Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
mubasir


__ADS_3

Yuga menggeliat meregangkan ototnya. Tangannya meraba ke samping kiri tempat istrinya terlelap. Kosong, Sesa sudah tidak ada ditempatnya. Yuga membuka matanya memastikan keberadaan istrinya. Diliriknya jam di atas nakas yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


"Kenapa Sesa tidak membangunkan ku sholat subuh?" Gumam Yuga.


Yuga bangkit dari tempat tidur masih lengkap dengan kemeja dan celana bahannya. Karena semalam ia malas sekali untuk mandi dan berganti baju.


Sosok cantik yang telah resmi menjadi istrinya beberapa bulan ini terlihat asik dengan kegiatan memasaknya. Yuga tersenyum lalu menghampiri Sesa.


"Kenapa tidak membangunkan ku untuk sholat subuh hemm?" Tanpa Yuga lembut di samping istrinya.


"Sudah, tapi Mas Yuga susah sekali bangunnya. Mungkin Mas Yuga kecapean atau pulang terlalu larut jadi nyenyak banget tidurnya" Ucap Sesa tanpa melihat ke arah suaminya.


Yuga mengerutkan keningnya. Yuga merasa ucapan Sesa adalah sindiran untuknya yang memang pulang larut malam. Yuga juga tidak merasa bahwa Sesa membangunkannya.


"Aku tau kamu tidak membangunkan ku Sa, karena aku tidak merasakan apa-apa" Ucap Yuga dalam hati.


"Maaf soal tadi malam Sa. Aku pergi dengan Della meninggalkanmu sendiri" Ucap Yuga sangat menyesal.


"Tak apa Mas, Sesa tau Mas Yuga pasti merindukan Della. Maka lebih baik Sesa pulang dulu saja. Mana tau kalian akan melepas rindu kan?" kini Sesa menatap suaminya dengan senyum hangat. Tapi hal itu malah membuat hati Yuga seperti tersengat.


"Bukan begitu Sa, aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Della. Semalam aku hanya meminta penjelasan kenapa dulu dia pergi begitu saja" Jelas Yuga. Entah kenapa Yuga menjelaskan semua itu kepasa Sesa.


"Lalu apa kata Della?" Ucap Sesa kembali fokus pada masakannya.


"Ternyata kepergian Della ada hubungannya degan Kakek?" Ucap Yuga mendudukkan dirinya di kursi tinggi mini bar.


"Kakek?" Perhatian Sesa teralihkan.


"Iya, kata Della dia pergi karena ancaman Kakek. Jika tidak menjauh dariku maka Kakek akan menghancurkannya" Ucap Yuga lesu.

__ADS_1


"Apa benar Kakek bisa seperti itu? Sesa rasa tidak mungkin?" Hati Sesa menolak untuk mempercayai hal itu.


"Aku juga tidak percaya tapi sekarang Kakek sudah tiada dan Della kembali setelah Kakek tiada. Hal itu saja sudah membuktikan jika Della memang takut dengan Kakek" Ucap Yuga menatap istrinya.


Sesa berpikir sejenak. Dalam benaknya tetap menolak alasan yang di berikan Yuga. Hatinya tidak yakin seratus persen opini itu. Masih ada sesuatu yang mengganjal tapi Sesa tidak tau apa itu.


"Sa masakan yang tadi malam kemana?" Tanya Yuga yang tidak melihat banyak makanan di atas meja makan seperti tadi malam.


"Sudah Sesa panaskan lalu Sesa berikan pada Pak Yanto dan Pak Wayan. Mubasir makanan sebanyak itu jika di buang" Ucap Sesa berjalan menuju meja makan membawa dua gelas teh panas. Yanto dan Wayah adalah sekuriti di gedung apartemen Yuga.


Yuga semakin merasa bersalah karena dia sendiri yang meminta Sesa untuk memasak makanan kesukaannya.


"Sa, ak..." Ucapan Yuga di potong oleh Sesa begitu saja.


"Mas Yuga lebih baik mandi dan ganti baju. Hanis itu sarapan" Ucap Sesa lembut.


Tanpa membantah Yuga berjala menjauh dari Sesa menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Menuruti permintaan istrinya untuk segera mandi.


***


Beberapa hari berlalu sejak lamaran Bayu waktu itu. Kini Bayu berubah menjadi sosok yang berbeda si mata Maya. Bayu yang biasanya jahil, slengean dan suka menggoda Maya kini menjadi pendiam, dingin dan jika tak sengaja berpapasan dengan Maya hanya tersenyum tipis saja. Tentu hal itu membuat Maya tidak nyaman. Maya seperti merasakan sesuatu yang hilang dari hidupnya.


Siang ini Maya makan siang di kantin kantor. Sudah lama ia tidak menikmati makanan yang di sediakan perusahaan itu. Di saat sedang mengantri makan siangnya mata Maya tertuju pada kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bayu duduk di sana sendiri sambil menikmati makan siangnya. Maya tidak menyangka jika akan bertemu Bayu di sini. Banyak bisik-bisik yang mulai terdengar di telinga Maya.


"Eh lihat deh, ya jelas lah Bu Maya menolak Pak Bayu. Bu Maya bisa saja mendapatkan laki-laki yang lebih dari Pak Bayu" Mereka berbisik namun suaranya masih terdengar keras di telinga Maya dan mungkin juga Bayu.


"Iya, walaupun Pak Bayu itu ganteng tapi kan wanita jaman sekarang ngga cuma makan ganteng doang" Ucap yang satunya lagi di antara gerombolan wanita itu.


"Bener, kalau gue jadi Bu Maya juga ngga mau lah. Semakin tinggi jabatan mereka semakin tinggi juga level nya" wanita lain mulai menimpali.

__ADS_1


Telinga Maya semakin panas. Hati Maya merasa sakit kenapa mereka semua seakan merendahkan Bayu. Maya melirik ke arah Bayu yang tersenyum tipis menatap makanannya. Maya yakin Bayu mendengar itu semua.


"Hemmm" Maya sengaja berdehem untuk menghentikan ocehan mereka. Mata Maya kemudian melirik Bayu berdiri pergi menjauh dari kantin padahal Maya melihat Bayu belum menghabiskan makan siangnya.


Setelah selesai makan siang Maya pergi ke toilet sebelum memulai lagi pekerjaannya. Toilet wanita sudah mulai sepi hanya tinggal beberapa karyawan saja. Maya masuk ke dalam bilik toilet untuk buang air kecil sementara terdengar beberapa orang sedang berada di depan untuk membenarkan riasannya. Telinga Maya lagi-lagi di buat panas mendengar omongan dari karyawan di kantornya.


"Eh tadi liat kan Bu Maya sama Pak Bayu di kantin. Pak Bayu pergi gitu aja mungkin Malu kali ya sama Bu Maya karena di tolak" Suara wanita itu agak berat.


"Tapi gue kasian tau liat Pak Bayu, mana ganteng lagi" Kata wanita lain.


"Makan tuh ganteng doang, ya kali sekelas manajer keuangan dapet kepala HRD satu kantor lagi. Ngga banget deh" Ucap wanita dengan suara yang menurut Maya agak centil.


"Lah emangnya kenapa kalau cuma kepala HRD uang kan bisa di cari. Gue rasa harusnya mereka cocok satu cantik satu lagi ganteng" Timpal wanita lainnya.


"Kalau di lihat-lihat emang ganteng juga Pak Bayu itu. Tapi dinginnya itu loh ngga ketulungan. Gue pernah nih minta tanda tangan sama dia. Mati kutu rasanya di depan dia, auranya seram dan dingin beehhh merinding duluan sebelum bicara" Ucap wanita yang bersuara berat tadi.


"Iya bener gue juga pernah meeting sama dia. Gila sih orangnya dingin dan irit bicara" wanita lain membenarkan ucapan wanita tadi.


"Nah iya kan?" Wanita bersuara berat itu meyakinkan.


Maya yang menyimak mereka bicara dari tadi merasa tidak percaya dengan yang mereka katakan. Bayu yang di depannya selama ini berbeda dengan yang mereka ucapkan. Apa sebenarnya ada dua Bayu di kantor ini? Tapi maya teringat kata-kata Bayu malam itu. Jika ia menunjukkan sikap seperti itu hanya kepada Maya.


Maya memejamkan Matanya. Menolak Bayu waktu itu malah membuat perasannya kian tak tenang saat ini. Niat awalnya Maya ingin terbebas dari gangguan laki-laki s*nting itu tapi kini malah Sesa merasa kesepian.


-


-


Happy reading readers, semoga kalian suka😘

__ADS_1


Dan jangan lupa tinggalkan jejak mu🤗


__ADS_2