Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
aku mencintaimu


__ADS_3

Kalau begitu ayo wujudkan keinginan mu itu Sa!"


Hembusan napas berbau mint yang menyegarkan menerpa kulit waja Sesa. Yuga sedikit menjauhkan keningnya, mendaratkan kecupan lembut pada kening Sesa.


"Jangan pernah ucapkan kata-kata perpisahan lagi, aku tidak suka" Ucap Yuga dengan suara yang lembut.


Wajah Yuga mendekat lagi hingga hidung mereka bersentuhan. Sesa memejamkan matanya, tubuhnya terasa kaku sejak ciuman yang di berikan suaminya tadi. Pucuk hidung bangir milik Yuga bergeser ke kiri mengecup pipi kiri Sesa.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu!" Tanpa mengikis jarak di antara mereka, Wajah Yuga berbalik ke sisi kanan wajah Sesa. Mengecup lembut pipi kanan milik Sesa.


"Jangan pernah mendiamkan aku seperti ini!" Yuga kembali menyatukan keningnya dengan Sesa. Mengecup pucuk hidung Sesa.


"Maafkan kesalahan ku" Ucap Yuga sebelum kembali ******* bibir manis Sesa. Mata Sesa kembali terbuka lebar saat mendapat serangan tiba-tiba dari Yuga. Sesa hendak melawan lagi namun ternyata tangannya sudah berada di dalam genggaman Yuga.


Yuga semakin memperdalam ciumannya menyesap bibir yang akan menjadi candunya mulai saat ini. Yuga mengehentikan aksinya saat menyadari Sesa mulai kehabisan napas.


"Aku mencintaimu, Sesa"


JEDEERRRR...


Bak petir menyambar di hati Sesa mendengar pernyataan cinta dari bibir suaminya. Ungkapan perasaan yang sudah sejak lama Sesa tunggu-tunggu akhirnya terucap juga. Tubuhnya lemas pertahannya goyah.


"Aku mencintaimu Sa, tidak tau kapan rasa itu mulai tumbuh. Yang pasti aku selalu terpesona melihat semua yang ada pada dirimu. Aku menyukai sifat lembut mu, perhatianmu, aku suka sikap hormatmu yang menghargai ku sebagai suamimu. Aku merasa nyaman berada di dekatmu, senyummu selalu membuatku tenang Sa. Sungguh aku mencintaimu" Ungkapan perasaan yang selam ini Yuga ragukan kini meluncur di depan wanitanya.


Sesa menatap mata suaminya. Ia menangis saat menemukan kejujuran di dalam manik mata Yuga.


"Kenapa? Kenapa baru sekarang?" Ucap Sesa lirih.


"Kenapa barus sekarang kata cinta itu keluar dari mulutmu saat aku sudah mengambil keputusan untuk berpisah?" Ucap Sesa dengan nanar.


"Aku tidak pernah menyetujui keputusanmu itu!!" Desis Yuga. Sesa menggeleng lemah.


Yuga meraih tangan Sesa dan menggenggamnya.


"Aku mencintaimu, dan aku tidak akan melepaskan mu apapun yang terjadi!!" Ucap Yuga dengan tegas.


"Aku tidak mau!!" Sesa menghempaskan tangan Yuga dari tangannya.


"Aku tidak peduli, kamu milikku dan selamanya tetap milikku!!" Geram Yuga. Perasaanya sudah tak terkontrol lagi, hatinya sudah di liput amarah mendengar kata perpisahan dari bibir Sesa.

__ADS_1


Yuga menarik tangan Sesa membawanya masuk ke dalam kamar yang berada di balik rak buku dalam ruangan kerja Sesa.


"Lepas!!" Teriak Sesa. Namun Yuga tidak mengindahkan permintaan istrinya itu.


Yuga beralih mencengkeram kedua bahu Sesa.


"Aku akan mewujudkan keinginanmu hidup bersama orang yang mencintaimu, memiliki anak dan hidup dalam keluarga kecil yang bahagia" Ucap Yuga.


"Maka dari itu segera ceraikan aku!" Mata Sesa menatap tajam suaminya. Sesa yang lembut sudah hilang entah kemana


"Tidak akan!!" Cengkeraman di bahu Sesa semakin kuat. Sesa yakin itu akan menimbulkan bekas merah ditambah lagi kulit tubuhnya yang putih mulus.


"Lalu apa mau mu?" Pandangan mata Sesa sudah kabur terhalang air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.


Tangan Yuga melepas bahu rapuh itu. Tangannya bergerak menyusuri pundak, leher kemudian tiba di kedua pipi Sesa.


"Aku mau kamu, aku sendiri yang akan menjadi orang itu. Aku menyadari jika hatiku sudah terpaku namamu di dalamnya. Aku tersiksa selama satu minggu ini kamu hindari Sa. Maafkan kesalahanku selama ini. Maafkan aku yang terlambat meyakinkan hatiku. Jangan pernah tinggalkan aku" Ucap Yuga lembut merubah nada bicaranya yang semula penuh amarah di dalamnya.


Yuga meraup bibir Sesa kembali, ********** lembut. Lidahnya menyusuri seluruh rongga mulut Sesa yang kini tanpa penolakan lagi. Yuga semakin candu dan terbakar gairah. Gairah yang selama ini ia pendam saat berdekatan dengan Sesa.


"Aku menginginkanmu Sesa. Aku meminta hak ku sebagai suami" Bisik Yuga di belakang telinga Sesa. Yuga mengecupnya pelan, sebelum tubuh Sesa melayang karena Yuga menggendongnya menuju ranjang.


"Kenapa aku selemah ini hanya dengan pernyataan cintanya yang selama ini aku tunggu. Biarkan aku menjadikanmu cinta pertamaku, ciuman pertamaku, dan penerima mahkota ku Mas" Ucap Sesa dalam hati yang mulai terbakar gairah oleh sentuhan sentuhan lembut suaminya.


***


Yuga mulai membuka matanya melihat ke sekeliling ruangan yang tidak asing baginya. Tangan Yuga menyentuh pundak polos Sesa yang tidur membelakanginya. Yuga tersenyum simpul mengingat pergulatan panasnya bersama Sesa. Pergulatan suami istri yang baru ia dapatkan setelah enam bulan lebih pernikahan mereka. Ia sampai menyerang istrinya beberapa kali hingga mereka berakhir terlelap.


Yuga merapatkan tubuhnya kepada Sesa yang masih sama-sama polos hanya tertutup selimut.


"Terimakasih telah menjadikanku yang pertama bagimu sayang" Ucap Yuga berbisik di telinga Sesa.


Sesa menggeliat merasa terganggu dengan hembusan napas yang menerpa daun telinganya. Yuga terkekeh pelan melihat istrinya yang menggemaskan.


"Sesa, bangun sayang" Yuga memberikan kecupan-kecupan kecil di pundak Sesa. Yang seketika membuat kulit sesa terasa kasar di tangan Yuga. Yuga tersenyum miring karena istrinya merinding akibat ulahnya.


"Hentikan Kak" Sesa masih enggan membuka matanya.


Tiba-tiba Yuga memutar tubuh Sesa dan menindihnya kembali. Hal itu membuat mata Sesa langsung terbuka lebar.

__ADS_1


"Ma..mau apa lagi?" Sesa gugup melihat tatapan Yuga seperti ingin memangsanya.


"Kamu panggil aku apa tadi? Coba ulangi sekali lagi, aku ingin dengar!" Perintah Yuga mengintimidasi.


"Kakak" Ucap Sesa memalingkan wajahnya.


"Tatap aku Sa!!" Perintah Yuga tak di indahkan oleh Sesa.


"Tatap aku atau aku akan memakan mu lagi!" Ancam Yuga.


Sesa memberanikan diri menatap mata tajam yang dari dulu mampu mengalihkan dunia Sesa.


Yuga membelai wajah Sesa lembut dengan satu tangannya sedangkan satu lagi ia jadikan tumpuan agar tidak menindih Sesa.


"Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak suka. Aku lebih suka kamu memanggilku seperti biasanya" Suara Yuga lembut.


"Bukanya dari dulu Sesa memanggil Kakak?" Sesa mencoba mengingatkan Yuga pada masa itu.


"Itu dulu, sekarang kamu istri ku sayang" Suara yuga yang lembut dan perlakuan hangatnya membuat Sesa sedikit takut jika itu akan menghilang lagi seperti seminggu yang lalu dimana Yuga sempat membentaknya hanya karena kesalahan yang tidak ia lakukan.


"Aku bukan sayangmu" Sesa memalingkan wajahnya lagi. Sikapnya masih dingin kepada Yuga.


"Kalau begitu, cintaku" Goda Yuga mencubit pipi yang menggemaskan milik Sesa.


Sesa mendorong dada Yuga hingga berguling di sampingnya.


"Tidak mau" Sesa segera bangkit dari ranjang untuk membersihkan diri.


"Awww" Ringis Sesa menahan perih di area pribadinya hingga membuatnya terduduk kembali di ranjang.


"Kamu tidak papa sayang, apa sesakit itu?" Yuga mencoba membantu Sesa.


"Hemmm" Sesa mengangguk menahan sakit.


Yuga membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya, tanpa panjang ia menggendong Sesa menuju kamar mandi.


"Mas, apa yang kamu lakukan aku bisa sendiri" Sesa terkejut dengan tingkah suaminya yang malah menggendongnya tanpa memakai baju dulu.


"Siapa bilang bisa sendiri? aku membantumu karena ingin melanjutkan yang tadi" Yuga tersenyum licik.

__ADS_1


"Aku tidak mauuuu!!!" Teriak Sesa meronta di gendongan Yuga. Tapi terlambat, Yuga sudah mengurungnya di dalam kamar mandi.


__ADS_2