Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
84. Attempting To Back To The Future


__ADS_3

"Yang terakhir ini orangnya kembali muda atau nggak?"


"Enggak. Dia kembali ke tahun waktu dia belum lahir. Kalau perjalanan waktu ala Doraemon, orangnya akan ada 2 versi: versi sekarang dan versi masa lalu. Dan mereka nggak boleh saling ketemu karena akan mengubah banyak sejarah."


Berbeda. Namun, Madya berusaha menepis keputusasaan demi mendapat kemungkinan untuk dapat kembali ke jamannya.


"Bisa nggak kamu bikin alat kayak mobil Delorean yang bilang tadi? Atau laci Doraemon?" Keputusasaan membimbing Madya pada pertanyaan yang terkesan konyol ini.


Daniel tersenyum kecil. "Ngga bisa. Perjalanan waktu belum pernah terjadi. Dari segi pengetahuan mana pun ini sangat-sangat nggak masuk akal. Banyak juga yang menganggapnya mitos."


Mereka bilang mitos tapi aku ada di depan kamu, Niel. (Madya).


"Kecuali ditelaah dari ilmu spiritual, itu bisa aja terjadi. Menurut ahli spiritual dunia kita terbagi dua yaitu dunia kasat mata dan yang tak kasat mata. Perbedaan waktu di sini dan di sana berbeda. Itu yang menyebabkan orang dianggap melakukan perjalanan waktu padahal enggak. Itu dua dimensi waktu yang berbeda dengan dua tempat dan penghuni yang berbeda, jadi nggak benar-benar time traveling."


Aku juga nggak mikir lagi ke sana sih soalnya penghuni di dunia yang ini sama persis dengan duniaku dulu hanya aja mundur 18 tahun. Semua orang sesuai jamannya kecuali aku. Mukaku sesuai, jiwaku yang enggak. Aku kembali muda. Ya, that's it! Kembali muda. (Madya).


"Kalau muda kembali atau reinkarnasi ditambah perjalanan waktu, mungkin nggak?"


Daniel mencari-cari buku yang memuat tentang reinkarnasi. Tidak ada. Yang ada hanyalah CD Kera Sakit, sebuah serial dengan salah satu tokohnya yang ber-reinkarnasi berkali-kali untuk mendapatkan hukuman putus cinta. Sebuah kalimat pedihnya begitu menggema, "Sejak dulu beginilah cinta deritanya tiada ending."


Madya memijat kepalanya yang berdenyut hebat. Jalan masih buntu baginya. Hanya 1 hal yang dapat dia minta dari Daniel, setelah itu dia tidak akan mengganggu temannya itu. Dia akan mengganggu yang lain untuk meminta bantuan.


"Kamu tahu apa itu 'mess'?"

__ADS_1


Daniel mengangguk. "Kekacauan. Kalau dijadikan kata kerja itu mengacaukan."


"Akh, bukan. Kalau itu aku udah tahu. Maksudnya arti lain selain itu." Madya telah tahu arti kata itu lebih dulu, tapi tak mendapat apa-apa sehingga dia memikirkan kemungkinan arti yang lain. "Kalau bovi?"


Daniel menggeleng. Dia kemudian mengambilkan sebuah kamus elektronik yang bentuknya mirip dengan laptop, hanya saja ukurannya 5 inci. Dia menyerahkannya ke tangan Madya.


Akh, gadget jaman dulu. Bawa kamus ini ke sekolah aja berasa selebriti. (Madya).


Tak ada hasil di sana. Madya telah mencoba berbagai pengejaan, tapi tak ada hasil yang keluar dari perangkat sederhana yang bersifat luring itu. Madya kemudian melihat komputer PC di ruangan itu yang terhubung dengan kabel telepon rumahan.


"Kamu punya sambungan internet, Niel? Boleh pinjem?"


Daniel mengangguk.


Muncul gambar dan beberapa penjelasan tentang suara yang muncul di mimpinya beberapa waktu yang lalu.


"Hah?! Alat bedah?"


~


Pulang ke rumah


Beberapa saat setelah Madya menelpon Raihan, lelaki itu muncul di hadapannya dengan wajah suram. Apakah lelaki itu akhirnya memenangkan egonya untuk cemburu?

__ADS_1


Meski dirinya juga sedang kalut, dia tetap berempati pada kekasihnya.


"Kenapa, Rai? Kok gitu mukanya?"


"Aku tadi ngobrol sama mamaku. Aku pengen kuliah di Stanford atau Columbia. Tapi orang tuaku nggak mau biayain. Mereka pengennya aku kuliah di Oxford. Jadi aku bakal belajar habis-habisan untuk bisa dapat beasiswa."


Madya tak dapat menyembunyikan ekspresi sarkasnya. Betapa hidup mereka berdua sangat bertolak belakang. Madya harus batal kuliah karena orang tuanya akan fokus pada operasi ibunya. Sedangkan Raihan membingungkan kuliah di luar negeri.


Yah gimana lagi, semua orang punya standar dan keinginan masing-masing. Bagi dia yang anak orang kaya, kuliah di universitas lokal kurang menantang kali. Aku bahkan cuma bakal gigit jari lihat orang lain kuliah. (Madya). []


Bersambung ....


***


NB: mess dan bovie adalah kata-kata yang Madya dengar dalam mimpi ketika menemani ibunya opname di rumah sakit. (di episode 82)


***


Sedikit lagi ya, kira-kira dua episode lagi Madya tahu. Simbah udah kasih sedikit clue di atas yawww, tinggal disambung-sambungin n disimpulin.


PS: Reader MERIE NORTON, good guess 😘.


Simbah tetep belum berani balas komen dulu yawwww😘😘😘. Pasti udah banyak yang tahu nih tentang Madya berada di mana.

__ADS_1


__ADS_2