
"Terimakasih dokter" Ucap Sesa pada dokter yang telah memeriksa keadaan Yuga.
"Haaauuuuss" Lirih Yuga bahkan hampir tidak terdengar.
"Mas Yuga mau minum?" Tanya Sesa memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Yuga mengangguk lemah.
Sesa membuat posisi Yuga sedikit tegak, kemudian menuangkan air mineral ke dalam gelas. Yuga menerima gelas dari Sesa dengan tangan kirinya, karena tangan kananya yang tidak bisa digerakkan.
"Mas Yuga masih pusing?" Tanya Sesa setelah menerima gelas itu kembali.
"Sedikit" Jawab Yuga masih dengan suaranya yang pelan.
"Ya sudah, Sesa bantu berbaring lagi ya?"
" Hemmm" Yuga hanya menurut saja, karena sedang tidak ada tenaga untuk melawan.
"Mas, Sesa keluar dulu ya cari makan. Mas Yuga pasti lapar kan?" Sesa mengambil dompet dan ponsel dalam tasnya lalu berjalan ke arah pintu.
"Pak Doni titip Mas Yuga ya. Saya mau pergi cari makan buat Mas Yuga dulu" Ucap Sesa kepasa Doni yang ternyata masih menunggu di luar kamar.
"Biar saya saja yang cari makan mba" Ucap Doni.
"Tidak usah, Pak Doni pasti capek. Biar saya saja" Tolak Sesa halus kemudian pergi meninggalkan Doni yang masih terpana dengan sikap lembut Sesa.
Doni masuk ke dalam untuk melihat keadaan sahabatnya.
"Gue udah telepon om sama tante, sebentar lagi mereka pasti datang" Ucap Doni yang sempat lupa mengabari orang tua Yuga.
"Hemmm" Hanya itu jawaban Yuga.
"Kayanya yang luka tangan loe deh kenapa jadi suara loe yang hilang" Sindir Doni.
"Berisik" Umpat Yuga.
"Loe lihat Sesa kan? Masa loe ngga ada rasa sama dia. Udah cantik,lembut, baik ahh perfect banget pokoknya. Tulus banget ngurusin suami lucknut kaya loe. Kalo loe ngga mau bisa buat gue aja. Gue yakin dia masih segel kan?" Doni mencoba menggoda Yuga.
"Bisa diem ngga?" Mata Yuga sudah melotot.
"Bentar deh bos, kayaknya loe bisa kaya gini karena kena karma" Ucap Doni sedikit berbisik.
Yang
"Maksud loe?" Yuga mulai mendengarkan kata Doni.
"Iya kena karma. Tuhan itu marah karena istri loe nunggu di rumah loe malah kelayapan cari perempuan lain" Sebuah bantal melayang ke muka Doni, tapi dengan sigap Doni bisa menepisnya.
"Yuga sayang kenapa bisa kaya gini kamu nak?" Vani yang baru saja datang langsung panik melihat anak sulungnya terbaring di ranjang rumah sakit.
"Yuga gapapa ma" Yuga mencoba menenangkan mamanya.
"Gapapa gimana, tangan kamu saja pakai sling begini" Vani masih saja terlihat panik.
"Kata dokter ini cuma retak ma ngga patah, jadi nggak lama pasti sembuh"
"Sudahlah Vani, Yuga bukan anak kecil lagi. Mungkin juga itu karena perbuatanya sendiri" Ucap kakek Adi hanya diam tidak menghampiri Yuga.
__ADS_1
"Maksud Ayah?" Vani tidak mengerti ucapan mertuanya itu
Kakek Adi hanya mengedikan bahunya saja.
Namun Yuga bisa melihat tatapan mata kakek yang tidak bisa Yuga baca.
"kakek, mama, papa sudah lama sampainya?" Sesa masuk membawa beberapa kantong makanan.
"Baru saja Sa, kamu dari mana?" Tanya Vani.
"Sesa beli makanan untuk Mas Yuga ma. Mama mau makan sekalian, Sesa beli banyak kok" Sesa memperlihatkan beberapa kantong yang di bawanya.
"Mama sudah makan, kalian saja yang makan" Ucap Vani.
"Sa kita titip Yuga ya, kami harus pergi sekarang juga karena harus menghadiri pertemuan penting mewakili Yuga" Kini papa mertua Sesa yang berbicara.
"Iya pa, Sesa bisa kok jaga Mas Yuga sendiri" Ucap Sesa dengan senyum manisnya.
"Ya sudah, ayo kita pergi dulu" Ajak Surya kepada istri dan Ayahnya.
Sebelum keluar Adi mendekat ke arah Sesa dan Yuga.
"Sa, jaga suamimu ini. Jangan sampai dia keluyuran tidak jelas. Jangan kira kakek diam tapi kakek tidak tau, kakek pergi dulu. Cepatlah sembuh" Kakek adi menepuk kaki Yuga pelan.
"Iya kek" Jawab Sesa. Ia juga bingung kenapa kakek Adi berkata seperti itu. Tapi Sesa segera menepis semua pikiran itu karena teringat jika suaminya belum makan sama sekali.
"Mas Yuga makan ya, biar Sesa siapkan. Mas Yuga mau makan yang mana? Tanya Sesa.
Yuga sebenarnya juga lapar tapi bagaimana caranya dia makan saat tangannya tak bisa digerakkan seperti itu.
Sesa menyodorkan sendok ke arah mulut Yuga. Tapi Yuga masih diam tidak mau membuka mulutnya.
"Ya sudah silahkan Mas Yuga makan Sendiri" Sesa memberikan mangkuk berisi makanan berkuah itu keada Yuga.
"Makanan apa ini?" Tanya Yuga keheranan.
"Itu bubur kacang hijau. Biasanya kan kalau orang sakit suka ngga nafsu makan. Mungkin makan yang seger-seger gini bisa meningkatkan nafsu makan" Jelas Sesa.
"Perasaan aku sering makan bubur kacang hijau buatan mamanya tapi tidak seperti ini bentuknya" batin Yuga.
Yuga tidak protes lagi. Ia mulai mengarahkan sesendok bubur ke arah mulutnya menggunakan tangan kiri. Sesa hanya memperhatikan saja tanpa berniat membantunya.
Baru satu suap tapi tangan kiri Yuga tidak stabil karena terpasang jarum infus di tangan kirinya. Bubur itu membasahi selimutnya. Sesa masih diak melihat apa yang akan dilakukan Yuga.
Yuga meletakkan sendoknya ke mangkuk. Baru percobaan pertama tapi sudah menyerah. Rasa gengsi Yuga yang sangat besar menguasai dirinya. Ia tidak mau meminta bantuan pada Sesa.
Sesa tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Kemudian Sesa mendekat dan mengambil mangkuk yang masih berada di pangkuan suaminya.
"Aakk" Sesa meminta Yuga membuka mulutnya.
Yuga akhirnya menerima suapan demi suapan dari tangan Sesa hingga bubur kacang hijau itu kandas.
"Mas Yuga mau lagi?" Tanya Sesa
"Sudah" Jawab Yuga sungkat.
Sesa mengambil selembar tisu lalu mengusap sisa makanan di bibir Yuga. Seperti de javu Yuga merasakan perasaan aneh itu lagi saat mobilnya mogok, Sesa memayungi dan mengusap air hujan yang ada di wajahnya..
__ADS_1
***
Setelah dua hari di rumah sakit Yuga di izinkan pulang. Dengan cekatan dan telaten Sesa mengurus suaminya yang kini dalam mode menurut karena sakitnya..
"Terimakasih Pak Doni" Ucap Sesa setelah Doni meletakkan tas pakaian milik Yuga.
"Mba Sesa tidak udah sungkan. Kalau begitu saya permisi dulu" Doni meninggalkan pasangan itu.
Yuga begitu kesusahan dengan tangan kananya yang tidak bisa apa-apa itu. Melakukan apapun dengan tangan kiri cukup susan untuk Yuga. Mau tidak mau ia harus menerima segala bentuk bantuan dari Sesa.
Ting tong..
Suara bel apartemen berbunyi.
Yuga sudah bersiap untuk membuka pintu. Tapi Sesa mencegahnya.
"Biar Sesa saja. Mas Yuga dudu lagi" Sesa kaget dengan kemunculan Sesa yang tiba-tiba.
"Papa Mama!!" Sesa langsung menghambur ke pelukan kedua irang tuanya.
"Mana suami mu Sa" Ucap Gunawan setelah melepaskan pelukan anaknya.
"Oh iya ayo masuk dulu, Mas Yuga sedang menonton televisi" Sesa mempersilahkan kedua orang tuanya masuk.
"Pa, Ma" Yuga menyalami kedua mertuanya.
"Bagaimana keadaanmu nak?" Suara Gunawan yang berwibawa.
"Sudah membaik kok Pa. Terimakasih papa sama mama sudah repot-repot datang kesini" Ucap Yuga.
"Tidak usah sungkan. Kami sudah menganggap kamu sebagai anakku bukan lagi menantu" Ucap Gunawan lagi.
"Terimakasih pa".
"Ini minumnya pa ma, ayo di minum dulu" Sesa membuatkan orang tuanya teh hangat untuk menemani mereka mengobrol.
Yuga dan Gunawan sudah hanyut dengan obrolan yang menyangkut bisnis. Sementara Sesa dan Diana mempunyai topik lain yang berbeda dengan kedua laki-laki berbeda generasi itu.
"Ayo pulang ma, ini sudah sore. Biarkan Yuga istirahat" Ajak Gunawan kepada isterinya.
"Iya pa, Sesa mama pesan sama kamu, rawatlah suamimu dengan baik. Jadilah istri yang baik untuk Yuga" Ucap Diana menasehati putri semata wayangnya.
"Iya ma, Sesa mengerti"
Yuga hanya diam mendengarkan pesan mertuanya kepasa istrinya itu. Dalam benak Yuga memang membenarkan jika selama ini Sesa memang istri yang baik.
"Ya sudah kita pulang dulu, semoga lekas sembuh ya nak" Diana mengusap lengan Yuga pelan.
"Mama titip Sesa, dia memang sedikit manja tapi percaya sama mama kalau Sesa tidak akan mengecewakan kamu" Diana tersenyum kepada menantunya.
"Iya ma, mama hati-hati" Ucap Yuga melepas kepulangan mertuanya.
-
-
Terimakasih banyak untuk readers yang setia menemani dan mendukung karya ini😘
__ADS_1
Hari ini dua episode lagi untuk kalian😚