Kembali Ke Masa SMA

Kembali Ke Masa SMA
74. Alarm Yang Berbunyi


__ADS_3

"Lanjut aja dulu sama Abu. Kamu bilang di masa depan kamu nyesel kan sama siapa tadi ... Usman, ya?"


Madya mengangguk. Luar biasa dia mengikuti saran dari Asa yang masih remaja. Tentunya Asa memberikan saran berbekal pengetahuannya yang terbatas.


Tak salah dicoba, Madya akan menikmati dulu saat-saat indah bersama Raihan Abu yang tak pernah dia dapatkan dulu.


"Oke lah, aku jalani aja dulu," kata Madya, mencoba berlaku layaknya remaja yang belum memiliki terlalu banyak beban.


"Bu, tapi ini cincinnya pesen di mana jadinya?" Terdengar suara Eka sedang meributkan masalah teteek bengek pernikahan.


Bagaimana pun menikah memang butuh persiapan, tidak bisa menggunakan sekrup untuk dipasangkan di jari Elsa.


"Cincin apaan, Mad? Kok masmu ngomongin cincin?" tanya Asa yang langsung bergetar mendengar nama benda itu disebutkan. Beberapa gadis menginginkan perhiasan ini tersemat di jari mereka sebagai tanda telah taken.


"Mas Eka mau nikah."


"Oh. Sama siapa? Bukannya habis patah hati ya?"


"Pengen tahu aja kamu. Sama pacarnya lah."


"Pacarnya yang mau dinikahin sekarang itu berarti kakak iparmu di masa depan?"


Madya menoleh dan menatap Asa dalam-dalam. Dengan khawatir dia menjawab, "Bu-bukan."


Asa memfokuskan pandangan pada Madya sehingga mereka berdua berpandang-pandangan seperti 2 banteng siap beradu. "Terus, gimana?"


"Hah?! Aku kok nggak kepikiran sih? Tapi tenang, kalau emang masih berjodoh sama kakak iparku yang dulu, pasti pernikahan ini batal."


"Batalin nikah itu bukannya nggak gampang ya? Saudaraku ada yang batalin nikah, kalau udah daftarin jadwal nikah di catatan sipil nanti dikenai denda banyak. Terus kalau udah pesen makanan, perias, tenda dan lain-lain nanti tetep harus bayar buat ganti rugi."

__ADS_1


"Iya ya. Akh, biarin aja. Aku capek mikirin nanti gimana nanti gimana. Aku mikirin Rai sama Usman aja udah pusing."


Asa pun tak ingin ikut pusing memikirkan. Ditambah, dia memang tak tahu menahu tentang masa depan. Dia meneruskan membaca komik.


"Sejak kapan kamu suka baca komik, As?"


"Sejak kapan ya? Aku lupa. Cuman setelah aku coba-coba baca, asyik juga, tahu!"


~


Malam hari


Madya tidur dengan membawa segala kegundahan hati tentang sang mantan suami. Dia membayangkan wajah menawan itu.


Bayangan Raihan pun turut hadir. Dalam pikiran Madya, Raihan dan Usman sedang bertarung di ring tinju untuk memperebutkannya. Dia tersenyum geli dan merasa istimiwir.


Sedikit demi sedikit matanya terpejam, terbuai dalam tidur.


"Madya, ini Kak Linda. Madya ... Madya."


"Tante Madya, ini Dioka."


"Mama, ini Nadila."


Madya membuka mata dengan segera. Keringat dingin bercucuran membasahi raganya. Dia bermimpi yang sangat aneh.


Dalam mimpinya, dia tidak melihat apa pun. Dia berada di tempat yang gelap, sangat gelap. Namun, beberapa kali terlihat kilatan cahaya melewatinya disertai suara-suara dari orang-orang yang berasal dari masa depan.


Semua suara itu milik orang-orang yang tak ditemuinya di masa lalu. Madya mengatur napas.

__ADS_1


Kak Linda, Dioka, dan Na-nadila putriku seorang. Aku mimpi buruk karena kangen sama mereka? (Madya).


Tiba-tiba dia teringat rencana pernikahan Eka dengan Elsa. Suara itu seperti permintaan putus asa yang menggantungkan harapan pada Madya.


Kenapa suara mereka sedih banget? Astaga! Kenapa aku baru nyadar? Kalau aku biarin Mas Eka nikah sama Elsa, Kak Linda gimana? Dioka gimana? (Madya). []


Bersambung ....


***


Tidak lama lagi, kisah Madya akan segera usai ya readers. Simbah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk para pembaca yang mengikuti kisah Madya.


Semoga kita bertemu di novel berikutnya ya, lavv banget๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.


***


advertisement


...BEAUTY CLOUDS...


...(Ocybasoacy)...


Ody tidak menyangka bahwa niatnya mencari kerja tambahan agar bisa membiayai adiknya sekolah justru ia menjadi korban pemerkosaan bosnya.


Rio yang saat itu di bawah pengaruh obat afrosidiak tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Rio memilih memberi uang sebagai ganti rugi. Namun, Ody bersikeras menuntut keadilan.


Akankah Rio mau menikahi Ody sebagai bentuk tanggung jawab? Atau justru Ody yang kalah dan mau menerima uang yang Rio tawarkan?


__ADS_1


__ADS_2