
Sesa menginjakkan kakinya di depan gedung pencakar langit yang katanya milik suaminya itu. Sejak pertama kali tiba di depan bangunan tinggi itu, Sesa sudah menjadi pusat perhatian.
Rambut yang panjang tergerai sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Dress sedikit di bawah lutut berwarna cream melekat di tubuh langsingnya dan juga wajah cantiknya yang di poles make up natural membuatnya bertambah cantik bak dewi turun dari kayangan.
Siapa yang tidak mengenal Sesa di kantor itu. Putri konglomerat sekaligus istri CEO di perusahaan itu. Sesa tiba tepat jam istirahat makan siang. Semua karyawan yang berpapasan dengan Sesa pasti menunduk memberi hormat yang tentu saja mendapat senyuman ramah dari Sesa. Banyak omongan yang sampai di telinga Sesa. Jika mereka pasangan yang cocok, pasangan serasi, pasangan idaman, tapi tidak seperti kenyataannya. Mereka hanya melihat sesuatu dari kulit luarnya saja tanpa tau jeroannya.
"Mba, ruangan Pak Yuga dimana ya?" Ucap Sesa ramah kepada seorang resepsionis yang terlihat lebih mudah dari Sesa itu.
"Mari saya antar Bu" Ucap wanita dengan nama Sinta tertulis di nametag yang terpasang di baju bagian dadanya.
-
"Silahkan Bu" Sinta mempersilahkan Sesa untuk mendekat ke pintu kayu berukuran besar.
"Terimakasih Sinta" Sesa melemparkan senyumannya kepada Sinta.
"Sama-sama Bu, Saya permisi" Sinta sedikit membungkukkan badannya kemudian pergi meninggalkan Sesa di depan ruangan Yuga.
Tok tok tok..
"Masuk" Jawab Yuga dari dalam.
"Mas" Sesa tersenyum melihat suaminya sedang sibuk berkutat dengan tumpukan kertas yang membosankan.
Yuga melirik sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
"Mas Yuga masih sibuk? Sudah waktunya makan siang loh. Makan dulu yuk?" Sesa membuka paper bagnya.
"Ya sudah Sesa suapi sekarang ya?" Yuga terdiam sejenak kemudian mengangguk.
Sesa tersenyum singkat lalu menarik kursi mendekat ke meja Yuga.
"Aak Mas" Sesendok makanan sudah berada di depan mulut Yuga.
Yuga tak kunjung membuka mulutnya, malah diam melirik Sesa. Sesa menganggukkan kepalanya sekali, mengisyaratkan untuk Yuga membuka mulutnya.
Satu suapan mendarat mulus di dalam mulut Yuga. Suapan ke dua juga Yuga terima tanpa protes. Hingga Sesa akan mengangkat sendok yang ke tiga.
"Kamu tidak makan?" Tanya Yuga karena Sesa hanya menyuapinya saja.
"Sesa nanti saja setelah Mas Yuga selesai. Nih lagi Mas" Kata sesa kembali ingin menyuapi Yuga.
Yuga menggeleng.
"Kamu dulu" Sesa bingung dengan apa maksud Yuga.
Yuga meraih tangan Sesa yang masih memegang sendok lalu mengarahkan ke mulut Sesa.
"Makan" Ucap Yuga dingin.
"Saya ngga mau ...."
"Ngga mau dituduh menyiksa anak orang karena tidak memberinya makan kan?" Sesa memotong ucapan Yuga begitu saja.
Yuga terdiam karena Sesa mengingat apa yang pernah ia katakan.
***
Sudah dua minggu sejak kepulangan Yuga dari rumah sakit. Sesa dengan sabar merawat suaminya. Kata dokter butuh 6-8 minggu penyembuhan pada tulang orang dewasa, dan hari ini jadwal Yuga untuk kontrol ke rumah sakit.
"Sesa boleh ikut Mas?" Ucap Sesa sedikit takut mendapat penolakan dari Yuga.
Yuga tampak berpikir sejenak.
__ADS_1
"Hemmm" Yuga menganggukkan kepalanya.
"Sebentar Sesa ambil tas dulu" Sesa melesat begitu saja ke dalam kamar. Yuga sudah siap dari tadi hanya tinggal menunggu kedatangan Doni untuk menjemputnya.
-
Sesa berusaha menyeimbangkan langkah lebar Yuga. Doni sudah menunggu di bawah untuk membawa mereka ke rumah sakit.
Di dalan mobil Yuga hanya diam melihat ke luar mobilnya.
"Kenapa di saat seperti ini bukan kamu yang ada di sampingku Della? Kenapa Sesa yang dengan sabar merawat ku tanpa menghiraukan sikap dinginku padanya" Yuga hanya bisa bergelut dengan batinnya saja.
Setelah tiba di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan dokter khusus tulang. Karena Yuga sudah membuat janji temu sebelumya. Jadi tidak perlu mengantri lagi.
Dokter yang masih terlihat muda, mungkin leboh muda dari Yuga mulai memeriksa luka di tubuh Yuga. Mengganti perban dan mengoleskan beberapa obat di atas kulitnya.
"Sudah selesai Pak. Hasilnya sangat bagus, jika perkembangannya terus begini minggu depan sudah bisa lepas arm slingnya Pak" Ucap dokter muda itu.
"Terimakasih Dok" Ucap Sesa membantu suaminya turun dari bangkar periksa.
"Sama-sama Bu Sesa" Jawab dokter itu dengan senyum misteriusnya.
Yuga melihat ke arah melihat Dokter yang bernama Vino itu. Dalan benaknya bertanya, kenapa dokter muda itu sepertinya mengenal Sesa.
Sementara Sesa hanya tersenyum menanggapinya.
-
Sesa dan Yuga sudah meninggalkan rumah sakit. Kali ini mereka akan menuju rumah orang tua Yuga. Tadi Vani sempat menghubunginya untuk menginap di rumah.
"Mas boleh tidak sebelum ke rumah mama kita mampir dulu ke cafe. Sesa mau bawakan cheesecake buat mama" Ucap Sesa melihat suaminya dari samping.
"Iya" Jawaban singkat Yuga mampu membuat Sesa senang.
***
"Waalaikumsallam" Vani menjawab salam Sesa.
"Mama, ini Sesa bawa cheesecake kesukaan mama" Sesa meletakkan cakenya di atas meja makan.
"Wah terimakasih sayang, tau aja kalau mama lagi pingin banget cake dari cafe kamu" Ucap Vani.
"Yuga, gimana tangan kamu nak?" Vani beralih kepada putranya yang sudah mendudukkan dirinya di sofa.
"Sudah membaik" Jawab Yuga singkat.
"Selalu saja seperti itu, dingin seperti papanya" Vani menggelengkan kepalanya karena sikap Yuga.
"Ya sudah kalian istirahat saja si atas sambil menunggu kakek yang sedang keluar, nanti mama panggil" Vani mengerti jika Yuga butuh istirahat.
"Iya ma" Jawab Yuga.
Yuga berjalan menuju kamarnya, Sesa mengekornya dari belakang. Sebenarnya kali ini Sesa sedikit canggung mengingat beberapa hari ini mereka tidur terpisah, namun kali ini harus satu kamar kembali.
Yuga langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, kepalanya terasa sedikit pusing. Sementara Sesa memilih duduk di sofa dan kecanggungan pun di mulai.
Tanpa ada percakapan, mereka berdua sibuk dengan dunianya masing masing. Yuga yang memejamkan matanya tapi pikirannya masih tertuju kepada Della. Dan Sesa yang sibuk dengan medsosnya.
"Baiklah Della jika ini yang kamu mau, akan aku lakukan" Ucap Yuga dalam hatinya.
***
Susah tiba waktu makan malam, semua anggota keluarga Wiratama juga sudah berkumpul di meja makan, termasuk kakek Adi yang seharian ini bepergian entah kemana.
__ADS_1
"Apa lenganmu sudah membaik ga?" Ucap kakek Adi membuka percakapan.
"Sudah kek, minggu depan sudah bisa lepas penyangga ini" Jawab Yuga.
"Syukurlah, Kasihan Sesa jika harus mengurus bayi besar sepertimu" Kini Surya yang menimpali.
"Gapapa kok Pa, Sesa tidak keberatan sama sekali" ucap Sesa dengan senyuman ramahnya.
"Tuh kan Papa dengar sendiri" Yuga mencoba membela diri.
"Ini Mas" Sesa sudah siap menyuapi Yuga.
Hal itu tentu saja membuat semua yang ada di sana tersenyum.
"Cieee yang udah punya istri makan aja disuapin" Naya memang adik tidak tau diri. Berani beraninya mengolok olok kakaknya.
Mata Yuga sudah melotot ingin menerkam Naya.
"Sudah Nay jangan ganggu kakakmu, tangannya sedang jadi ngga bisa untuk makan sendiri" Vani memperingatkan anak bungsunya itu.
"Iya deh ma" Naya mengalah pada akhirnya.
Makan malah berakhir dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan di ruang keluarga. Semua tampak bahagia karena kedatangan Yuga dan Sesa. Bahkan Kakek tidak henti-hentinya bercerita ditengah keluarga yang hangat ini.
"Sudah malam Yab, lebih baik Ayah istirahat, kita juga lelah ingin segera istirahat" Ucap papa surya yang melirik jam ditangannya.
"Iya iya baiklah, ayo Naya antar kakek ke kamar" Ujar Kakek Adi dengan perlahan berdiri dari duduknya.
"Iya kek" Naya mendekat kemudian menggandeng lengan kakeknya.
Yuga dan Sesa sudah berganti dengan piyama tidurnya. Mereka berdua masih saling diam, terutama Sesa yang merasa canggung.
"Tidur disini saja. Aku tidak pernah terganggu dengan keberadaan mu. Jadi jangan tidur di sofa lagi. Disini atau dimana pun kamu akan tetap tidur seranjang denganku" Ucap Yuga karena melihat Sesa masih setia duduk di sofa.
"Udah mulai aku kamu lagi nih?" Tentu saja hati Sesa yang bertanya.
"Iya Mas" Sesa pun mendekat ke ranjang. Kemudian berbaring untuk menyusun mimpi mimpinya.
***
Pagi hari di rumah mertua Sesa. Di rumah sebesar ini tentunya akan butuh banyak ART yang mengurusnya. Termasuk urusan dapur juga sudah ada yang memasak hidangan untuk sarapan pagi ini.
Drretrt dreeetttt
Getaran ponsel Sesa menarik perhatian Sesa yang sedari tadi melihat ke arah asisten rumah tangga yang sedang bekerja.
"Kenapa papa telepon pagi-pagi begini" Sesa merasa heran.
"Halo pa?" Sapa Sesa.
"Iya benar saya sendiri" Sesa semakin heran kenapa suara orang lain yang meneleponnya.
BRAAAKKK...
-
-
Ralat, 3 deh untuk hari ini hehe.
Ada apa nih kok Yuga mulai baik lagi. Benarkah Yuga mulai membuka hatinya untuk Sesa?
Tunggu episode selanjutnya ya guys😘
__ADS_1