Kekasih Sahabatku

Kekasih Sahabatku
Kedatangan Maya


__ADS_3

Kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tiga. Kandungan Sesa juga sehat, ia juga bisa memakan semua makanan tanpa ada rasa mual atau muntah.


Sesa dan Mbok Lasmi sedang menyiapkan masakan untuk menyambut kedatangan Maya. Iya Maya, gadis itu mengambil cuti satu minggu untuk mengunjungi Sesa ke kota Yogyakarta. Tentu saja Sesa sangat antusias sekali, hingga memasak berbagai macam masakan kesukaan Maya.


"Mbak, sebenarnya Mbok ini heran loh. Kan Mbak Sesa lagi hamil, tapi kok sehat, segar bugar kaya gini to. Ndak pernah mual, ndak pilih-pilih makanan kaya orang hamil lainya ya?"


"Jangankan Mbok Lasmi, Saya juga heran Mbok. Saya ngga merasakan tanda-tanda orang hamil. Tapi waktu periksa ke dokter ada kok janinnya kelihatan" Jelas Sesa kepada Mbok Lasmi.


"Atau jangan-jangan yang merasakan mual dan muntah itu suaminya Mbak Sesa. Soalnya dulu adiknya Mbok pernah mengalami seperti itu, jadi istrinya yang hamil tapi adiknya Simbok yang mabuk parah Mbak" Mbok Lasmi bercerita dengan logat jawanya yang kental.


"Memangnya ada ya mbok yang seperti itu?" Sesa tampak ragu.


"Memang kenyataannya begitu Mbak, aneh tapi nyata kok" Kekeh Mbok Lasmi.


Sesa menyentuh perutnya lagi. Masih terlalu kecil tapi sudah terasa buncit di tangan Sesa.


"Apa benar kata Mbok Lasmi? Apa kamu sedang merasakan kehadiran anak kita Mas? Andai saja kita ditakdirkan bersama, pasti kita adalah pasangan yang sangat bahagia Mas, karena Allah sedang memberi hadiah yang istimewa buat kita" lirih Sesa di dalam hatinya. Satu tetes air mata terjatuh di atas tangan Sesa yang sedang memegang perutnya. Tapi dengan cepat Sesa menghapus sisa air matanya. Ia tak mau Mbok Lasmi melihat kesedihannya.


Dalam diamnya Mbok Lasmi memandang punggung Sesa.


"Sebenarnya Mbok tau Mbak Sesa sedang sedih. Tapi Mbak selalu menyembunyikan itu semua dari Simbok" Mata sayu itu tak lepas memperhatikan Sesa yang sudah kembali tersenyum.


Masakan Sesa telah selesai, telah rapi pula di atas meja makan. Sesa juga sudah membersihkan dirinya, hanya tinggal menunggu kedatangan Maya dengan duduk di teras bersama Mbok Lasmi.


"Sesaaaa!!!" Teriak Maya setelah keluar dari taksi yang ditumpanginya.


"Maya" Sesa berlari menghampiri sahabatnya itu.


"Mbak jangan lari pelan-pelan saja" Teriak Mbok Lasmi yang khawatir dengan kandungan Sesa jika majikannya berlari seperti itu.


"Maya aku kangen banget sama kamu" Sesa memeluk erat tubuh ramping Maya.


"Gue juga Sa" mereka berpelukan sambil berputar-putar saking senangnya.


"Loe sehat kan?" Tangan Maya menyentuh perut Maya. "Wah udah mulai kelihatan ya baby bump nya"


"Kita sehat Alhamdulillah, kita masuk yuk!" Sesa menggandeng tangan Maya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


***


Doni mengikuti langkah panjang sahabatnya sedari SMP itu. Berjalan cepat di antara ratusan orang di bandara, saat ini Yuga telah tiba di Yogyakarta di temani oleh Doni. Yuga akan mengejar cinta Sesa, untuk memperbaiki rumah tangganya kembali.


"Dimana anak buah mu berjaga Don?" Tanya Yuga saat baru saja masuk ke dalam mobil yang akan membawanya keluar dari bandara.


"Mereka berjaga di sekitar ATM itu, lalu sebagian lagi menyisir rumah-rumah di sekitarnya"


"Kenapa mereka kerjanya ngga becus sama sekali. Sudah satu bulan lebih belum ketemu juga, padahal Sesa ngga pergi keluar negeri!" Omel Yuga.


"Itu karena Sesa mengelabuhi kita bos"


Yuga hanya berdecak saja, merasa kesal karena istrinya tidak kunjung di temukan.


"Kita turun di ATM itu saja, aku akan mulai dari sana!" Titah Yuga. Kali ini ia bertekad akan mencari Sesa walau ke pelosok desa pun.


"Oke bos" Doni mengacungkan jempolnya dari kursi depan.


***


"Jadi kamu sudah di ketemu sama orang taunya Bayu May? Sesa tak percaya kalau percintaan sahabatnya bisa secepat itu.


"Makanya jangan asal ceplas ceplos jadi orang!"


"Iya Sa, gue udah tobat. Btw rasa rindu gue sama masakan loe benar-benar terobati. Makasih banget loh Sa jadi ngerepotin, padahal kan kamu lagi hamil, pasti capek" Maya memegang tangan Sesa merasa bersalah.


"Gapapa Maya, aku ngga capek kok, malah aku seneng bisa masakin masakan kesukaan kamu. Kamu kan udah jauh-jauh kesini buat aku" Sesa selalu baik di mata Maya. Itulah yang membuat Maya tidak akan tega untuk membenci Sesa seperti yang dilakukan Della.


"Huhu gue terharu. Loe bukan cuma sahabat gue Sa, tapi satu-satunya keluarga gue" Maya merasa terharu hanya dengan kata-kata Sesa.


"Tapi kamu sebentar lagi bakal punya suami, kamu pasti punya keluarga yang baru. Jadi kamu ngga kesepian lagi deh" Sesa mencoba menghibur Maya walau hatinya sendiri pun merasakan jika saat ini ia juga sendiri.


"Doain aja yang terbaik buat gue ya Sa?"


"Itu sudah pasti Maya. Udah ah sedih-sedihnya. Nanti malam kita jalan-jalan yuk?" Sesa tak akan membiarkan Maya liburan hanya dengan berdiam diri di rumah.


"Mau dong Sa, kita ke jalan yang terkenal itu ya ya?" Maya sudah seperti anak kecil yang meminta jajan kepada ibunya.

__ADS_1


"Iya Maya sayang" Sesa mencubit pipi Maya gemas.


Karena sudah satu bulan tidak bertemu membuat Maya bercerita panjang lebar ngalor ngidul. Mulai dari pekerjaannya di kantor, asmaranya, hingga laporan mengenai cafenya.


"Tapi Dewi bisa mengatasinya kan May?" Sesa baru tau kalau beberapa hari yang lalu cafenya sempat terkendala beberapa masalah mengenai ijin dan pajak.


"Santai Sa, kayaknya loe ngga salah pilih Dewi jadi orang kepercayaan loe deh. Dia cekatan dan bisa menyelesaikan maslah itu yang ternyata cuma salah di bagian pencatatan aja"


"Syukur Alhamdulillah deh kalau gitu. Tapi kenapa kalian ngga ada yang kasih tau?" Sesa mendelik kepasa Maya.


"Hehe sorry Sa, gue yang larang Dewi soalnya gue ngga mau loe banyak pikiran aja. Kasian baby nya" Ucap Maya sambil cengar cengir.


"Hufftt dasar!"


Maya meringis menunjukkan dua jarinya kepada Sesa.


"Udah mulai gelap, mandi dulu yuk habis itu kita jalan-jalan" Ajak Sesa.


"Siap bumil" Maya memberikan hormat kepada Sesa sebagai candaannya.


***


"Seneng banget gue Sa, bisa jalan-jalan disini. Biasanya cuma bisa lihat dari instagram doang" Maya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya berjalan di antara ratusan anak muda yang asik berfoto dijalan icon kota Jogja itu.


"Jangan jauh-jauh May, nanti hilang loh!!" Tegur Sesa yang melihat Maya tertinggal agak jauh darinya. Maya masih asik mengabadikan momennya di ponsel pintarnya.


"Iya bentar" Melihat Maya mulai berjalan menghampirinya Sesa pun melanjutkan langkahnya.


"May, habis ini kita cari makan dulu apa mau belanja dulu?" Tanya Sesa kepada sahabatnya yang masih di belakangnya.


"Maya?" Sesa heran kenapa Maya tidak menyahutnya.


"May_ , Maya? Mayaa!!" Sesa celingukan mencari keberadaan Maya yang sudah tidak ada lagi di belakangnya. Sesa berputar-putar, matanya menelusuri dengan jeli di antara banyaknya pengunjung tapi tidak bisa melihat bayangan Maya sama sekali. Sesa mulai panik dan mencari ponselnya untuk menghubungi Sesa.


Sesa menempelkan ponsel di telinganya kanannya. Menunggu panggilan yang sudah tersambung itu terjawab, mata Sesa kembali memperhatikan sekelilingnya, depan, belakang, kanan dan kiri. Sesa terpaku sejenak, seperti melihat seseorang yang ia kenal berdiri agak jauh di sebelah kanannya. Dengan sedikit ragu, seperti gerakan slowmotion, Sesa memalingkan wajahnya ke sisi kanan dengan ponsel yang masih di telinganya.


Deg...

__ADS_1


Happy reading readers, jangan lupa tinggalkan komentar yang bijak dan membangun ya, terimakasih 😘


__ADS_2