
"Be-begini, Pak, Bu, saya sangat antusias sama ilmu-ilmu pskiatri. Saya rajin membaca dan mengamati perilaku orang. Menurut buku karangan Tony Attwood, anak Bapak Ibu mempunyai gejala-gejala anxiety," karang Madya. Padahal buku karangan Tony Attwood yang dibaca oleh Madya bukanlah tentang anxiety. (Ngarang doang dia nih, kayak mbah Author. Mau saingan kayaknya).
Bu Seli dan Pak Danu mengangguk lagi. Yah, sepanjang berbicara denga Madya, respon mereka paling banyak adalah mengangguk. Lumayan untuk relaksasi tengkuk.
"Terima kasih ya, Nak."
Bu Seli dan Pak Danu berpamitan karena Bu Seli ingin segera menikmati es teler yang sudah dia idamkan sejak tadi. Meski kandungannya telah besar, dia masih mengidam. Atau sebenarnya doyan.
Madya berjalan menuju kamar mandi untuk melegakan diri dari tampungan air di tubuhnya. Samar-samar terdengar seorang lelaki sedang berbicara dengan perempuan di samping kamar mandi itu.
Setelah menuntaskan urusan persenian, Madya mengintai siapa yang sedang berbicara itu. Ternyata dia adalah pacar barunya, Raihan Abu. Gadis yang sedang berbicara pada pemuda itu adalah Yeni sang ketua geng bully.
Madya mengerahkan semua kemampuan mendengarnya agar bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
"Aku udah bilang sama kamu dan 3 temenmu itu, jangan ganggu Madya! Kenapa kemarin masih ganggu juga?"
"Siapa yang bilang aku ganggu? Kamu sukanya salah sangka. Aku kemarin cuma ngajak ngobrol kok."
"Nggak usah bohong, aku denger semuanya. Jangan ganggu dia lagi, oke?!" sergah Raihan sembari berlalu pergi dari sana.
Yani turut pergi karena untuk apa berada di dekat kamar mandi. Lain halnya dengan Madya yang masih betah bersembunyi di tembok penghalang kamar mandi.
Dia merasa terkejut sekaligus bahagia. Ternyata di ruang workshop saat mereka mengobrol itu adalah saat Raihan memperingatkan Yeni agar tak mengganggu Madya. Senyumnya terkembang sempurna memperlihatkan deretan giginya yang berjajar.
Setelah tak terdengar langkah Raihan dan Yeni, barulah Madya keluar dari sana untuk menuju kelas 2 C. Di depan kelas, Raihan telah menunggunya. Madya masih dalam keadaan auto pilot dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
"Kenapa senyumnya kayak gitu? Mau audisi iklan pasta gigi?"
__ADS_1
Madya menggeleng tapi tak juga menutup mulutnya. Raihan gemas kemudian 'membantu' Madya menutup mulutnya dengan tangan.
"Mingkem! Nanti kemasukan lalat."
Madya memukul tangan Raihan dan melepaskan bekapan tangan itu. "Emangnya nggak boleh seneng dikit?"
"Kamu seneng karena akhirnya jadian sama aku?"
"Iya, emangnya kenapa? Nggak boleh?!"
~
Sore setelah latihan debat
Raihan mengantar Madya menuju rumah Asa. Gadis itu belum bercerita tentang dia yang telah resmi menjadi pacar Raihan Abu. Di depan rumah Asa, Raihan berpamitan.
Madya belum menjawab. Dia hanya terpaku memandangi Raihan sambil tersenyum simpul. Raihan pun menutup mata Madya dengan tangannya.
"Apaan sih ngelihatin kayak gitu?! Kayak belum pernah lihat orang ganteng aja!"
"Ikh, tangannya! Emang nggak boleh lihat? Jadi bolehnya ngelihatin siapa? Cowok lain?!"
"Ya jangan. Tapi jangan gitu juga lihatnya, bikin deg-degan aja. Udah sana masuk, ditungguin temenmu."
~
Rumah Asa
__ADS_1
Dua gadis belia yang bersahabat itu sedang duduk di lantai bersandar pada pinggiran spring bed milik Asa. Jika di rumah Madya sendiri hanya ada dipan kayu, di rumah Asa ada kasur yang bisa memantul sendiri.
Madya sangat berterima kasih karena berkat Asa, dia bisa ikut menikmati fasilitas yang tidak dia punyai sendiri hingga beberapa tahun ke depan.
Kini dua gadis itu sedang sama-sama terdiam sembari tersenyum lebar. Dua-duanya memperlihatkan gigi mereka masing-masing seperti parade lomba gigi sehat atau sedang lomba mengeringkan gigi.
Madya menoleh ke arah sahabatnya.
Aku tahu kenapa aku kayak orang sedeng, gara-gara jadian sama Raihan. Kalau dia kenapa? (Madya).
Dari pada bertanya-tanya dalam hati, lebih baik bertanya kepada Asa secara langsung karena sejatinya mereka hanya berjarak 2 centimeter.
"As, aku kayak orang kurang waras karena jadian sama Rai. Kalau kamu kenapa?"
"A-aku ... nggak apa-apa kok. Aku lagi ikut seneng aja kamu jadian sama Abu Nawas. Eh, apa?! Kamu jadian sama Abu Nawas?!
Ocehan Madya sedari tadi tentangnya dengan Raihan ternyata hanya masuk ke telinga kiri, keluar lewat hidung. []
Bersambung ....
***
advertisement
...SAHABAT JADI MENIKAH...
...(Zafa)...
__ADS_1