
"Kenapa, Mad?" tanya Zulfikar sembari memandangi gadis itu dengan pandangan garang. Sepasang mata itu membuat Madya gentar.
"Nggak apa-apa kok." Madya segera beralih ke siswa yang lain.
***
Bel istirahat pertama telah berbunyi. Madya memilih tinggal di kelas sembari memandangi bangku kosong milik Daniel. Dia memejamkan mata sembari berusaha mengingat-ingat semuanya.
Mata itu tiba-tiba terbelalak.
Oh my God! Emang Zulfikar sama geng yang waktu itu pelakunya. (Madya).
Madya berhasil menemukan memori tentang peristiwa itu di mana pelaku pemukulan terhadap Daniel diungkap. Kemudian Daniel dipindah ke sekolah lain oleh orang tuanya.
Tangan Madya bergetar, bertaut dan meremass-remass tidak karuan. Keringat mengucur deras sehingga membuat bajunya cepat basah. Dia berdiri, berlari untuk mendatangi Asa.
"As, ikut ke deket gudang bentar, yuk!"
Asa masih tak mangacuhkan Madya. Gadis calon make up artist ternama itu malah melengos ke arah lain.
"As, please banget! Yang ini penting. Tolong lupain dulu masalah kamu ngambek!"
Asa pun luluh dan mengikuti langkah kaki Madya menuju gudang sekolah. Mereka telah berada di luar gudang yang agak sepi. Tempat itu memang bukan tempat favorit untuk hang out. Di sana hanya ada gudang dan toilet yang hanya digunakan setelah jam olah raga karena sembari memasukkan alat olahraga ke ruang penyimpanan. Di waktu lain, para siswa lebih memilih toilet yang berada di bagian depan.
"Ada apa?!" tanya Asa, ketus.
__ADS_1
Madya berjalan mondar-mandir di depan Asa yang duduk di depan gudang. Dia bingung akan memulai dari mana. Tak kunjung mengucapkan apa-apa, Asa jengah juga.
"Kalau nggak ada yang mau diomongin, aku mau balik ke kelas aja! Ngapain aku nontonin kamu kayak setrikaan gitu."
"Tunggu-tunggu, As!" Madya mendudukkan Asa yang telah berdiri itu. Dia mengatur napas yang tersengal.
"Kamu kenapa kok kayak gitu? Oh, kemarin Bu Lestari wali kelasmu ngumumin kalau Daniel dirawat. Dia juga bilang kalau ada yang tahu soal kemarin disuruh lapor gitu. Itu yang buat kamu kayak gini?"
Madya mengangguk sembari masih mengatur napasnya. Perlahan napasnya teratur kemudian berganti dengan suara isak tangis.
"Ya ampun, kamu sesedih ini denger kabar Daniel. Jadi bener kamu naksir sama dia?" tanya Asa yang sejenak lupa bahwa dia sedang ngambek terhadap sahabatnya itu.
Madya menggeleng. "Bukan perkara naksir, As. Aku ngerasa bersalah banget sama Daniel."
"Bukan ... bukan ... aduh gimana ngomongnya ya ...."
"Ya udah, tenang dulu. Nanti ceritain pelan-pelan," kata Asa sembari menepuk pundak Madya.
Madya merangkai kata-kata dalam hati. "Begini, As. Kamu bakal ngira aku nggak waras, atau mungkin sakit mental. Tapi aku bakal ngomong sejujur-jujurnya sama kamu."
"Astaga, kamu suka sama Pak Marjoto?"
"Heh! Bukan itu! Eh, dari mana kamu nyimpulin kayak gitu?"
"Kalau nggak salah, dua minggu yang lalu kamu bilang kalau Pak Marjoto itu orangnya cakep, cuma ketutup ke-killer-annya jadi kelihatan serem."
__ADS_1
Oh, aku pernah ngomong gitu? Tapi emang iya sih, Pak Marjoto cakep. Hasyah, kembali ke Daniel dan topik asli. (Madya).
Madya menggeleng-geleng agar pikiran yang sedang tamasya itu segera fokus dengan apa yang akan diungkapkan. "Aku bukan Madya yang sesungguhnya."
"Ka-kamu ... kesurupan?"
"Stop, jangan potong dulu! Begini ... aku Madya, tapi Madya yang berumur 35 tahun. Aku mengalami peristiwa yang bikin aku balik ke tahun ini."
Hening ....
Asa melotot mendengar pengakuan Madya. Beberapa detik berikutnya ....
"Hahaha ... nggak usah bercanda kayak gitu, Mad ... Mad."
Madya kiri memegang kedua bahu Asa agar gadis itu segera berhenti tertawa. "Lihat aku, As! Aku nggak bercanda sama sekali."
Asa masih belum bisa percaya. Terlalu absurd kejadian seperti itu.
"Kamu lihat sendiri kalau cara ngomongku berubah. Plus make up-ku yang sesuai sama trend."
Asa belum percaya begitu saja. "Kalau emang bener apa yang kamu bilang, coba buktiin!"
"Ehm ...." []
Bersambung ....
__ADS_1