
Putra, Madya dan beberapa pengurus kelas kini sedang di lorong rumah sakit. Mereka telah usai menjenguk teman sekelas yang sedang bernasib kurang baik itu.
"Kamu ngomong apa sih, Put? Kenapa kamu jahat amat di depan orang tua Daniel?" tegur Madya.
"Aku kan cuma ngomong apa adanya. Emang nyatanya Daniel nggak punya temen, jarang ngobrol. Ngomong cuma kalau ada sesuatu aja. Bisa dihitung berapa kali aku ngomong sama dia."
"Iya, tapi nggak perlu ngomong gitu di depan orang tuanya kali! Kamu nggak lihat keadaan Daniel lagi kayak gitu. Menurut kamu, hati orang tuanya sekarang gimana? Sedih nggak? Hancur nggak?"
Putra terdiam, menunduk. Dalam lubuk hatinya dia mengiyakan semua perkataan Madya. Namun, dia juga tak ingin bersimpati sepenuhnya terhadap Daniel. Ada sebuah rasa dengki yang dimilikinya selama ini. Putra memang selalu memandang Daniel 'kurang ajar' karena memborong semua kelebihan. Siswa itu tampan, jenius, bertubuh tinggi dan atletis.
Daniel sering mengikuti lomba sains. Beberapa bulan sekali namanya dipanggil ke depan mimbar upacara untuk menerima penghargaan. Hanya namanya saja yang bergema di sekolah itu karena kebiasaannya menurunkan lidah topi. Banyak siswa yang tak begitu memperhatikan wajah Daniel. Namun, sekali saja ada yang melihat, mereka akan terkiwir-kiwir.
Itu membuat Putra jijik (aslinya pengen kayak gitu juga).
__ADS_1
Dia tak memedulikan kenyataan bahwa Daniel tak pandai bersosialisasi. Jika dia mau melihat itu, seharusnya dia memahami bahwa Daniel tak sesempurna itu. Bahkan di masa depan, Daniel kesulitan menemukan jodoh. (Baca kisah Daniel di novel EMAK AKU PENGEN KAWIN, dia menikah pada usia 34 tahun. Itu pun dengan proses perjodohan ke sekian karena perjodohan sebelumnya gagal melulu. Iklan, heheh ...)
Putra dan yang lain telah meninggalkan rumah sakit. Madya masih berada di parkiran, kesulitan mencari kunci motor di dalam tasnya.
Astaga, di mana kuncinya? Bakal diomelin Mas Eka kalau sampai ilang. (Madya).
Dia kembali memasuki bangunan rumah sakit untuk mencari di mana kunci motor hasil meminjam milik kakaknya itu. Madya menemukan kunci itu motornya tergeletak di rerumputan (taman bagian tengah rumah sakit) yang tadi dilewati.
Saat akan kembali, matanya meng-capture bayangan seorang wanita sedang mengelus perut besar sembari menangis. Dia tak menyadari kehadiran Madya karena dia duduk di bangku taman yang posisinya membelakangi posisi Madya. Wanita itu adalah ibu Daniel. Sungguh seorang ibu pasti akan sangat sedih melihat kejadian seperti ini menimpa anaknya.
Apalagi hal nahas itu terjadi pada Daniel, anak yang tak banyak bicara, penurut dan cerdas. Lebih menyakitkan lagi, ibunda Daniel sedang mengandung. Pasti banyak hal berkecamuk di pikiran ibu temannya itu.
***
__ADS_1
Pagi itu, Madya menjalani kehidupan sekolahnya dengan biasa (rencananya sih begitu). Dia mengusahakan untuk mengikuti alur sejarah yang ada tanpa tergoda untuk mengubah apa pun, kecuali masalah pem-bully-an yang dilakukan oleh Yeni.
Beberapa hal yang tidak ia ketahui hanya akan disimpan tanpa berpikir ingin mengubahnya. Meski kemarin sempat trenyuh dengan beberapa keadaan yang menimpa Daniel ditambah rasa sedih menyaksikan ibu temannya itu, dia hanya akan menahannya.
Sembari melihat ke lantai koridor, ia berjalan menuju ke ruang workshop sekolah. Karena terlalu berkonsentrasi dengan langkah kakinya, dia hampir menabrak seorang siswa, Asa, sahabatnya sendiri.
"Eh ... maaf, As."
"Nggak apa-apa," jawabnya sembari berlalu.
Kok dia cuek banget, ya? (Madya). []
Bersambung ....
__ADS_1