
Madya menunduk berusaha untuk tak tertangkap mata oleh calon suami sekaligus calon mantan suaminya di masa depan. Di kehidupan sebelumnya, dia mengenal Usman yang lebih muda 1 tahun darinya itu saat telah lulus kuliah dan telah bekerja.
Di jaman ini mereka malah bertemu sebelum waktunya.
Dulu aku harusnya ikut lomba sains gantiin Daniel untuk besok. Tenang, Madya, cukup pura-pura nggak lihat dan nggak usah ketemu. Lagian kami nggak kenal di waktu ini. Nggak perlu kuatir. (Madya).
Perubahan ekspresi Madya tak luput dari mata pacar barunya, Raihan. Mereka yang kini berpacaran selama 2 minggu semenjak latihan debat hari pertama telah lebih mengerti satu sama lain.
Raihan telah mengetahui ekspresi Madya. Meski gadis itu pandai ber-acting, Raihan sedikit banyak telah bisa membedakan ekspresi isi hati dengan actingnya. Untuk beberapa keadaan, gerak tubuhnya amat jujur. Contohnya saat dia bokek atau tak punya uang, Raihan akan bisa menebak dengan hanya sekali lihat.
"Kenapa, Mad?"
Madya menggeleng. Namun, tak mungkin dia tak memberi penjelasan kenapa dia tiba-tiba terdiam. "A-aku ...."
"Kamu laper?"
Memang terdengar gemericik air dari perutnya. Atau ususnya bergelung dan berdecit sehingga tertangkap oleh telinga.
Untung aku laper juga. Perutku berjasa banget nyelametin aku dari monster itu. (Madya).
"Iya aku laper. Kita cari makanan yuk!" ajak Madya.
Madya dan Raihan memisahkan diri dari rombongan yang arah berjalan mereka juga menjauh dari Usman. Madya sedikit lega sampai di kantin yang antriannya mengular.
Raihan memandangi wajah pucat Madya dan menggandeng tangannya menuju sebuah bangku di samping gedung.
__ADS_1
"Kamu duduk di sini aja dari pada pingsan, berat ngangkatnya. Aku ngantri dulu."
Jika diperlakukan manis oleh Raihan biasanya mata Madya akan langsung berubah menjadi lambang hati seperti filter Outstagram di tahun 2020-an, kali ini dia hanya mengangguk. Jantungnya masih tak henti-hentinya berdebar.
Raihan menjauh kemudian menempatkan dirinya di bagian paling belakang antrian itu. Ini memang waktunya makan siang. Tak pelak wajah-wajah yang tadinya merona ceria kini pucat seperti vampir.
Madya mengatur napas seraya meyakinkan diri bahwa dia tak akan bertemu dengan mantan suami dalam versi muda. Dia memandangi ubin berwarna abu-abu yang tersusun rapi di bawah injakan sepatu hingga sebuah kaki berbalut sepatu kets berada di dekat kakinya.
Bukan sepatu Raihan. (Madya).
Dengan perlahan Madya mengangkat wajahnya. Usman kini berdiri di hadapan Madya membawa beberapa kotak snack bertuliskan 'selamat makan'.
"Kamu tim debat dari SMA Pioneer, kan? Waktu aku ambil snack, panitia nitip, katanya kalian lupa belum ambil snack."
Madya terpaku melihat wajah itu, wajah yang dia hindari di jaman ini yang malah bertemu jauh lebih awal dari yang seharusnya.
Air mata Madya tak dapat dibendung. Sakit melihat wajah ini.
"Kenapa, Mbak? Kok nangis? Mbaknya lagi sedih ya? Maaf kalau gitu."
Tak ada jawaban dari gadis itu sementara air matanya terus keluar tanpa bisa dia kontrol. Usman meletakkan kotak makanan di dekat Madya kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat Madya.
"Aku Usman. Kalau kamu nggak punya temen buat cerita, cerita aja sama aku," katanya sembari melihat kanan kiri Madya yang tak tampak ada teman di sekitarnya.
"A-aku ... Madya."
__ADS_1
Usman duduk di dekat Madya. Gadis itu menariknya begitu kuat seperti magnet baginya. Dalam pandangan pertama, Usman versi muda telah jatuh hati pada Madya.
Seperti lagu favorit yang datang entah dari tahun berapa, kapan pun didengarkan, kita akan selalu jatuh hati. Bagai buku kesukaan yang meski telah usang, membaca ulang kapan pun tak akan membuatnya hilang dari list favorit.
Begitu juga dengan cinta. Tak dapat dipungkiri, Madya adalah tipenya. Kapan pun dia bertemu, gadis ini tetaplah menempati urutan pertama dalam hatinya meski di masa depan dia tertarik pada wanita lain.
Bersambung ....
***
advertisement
...JERAT HASRAT SANG CEO...
...(Teh Ijo)...
Kerena tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, Daisy memilih kabur tepat di hari pernikahannya berlangsung. Namun, karena calon suami Daisy adalah orang yang berkuasa maka mereka mampu menemukan keberadaan Daisy.
Daisy Quuereen : Jika aku hanya ingin kamu jadikan pelayanan di rumah mu, kenapa kamu harus menikahi ku?
Excel Word : Kerena aku ingin mengikatmu dan membuatmu menderita hingga ma-ti perlahan.
Daisy Quuereen : Jika kamu ingin aku mati, bunuh saja aku sekarang!
Mampukah Daisy melewati hari-hari dalam genggaman Excel?
__ADS_1