pada Lina.
"Mbak Sesa tidak di sini Pak" Jawab Lina sedikit takut melihat sorot mata Yuga.
"Jangan bohong!" Desis Yuga sudah tersulut emosi.
"Dimana istri saya?"
"Mbak Sesa tidak datang ke cafe hari ini Pak" Ucap Dewi setenang mungkin.
"Awas kalau kalian berani berbohong!!" Yuga pergi ke belakang menuju ruangan Sesa. Ia ingin memastikan sendiri bahwa Sesa memang benar tidak ada di sana.
"Sesa!!" Yuga berteriak saat pintu sudah terbuka. Kosong, tidak ada siapapun didalamnya. Yuga membuka kamar yang berada di balik rak buku. Sama, hal yang sama di dalam sana yaitu kosong. Yuga mengusap wajahnya kasar.
"Kemana kamu sayang? Aku hancur tanpamu" Air mata Yuga jatuh kembali mengingat senyum manis yang selalu Sesa berikan kepadanya.
Yuga keluar dari kamar Sesa, ia tidak ingin berhenti mencari Sesa begitu saja. Masih ada tempat yang kemungkinan di sambangi oleh istrinya itu.
Saat Yuga melangkahkan kakinya menuju pintu, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Iya teringat sebuah foto dengan tulisan di belakangnya. Beberapa bulan yang lalu Yuga sempat ingin melihatnya namun Sesa berusaha mencegahnya.
"Apa ada pria lain yang kamu cintai sehingga kamu pergi meninggalkanku Sa? Sudah berapa kali kalimat cinta yang ku ucapkan tapi aku tidak pernah mendengarnya darimu Sa. Apa kamu tidak mencintai ku?" Yuga mendekati meja kerja Sesa yang menyimpan jawaban dari segala dugaan Yuga.
Dengan ragu Yuga membuka laci itu, sebenarnya Yuga tidak yakin kalau foto itu masih tersimpan di sana. Tapi saat laci itu terbuka yang pertama kali ia lihat adalah sebuah amplop yang bertuliskan rumah sakit Sejahtera. Yuga mengerutkan keningnya karena tertera nama Sesa di depan amplopnya.
"Sesa sakit apa?" Yuga membuka amplop yang sudah berada di tangannya. Membaca kata demi kata istilah medis yang Yuga tidak tahu artinya. Hingga tiba di bagian bawah tertulis sebuah kalimat yang membuat hati Yuga semakin remuk hingga tetesan air mata meluruh di atas pipinya tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Kamu hamil Sa? Kamu pergi membawa serta anak kita? Kenapa kalian tega? Kenapa kamu meninggalkan papa bersama mamamu nak?" Yuga meraung di ruangan itu, lengkap sudah penderitaan yang baru saja ia mulai.
Yuga masih terus memandangi hasil laboratorium itu. Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Antara bahagia dan sedih menjadi satu, tentu saja ia bahagia sekali akan menjadi seorang ayah namun kebahagiaan itu harus di iringi dengan kesedihan karena ditinggalkan oleh istri dan calon anaknya.
Yuga melirik ke dalam laci lagi, kejutan apa lagi yang akan Yuga dapatkan saat melihat ponsel Sesa yang ternyata di tinggal di dalam laci itu. Sesa sengaja tidak membawanya. Agar tidak terlacak oleh Doni.
Yuga mengaktifkan ponsel itu. Banyak notifikasi masuk setelah ponsel itu berhasil menyala. Termasuk puluhan pesan darinya. Yuga membuka aplikasi pesan berwarna hijau. Banyak pesan yang masuk dam belum terbaca. Yuga membuka satu persatu siapa tau menemukan petunjuk tentang keberadaan Sesa. Yuga terus menscroll ke bawah hingga nama menemukan pesan dari Della. Yuga membuka pesan itu tanpa ragu.
Tangan Yuga mengepal kuat, rahangnya mengeras saat melihat berbagai pesan yang Della kirimkan untuk Sesa. Kini Yuga tau apa penyebab Sesa mengabaikannya beberapa hari yang lalu. Apalagi Yuga ingat betul kapan Sesa mulai menghindarinya, yaitu tepat saat Della mengirim foto Yuga yang sedang tertidur dengan menggenggam tangan Della.
"S*alan kamu Della!! Kenapa aku bisa sebodoh ini!!" Yuga mengumpat dan merutuki dirinya sendiri.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!!" Yuga menunjukkan sisi bengisnya.
Satu lagi yang belum Yuga ambil dari laci itu. Yaitu tujuan utamanya sebelum ia menemuka dua hal yang baru saja membuatnya sangat terkejut.
Kali ini Yuga sedikit ragu mengambil foto yang posisinya masih sama saat ia pertama kali melihatnya, yaitu terbalik. Tulisan di belakang foto itu yang sangat membuat Yuga penasaran.
"My first love"
Tulisan tangan yang cukup cantik tapi sudah sedikit pudar. Yuga merasakan sedikit nyeri dihatinya karena istrinya itu masih menyimpan foto cinta pertamanya. Yuga membalik foto itu, bersiap dengan segala kemungkinan dia mengenal atau pernah bertemu dengan pria yang di cintai istrinya.
Yuga memejamkan mata dan memukuli dadanya setelah berhasil mengenali siapa pria itu. Hatinya semakin terasa sakit seperti tertusuk pedang yang sangat tajam.
Tentu saja Yuga sangat mengenal siapa pria yang menjadi cinta pertama Sesa. Karena pria itu adalah dirinya sendiri. Foto usang itu sudah lama sekali bahkan Yuga tidak ingat jika pernah mengambil foto itu. Apalagi bertemu dengan Sesa di pesta itu. Sungguh ia tidak tau sama sekali.
Yuga mengingat kembali saat dulu pertama kali ia bertemu dengan Sesa sebagai kekasih Della. Dari dulu memang Sesa seperti gadis pendiam di hadapannya. Gadis yang selalu menundukkan kepalanya saat berhadapan dengannya. Tidak pernah menyapa Yuga seperti Maya. Sesa hanya gadis yang aneh di mata Yuga.
"Ternyata semua itu ada alasannya Sa? Kenapa kamu menyembunyikan rahasia selama itu? Seperti apa rasa sakit hatimu saat dulu aku bersama Della Sa? Bahkan aku tidak sanggup untuk membayangkan rasa sakitnya" Yuga menangis hingga sesenggukan.
Tiga hal yang sangat mengejutkan ditemukan Yuga di waktu yang bersamaan. Dari kehamilan istrinya, penyebab kepergian istrinya hingga rahasia Sesa yang selam ini tertutup rapat, yaitu bahwa dirinya adalah cinta pertama Sesa.
"Apa cintamu masih sama hingga saat ini sayang?" Yuga menerawang jauh dengan mata yang masih basah dengan air mata.
"Semua ini karena rencana bodoh Doni!!" Urat Muka Yuga berubah mengeras.
Yuga mengambil ponsel dari sakunya. ia terburu-buru mencari nomor ponsel Doni.
"Halo bos" Sahut Doni di seberang sana.
"Dimana kau brengsek!!"
-
-
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian untuk karya pertamaku😘
Jangan lupa selalu tinggalkan jejakmu😉