
Madya keluar dari ruang kelas 2 C dengan langkah lemas. Dia menuju ruang kelas 2 B, kelas Asa.
"As ...," panggil Madya.
"Duduk, Mad. Nggak ke kantin?"
Madya menggeleng. "As, aku ranking berapa sih? Tahu nggak?"
"Heh! Masak ranking sendiri nggak tahu! Waktu terima rapor kamu meleng apa gimana?"
"Ahahah ... iya. Beneran lupa, As."
Asa melihat ke langit-langit, berusaha mengingat-ingat ranking sahabatnya itu. "Kalau nggak salah rangking 29 apa 30 gitu."
"Hah?" pekik Madya.
Kenapa sih dia ini? Kan emang seringnya segitu. (Asa).
***
Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring. Meski suaranya biasa saja, bahkan terasa tidak enak di telinga, nyatanya banyak manusia bahagia mendengar bel itu.
Madya masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Asa melintas di depan kelas, memberi kode kepada Madya agar segera keluar. Madya melambai, dia belum ingin pulang ke rumah.
Asa pun pulang mendahului Madya.
__ADS_1
Gadis 17 tahun yang berjiwa wanita 35 tahun itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia bingung dengan semua keadaan ini. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri karena ingin mengacak rambut orang lain pasti akan kena jitak. Sejujurnya, dia ingin sekali mengacak rambut Pak Marjoto sang guru kimia killer yang selalu menggunakan minyak rambut hingga klimis (tapi menawan, suwer).
Suara langkah yang sangat lirih dan samar terdengar mendekatinya dari sebelah kiri belakang, Daniel. Lelaki tampan maksimal itu memandangi Madya dari jarak dekat.
"Hoah, kaget! Kirain udah nggak ada orang."
Daniel tidak menanggapi, dia hanya memandang Madya dengan tatapan aneh.
Anak ini kenapa ya? (Madya).
"Aku nggak apa-apa kok, Niel."
Nggak apa-apa kok gerakannya aneh. Mungkin dia terkena cacing kremi? Biasanya manusia yang terkena cacing kremi gerakannya seperti ini. Atau mungkin dia mengalami disorientasi atau partial amnesia? Kemarin dia nanyain nama Zulfikar, padahal mereka berinteraksi meski nggak sering. (Daniel).
Madya sama sekali tidak mengira dalam kelas itu masih ada siswa tersisa. Dia pikir tinggal dirinya sendiri. Daniel memang sangat minim suara sehingga sulit dideteksi melaui indera pendengar.
Meski Daniel mendekati dan menyaksikan Madya sedang frustasi, tak ada kata khawatir atau bersimpati keluar dari bibir indahnya. Dia kurang bisa bergaul dengan baik. Kadang dia mengeluarkan kata yang tak enak didengar dan bahkan kurang bersimpati pada keadaan sekitar.
"Oke," kata Daniel kemudian kembali ke tempat duduknya.
Astaga, nggak perhatian dikit gitu lihat temennya kayak orang sedeng gini. 'Nggak apa-apa' means\=aku nggak baik-baik aja, dongo! (Madya).
"Eh, Niel, kamu kok nggak pulang? Nunggu diusir?"
Dia menggeleng.
__ADS_1
Harap diketahui, mengorek keterangan dari Daniel sangatlah sulit. Lelaki itu hanya akan menjawab 1 pertanyaan dengan lugas tanpa menjabarkan tetekk bengek printilan alasan dan koretan-koretan kejadian. Berbeda dengan orang lain yang baru ditowel sedikit, A-Z keluar tanpa jeda.
"Kamu ada janji?"
Daniel mengangguk.
"Sama siapa?"
"Zul," jawab Daniel singkat sembari membaca komiknya.
"Oh. Ya udah, aku pulang dulu deh ...."
"..."
Luar biasa pendiam tuh orang. Mungkin kalau ada kebakaran dia diem aja. Dulu waktu disunat, jerit-jerit nggak ya? Eh, tapi tadi pas jawab pertanyaan tentang enzim brandikinin, dia nyerocos tuh. (Madya).
Madya berjalan keluar dari kelas kemudian dari gerbang sekolah tanpa ada yang mengatakan 'good bye'. Hanya tulisan di gerbang sekolah yang bertuliskan 'selamat jalan' yang mengantarnya pergi.
Hari ini Eka kuliah hingga sore sehingga dia harus menaikki angkutan umum untuk pulang ke rumah. Angkutan umum pada jaman itu masih agak jarang, 30 menit sekali memberangkatkan penumpang. Telat sedikit, hamsyong.
Sesampainya di rumah, jantungnya berdebar lebih kencang.
Perasaanku kok nggak enak ya? (Madya).
Dia berdiri di halaman rumahnya dan berdiri terpaku.[]
__ADS_1
Bersambung ....