
Wah, bapak itu luar biasa banget. Pantesan aja dia siap kamera. Huh, kalau posisinya rakyat bisa bebas mengungkap kebenaran ya? Bapak belum tahu aja beberapa tahun lagi bakal keluar undang-undang informasi teknologi. (Madya).
Madya pergi dari sana dengan kecewa. Dengan menaikki motor Handa Si Pitung pinjamannya, menjauh dari lingkungan sekolah untuk pulang ke rumah.
***
Keesokan hari
Madya telah sampai di sekolah. Dia memandangi ruang kelas 2 C, tempatnya menuntut ilmu. 2 tempat tampak kosong, satu milik Daniel, satu lagi milik Zulfikar. Dia menuju tempat duduknya sendiri.
Tak lupa sebelum mencapai tempat duduknya, kaki Monik yang saat itu saat itu sedang duduk di barisan paling depan terulur hingga menghalangi jalan Madya. 18 tahun yang lalu, Madya sering diperlakukan seperti ini.
Yeni dan gengnya sering mengulurkan kaki untuk menjegal jalannya. Madya sering terjatuh hingga kacamatanya ikut terlempar ke lantai. Saat itu, mereka berempat menertawakan Madya. Tidak ada yang berani membela karena jika ada yang membela, obyek bully akan beralih kepada mereka sendiri.
Dengan sigap mata Madya menangkap bayangan kaki jahil itu. Dia pun menendang kaki Monik hingga gadis bala tukang bully itu mengaduh kesakitan.
"Aduh ... sakit, Mad! Kalau jalan lihat-lihat dong! Kamu sengaja nendang kakiku? Temen-temen nih liat, aku nggak salah apa-apa, eh ditendang sama dia," teriak Monik.
__ADS_1
Apa pun yang dilakukan Madya akan dijadikan senjata oleh Yeni dan kawan-kawan. Begitulah kehidupan SMA Madya yang menyakitkan. Dahulu bahkan dia sering diperintah untuk mengambilkan buku di perpustakaan atau membelikan makanan ke kantin. Semua itu di bawah perintah si ratu kelas, Yeni.
Kembali ke situasi saat ini. Semua sedang menunggu penjelasan Madya yang sedang menjadi subyek pelaku penendangan terhadap kaki Monik. Madya berjongkok di dengan Monik untuk memeriksa kaki musuh bebuyutannya itu.
"Maaf banget, Mon, aku nggak sengaja. Kamu tahu sendiri kan kalau mataku minus." Madya meminta maaf dengan keras agar semua orang di kelas mendengarnya.
"Lagian siapa yang nyuruh kamu buka kacamata? Kalau emang kamu nggak bisa lihat jelas tanpa kacamata ya pake lagi dong!"
"Iya iya, besok aku bakal pake lagi. Pokoknya segala perintahmu akan aku penuhi. Kamu, Yeni, Indria dan Nola emang orang-orang berjasa yang jadwalin semua kegiatanku," kata Madya penuh sarkas.
Monik melotot mendengar itu. Sedangkan semua siswa memandangi Madya yang sedang berjongkok layaknya pelayan di hadapan Monik.
"Aaarrrggghhh ... sakit, Mad! Yeni, tolong nih Madya sengaja mencet kakiku."
Yeni mendekat ke arah mereka. Dia merasa mendapat angin sejuk karena ada alasan yang sangat tepat untuk menjadikan Madya sasaran empuk pagi ini. "Kamu kok jahat, Mad?" Yeni membalikkan keadaan sehingga Madya terlihat buruk sekarang.
"Jahat gimana? Aku mijitin kaki Monik, katanya sakit kena tendang aku. Aku nggak sengaja lho."
__ADS_1
"Bo'ong, kamu pasti sengaja!"
"Ya udah, dari pada mikirin aku sengaja atau enggak, kita sama-sama tanya ke Monik, yuk! Mon, kamu sendiri sengaja nggak masang kakimu di depanku? Kamu ngapain duduk di deket tempat dudukku? Tempat dudukmu yang asli kan deket Yeni."
"I-itu ...."
"Yakin nggak sengaja?" kejar Madya.
"Kamu jahat banget nuduh sembarangan!" bela Yeni.
"Oh ya? Nuduh sembarangan gimana? Kalau emang bener nggak sengaja, kenapa tiap hari ada aja yang jegal kakiku? Hari ini Monik. Habis itu siapa? Jadwalnya Indria?"
Bel masuk berbunyi. Yeni dan Monik selamat dari cecaran Madya. Sedangkan Indria dan Nola hanya diam, tak ada ide untuk melawan kata-kata Madya. []
Bersambung ....
***
__ADS_1
Disarankan: