
Persahabatan kedua gadis itu bukan tanpa halangan. Mereka pernah saling marah. Bahkan, saat kuliah, mereka berdua pernah tak saling bertukar kabar selama beberapa lama. Namun, di lubuk hati yang paling dalam, mereka saling peduli dan menyayangi.
Masih di sela tangisan harunya, Madya bertekad untuk memperbaiki sikap kepada Asa. Mumpung dia memiliki kesempatan mengulang kehidupannya, dia akan mengatasi kesalahpahaman yang akan terjadi dengan lebih dewasa.
Asa, kamu bener-bener temen yang baik. Oh, aku inget, nantinya setelah nikah, dia nunggu 9 tahun untuk bisa dapat momongan. Mungkin aku bisa kasih saran kesehatan biar dia nggak ngalamin kesulitan nanti buat dapet anak nantinya. (Madya).
Dia memejamkan mata untuk beristirahat malam, menutup hari melelahkan baginya.
***
Keesokan hari
Madya sudah merasa bosan berharap setiap malam bahwa dia akan membuka mata dan kembali ke masanya. Setiap hari di jaman ulangan ini, dia memulai dengan berat.
Menit-menit yang dijalani di waktu ini diiringi pikiran keras mengingat-ingat peristiwa apa yang akan terjadi. Pikirannya masih tertuju pada dua orang lelaki.
Apa mungkin aku jatuh cinta beneran sama Daniel? Dia dan aku sama-sama korban bully. Dia cakep. Ahahahah, tapi namanya nyerobot jodoh orang ya kan? Dia nantinya bakal nikah sama ... siapa sih nama istrinya? Aku aja nggak diundang waktu dia nikah. (Madya).
~
__ADS_1
SMA Pioneer
Kelas 2 C
Madya berdiri di ambang pintu kelas. Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan menelusuri wajah-wajah yang sangat dia rindukan. Dia pun mendatangi Erma, temannya yang beberapa tahun lagi akan meninggal karena kangker otak.
Tiba-tiba dia memeluk Erma. "Ma ...."
Erma melongo kemudian melepaskap pelukan Madya. "Apaan sih, Mad? Kamu sakit?"
Madya memandangi Erma sembari tersenyum kecut. Semua orang merasa aneh terhadap tingkah Madya. Madya dan Erma sering saling mengejek. Namun, ejekan mereka berdua hanyalah ekspresi keakraban, bukan seperti Yeni.
"Ma, aku mau minta maaf kalau aku sering ngajak kamu ribut."
"Hahahah ...." Permintaan maaf tulus itu disambut dengan tertawa keras oleh Erma. "Sejak penampilan kamu berubah, kamu jadi aneh gitu sih, Mad!"
Sekali lagi Madya memeluk Erma. "Ma, kamu banyakin makan makanan bergizi, hindari micin, olah raga yang teratur ya."
Erma bergidik ngeri mendengar petuah Madya. Dia kembali melepas pelukan kedua Madya. "Mad, kamu nggak sakit keras, kan? Pesen kamu barusan kayak wasiat."
__ADS_1
Kamu yang bakal sakit, Ma. Kamu yang bakal pergi duluan. (Madya).
Hampir saja Madya tak dapat menahan air mata. Namun, dia tahan sekuat tenaga. "Pokoknya kamu janji jangan banyak makan micin terus olahraga yang teratur. Oke?"
Erma mengangguk pelan.
Madya melanjutkan langkah, kali ini ke bangku Sulis. Dia adalah siswa cerdas yang sebentar lagi akan meninggal karena kangker tulang. Siswa laki-laki itu langganan meraih peringkat 2 setelah Daniel.
"Sulis ...," panggil Madya kaku. Mereka memang tak begitu akrab.
"Apa, Mad?"
Madya menggeleng. Dia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada Sulis. "Ehm ... banyak-banyak konsumsi kalsium ya."
Kedua alis Sulis naik. "Kamu kelihatan aneh sih, tapi kok bener ya. Emang akhir-akhir ini tulang-tulangku rasanya kurang seger gimana gitu."
Madya menuju bangkunya sendiri kemudian memandangi Daniel yang berada di sebelah kiri baris kedua dari depan. Merasa ditatap, Daniel yang sedang membaca buku menoleh ke arah Madya. Pandangan mereka beradu beberapa detik. []
Bersambung ....
__ADS_1