
Beberapa detik bertatapan, akhirnya Madya yang kalah terlebih dulu. Dia tidak ahli dalam lomba tatap-menatap sehingga harus menyerah. Sedangkan Daniel, lelaki itu hanya menampilkan wajah datar seperti biasa.
Mungkin dia seharusnya memeriksa otot-otot wajahnya apakah dapat bekerja dengan baik atau tidak.
Habis lihat-lihatan sama cowok terganteng sekelas ini rasanya ... biasa aja. Jadi, kenapa aku mikirin Daniel terus ya? (Madya).
Bel sekolah berbunyi. Semua siswa menempati tempat duduk mereka masing-masing. Tak lupa Yeni dan gengnya melewati Madya sembari menatap dengan garang. Madya membalas dengan senyum mengejek. Madya sudah dapat mengadaptasikan jati diri sebagai wanita 35 tahun ke dalam balutan anak gadis sekolah menengah.
Bu Tuti, guru matematika, memasuki kelas itu. Setelah berdoa bersama, guru itu siap mengeluarkan mantra-mantra rumus yang akan membuat otak para siswa bertambah keriting. (Otak yang sering digunakan untuk berpikir, bentuknya akan semakin berliku. Beneran itu lho, Mbah author nggak bo'ong).
Bu Tuti belum mengeluarkan ajian rumus baru untuk hari ini. Dia mengeluarkan mantra yang lebih seram dari itu.
"Silakan kumpulkan buku tugas kalian! PR yang minggu lalu akan langsung saya nilai di tempat," kata Bu Tuti.
Mendadak kelas menjadi riuh. Jantung Madya berdegup kencang. Dia membuka buku tugasnya kemudian bernapas sangat lega karena PR yang dimaksud sudah dikerjakan. Dia tersenyum dengan percaya diri kala menyerahkan buku itu kepada Bu Tuti.
Guru matematika itu mencoret-coretkan tinta di atas PR Madya dengan mantap. Madya khawatir bukunya robek. Tentang nilai yang akan diberikan, gadis itu tak khawatir sama sekali. Madya adalah bintang kelas yang pintar.
"Madya Dui Brata, ini PR-mu," kata Bu Tuti sembari menyerahkan buku tugas.
Madya membuka buku itu sembari tersenyum lebar. Senyum itu lenyap tatkala melihat coretan pulpen berwarna merah di atas PR-nya. Nilainya hanya 60.
__ADS_1
Mana bisa? Aku kan bintang kelas. Aku selalu dapet nilai 90-100 di kelas Bu Tuti. (Madya).
Dia pun membuka-buka buku tugas itu untuk melihat tugas-tugas matematika terdahulu yang telah dinilai. Di sana rata-rata nilainya 50 dan 60. Paling tinggi yang pernah diraih hanya 70.
Bu Tuti telah selesai menilai on the spot pekerjaan rumah para siswa. Bisa juga dianggap drive thru karena layanan penilaian cepat, singkat, padat seperti makanan cepat saji ayam goreng kremes Pak Kumis berjas putih yang sudah mendunia.
Dia mulai mengajar materi untuk hari ini. Madya tak dapat berkonsentrasi pada pelajaran yang telah puluhan tahun tak disentuhnya itu. Pikirannya malah tertuju pada nilai-nilai tugas matematika yang seingatnya berbeda dengan yang dulu.
"Madya, kerjakan soal ini di papan tulis!" perintah Bu Tuti.
"Sa-saya, Bu?"
Madya berdiri di depan papan tulis. Tangan kanannya sudah memegang kapur. Namun, tak satu pun angka ditulis.
"Ma-maaf, Bu. Saya belum mengerti."
"Ya sudah, kembali ke tempat duduk. Lain waktu, dengarkan baik-baik kalau saya sedang mengajar!"
Madya mengangguk.
***
__ADS_1
Istirahat pertama
Zulfikar mendekati Madya. Entah apa yang akan dikatakan oleh siswa itu, tapi Madya merasa tak enak. Apakah mungkin dia akan dirisak karena kemarin siang memergoki Zulfikar sedang mengancam Daniel?
"Mad, nilai matematikamu berapa? 60 lagi atau 50?"
Madya tertegun karena 2 hal. Yang pertama karena siswa itu berbicara dengan nada biasa-biasa saja, tidak terdengar marah. Yang kedua, bagaimana dia bisa tahu nilainya?
"A-aku dapat 60."
"Sama. Yah, udah nasib kita kali mentog segitu-segitu aja," ucap Zulfikar sembari beranjak pergi.
Aku sama dia sering senasib? Apa kami akrab? Tapi kenapa aku nggak begitu inget sama dia? Astaga, apa ingatanku tentang masa SMA banyak yang salah? (Madya).
Dia pun mendekati Erma untuk memastikan sesuatu. "Erma, rangking 1 semester kemarin siapa?"
"Daniel."
"Rangking 2?"
"Sulis."
__ADS_1
Bukan aku? Kok bisa? (Madya). []
Bersambung ....