
Madya dan Asa sampai di depan gerbang sekolah. Sekolah menengah atas favorit itu telah sepi dari hilir mudik para siswanya. Sebagian siswa yang masih berada di sekolah sedang berkonsentrasi mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Sebagian lainnya mungkin sedang bobok-bobok di rumah.
"Ngapain ke sekolah sore-sore?"
"Tujuannya bukan sekolah, tapi belakangnya."
Madya memarkir motor yang sekali senggol langsung ambyar itu kemudian menarik lengan Asa ke sebuah lapangan kecil. Di dekat lapangan tersembunyi itu terdapat beberapa rumah. Madya membimbing Asa menuju salah satu rumah.
Dia mengetuk pintu rumah itu dengan ketukan tak sabar. Seorang wanita berusia cukup matang membuka pintu itu.
"Ya, cari siapa ya?" tanya wanita tersebut.
"Permisi, saya mencari mas-mas yang dulunya wartawan. Rumahnya yang ini atau sebelah ya? Maaf saya lupa soalnya masnya kurang jelas kasih tahunya."
"Oh ... kalau mantan wartawan ya di sini rumahnya. Kalau sebelah mantan terindah."
"Masnya ada?"
Wanita itu memandangi Madya dan Asa dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan dahi mengerut.
"Tunggu sebentar, saya panggilkan. Silakan duduk dulu," kata wanita itu sembari beranjak menuju ke ruang dalam.
Dua gadis SMA itu melihat-lihat sekeliling. Di dinding ruangan itu terpajang sebuah foto pernikahan. Wanita tadi ternyata adalah istri dari mantan wartawan yang sedang dicari oleh Madya. Dalam foto itu, si mantan wartawan terlihat berumur sekitar dua puluhan.
Asa mengambil sebuah album foto di kabinet bawah meja. Dia melihat-lihat foto yang pada sampul depannya terdapat tulisan 'liburan tahun 2003'.
Foto tahun lalu ya? (Asa).
"Mad, ini foto baru tahun lalu orang itu udah om-om, kok kamu nyebutnya 'mas' sih?"
"Aduh, lupa! Waktu ketemu dulu aku panggil 'bapak', tapi karena umurnya nggak jauh beda dari aku versi masa depan, kelepasan nyebut 'mas'. Akh, nggak apa-apa kan ya?"
__ADS_1
~
Di dapur
"Mas Asrul, itu ada yang nyari kamu, muda-muda. Cewek-cewek itu siapa? Kok mereka manggil 'mas'. Apa bener gosip yang bilang kerjaan kamu motretin perempuan muda dan cantik? Katamu foto pemandangan alam!"
"Tunggu, ada yang perlu diluruskan. Pertama, gosip itu bener dan salah. Benernya, kadang memang aku motret perempuan muda. Salahnya bahwa cantiknya itu relatif. Kadang menurutku cantik, kadang enggak. Yang kedua, aku belum lihat tamunya. Bisa jadi itu yang pernah kupotret, bisa juga bukan. Yang ketiga, tentang pemandangan alam. Manusia itu juga ciptaan Tuhan yang termasuk ke dalam anggota alam. Jadi ya itu pemandangan alam juga."
Mantan wartawan itu memang sangat rasional sehingga sering lupa bahwa makhluk yang bernama 'istri' kadang tak butuh rasionalitas. Yang dibutuhkan hanyalah jawaban reflek seperti:
"Apa dietku berhasil? Aku udah kurusan?"
"Ya."
"Apa dia cantik?"
"Aku sama dia cantikkan siapa?"
"Kamu."
Selesai ceramah dengan paparan rasionalitas yang tinggi, Pak Asrul mendapati sang istri sudah merah padam. Sebuah lemparan gelas berbahan melamin tak terhindarkan.
Klothak ....
~
Ruang tamu
Samar-samar dua gadis muda (yang satu palsu) itu mendengar suara barang terbentur.
__ADS_1
"Suara apaan, Mad?"
Telinga Madya bergerak-gerak. "Gelas berbahan melamin kapasitas 350 ml."
Terdengar suara susulan sekali lagi.
"Yang barusan ini piring plastik diameter 21 cm," tutur Madya.
"Wow, keren banget kamu, Mad. Kok bisa tahu?"
"Nanti kalau kamu udah nikah, pasti tahu kok. Mereka ini udah level pro, entah tahun ke berapa menikah. Kalau yang pemula biasanya yang bahan beling, habis itu nangis-nangis menyesal udah pecahin barang mahal."
Asa manggut-manggut meski belum sepenuhnya mengerti persoalan mamak-mamak. Ditambah, nanti di tahun 2010 ke atas, harta karun mamak-mamak bertambah yaitu alat makan plastik bermerk Tumplekwer.
Bila berani menghilangkan produk Tumplekwer, niscaya ucapkan selamat tinggal pada kasur empuk. Silakan bobok di ruang tamu atau di teras sembari mendengar ceramah mamak dengan naskah terpanjang.
Tak lama, Pak Asrul keluar menemui Asa dan Madya dengan rambut berantakan.
"Siang, Mas, eh, Pak. Maaf itu rambutnya," kata Madya sembari menunjuk rambut Pak Asrul.
"Oh ini, nggak apa-apa. Maaf ya, emang nggak boleh dirapiin. Maaf, Adek-adek ini siapa dan ada perlu apa?"
"Begini Ma-- Pak, kita pernah ketemu waktu ada anak yang dibawa ambulan di deket lapangan itu," kata Madya sembari menunjuk lapangan yang dimaksud. "Nah, katanya, Bapak bersedia bersaksi, kan?"
"Saya bilang begitu?"
Wooo, bafingan! (Madya). []
Bersambung ....
__ADS_1